
Jika orang orang indah bersama pasangannya masing masing, lain halnya dengan Rifki yang terpojokkan di sudut pesta khusus untuk para jomblo tua sepertinya. Yah... mau bagaimana lagi? Belum ada yang cocok katanya.
"Rin, minuman ini kamu taruh di atas meja sana ya. Hati hati, jangan sampai jatuh!"
"Iya mbak."
Pandangan Rifki beralih menatap para pelayan yang bertugas. Hanya saja bukan itu yang membuat Rifki kaget, justru karena kehadiran satu cewek yang membuatnya tersenyum lebar.
"Itu bukannya cewek kemarin di taman itu ya? Dia kerja di sini?" Gumam Rifki memutuskan untuk berjalan menghampiri gadis berkacamata itu.
Rifki berdiri tepat di belakang Ririn sembari mengamati pekerjaan gadis itu yang tengah sibuk menatap minuman di atas meja untuk para tamu undangan. Dan saat Ririn hendak berbalik.
"Haahhh..." kaget bukan main sampai sampai Ririn hampir tersungkur jika saja Rifki tidak sigap menarik pinggangnya.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Tepat tiga detik setelahnya Ririn lebih dulu memutus kontak dan bangun menjauhkan diri dari tubuh pria itu.
"Maaf pak, saya tidak sengaja. Sekali lagi maaf," Ririn membungkukkan badan berkali kali lalu segera pergi membawa nampan untuk kembali bekerja.
Puk
"Kamu tidak mengenali saya?" Tanya Rifki cepat cepat menahan kepergian Ririn yang terlihat buru buru.
Mendengar pertanyaan itu, Ririn menyipitkan matanya sejenak berpikir dimana dia pernah melihat wajah familiar ini. "Ah, saya ingat!!" Wajah Rifki seketika sumringah mendengar Ririn masih mengingat wajahnya yang handsome lagi kacak bergaya tampan maksimal ini.
"Bapak asistennya tuan Erlang Bagaskara bukan? Saya ingat dulu pernah mewawancarai bos anda untuk tugas kampus. Maaf sekali saya baru mengali" senyuman itu sirna seketika. Ternyata dia malah mengingat jabatannya sebagai asistennya Erlang, bukan sebagai manusia bernama Rifki.
"Bukan. Bukan sebagai asisten Erlang. Masa iya kamu lupa saya? Masa tidak ingat pernah melihat dimana lagi?" Cecar Rifki masih tak terima dengan mudahnya dilupakan.
"Eeee saya beneran gak ingat pak. Mungkin bapak bisa ingatkan?" Memang benar Ririn tidak mengingat pernah melihat dimana lagi wajah Rifki, kalaupun ingat yang waktu di taman, saat itukan gelap, Ririn tidak terlalu jelas nampak melihat wajahnya.
"Di alun alun kota. Waktu festival balon udara. Ingatkan masih?" Ketar ketir khawatir Rifki berdoa banyak semoga Ririn mengingatnya. Jika sampai tidak, itu berarti dia cepat cepat skin care-an biar kembali kinclong agar dapat mudah diingat orang lain.
"Oh... masnya yang waktu itu narik narik saya ya?" Akhirnya Ririn mengingatnya juga.
"Alhamdulillah... tabunganku selamat. Iya itu saya, saya pikir kamu udah lupa." Sahut Rifki cepat senangnya bukan main.
"Ya udah masnya, saya mau izin kerja lagi. Kan saya udah ingat. Permisi masnya..." ucap Ririn berlalu pergi menghampiri sang manager mereka yang bertugas mengatur semua makanan tersaji di atas meja.
"Mbak, aku udah taruh minumannya. Ada lagi yang bisa aku kerjain mbak?" Tanya Ririn menghadap sang manager.
"Ada. Dan tugas kamu adalah menemani saya." Sambar Rifki sebelum sang manager menyuruh Ririn kembali.
"Masnya kok kesini? Kan saya sudah ingat, ngapain lagi masnya?" Cerocos Ririn kesal dengan Rifki yang sepertinya sengaja mengganggu pekerjaannya.
