
^^^From Aprilš^^^
^^^Aku udah di depan ya mas^^^
^^^To Erlangā¤ļø^^^
^^^Sent^^^
Aku menatap gedung perusahaan Erlang, lalu masuk untuk menemui suamiku yang meminta diantarkan makan siang ke kantornya.
Saat kakiku memasuki lobi perusahaan, aku melihat seorang wanita yang tidak asing yang terlihat berbincang dengan resepsionis. Karena berhubung aku orangnya penasaran, akupun melangkahkan kakiku mendekat.
"Ada yang bisa saya bantu?" Sapa mbak resepsionis yang satunya ramah.
"Ruangan CEO dimana ya?" Tanyaku sesekali melirik kesamping dimana wanita itu beradu argumen dengan resepsionis lainnya.
"Ada keperluan apa ya mbak? Apakah sudah membuat janji sebelumnya?" Tanya Mbak itu ramah meski tidak dipungkiri wajahnya begitu penasaran.
Aku lupa. Aku memang pernah beberapa kali datang kemari, tapi Erlang memang belum secara terbuka memperkenalkan aku sebagai istri sahnya. Banyak yang menganggap bahwa aku adalah adik dari Erlang, yang mana pernah membuat pria itu marah besar dan merajuk seharian. Benar benar pria manja.
"Saya itu istri sahnya pemilik perusahaan ini!" Seru wanita di sampingku, membuatku menoleh karena dia telah mengaku ngaku sebagai istri Erlang, padahal yang sah ada di sampingnya.
"Maaf mbak, hanya orang yang sudah membuat janji saja yang boleh bertemu dengan atasan kami." Tutur Resepsionis itu meski dia sedikit takut, kalau saja wanita ini memang benar istri dari Erlang.
"Saya istrinya! Apalagi yang butuh janji?!" Bentak wanita itu.
"Oh? Aku tidak ingat kalau nona Fanya adalah istri sah tuan Erlang?" Tegur ku dengan nada tidak yakin. Sekarang aku ingat, wanita ini adalah Fanya Areson. Adik dari Davin Areson. Orang yang dulu pernah menempeli Erlang seperti ulat. Menggelikan.
"Siapa kamu?"
"Aku?" Tunjukku pada diri sendiri, lalu tersenyum dan mengulurkan tangan untuk berkenalan. "Kenalin. April Lia. Istri sah Erlang Bagaskara!" Tanpa ragu aku mengatakannya, meski mungkin sebagian orang tidak akan ada yang percaya.
Hening. Semua orang nampak menjadikan kami berdua sebagai tontonan asik. Menjadikan barang taruhan yang mana yang istri sah dari Erlang. Yang menebak aku, selamat kalian akan menang.
"Lo halu? Istri Bang Er itu gue! Bukan Lo! Jijik banget sih Lo ngaku ngaku istrinya bang Er. Tampilan Lo gak memungkinkan untuk berdiri di samping bang Er!" Hina Fanya sehingga menimbulkan bisik bisik perdebatan yang lebih mendukung Fanya karena gadis itu berpakaian layaknya seorang istri pengusaha kaya raya.
Aku? Hanya bermodalkan celana berbahan kain, dan hoodie pink, siapa yang akan percaya kalau aku adalah istri dari Erlang Bagaskara?
"Ku pikir, mas Er lebih suka yang polos dari pada yang arogan?" Sindirku halus yang membuat Fanya terlihat semakin geram.
"Heh pelakor! Mending Lo pergi. Gue gak jamin kalau bang Er tau ada yang ngaku ngaku jadi istrinya kayak gini, gimana dia bakalan ngusir Lo nanti!" Usirnya.
"Gak perlu dipikirin. Karena mas Er gak mungkin ngusir gue!" Jawabku dengan segudang rasa percaya diri. Awas saja kalau Erlang berani mengusirku, tidak akan ada jatah selama seminggu.
Drrrtt
Ponselku berdering. Melihat nama yang tertera, membuatku tersenyum dan dengan santai aku menunjukkannya padanya. "Tuh, dia udah telfon!"
Tanpa sungkan aku mengangkat panggilan dan melospeker hingga membuat semua orang yang ada di sini akan mendengarnya jika diam semua.
"Hallo sayang? Maaf aku baru bales. Aku tadi lagi ada meeting penting. Kamu udah sampe?"
"Iya gak apa apa. Aku udah sampe kok"
"Sekarang kamu dimana? Udah keruangan aku?"
"Belum"
"Ini loh. Tadi aku ketemu sama istri kamu. Adalah yah.. bincang bincang dikit kita"
"Ha? Istri aku? Istri aku kan cuma kamu. Istri yang mana lagi?"
"Loh? Aku kira kamu nikah lagi, soalnya dia ngaku kalau dia istri sah kamu, terus bilang aku pelakor lagi. Mas kamu selingkuh ya?!" Tuduhku sambil sesekali melirik Fanya yang sudah pucat pasi. Dia pasti kenal suami Erlang.
