Melody

Melody
Rekaman lain



"Rin, habis ini kamu ada acara gak?" Tanya salah seorang pria menggunakan baju pelayan yang sama dengan Ririn di sebuah cafe.


"Gak ada. Emang kenapa?" Jawab Ririn sembari membersihkan meja dengan kain bersih.


"Gimana kalau kita ke alun alun kota? Katanya sih hari ini ada pameran balon udara di sana, gimana mau gak?" Ajak pria bernama Toni itu.


"Boleh, shif kita juga udah selesai 'kan? Sekarang aja kita kesana." Jawab Ririn tersenyum halus.


"Kalau gitu aku ganti baju dulu ya," Ririn mengangguk dan ikut pergi keruang ganti untuk mengganti bajunya. Setelahnya merekapun berjalan menuju alun alun kota untuk menyaksikan pameran balon udara.


"Woahh..." Ririn berdecak kagum melihat banyak dari mereka yang mulai menerbangkan balon balon udara bersama pasangan masing masing.


"Cantik ya?" Puji Toni tapi matanya justru menatap Ririn. Membalas tatapan Toni, Ririn mengangguk membenarkan tanpa paham maksud dari temannya itu.


"Rin, aku mau beli balon udaranya dulu. Kamu tunggu di sini ya! Jangan kemana mana!" Titah Toni.


"Iya."


Mungkin bagi Ririn perintah Toni tadi seperti angin lalu, karena terlalu penasaran Ririn memilih untuk berjalan jalan sebentar di sekitaran alun alun kota sembari menikmati semilir angin malam yang menerpa wajahnya.


"Iya mah iya tau... nanti iya nanti. Iya Kiki janji bakal bawa pacar Ki kerumah. Iya ih mama gak percayaan banget sih sama anaknya sendiri. Udah dulu ya mah, Ki lagi banyak kerjaan. Bye..." huft... helaan nafas itu terdengar sangat berat setelah Rifki menutup telfonnya.


"Mama rese banget sih, pake ngancem segala. Dikira gue gak bisa dapet cewek apa? Seorang Rifki tidak bisa meluluhkan wanita? Gak mungkin! Kecuali kalau lagi sama Er, soalnya cewek pada ngejar dia," berargumen sendiri, Rifki menengadah pandangannya ke arah langit yang terlihat cantik dengan berbagai macam balon udara.


Brukh


"Awh..."


Rifki mengerjap erjapkan matanya lucu melihat seorang wanita tiba tiba terjatuh di depannya.


"Eh cewek. Ini tuh trik biasa ya, banyak cewek cewek kayak kalian itu suka caper pura pura jatuh gini. Kalau mau kenalan ya kenalan aja, gue sadar kok gue emang ganteng." Ucap Rifki percaya diri.


Ririn perlahan bangun sambil membenarkan letak kacamatanya dan berjalan begitu saja.


Puk


"Mau kemana? Lo gak denger gue ngomong tadi sama lo?" Dengan cepat Rifki menahannya karena jengkel diabaikan begitu saja.


"Lepasin mas, salah saya apa?" Ujar Ririn.


"Kau..."


"Wah... kasihan banget itu istrinya, di kdrt sama suaminya sendiri." Bisik pejalan kaki satu mengomentari.


"Iya, dasar laki laki biadab!"


"Wah cowok apaan tuh beraninya cuma sama cewek, gak gentel banget!"


"Depan umum aja dia berani main kasar apalagi kalau di rumah? Disiksa kali istrinya.."


Rifki melirik kekanan dan kekiri tak percaya. "Ya kali gue dibilang kdrt? Punya istri aja belum." Gerutu Rifki pelan.


"Bisa lepasin saya masnya?" Pinta Ririn.


Beralih pada Ririn, Rifki menghela nafas sejenak meredam kekesalannya pada netizen. "Gak. Ikut gue!" Jawabnya menarik tangan Ririn pergi.


"Eh mau kemana?" Seru Ririn panik.


"Udah ikut aja!"


"Tapi---"


"Lepasin Ririn!!" Sebelum Rifki memasukkan Ririn kedalam mobilnya, Toni lebih dulu datang menahan keduanya untuk pergi.


"Toni..." Rifki melirik Ririn yang nampak mengenal pria tampan setelahnya yang berdiri di depan Rifki sambil memasang wajah datar.


"Lepasin Ririn!!" Titah Toni penuh penekanan.


"Kalau gue gak mau?" Tak ingin kalah, Rifki memasang wajah arogannya pada Toni, membuat pria itu tak dapat menahan emosinya.


"Kau!!"


"Jangan pernah ganggu Ririn!!" Ancam Toni dengan cepat menarik tangan Ririn pergi dari sana.


"Ririn..." Rifki tersenyum kecil lalu masuk mengendarai mobilnya menuju apartemen tempat ia tinggal.


