
**Siap siap mental bakal digoncang. Yang jomblo skip aja. Karena beberapa episode kedepan hanya akan ada ke uwuan antara Erlang dan April.
See selamat membaca**..
***
Aku menyangga dagunya sembari memperhatikan Erlang yang terlihat sangat tampan saat sedang serius bekerja. Astaga.. kok suamiku ganteng banget sih?
"Kenapa?" Merasa diperhatikan, Erlang mengalihkan pandangannya dari berkas padaku.
"Enggak. Aku cuma heran aja.."
"Heran kenapa?"
"Makhluk di depan aku ini kok ganteng banget sih?" Benar benar. Aku gemas sekali ingin menggodanya sesekali. Kapan lagi melihat seorang April gombal?
"Astaga kamu. Orang biasanya cowok yang gombal, ini malah kamu yang gombalin cowok." Terkekeh pelan, dia kembali memperhatikan berkas yang ada di tangannya, sesekali mencoret tanda tangan diatasnya.
"Ini udah jamannya emansipasi wanita yang maju. Nunggu cowok yang perjuangain, kelamaan. Cowok kan lekat dengan kata GAK PEKA!" Ku tekan dengan sengaja kata 'gak peka'.
"Oh? Kamu sedang kode?" Aku menatap bingung saat Erlang bangkit dari duduknya, lalu menghimpit ku yang duduk di sofa ruang kerjanya.
"Kode? Kode apa?" Tanyaku tak paham.
"Kode ingin di rayu? Digombali? Atau kamu sedang bosan dan ingin ditemani?" Lirih Erlang sambil memainkan jari jemarinya di pipiku. Sungguh, gayanya saat ini sangat menggoda.
"Tidak. Aku sudah terbiasa hidup ditemani kesepian? Sesaat saja, kenapa aku harus mengeluh?" Memang benar, selama ini aku sudah terbiasa hidup berdiri di atas kaki sendiri tanpa ingin melibatkan orang lain. Sunyi, sepi, adalah makanan sehari hariku.
Tangan Erlang berhenti bermain, tatapannya kini beralih menatap tepat di bola mataku. Dapat dengan jelas kulihat bayanganku di matanya. Dan sedetik kemudian tubuhku terasa melayang di udara.
"Eh?" Aku refleks mengalungkan tangan di leher Erlang. Pria itu dengan sigap membawaku, mendudukkan ku di atas pangkuannya di kursi kebesarannya.
"A-apa? Apa yang kamu lakukan?" Jujur, berada sedekat ini dengan Erlang membuat debaran jantungku berkerja lebih cepat dari biasanya. Dan ini benar benar tidak baik untuk kesehatan jantungku.
"Bermainlah sesukanya dengan tubuhku, atau pandangi saja wajahku yang tampan ini. Biar kamu tidak bosan, karena bermain dengan ku cukup mengasikkan bukan?" Goda Erlang mengerling mata jahil.
Plak
"Mesum!" Aku bersiap hendak turun, tapi dengan sigap Erlang melingkarkan tangannya di pinggangku, memeluk dengan erat sehingga aku tidak bisa bergerak untuk turun dari pangkuannya.
"Lepasin!"
"Gak mau! Kapan lagi bisa meluk kamu gini? Biasanya kamu galak banget kalau aku modus gini." Jangan ingatkan aku kalau sesungguhnya aku juga sangat galak. Memang iya aku marah, tapi wajar saja karena Erlang melakukannya tidak tahu tempat, di depan banyak orang dia malah bucin? Bikin malu saja.
Aku hanya mampu menghela nafas membiarkannya memelukku sambil mengambil antisipasi kalau kalau dia mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Mas, sebelum denganku, kamu pernah jatuh cinta dengan orang lain?" Tanyaku mengusir keheningan yang tercipta.
"Pernah"
"Oh ya? Dengan siapa?" Cecarku. Aku pikir aku adalah cinta pertamanya, tapi aku salah. Ternyata sebelum aku masih ada wanita lain yang dia cintai.
"Ha?" Aku menatap Erlang tak mengerti. Adik? "Maksudmu Pricila?" Tanyaku memastikan. Karena seingat ku adik Erlang ada dua, Arkan dan Pricila. Dan Erlang tidak mungkin menyukai Arkan. Tapi aneh juga jika Erlang menyukai adiknya sendiri.