Rifki tak mengindahi pertanyaan Ririn, dia berdiri menghadap sang manager sambil memasukkan salah satu tangannya kedalam saku celana. "Boleh saya pinjam pegawainya?" Tanya Rifki bertampang muka sok cool.
"Pa-pak Rifki. Bo-boleh pak silahkan. Ririn memang sudah waktunya istirahat." Siapa yang tidak mengenal Rifki? Asisten tuan muda terkemuka Erlang Bagaskara. Memiliki sifat freindly diluar kerja, dan tegas saat bekerja. Dua kepribadiaan ganda sekaligus. Sayangnya jomblo.
"Loh mbak, bukanya saya gak punya waktu isti---"
"Sudah kamu pergi saja. Pak Rifki yang meminta, tidak boleh ditolak. Maaf atas kelancangan pegawai saya, silahkan anda boleh membawanya pergi." Potong sang manager cepat.
"Kalau begitu saya tidak akan sungkan." Rifki segera menarik tangan Ririn menuju meja pojokan yang menjadi tempat bersemayamnya di pesta ini.
"Masnya hobi banget sih narik narik tangan saya, saya itu lagi kerja loh masnya ini." Gerutu Ririn sambil dipaksa duduk oleh Rifki.
"Kan gue udah izin sama manager lo. Lagian lo gak usah formal gitu, anggap aja kita lagi reuni temen SMA." Ujar Rifki mengambil duduk di samping Ririn.
"Tapi kita 'kan bukan teman SMA?" Sahut Ririn apa adanya.
"Kan gue bilang anggap aja." Sewot Rifki.
"Tetap aja kita bukan teman SMA." Oke. Rifki menyerah sambil menghela nafas. Pusing juga ternyata menghadapi gadis satu ini. Namun sejenak Rifki terdiam memandangi wajah Ririn yang sedang membenarkan letak kacamatanya. Dengan paksa Rifki mengambil kacamata milik Ririn.
"Ahhh... masnya balikin kacamata aku! Gak bisa lihat jelas ini mas." Seru Ririn meraba raba Rifki untuk merebut kacamatanya.
"Bentar diem dulu!" Menyisihkan kacamata Ririn agak sedikit jauh, Rifki menahan kedua tangan Ririn sambil mendekatkan wajahnya mengamati setiap sudut wajah Ririn.
"Masnya mau ngapain? Lepasin mas!" Panik gak? Panik gak? Ya paniklah masa enggak. Lagian Rifki juga suka sekali menggoda anak gadis orang.
"Diem. Diem dulu, gue lagi mengamati."
"Mengamati? Mengamati apa?" Tanya Ririn sambil menyipitkan matanya sebagai isyarat bahwa dia penasaran hal apa yang sedang Rifki amati.
"Ternyata..." sengaja menggantung, Rifki kemudian tersenyum. "Lo lebih cantik kalau gak pake kacamata." Lanjut Rifki lalu kembali keposisi duduk awalnya. Tidak tahu saja dia kalau wajah Ririn saat ini sudah memerah seperti tomat begitu.
"Iya iya bentar. Nih!!"
Dddrrt drrrtt drrtt
"Bentar!" Baru saja ingin meraih kacamatanya, Rifki kembali menariknya saat nada dering ponselnya berbunyi.
"Masnya kacamata aku." Pinta Ririn.
"Iya tunggu sebentar. Hallo?"
"Mana janji kamu yang waktu itu? Katanya mau ngenalin pacar kamu ke mama. Mana?! Sampai sekarang kamu bahkan tidak datang. Mama curiga kamu masih jomblo ya!"
Baru saja diangkat, suara familiar di seberang sana sudah cerocos saja menanyakan perihal pacar yang tak kunjung dikenalkan. Rifki menjauhkan ponselnya lalu melirik nama yang tertera, dan benar saja. Mamanya lah yang menelfon.
"Ya sabar dong ma. Ki itu lagi sesuaiin jadwal kerja." Kilah Rifki melirik Ririn yang sedang menunggu kacamatanya kembali.
