
"Kamu temannya Nana 'kan?" Tanya Yuli pada Arkan untuk memastikan bahwa pria muda di hadapannya ini adalah teman putri kesayangannya. Nana Ayunda.
"Iya, saya temannya Nana."
"Nana sekarang gimana keadaannya? Dia baik baik sajakan?" Cecar Yuli sudah sedari tadi menahan rasa khawatirnya pada sang putri.
"Nana baik baik aja kok tan."
"Syukurlah, sekarang Nana tinggal dimana?" Tanya Yuli lagi. Siapa yang tidak akan khawatir putri polos dibiarkan hidup mandiri di kota sendiri.
"Di kostan putri jln. Tilang. Bekas kostannya Aril," jawab Arkan sabar menghadapi calon mertua. Harus bisa ngambil hatinya.
"Nana tinggal di kostan? Sendirian? Pah... kita jemput Nana aja ya... dia udah lama pergi. Pasti udah bisa mandiri kok, pah aku gak mau anak kita kenapa kenapa." Bujuk Yuli berharap Hardi suaminya mau menerima permintaannya.
"Ini baru sebulan Nana pergi. Mana mungkin dia bisa mandiri secepat itu? Mah, aku ngusir Nana itu demi kebaikannya dia. Aku tidak mungkin mengusirnya tanpa menjamin keselamatannya," jawab Hardi membuat Yuli hanya bisa menangis meratapi keadaan putrinya.
"Tante tenang aja. Kostan Nana itu khusus putri. Depannya juga berpagar, dan gak sembarangan orang bisa diizinin masuk. Nana aman tinggal di sana." Ucap Arkan memberikan ketenangan untuk Yuli.
"Sekarang Nana kerja apa?" Tanya Hardi akhirnya. Tak dapat dipungkiri sebagai seorang Ayah dia juga merasa khawatir melepas putrinya yang polos itu sendirian di kota.
"Jadi salah satu pelayan di restouran tempat Aril kerja," jawab Arkan.
"Ya ampun papa... kita jemput aja Nana. Aku gak tega pah, masa iya Nana harus kerja capek capek sih? Papa gak kasihan sama Nana?" Cecar Yuli kembali menangis mendengar anaknya bekerja.
"Udahlah mah, itu tuh salah satu bukti bahwa Nana sedang dalam masa pendewasaannya. Kalau memang sudah waktunya, papa sendiri yang akan menjemputnya pulang," ujar Hardi bahagia sedikit sedih mengetahui anaknya harus bekerja menghidupi kebutuhan sedangkan dulu dirinyalah yang selalu memberikan uang.
"Sampai kapan?"
"Sampai Nana bener bener bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah." Tegas Hardi.
"Papa jahat! Papa gak sayang sama anak sendiri!" Dengan penuh kekesalan, Yuli pergi meninggalkan Hardi.
"Mah.. mamah!!" Hardi hanya mampu menghela nafas. Jelas sekali Nana adalah cetakan istrinya yang ambekan dan sangat polos. Entah kenapa dulu dia mau menikahi wanita polos itu.
"Eeee... om. Kalau boleh tau, Nana diusir kenapa ya om?" Tanya Arkan hati hati, juga penasaran alasan Nana diusir dari rumah.
"Huft. Dulu..."
Flashback
"Pak, ini ada dokumen yang harus anda tanda tangani." Ucap salah satu pegawai kantor menyerahkan setumpuk berkas kepada Hardi. Sang direktur utama di perusahaan yang bekerja dibidang perabotan rumah tangga.
"Taruh saja di atas meja." Jawab Hardi fokus pada layar komputernya sembari mengetik kata demi kata menjadi serangkaian dokumen penting yang akan dikirim ke rekan bisnisnya.
"Kalau begitu saya permisi," pegawai itu pergi bertepatan setelahnya seseorang masuk membuka pintu.
"Papa..." putri kesayangannya Nana datang lalu memeluk lengannya manja.
"Ada apa sayang? Tumben kamu kemari?" Hardi memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya, lalu bangkit mengajak putrinya untuk pindah duduk di sofa.
