
Aku tidak pernah berpikir bahwa diusiaku yang masih muda seperti ini telah menyandang status sebagai istri dari keluarga Bagaskara. Aku. Seorang April Lia yang tidak mengenal cinta, atau lebih tepatnya trauma dengan cinta kini harus dihadapkan dengan kenyataan rumit dalam hidupku. Aku akui, bahwa aku mulai merasa nyaman bersama dengan Erlang, namun di satu sisi aku merasa tertekan dengan ancaman Alfino yang sangat paham apa yang paling aku takutkan.
Hanya terhalang meja makan, aku menatap wajah Erlang intens yang tengah menikmati sarapan yang aku buat. Hanya tersisa tiga hari lagi sebelum aku memutuskan untuk melepasnya. Kebiasaan kami ini sungguh akan sangat aku rindukan. Bukan keinginanku untuk meninggalkannya, tapi ini tuntutan dan pengorbananku sebagai bukti rasa sayang pada Erlang.
"Enak?" Tanyaku sambil tersenyum tipis saat melihat Erlang yang makan dengan lahapnya. Padahal itu hanya masakan biasa, nasi goreng kecap.
"Enak. Kamu tahu sayang, aku selalu membayangkan saat setiap pagi aku akan menikmati masakanmu. Dan aku berharap, kita tidak akan terpisahkan sampai kita tua dan memiliki cucu." Aku tersenyum kecut mendengar harapan Erlang. Sungguh, aku sangat berusaha untuk menahan air mataku agar tidak jatuh. Tidak ingin Erlang sampai curiga.
"Sudah, makan lagi. Habis ini mau kerjakan?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Sangat sensitif mendengar harapan Erlang yang sebenarnya juga sangat aku inginkan. Hanya saja itu tidaklah mungkin.
"Huh... rasanya males banget kerja. Nanti kalau aku rindu sama kamu gimana? Kamu tau, rindu itu berat. Dan obat dari rindu adalah bertemu." Keluh Erlang sambil menangkup wajahnya disanggan tangan. Terlihat sangat imut.
"Kalau begitu temui aku di kampus. Selesaikan?" Ucapku.
"Tapi tetep aja. Rasanya aku mau kantongi kamu aja deh biar bisa dibawa kemana mana." Cetusnya. Dasar manja!
"Gak usah lebay! Cepetan habisin sarapannya, aku mau keatas dulu mau siap siap." Ucapku segera bangkit menuju kamar.
"Siap siap kemana?"
Aku terdiam sejenak sembari menatap matanya dalam. "Melepaskan." Jawabku singkat lalu segera pergi menuju kamar untuk bersiap siap menghadapi kenyataan .
*
Aku berjalan santai diarea kampus fakultas teknik. Membiarkan orang lain berlalu lalang di atas lantai koridor menuju tujuannya masing masing. Dan tujuanku saat ini adalah menuju kelas.
"Aku mohon berhenti kak!"
Tap
Langkahku terhenti saat tak sengaja mendengar sayup sayup suara seorang perempuan di balik ruang UKS. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang kepo dengan urusan lain, jadi aku memutuskan untuk melanjutkan kembali langkahku.
"Berhenti ganggu April!"
Tap
Kali ini langkahku terhenti saat mendengar namaku disebut. Oke, jujur saat ini aku penasaran. Berjalan mendekat, aku mencoba mengintip siapa orang yang ada di dalam.
"Dia bukan wanitamu kak! Sadarlah! Jangan seperti ini, April juga punya hidupnya. Dan hidupnya bukan untuk bersama dengan kakak!" Seru wanita itu.
Plak
"Diam! Apa berteman dengannya membuatmu jadi gadis pembangkang ha?! Hidup April itu untukku! Bukan untuk orang lain!" Bentak Alfino membuatku terpaku.
"Kak sadarlah! Kakak tidak cinta dengannya! Rasa yang kakak anggap cinta itu hanyalah obsesi semata!"
"Diam kamu! Jangan membuat kakak semakin marah. Kamu tahu sendiri bagaimana kakak marah! Sebaiknya kamu pergi dan jalankan misi kamu untuk mencari informasi tentang April!"
"Gak! Ririn gak mau! Sejauh ini Ririn berteman dengan April, dia gadis yang baik. Dan gadis baik sepertinya tidak pantas bersama dengan pria psikopat seperti kakak! Aku sudah tidak peduli lagi, mau kakak itu sepupu aku atau tentang papa yang dipenjara! Ririn capek. Dan Ririn gak mau menyia-nyiakan teman sebaik April untuk kepentingan pribadi kakak!"
Tap
Aku, maupun Ririn sama sama terpaku. Sungguh tidak aku sangka kalau ternyata Ririn adalah sepupu Alfino. Dan sedang menjalankan misi untuk mengorek informasi tentangku.
"Aril...!"
"Fake Friend?" Aku tertawa sinis dan segera pergi meninggalkan Ririn tanpa memperdulikan teriakannya yang berusaha menjelaskan. Aku tidak peduli. Aku hanya kecewa dan tidak menyangka bahwa mata mata yang aku rasa ada dimana mana itu ternyata adalah Ririn. Yang bahkan parahnya adalah sepupu dari seorang Alfino.
*
Aku terdiam menatap tajam hamparan gedung gedung luas yang terlihat. Saat ini aku berada di rooftop fakultas teknik. Kenapa sekarang keadaannya semakin terasa rumit. Rasaku pada Erlang yang akan kandas, ancaman Alfino dan sekarang? Fakta tak terelakkan bahwa Ririn mendekatiku hanya untuk jadi informan seorang Alfino. Takdir macam apa ini ya Allah.
Satu bulir air mata jatuh membasahi pipiku yang dengan kasar ku sapu. Aku bukan gadis cengeng. Seorang April ditempa untuk tidak pernah menangis. Ya! April kuat! April...
"Hiks hiks hiks" pada akhirnya aku menyerah. Aku hanya seorang Lia yang lemah. Aril yang terkenal kuat menjadi sosok Lia yang lemah.
Sekarang apa yang harus aku lakukan?
Aku bingung harus mengakhiri seperti apa? Sisa waktu yang diberi Alfino hanya tersisa tiga hari lagi. Sedangkan masalah yang aku hadapi belum sepenuhnya terselesaikan. Masih ada hati yang harus kuberi kejelasan, dan masih ada rasa yang harus kucoba lepaskan.
Perlahan aku bangkit dari keterpurukanku. Menatap luasnya dunia, aku mulai mengumpulkan tekad untuk mengakhiri semuanya. Baik rasa, maupun hidupku.