***


Aku duduk melamun menghadap televisi. Masih terpikir dengan kata kata Arkan yang mengatakan bahwa dia merasa akrap juga familiar sejak pertama kali melihatku. Apa mungkin karena itulah dia suka menggodaku dulu?


"Sedang apa?" Lamunanku berakhir saat Erlang mengambil duduk di sampingku sambil membawa laptopnya.


"Tidak ada. Kamu sendiri sedang apa?" Penasaran, aku duduk mendekat dengannya untuk melihat isi dari laptopnya.


"Sedang mencari bahan materi untuk menciptakan barang baru di perusahaan," jawabnya begitu serius.


"Temanya apa?" Semakin penasaran.


"Kebaikan."


"Haha... tema apaan tuh? Perusahaan kalian memang memiliki tema aneh seperti itu ya? Gak ada yang lebih keren gitu?" Ledekku tertawa cukup kuat. Namun sedetik kemudian terdiam saat Erlang memberikan tatapan mematikannya.


"Tapi menurutku 'kan. Kalian bisa membuat sebuah alat pendengar bagi mereka yang punya penyakit tuli. Suaranya dapat diredam, dan dapat dihubungkan langsung dengan phone. Itu dapat memudahkan mereka untuk menyesuaikan suara sesuai keinginan, juga dapat menghubungkan langsung dengan phone mereka." Usulku.


"Sini, biar aku buatkan sketsa rancangan dan cara membuatnya seperti apa." Tanpa meminta persetujuannya, akupun mulai menggamarkan rancangan rancangan dengan cara membuatnya sekaligus secara detail. Selagi tangan ini menggambar, mulutku sembari menjelaskan caranya.


"Jelas? Ini sudah selesai, kamu bisa coba kalau gak percaya." Ucapku menggeser laptop agar dapat leluasa ia pahami.


"Kamu baru semester berapa udah bisa sepaham ini?" Seolah tak percaya, dia masih seperti syok melihat sketsa rancanganku.


"Suamiku 'kan pengusaha di bidang cips nano, jadi istrinya belajar dari suaminya dong..." godaku mencoba mentutupi bahwa selama ini daya pikir dan ingatanku sangat tinggi, bahkan aku bisa dengan mudah memodifikasi hal yang aku pelajari menjadi lebih sempurna lagi. Entah kenapa? Aku sendiri tidak tahu. Hanya saja selama ini aku selalu menutupinya, dan mencoba berbaur agar tidak dianggap spesial oleh sebagian orang.


"Oh ya?" Aku terkekeh mendengarnya.


"Sudahlah, aku kekamar dulu ya." Pamitku berjalan menuju kamarku yang ada di lantai satu, lebih tepatnya kamar tamu.


Brukh


Aku berbaring di atas kasur sembari menatap langit langit kamar. Erlang... mengingat Erlang aku jadi teringat dengan sketsa wanita itu. Sudah berapa lama aku belum bisa memecahkannya? Sungguh bukan aku sekali.


Karena masih penasaran, akupun memutuskan untuk mengambil laptop dan menyaksikan hasil rekaman cctv yang merekam kejadian waktu itu.


"Tunggu! Bukankah dia datang dari dalam hotel? Kalau begitu pasti ada dong rekaman lain yang tak sengaja merekamnya. Mungkin saja ada gambaran yang lebih jelas di rekaman lain. Iya!"


Betapa bodohnya aku sampai tidak terpikir kesana. Karena sudah tau teka tekinya, akupun mengambil ponsel lalu memanggil kontak kak Danar, kakak iparku.


"Hallo ril? Tumben nelfon, ada apa?"


Berjalan menuju balkon. "Kak, Aril boleh minta tolong?" Pintaku.


"Boleh dong masa enggak. Emang Aril mau minta tolong apa?"


"Kakak bisa tolong ke dark hotel dekat rumah uma gak? Aril minta kakak buat nyari rekaman cctv. Nanti Aril kirim rekamannya, jadi kakak cari rekaman lain orang itu abis itu kirim ke Aril. Aril butuh banget soalnya," jelasku.


"Bisa. Tapi nunggu kakak libur ya? Soalnya kakak akhir akhir ini banyak banget kasus yang harus kakak tuntasin. Gak apa apa 'kan?"


"Gak apa apa. Makasih banyak kak."


"Sama sama. Kalau gitu kakak tutup dulu ya telfonnya? Kakak masih harus kerja lagi soalnya."


"Hm."


"Ya udah assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh..."


Setelah panggilan berakhir, aku menatap hamparan bangunan yang nampak kerlap kerlip di malam hari. Apa keputusanku sudah benar dengan mencarikan Erlang wanita di malam itu? Kenapa aku merasa sedikit takut kalau Erlang akan pergi meninggalkanku?


"Ada apa denganmu sebenarnya April Lia...?"