"Alah alasan! Bos kamu itukan sahabat kamu dari SMA, gak mungkin dia gak ngasih kamu izin cuma sehari buat pulang kerumah. Bilang aja kamu gak punya pacar!"
"Punya. Ki punya pacar kok." Jawab Rifki sedikit ragu ragu sembari melirik Ririn sesekali.
"Ya mana?! Tunjukin dong sama Mama!"
"Oke. Nih Ki kirim fotonya!" Kelewat emosi dan lelah, Rifki merangkul Ririn paksa lalu mengangkat ponselnya tinggi tinggi lalu..
"Eh?"
Ckrek
Foto diambil tepat saat Ririn menatap wajah Rifki kaget. Setelahnya Rifki pun menjauh sambil mengirim fotonya dengan Ririn ke WhatsApp pribadi ibunya.
"Tuh, Ki udah kirim. Punya pacarkan Ki?" Ucap Rifki meminta pengakuan Mamanya, bahwa dia seorang Rifki bukan jomblo tua.
"Beneran pacar kamu ini? Kok Mama ragu ragu ya?"
"Ya Allah mah... sama anak sendiri juga malah gak percaya. Bukannya ini yang selama ini mama pengen? Ki punya pacar." Kesal juga punya orang tua yang ngotot minta sesuatu dan waktu terkabul justru malah curiga.
"Masnya---"
"Sutttt diam." Ririn hanya bisa diam saat Rifki sudah menaruh jari telunjuk di bibirnya untuk memintanya tak berbicara.
"Ya. Bukannya mama gak percaya, kamu bisa ajakan ngakal ngakalin mama pake foto editan."
"Astagfirullahal Azhim. Mama su'uzon banget sama anaknya sendiri,"
"Mas---"
"Suttt diam dulu gue lagi bicara." Sekali lagi Ririn dipaksa diam oleh Rifki sebelum dirinya selesai berkata.
"Pokoknya mama gak mau tau. Sebelum kamu bawa pacar kamu kerumah, mama gak akan percaya kalau kamu punya pacar. Rifki anak mama tetap jomblo tua!"
"Iya ma. Ki lagi nyesuain jad----"
Tut tut tut---
"Hallo? Hallo? Yah kok dimatiin sih?" Rifki melempar ponselnya ke atas meja kesal saja dengan kelakuan Mamanya yang seenaknya.
"Masnya---"
"Suttt diam. Gue lagi pusing ini."
Ririn menarik nafas dalam, emosinya sudah tidak dibendung lagi. Pria ini benar benar menyebalkan. Batinnya.
"MASNYA BALIKIN KACAMATA AKU, AKU MAU KERJA!!" Kan, kan. Rifki sih nyuruh diam terus, beginikan jadinya.
Sambil mengerjap ngerjap kikuk Rifki meraba raba meja untuk mencari kacamata milik Ririn.
"Aa.. in-ini. Ini kacamata lo." Ririn segera merampasnya lalu memasang kembali kacamata itu ketempat seharusnya ia berada. Bangkit dari kursi, Ririn menatap Rifki yang masih terlihat kaget.
"Terima kasih dan selamat tinggal." Ucap Ririn berlalu pergi menghampiri managernya untuk meminta kembali tugas kerjanya.
Tring
Pandangan sekaligus kesadaran Rifki teralihkan pada dering ponselnya yang menandakan satu buah pesan masuk.
Mama❤
Mama udah ngizinin cuti libur kamu sama Erlang minggu depan. Jadi jangan sekali kali kamu ingin menghindar. PULANG DAN KENALKAN PACAR KAMU.
"What? Aih... Akhhh. Erlang sialan. Sengaja pasti dia nyasih gue cuti. Sekarang gimana caranya gue jelasin ini sama Ririn? Mana udah terlanjut ngirim fotonya lagi aduh... begini amat nasib." Keluh Rifki memikirkan bagaimana cara menjelaskan kronologi sebenarnya kepada Ririn.