"Sayang kamu salah paham. Aku gak selingkuh. Aku beneran gak tahu siapa dia, dan kenapa bisa ngaku ngaku istrinya aku. Serius sayang, aku cintanya cuma sama kamu. I love you pull pokoknya!"
Aku menutup mataku malu. Jika saja Erlang tahu aku mengeraskan suara panggilan, pasti dia juga akan ikut malu karena pegawainya menyaksikan sendiri bagaimana bucinnya bos mereka.
"Bohong! Aku gak percaya! Mending aku pulang sekarang. Makan aja tuh selingkuhan kamu!" Tut. Secara sepihak aku memutuskan panggilan. Aku sudah sangat yakin, Erlang sekarang lagi kalang kabut dan sedang dalam perjalanan menuju kesini.
"See?" Aku menatap Fanya meremehkan. Gadis tengil, dari keluarga Areson ini memang perlu sedikit pelajaran untuk tidak menjadi seorang pelakor diusianya yang masih muda dan dengan parasnya yang rupawan.
"Lo pasti udah ngerencanain ini kan?! Lo pasti sengaja pengen bikin hubungan gue sama bang Er hancur. Bener bener ya Lo pelakor!"
Aku kaget saat tiba tiba Fanya mendorongku kasar, membuatku yang tidak siap harus merelakan diri untuk jatuh menghantam lantai. Namun, sedetik kemudian, aku merasakan sepasang tangan melingkar di pinggangku, membuatku tertahan dan tidak jadi terjatuh.
"Kamu gak apa apa sayang?" Tanya Erlang. Sejenak aku terpaku, lalu menganggukkan kepala sebagai jawaban bahwa aku baik baik saja.
"Ba-bang Er.." cicit Fanya menunduk takut.
"Fanya? Jadi kamu yang ngaku ngaku istri aku? Maksud kamu apa ngaku ngaku gitu? Sengaja pengen buat istri aku marah biar hubungan kami hancur gitu?!" Semua orang terdiam tidak ada yang berani bersuara. Aku sendiri terpaku tak percaya melihat Erlang yang marah. Aku tidak pernah melihat Erlang marah sebelumnya.
"Iya aku sengaja! Bang Er kenapa sih mau nikah sama dia! Cantikan aku juga. Kayaan juga pasti aku! Aku punya semuanya, tapi kenapa malah dia yang nikah sama bang Er!!!" Teriak Fanya menumpahkan segala keluh kesahnya dengan deraian air mata.
"Kamu boleh punya semuanya. Tapi untuk urusan hati, dia adalah pemenangnya. Aku tidak butuh wanita yang sempurna, selagi aku cinta. Dia akan jadi yang pertama diatas segalanya!" Tegas Erlang tanpa ada guratan keraguan sama sekali di wajahnya.
Aku terdiam merasakan hatiku menghangat. Erlang yang seperti ini benar benar membuatku merasa menjadi wanita yang begitu beruntung karena menjadi satu diantara banyaknya wanita yang bisa memiliki hati Erlang. Menjadi pemenang diantara banyaknya orang yang ikut berlomba, sedangkan aku awalnya hanya terpaksa, tapi berujung kenyamanan.
"Nampaknya kamu bisa pergi sendiri, tanpa harus diseret oleh penjaga. Ayo sayang.. aku udah lapar. Kamu bawain pesanan aku kan?" Aku tersadar dari rasa syukurku lalu tersenyum sambil menunjukkan kotak makan yang sudah aku siapkan.
"Bawa dong! Cuma kurang satu!"
"Apaan?"
"Hati aku. Soalnya udah kamu bawa duluan!" Jawabku cengengesan. Erlang tersenyum lebar, lalu sedetik kemudian mengangkat tubuhku yang terlihat enteng sekali seakan mengangkat kapas.
"Kamu makin buat nafsu makan ku jadi tinggi. Apalagi makan kamu!" Goda Erlang membuat aku memukul bahunya keras. Inilah yang tidak aku sukai, Erlang mesum tidak tahu tempat.
"Gak usah bikin orang lain salah paham deh! Kata kata kamu itu loh!"
"Loh apa salahnya? Kamu istri aku. Sah sah aja kalau aku mau ngelakuin itu. Toh kamu memang udah jadi milik aku seutuhnya!"
"Sayang banget. Kamu ngarepin aku, tapi akunya ngarepin orang lain.."
"Siapa?!" Secara spontan Erlang menatapku dengan tatapan setajam siletnya, membuatku tersenyum geli saat mode posesif Erlang on.
"Anak kita" jawabku tersenyum malu.
"Kalau gitu, ayo jemput anak kita!" Menganggap dunia seakan milik berdua, aku dan Erlang pergi dari kerumunan yang menjadikan kami bahan tontonan tanpa perduli kalau Fanya yang pergi akibat malu.
Selagi bersama Erlang. Aku tidak butuh orang lain. Begitupun juga dengan Erlang.