"Enggak, Nana cuma mau main aja. Papa lagi sibuk ya?" Tanya Nana memeluk Hardi seolah rindu berat.
"Sesibuk apapun papa, kamu tetap menjadi prioritasnya papa," jawab Hardi sembari mengelus rambut putrinya.
Tok tok tok
"Masuk!"
"Permisi pak, maaf mengganggu waktunya. Tuan Ardi Wijaya sudah tiba," ucap sekretaris Gilang.
"Suruh masuk."
"Silahkan tuan..." Gilang mempersilahkan rekan kerja Hardi untuk masuk. Dua orang anak dan bapak berjalan masuk bersamaan yang disambut Hardi baik.
"Silahkan duduk tuan." Ajak Hardi mempersilahkan tuan Ardi dan anaknya untuk duduk.
"Langsung saja kita bahas mengenai kerja samanya." Tutur Hardi tidak ingin membuang buang waktu untuk sekedar berbasa basi.
"Pah, Nana mau kuliah. Nana pergi sekarang ya?" Bisik Nana pada Hardi.
"Diantarin sama supir ya." Nana mengangguk patuh, membiarkan putrinya pergi diantarkan Gilang sampai kedepan.
"Om, saya boleh lihat lihat kantor om gak?" Izin putra rekannya Vero.
"Boleh, silahkan. Gilang kamu tolong temani Tuan muda untuk berkeliling perusahaan," jawab Hardi meminta Gilang temani.
"Oh gak usah om, gak perlu ngerepotin. Om Gilang di sini aja, Vero bisa keliling sendirian kok." Tolak Vero halus.
"Yakin?"
"Yakin om. Kalau gitu Vero permisi pergi dulu ya..." pria muda itu berjalan pergi untuk melihat sekeliling perusahaan milik Hardi. Meskipun entah mengapa perasaan Hardi tidak tenang memikirkan putri bungsunya.
"Apa?! Nana belum pulang?!" Sebuah hal terduga saat Hardi pulang di waktu malam. Putri bungsu kesayangannya Nana rupanya tidak pulang setelah terakhir kali pergi keperusahaan untuk mengunjunginya.
"Pah gimana ini. Nana pah..." rengek Yuli sedari tadi tidak mau berhenti menangis dipelukan putra keduanya Nasa.
"Tenang mah... Nana pasti baik baik aja kok, Mama yang tenang ya." Bujuk Nusa putra pertama sekaligus kembarannya Nasa.
"GILANG!!" Seru Hardi menahan emosi.
"Iya tuan?"
"Kerahkan seluruh anak buah kamu dan cari Nana! Saya ingin malam ini juga putri saya ketemu!" Titah Hardi.
"Baik tuan." Gilang menunduk hormat lalu segera menghubungi semua anak buahnya untuk mencari sang nona muda yang telah menghilang.
"Sudah ya mah... sekretaris Gilang sedang mencari Nana. Mama tenang aja, Nana pasti ketemu kok." Ujar Nasa pada Yuli.
Sekitar dua jam keadaan hening dengan tangis Yuli yang tak kunjung reda, sebuah mobil milik sekretarisnya Gilang datang masuk ke halaman.
"Tuan..." Gilang datang masuk bersama dengan Nana yang terlihat ketakutan. Melihat itu Yuli segera bangkit berlari memeluk putri kesayangannya.
"Nana... kamu kemana aja sayang? Kamu tau gak, mama khawatir banget sama kamu. Ayo kita duduk dulu yuk sayang..." Yuli segera menggiring anaknya untuk duduk di ruang tamu bersama dengan kedua kakaknya.
Gilang berjalan mendekat lalu membisikkan sesuatu pada Hardi. "Nona muda diajak tuan muda dari keluarga Wijaya ke salah satu klub malam. Nona muda hampir saja dipaksa minum barang jenis narkoba oleh tuan muda itu. Syukurnya kami datang tepat waktu." Ujar Hardi.
"Batalkan kerja sama kita dengan keluarga Wijaya, dan seret pria itu ke penjara atas kasus penculikan, pelecehan dan kasus narkoba. Saya tidak mau tahu, pria itu harus menerima ganjaran atas apa yang dia perbuat pada Nana." Bisik Hardi.
