
Cklek
Pintu kamar terbuka. Aku masih berdiam diri di atas kasur sambil memperhatikan pergerakan seorang gadis yang tengah melepas sepatunya lalu menaruhnya ke atas rak.
"Dari mana aja baru pulang jam segini?"
Pertanyaanku mungkin mengagetkannya. Gadis yang tidak lain adalah Nana terlihat mengelus dadanya berusaha menetralisir rasa kaget.
"Aril kok ada di sini?" Tanya gadis itu berjalan perlahan menghampiriku, duduk di depan meja rias dan mengambil benda benda yang tidak aku ketahui namanya untuk menghapus make up.
"Gak apa. Cuma pengen nginap aja." Terdiam sejenak, aku melirik Nana yang terlihat sibuk berkutat dengan wajahnya sendiri di depan cermin. "Kamu habis darimana jam segini baru pulang?" Mengingat ini sudah menunjukkan pukul 9 malam, jelas aku khawatir. Nana bekerja di resto hanya sampai pukul 8 sesuai dengan kesepakatan yang aku buat dengan bang Andre. Jam kerja sisa Nana biasanya aku yang habiskan dengan gaji diberikan untuk Nana. Hanya saja untuk beberapa hari kedepan aku ingin cuti menenangkan diri. Atau lebih tepatnya, berusaha melarikan diri.
"Habis dari rumah Kak Arkan dulu. Tadi Nana juga dianterin pake supir keluarganya kak Arkan,"
"Oh.." aku tidak ingat sejak kapan Nana dan Arkan sedekat ini. Hubungan mereka memang dekat, hanya saja Nana terlalu polos untuk merespon seperti sekarang.
Perlahan Nana bangkit dari duduknya, mengambil handuk lalu membawanya pergi ke kamar mandi. Sampai terdengar bunyi pintu ditutup, aku masih berdiam diri di atas kasur dengan sejuta tanya dan kenyataan yang aku terima.
Aku tidak mengerti kenapa keadaan sekarang terasa semakin rumit saja. Berawal dari pernikahanku dengan Erlang, sampai kembalinya Alfino, dan diperumit oleh Ririn yang menjadi mata mata Alfino. Kenapa hidupku seperti drama saja. Apalagi takdir sempit yang mempertemukan ku kembali dalam balutan ikatan pernikahan dengan Erlang, pemuda yang tidak sengaja aku curi ciuman pertamanya. Jika saja Alfino tidak mengancam, mungkin keadaannya tidak akan serumit ini. Aku bisa saja membalas rasa Erlang, dan menjalani pernikahan yang normal bersamanya. Tapi ternyata takdir tidak berjalan semulus itu.
Cklek
Pintu kembali terbuka, dari sudut pandang ku, Nana berjalan menuju lemari mengambil baju tidurnya lalu memakainya. Setelah selesai mengganti baju, dia ikut membaringkan diri di samping ku sambil memainkan ponselnya.
"Na," panggilku pelan.
"Hm?" Masih fokus pada ponselnya.
"Bagaimana menurutmu, jika berpisah adalah jalan satu satunya dalam sebuah hubungan, karena di satu sisi ingin menyelamatkan orang yang disayang." Tanyaku. Entah mengapa mulut ini bertanya pada Nana, tapi aku hanya ingin minta pencerahan. Dan aku hanya memiliki Nana sebagai teman.
Pandangan Nana beralih dari ponselnya padaku. Sejenak dia terdiam memikirkan jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan yang aku ajukan.
"Menurut Nana, keputusan itu salah. Si pasangan itu sama aja gak percaya sama pasangannya sendiri. Segala sesuatu itu gak melulu dipecahkan dengan perpisahan. Harusnya dirundingin dulu, cari jalan keluarnya bareng bareng. Kalau emang udah buntu, gak ada jalan lagi, baru ambil keputusan buat pisah." Jawab Nana membuatku tertegun. Jujur saja, memang aku tidak pernah merundingkan hal ini dengan Erlang. Rasa takutku akan masalalu yang terulang, membuatku mengambil keputusan paling bodoh tanpa rundingan.
"Kalau bisa saling membahagiakan, kenapa harus saling menyakiti?" Lanjut Nana membuyarkan fokusku.
Aku tidak menjawab, memilih menarik selimut dan berbaring memunggungi Nana. Aku sudah membuat keputusan, besok aku akan menemui Erlang untuk membicarakan hal ini dengannya. Aku tidak ingin mengambil keputusan bodoh seperti dulu, mengorbankan kebebasanku hanya karena rasa takut. Sudah saatnya aku bangkit dan melawan rasa takut itu.
***
Di sebuah sekolah Negri di kota Malang. Seorang gadis dengan paras yang cantik terlihat tengah menyusuri koridor dengan tatapan dinginnya. Di belakang gadis itu, seorang pria terus mengekorinya bagaikan anak ayam pada induknya.