"Jujur saja. Dulu aku dan Arkan akan selalu berebut perhatian dari Cila. Tapi yang jadi pemenangnya justru papa. Saat itu aku dan Arkan kompak merajuk. Dan yang bisa membujuk kami hanya Cila. Intinya, Cila ada warna terindah dalam keluarga kami. Hanya saja sangat disayangkan, dia menghilang bersamaan dengan kematian papa. Tidak ada yang tahu dimana Cila sekarang. Aku sudah mengerahkan seluruh pengawal ku untuk melacak keberadaannya, namun nihil. Cila benar benar tenggelam tanpa suara, tanpa jejak." Cerita Erlang berubah sendu.
"Jadi, kenapa kamu bisa jatuh cinta padanya?" Tanyaku masih penasaran alasan Erlang jatuh cinta dengan adiknya sendiri. Bisa dibilang cinta terlarang.
"Aku tidak tahu pasti kenapa. Tapi sejak dia datang kerumah, aku sudah menyukainya. Jantungku berdetak lebih cepat kala melihatnya, dan aku tidak suka saat ada lelaki lain yang dekat dengannya, meski itu papa dan adikku sendiri. Kepergiannya memberikan luka tersendiri bagiku. Bunda mungkin mengira alasan aku lebih tertutup selama ini karena meninggalnya papa, tapi sejujurnya aku seperti ini karena Cila." Jelas Erlang.
Aku termenung memikirkan perkataan Erlang. Seharusnya aku cemburu, tapi kenapa hatiku justru menghangat? Seperti ada secercah kebahagiaan yang tidak aku mengerti kenapa.
"Kalau kamu? Sebelum aku, kamu pernah suka dengan seseorang?" Lamunanku hilang, kini bergantian Erlang pula yang bertanya.
"Kakak ganteng!"
Bayangan itu seketika mengusikku. Suara ceria seorang gadis yang aku tidak tahu siapa. Panggilan yang terasa akrap dan cukup menyenangkan. Tapi kenapa aku bisa tidak mengingatnya?
"Mungkin pernah" jawabku cuek.
"Kok mungkin?" Protes Erlang.
"Sejujurnya aku juga tidak ingat pernah menyukai orang lain atau tidak. Selama ini aku selalu merasa aku selalu melupakan banyak hal penting. Bahkan masa kecilku saja aku hanya ingat dari umur 9 tahun, kebawah umur itu aku tidak ingat sama sekali. Jika aku memaksa untuk ingat, kepalaku pasti sakit, dan parahnya aku bisa pingsan. Makanya, sejak hari itu aku tidak pernah lagi memperdulikan bagaimana kisah masa kecilku." Yang ku katakan memang fakta. Sewaktu kecil aku pernah memaksa untuk ingat, tapi hasilnya berakhir aku terbaring di rumah sakit. Sejak saat itu aku enggan mengingat lagi.
"Hanya saja, akhir akhir ini bayangan asing sering muncul di pikiranku. Seperti aku yang mengingat kejadian kita di hotel tiga tahun lalu. Aku tidak mengerti kenapa aku cepat lupa, bahkan seperti orang yang kehilangan ingatan."
"Hahahaha"
Ada satu lagi. Hanya saja, yang membuatku bingung adalah sosok anak kecil yang dipanggil Cila. Apa ini hanya kebetulan namanya sama dengan adik Erlang?
Tok tok tok
Lamunan ku pecah saat mendengar pintu diketuk. "Masuk!" Seru Erlang membuat orang tersebut segera membuka pintu.
"Maaf pak, hanya ingin mengingatkan. 15 menit lagi kita akan meeting." Ujar Rifki mengalihkan pandangannya enggan melihat kearah kami. Apa dia malu melihat aku duduk dipangkuan Erlang?
"Yah. Kamu sudah bisa keluar"
"Permisi."
Pandangan Erlang beralih padaku. Satu kecupan pria itu berikan di pipiku. Sembari tersenyum, "aku harus pergi. Kamu mau tetap di sini, atau pulang kerumah? Mungkin kamu ingin bertemu bunda?"
"Aku tetap di sini aja. Apa kamu ada kamar di sini? Aku mengantuk, dan ingin tidur," jawabku merasa kalau mataku mulai terasa berat.
"Tentu, aku bawa kamu kesana." Erlang perlahan mengangkat tubuhku, lalu menarik satu buah buku hingga menggeser tak buku dan memperlihatkan pintu rahasia.
Erlang dengan sigap membawaku masuk, dan secara perlahan membaringkan ku di atas kasur. "Tidurlah dengan nyenyak. Kalau butuh sesuatu, telfon saja aku. Aku masih harus kerja lagi, istirahatlah dengan baik."
Cup
Setelah mengecup keningku, Erlang pergi meninggalkan aku yang mulai bersiap untuk tidur. Setidaknya, aku ingin beristirahat sejenak.