"Baik tuan." Setelah kepergian Gilang, Hardi berjalan menghampiri keluarga tersayangnya. Melihat keadaan Nana yang nampaknya shock akibat kejadian yang menimpanya membuat Hardi benar benar emosi dengan putra keluarga Wijaya itu.
"Ceritakan, bagaimana bisa kamu ikut dengan putra dari keluarga Wijaya? Bukankah kamu bilang ingin pergi kuliah?" Tanya Hardi pelan pelan, tak ingin putrinya yang ketakutan semakin tertekan.
"Kak Vero bilang, dia juga mau ke kampus. Jadi ngajak bareng karena katanya kampus kita sama. Ya udah, Nana ikut aja. Tapi lama lama, Kak Vero malah belok kearah lain dan ngajak Nana nongkrong dulu. Nana pikir itu cuma cafe biasa, tapi anehnya justru tempatnya berisik banget. Suara musik kenceng juga. Nana pengen pulang malah gak dibolehin, dia bilang pulang bareng aja. Terus Nana dipaksa buat minum air merah gitu, cuma Nana gak mau. Kak Vero maksa, untungnya om Gilang datang bawa Nana pulang. Nana gak mau ketempat itu lagi pah, tempatnya aneh." Cerita Nana yang sepertinya tidak mengetahui bahwa yang ia datangi adalah klub malam.
"Ya ampun Nana..." Yuli kembali menangis mendengar anaknya bercerita dengan polos tentang bagaimana caranya dia bisa pulang terlambat, bahkan menyebut sebuah klub malam sebagai cafe yang aneh.
"Nana. Itu bukan cafe atau tempat tongkrongan anak kuliahan seperti kamu. Itu tuh namanya klu---" ucapan Nusa terhenti saat Hardi mengangkat tangan memintanya untuk tidak melanjutkan apa apa lagi.
"Sekarang kamu pergi kekamar, istirahat. Besok masih harus kuliahkan?"
"Iya pah."
"Yuk sayang" Yuli mengajak putrinya untuk pergi kekamar agar dapat beristirahat dengan baik.
"Astaga si Nana. Heran deh, punya adik kok polos banget?" Sambil menggelengkan kepala Nasa bingung dengan tingkah adiknya yang menurutnya kelebih polos.
"Adik kamu itu!" Ujar Nusa berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Adik kamu juga!" Seru Nasa berlari mengejar langkah Nusa untuk pergi kekamar mereka.
Setelah kepergian semua orang, Hardi berjalan menuju ruang kerja sambil memijat kepalanya pusing menangani kepolosan putri bungsunya itu.
"Gilang, keruangan saya sekarang!" Titah Hardi menelfon lewat telfon genggam di atas mejanya. Tak berselang lama kemudian, Gilang datang berdiri di depan Hardi penuh rasa hormat.
"Ada apa tuan?"
"Gilang, saya sangat pusing dengan kepolosan anak saya Nana. Hal yang paling saya takutkan akhirnya terjadi juga. Entah apa lagi yang akan terjadi jika Nana terus terusan mudah percaya pada hal yang salah. Dia sangat sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah," keluh Hardi.
"Menurut saran saya tuan, anda sebaiknya membiarkan Nana berjauhan dengan keluarganya. Tinggal sendiri dan hidup mandiri. Kadang kepolosan seseorang akan berubah dewasa jika dia hidup sendiri. Pemikiran mereka akan lebih panjang memikirkan keadaan besok dia seperti apa dan bagaimana? Sehingga mereka lebih memilih mempersiapkannya sekarang." Tutur Gilang membuat Hardi mengangkat wajahnya sambil berkata.
"Pemikiran kita ternyata sama, saya baru saja ingin mengatakan itu. Ya sudah, kamu sudah boleh keluar." Ujar Hardi seolah olah idenya dicuri Sekretaris mudanya itu.
"Baik tuan." Jengkel sebenarnya, tapi ya sudahlah. Yang penting masih digaji. Batin Gilang.
Keesokan paginya.