Bugh
Bunyi pukulan terdengar. April lantas menghentikan langkahnya tanpa berniat berbalik badan. Helaan nafas lelah mengiringi tubuh April yang memutar kebelakang.
"Jaga mata Lo! Sekali lagi gue lihat Lo mandangin cewek gue gitu, habis Lo sama gue!" Paduan terakhir, lelaki itu meludah tepat pada pemuda yang sudah tidak sadarkan diri di lantai penuh dengan darah segar yang menetas dari wajahnya.
Tak kuat. April segera menarik tangan lelaki itu pergi menerobos kerumunan yang menyaksikan aksi kesekian pria bernama Alfino dengan alasan yang sama. Tatapan kagum lelaki pada wajah cantik April.
Setelah dirasa sepi, April menghempaskan tangan Alfino dan berbalik menatap tajam mata yang justru menatapnya lembut.
"Stop Al! Stop berbuat semau Lo! Stop ngedikte bahwa gue adalah milik Lo!" Seru April dengan nafas naik turun.
"Tapi Lo emang milik aku honey" jawab Alfino membuat April merasa muak dan kesal secara bersamaan. Selama ini ia sudah cukup sabar dengan kelakuan Alfino yang semena mena mengatur kehidupannya. Dan saat ini kesabaran April di ambang batas.
"Alfino please! Gue udah bilang gue gak suka sama Lo! Jadi tolong jangan ganggu gue lagi!" Tekan April lelah mengingatkan pria itu.
"Aku suka sama kamu. Dan aku rasa itu sudah cukup untuk aku bisa memiliki kamu sepenuhnya," jawab pria itu santai.
"Gila! Lo udah gila Fin!" Tanpa memperdulikan pria itu, April bergegas pergi kemanapun itu yang penting tidak ada kata Alfino di dalamnya.
Memandangi kepergian April, Alfino perlahan tersenyum kecil lalu sedetik kemudian berubah menjadi seringai menakutkan.
"Your mine!"
***
"Aril!" Langkah April terhenti saat mendengar seseorang memanggil namanya. Seorang pria yang ia kenal sebagai sosok anggota OSIS itu terlihat berjalan menghampirinya.
"Mau pulang ya? Bareng gue yuk!" Ajak lelaki itu.
"Gue dijemput" singkat, padat dan jelas.
"Kalau gitu gue temenin Lo nunggu jemputan aja deh!" April menghela nafasnya. Pria bernama Farhan itu memang satu diantara banyaknya lelaki yang mendekatinya, tapi terhalang oleh si iblis Alfino. Dan Farhan adalah lelaki satu satunya yang berani mendekatinya secara terang terangan.
"Terserah"
"Ril,"
"Hm"
"Jangan cuek cuek banget" refleks April mengalihkan pandangannya pada Farhan. Menunggu lelaki itu melanjutkan kata katanya.
"Lo gak perlu jaga jarak sama orang orang di sekitar Lo. Lo juga gak perlu perduli sama sikap Alfino yang terlalu obsesian sama Lo. Lo berhak bahagia Aril. Dan kebahagian Lo itu ditentuin sama Lo sendiri, kalau langkah Lo terpengaruh oleh orang lain, sama aja Lo memutus kebahagian yang sebenarnya, Lo yang punya. Lo yang punya andil itu semua. Saran gue, mulailah terbuka pada lingkungan." Kata kata itu terus terngiang ngiang di pikiran April sampai gadis itu sampai dirumahnya.
Setelah melaksanakan sholat, April membaringkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit langit kamar sambil terus memikirkan ucapan Farhan padanya.
Tringgg
Bunyi pesan masuk membuyarkan pikiran April pada ucapan Farhan. Tatapannya kini beralih pada layar ponsel yang menampilkan sebuah foto dari nomor Alfino beserta tulisan.
Datang ke gudang di jalan X dan lihat apa yang bakal gue lakuin sama cowok sok seperti bajingan kecil ini..
April seketika bangkit dari tidurnya dengan mata yang terkejut. Di foto itu Farhan terlihat tak sadarkan diri di atas sebuah kursi dengan tangan, kaki dan mulut yang diikat.
Tanpa pikir panjang, April bergegas pergi meski waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Saat sampai di ruang tamu, langkah April terhenti saat melihat kedua orang tuanya tengah menonton televisi.
"Kamu mau kemana malam malam begini?" Tanya Uma melihat putrinya terlihat mengenakan jaket tebal seakan ingin keluar.
"Mau ke supermarket depan ma," bohong April. Karena tidak mungkin dia mengatakan bahwa ingin menyelamatkan seseorang.
"Ya udah, jalan hati hati! Bawa ponsel, biar kalau ada apa apa langsung telfon rumah!" Pesan Abah.
