Melody

Melody
Waktunya move on



"Arilll" aku turun dari mobil dan menoleh kesamping, di mana Nana langsung menerjangku, untungnya aku refleks memegang knop pintu mobil sebagai pertahanan agar tidak terjatuh.


"Aril kemana aja sih? Nana kangen tau!" Rengeknya berpindah memeluk lenganku manja.


"Hai ril, apa kabar?" Kak Daniel menyapa.


"Baik."


"Oh.. syukurlah."


Aku, Nana dan Kak Daniel segera masuk kekampus untuk memulai hari dengan belajar. Apalagi aku, sudah hampir dua minggu aku mengambil cuti, dan yang pastinya pelajaran pun aku banyak tertinggal.


"Hai Aril..." Naura menyapa. Aku menghela nafas lelah. Apa lagi yang ingin dia katakan? Apa dia ingin mengatakan kalau aku sudah menikah.


"Juga." Setelahnya aku pergi meninggalkannya. Masih banyak hal yang harus ku urus, dan urusan ku ini jauh lebih penting dari pada meladeni mulut dia yang seperti itu.


"Oh ya! Selamat untuk pernikahan mu ya Aril!" Aku menghentikan langkahku sambil menghela nafas sejenak, setelah itu aku berbalik menatapnya dingin.


"Pernikahan? Ma-maksudnya?" Kak Daniel melirik ku dan Naura bergantian, seolah olah meminta sebuah penjelasan.


"Kakak gak tahu? Aril itu 'kan udah menikah. Makanya dia ngambil cuti kuliah." Ujarnya menutup mulut terkejut.


"Aku gak tahu. Benar itu ril?"


Membalas tatapan. "Apa aku terlihat seperti pengantin baru?" Jawabku dengan malas berbalik melanjutkan langkah.


"Kamu sembunyiin pernikahan kamu ril?" Naura kini kian membuncah, mencari titik kelemahan ku dan berusaha memojokkanku.


Aku kembali berbalik menatap mereka satu persatu. "Apa aku terlihat menyembunyikannya?" Jawabku.


"Jadi benar, kamu sudah menikah?"


Aku terdiam sejenak. Aku sih bodo amat orang orang tahu aku menikah atau belum. Tapi masalahnya, aku tahu ada mata mata 'dia' di kampus ini. Yang aku takut 'kan adalah, mata mata itu mendengar beritanya dan memberitahukan kepada 'dia' tentang pernikahanku. Aku masih belum ingin kejadian dua tahun lalu terjadi lagi.


"JAWAB ARIL!!"


Aku melirik Kak Daniel yang nampak begitu terluka. "Apa kamu mempunyai foto saat aku menikah?" Tanyaku melirik Naura yang setia di sana.


"I-itu.."


Aku tersenyum kecil. Aku yakin sekali Naura tidak mempunyai fotonya, karna saat di sana waktu itu dia sibuk menuduhku dan setelah itu pergi tanpa sempat mengabadikan bukti untuk disebarkan ke seentero kampus.


"Apa aku memakai cincin?" Tanyaku pada Kak Daniel dengan kedua tangan yang ku angkat di hadapannya.


"Ti-tidak."


"Lalu?" Aku tersenyum sinis dan berlalu pergi meninggalkan mereka. Mereka mengira pasti aku tidak menikah, padahal pertanyaan tadi adalah jebakan. Bagi orang pintar, itu hanya sebuah pertanyaan. Tapi bagi mereka yang minim akan ilmu, atau sedang dalam fase linglung mereka pasti mengira itu sebuah pernyataan yang menjelaskan bahwa aku tidak menikah. Jadi, aku tidak salah bukan?


***


Seseorang yang sedari tadi terlihat sedang membaca buku di kursi koridor melirik arah perginya April. Setelahnya dia menutup buku itu dan berjalan ketempat sepi yang jarang dilewati para mahasiswa maupun mahasiswi.


"Hallo kak. April sudah menikah." Ujar orang tersebut menatap lurus kedepan dengan handphone yang menempel di telingnya.


"Heh. Benarkah?" Pria yang ditelfon orang itu menatap lurus hiruk pikuk padatnya kota dari atas gedung di lantai 17.


"Terima kasih untuk infonya. Sepupu." Klik. Pria itu mematikan panggilan secara sepihak, lalu berjalan mengambil sebuah foto dari balik laci nakas yang terletak di samping tempat tidur.


"April... tunggu kepulangan ku ke Indonesia!" Gumamnya melempar foto itu keatas kasur dan pergi.


***


Bug


"Ini berkas tambahan yang harus anda tanda tangani tuan!" Tutur pria tampan dengan lesung pipi indah menghiasi senyum kecilnya. Dia Rifki.


"Ki," panggil Erlang pelan.


"Iya tuan?"


"Menurutmu istri ku itu seperti apa?" Tanyanya dengan wajah galau galau merana.


"Cantik, manis, imut, dewasa, dan sifatnya yang tegas dan suka membela kebenaran itu benar benar cocok untuk dipasangkan dengan anda yang arogan." Jawab Rifki sambil membayangkan wajah datar April yang cantik. Erlang langsung mendelik tajam pada pria itu membuat Rifki langsung tersenyum canggung.


"Em.. memangnya kenapa anda bertanya seperti itu pak?" Tanya Rifki menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Istri ku ingin membantuku mencari wanita di malam itu!"


Membulatkan mata sempurna. " What?!Apa nona April berniat ingin menjadi janda di usia muda?" Teriak Rifki terkejut.


"Apa maksudmu?!"


"Begini tuan. Anda mencintai wanita di malam itu, dan jika nona April mendapatkan identitasnya, otomatis anda pasti akan mencari wanita itu dan menikahinya. Dan saya yakin, nona April pasti minta diceraikan. Terdiam sejenak. "Apa mungkin nona April sengaja membantu anda mencari wanita itu agar bisa bercerai dengan anda dan menikah dengan lelaki pujaannya?"


Erlang mengerutkan keningnya serius. Apa yang di katakan Rifki bisa jadi. Mungkin April memiliki seseorang yang spesial di hatinya dan berniat bercerai dengan cara menemukan pelakor yang di cintai suaminya.


"Tapi aku sudah berkata padanya, bahwa aku tidak berniat ingin bercerai dan hanya ingin melihat wajah wanita itu saja." lirih Erlang terlihat begitu polos.


"Isi hati seseorang siapa yang tahu? Sebaiknya anda dekati nona April untuk mencari tahu siapa pria itu. Dari ke pribadian nona yang begitu tertutup, nampaknya anda akan sulit untuk mengetahui isi hatinya. Jadi anda harus serius mendekati nona April." Jawab Rifki melirik Erlang penuh arti.


"Benarkah?"


"Iya. Setengah jam lagi waktu makan siang tiba, dari jadwal kuliah nona, seharusnya dia sebentar lagi akan pulang. Jadi sebaiknya anda segera menjemput nona di kampusnya." Tutur Rifki.


"Kenapa harus aku?"


"Tentu saja anda tuan. Ini itu adalah bentuk pendekatan pertama anda. Jadi, anda harus membuat nona April terkesan pada anda dan mau mengungkap 'kan isi hatinya."


"Begitukah? Kalau begitu aku pergi sekarang." Erlang segera menyambat jas kerjanya dan keluar dari ruangan untuk menjemput istri kecilnya.


Di dalam ruangan, Rifki tersenyum penuh kepuasan. "Sudah saatnya anda move on tuan. Dan saya yakin, nona April bisa menggantikan wanita itu dari posisinya di hati anda." Gumam Rifki lalu keluar dari ruangan tersebut menuju ruangannya sendiri.