"Nana. Mulai hari ini, kamu resmi papa usir dari rumah!" Hardi menjalankan rencananya sesuai saran dari Gilang meskipun tidak sepenuhnya menuju pengusiran. Seolah memberikan jabatan, Hardi bahkan mengucapkan kata resmi setelah semua koper berisikan barang barang yang Nana perlukan dibawa anak buahnya keluar.
"PAPA!!" Yuli membentak tak percaya. Bagaimana bisa suaminya itu tega mengusir putri kesayangannya dari rumah.
"Papa ngusir Nana?" Bahkan detik inipun Hardi sangat geram melihat putrinya yang bahkan saat diusirpun masih berwajah polos.
"Pah, kok papa tiba tiba ngusir Nana? Padahal kemarin dia baru aja kena musibah loh?" Nusa yang juga tidak mengerti kronologis alasan kenapa Hardi mengusir Nana pun dibuat bingung.
"Justru karena itu papa usir dia. Nana itu terlalu polos! Papa ingin dia pergi dari sini untuk mencari kedewasaannya. Dia tidak akan kembali sebelum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah." Putus Hardi mutlak.
"Papa sungguh ngusir Nana?" Kali ini Nana mulai berkaca kaca, sudah mengerti bahwa papanya tidak bermain main kali ini.
"Iya. Jadi silahkan kamu pergi!" Usir Hardi tak mampu menatap mata putrinya yang berkaca kaca, takut pertahanannya runtuh dan tidak jadi mengusir Nana.
"Kamu apa apaan sih! Enggak ya. Nana tetap tinggal di sini. Gak ada satupun yang boleh mengusir Nana tanpa persetujuan Mama. Termasuk papa!" Tekan Yuli berjalan menghampiri Nana, lalu menarik kopernya untuk dibawa masuk.
"Jika kamu ingin menghalangi keputusanku. Silahkan kamu angkat kaki juga dari sini!" Ancam Hardi membuat Yuli berhenti dan menatapnya tak percaya.
Nana semakin menangis melihat kedua orang tuanya bertengkar hanya karena dia. Sambil menghapus air mata, Nana mengambil alih koper miliknya lalu berdiri tegap menghadap Hardi.
"Papa pengen Nana pergikan? Oke. Nana bakal pergi." Entah datang dari mana keberanian Nana berkata seperti itu, tapi yang pasti dia tidak ingin Yuli ikut diusir karenanya.
"Nana! Kamu gak akan pergi. Papa cuma bercanda sayang, jangan pergi ya..." bujuk Yuli memeluk Nana sangat erat.
"Tapi dengan satu syarat." Ucap Nana menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan kata. "Papa janji gak akan pernah nyakitin Mama. Nana bakal buktiin, kalau Nana bisa hidup tanpa papa. Atau yang lainnya." Tegasnya lalu memeluk Yuli sebagai tanda perpisahan sebelum akhirnya pergi meninggalkan gedung rumah yang selama ini menjadi peristirahatannya.
"Begitulah ceritanya. Tidak salah bukan saya sebagai orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya? Apalagi Nana. Setelah lulus kuliah, cepat atau lambat dia akan terjun keperusahaan juga. Sedangkan untuk mengelolanya saja itu butuh pemikiran yang tepat, tidak boleh salah." Ujar Hardi setelah puas bercerita.
"Ya menurut Arkan juga sih gak salah ya om. Nana itu memang sangat polos, bahkan bisa dikatakan lola. Cuma, om memangnya tidak takut Nana kenapa kenapa hidup sendiri? Bukankah lebih berbahaya dia tinggal sendiri dari pada hidup bersama om?" Tanya Arkan.
"Kan ada kamu."
"Eh?" Arkan bingung mau berkata apa. Kaget iya, bingung iya. Maksudnya apa ada dirinya?
"Saya titip Nana ya. Saya yakin kamu bisa menjaga, melindungi, sekaligus membimbing Nana menjadi wanita yang berpemikiran luas." Perjelas Hardi.
"Oh, soal itu om gak perlu khawatir. Tanpa om mintapun Arkan bakal jagain Nana dengan baik. Tenang aja om, Nana aman saya Arkan."
Yes lampu ijo!!
Lanjut Arkan dalam hatinya.
"Terima kasih nak."
"Sama sama om."