"Iya bah, kalau gitu Aril pergi dulu. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Setelah berpamitan pada kedua orangtuanya, April segera menyetop taksi untuk membawanya kejalan yang Alfino kirimkan padanya.
Sesaat sudah sampai di depan gudang yang di maksud. Dengan ragu April mendorong pintu, seketika itu juga tubuh April menegang. Di depan sana, seseorang yang ia kenali sebagai sosok Farhan tengah terbaring tak sadarkan diri dengan darah yang terus mengalir di bagian perutnya, sedangkan di tangan Alfino terdapat sebuah pisau berlumuran darah milik Farhan.
"FARHAN!!!" April segera berlari menghampiri tubuh tak sadarkan diri Farhan, namun tertahan saat Alfino dengan kasar menahan tangan April agar tidak bisa menghampiri Farhan.
"Lepasin!! Farhannnn!!!" April berteriak histeris dan terus memberontak minta dilepaskan. Karena kesal, Alfino menarik dengan kasar tubuh April dan mengikatkan di atas kursi bekas tempat duduk Farhan.
April menangis histeris dan berusaha memberontak. Rasa bersalah terus bermunculan di benaknya, menimbulkan efek sakit karena membuat Farhan harus kehilangan nyawanya karena dekat dengannya.
"Lepasin brengsek! Apa yang udah Lo lakuin sama Farhan! Dia gak ada salah apa apa Bajingan!!!" Seru April menatap tajam wajah menggelap milik Alfino.
"Dia salah. Salah karena mau bermain main sama aku! Kamu harus camkan ini honey. Kamu itu milik aku! Dan gak ada satupun yang boleh dekat dengan kamu. Termasuk lelaki itu! Aku hanya ingin memberimu sedikit pelajaran, agar kamu mengerti. Untuk kedepannya, jangan pernah berani dekat dengan lelaki lain, atau pria itu akan berakhir sama dengannya!" Tunjuk Alfino pada jasad Farhan.
Brak
Kepala April pusing, bertepatan dengan seseorang yang tiba tiba datang mendorong kuat pintu hingga menimbulkan bunyi yang begitu keras.
April tidak dapat melihat dengan jelas siapa lelaki itu karena rasa pusing yang terus menderanya, membuatnya kesulitan untuk menatap dengan jelas pemilik wajah itu.
"Siapa Lo?! Beraninya mengganggu kesenangan gue!" Teriak Alfino menatap geram tamu tak diundang yang telah berani masuk kedalam wilayahnya.
"Oh.. ternyata kesenangan seorang psikopat adalah membunuh orang lain? Atau melihat seorang gadis ketakutan seperti itu?" Gumam pria itu menganggukkan kepalanya pelan sambil meneliti setiap sudut ruangan yang ada, hingga tatapannya jatuh pada gadis yang menatapnya dengan tatapan sayu. Dan itu membuat si pria terbangkitkan amarahnya.
"Lepasin dia!" Titah pria itu berjalan mendekat dengan tenang, seolah tidak takut sama sekali dengan resiko yang mungkin ia dapatkan nanti.
Alfino menggeram kesal pada sosok pemuda yang ia taksir usianya jauh lebih tua darinya, mungkin sudah kuliah atau mungkin sudah bekerja karena pakaiannya yang rapi menggunakan kemeja dengan lengan ditekuk hingga kesiku.
Lewat kode yang Alfino berikan, tiba tiba saja ruangan yang semula hanya ada mereka kini dipenuhi oleh para pria berbaju serba hitam yang mengepung dan menyudutkan pria itu.
Pria itu terdiam sejenak, menghela nafas lalu menendang perut Alfino hingga jatuh tersungkur. Hingga perkelahian itupun tidak terelakkan. Hampir dua puluh orang melawan satu orang. Tapi lelaki itu terlihat sangat lihai dalam bermain, satu persatu dari mereka ia tumbangkan dengan mudah.
Hingga saat dia menumbangkan lawan terakhir, tatapannya terpaku pada seseorang yang tak lain adalah Alfino hendak menyentuh April berniat membawanya pergi. Namun dengan cepat pria itu hentikan.
"Hosh hosh jangan. Hosh hosh sentuh. hosh wanitaku!" Ucap pria itu lalu mendorong keras tubuh Alfino hingga terjatuh di atas lantai penuh debu yang bercampur dengan darah segar.
Pria itu segera berbalik dan melihat April sudah tidak sadarkan diri, cepat cepat dia melepaskan ikatan di tangan dan kaki gadis itu dan menggendongnya keluar dari ruangan.
***
"Aril.. Aril bangun.. Aril!!"
Aku seketika terbangun saat merasa seseorang mengguncang keras tubuhku. Tatapanku jatuh pada Nana yang masih mengenakan pakaian tidurnya. Melirik jam, sudah pukul setenang lima. Sepertinya aku bermimpi.