
Sebuah permainan takdir yang menyedihkan. Entah apa lagi yang akan terjadi di hidupku setelahnya. Sudah berbagai macam hal telah kulewati, tapi haruskah kembali melewati masa lalu yang datang ke masa depan.
"Hallo semuanya. Perkenalkan, nama gue Alfino Renandra panggil aja Alfino, gue pindahan dari London."
Aku memangku wajahku di atas meja, menatap lurus kedepan dengan perasaan malas. Alfino Renandra. Pria yang mengajarkanku bagaimana rasanya harus hidup tanpa tawa dan canda teman, pria yang mewajibkanku untuk tidak mengenal lelaki lain selain dia. Pria gila yang akan melakukan berbagai cara hanya agar keinginannya tercapai. Pria yang mengidap penyakit obsesi berat padaku masalahnya.
"Silahkan duduk Alfino, biar kita bisa memulai pelajaran." Ucap Miss Fina.
"Baik miss."
Ketebak dari tatapannya yang mengarah kesini, aku sangat yakin dia ingin duduk di sampingku. Entah kekanak kanakan atau apa, refleks aku memindahkan semua buku dan tasku ke bangku samping yang kosong terakhir agar dia tidak duduk di sini.
"Percuma honey, aku memiliki tangan. Barang ini masih bisa dipindahkan bukan?" Ujar Alfino tersenyum sembari mengangkat barang barang itu kembali keatas meja.
"Alfino Renandra. Meja di sini banyak, kenapa kamu harus duduk di sampingku?!" Aku masih menahan kursi di sampingku ini dengan kedua tanganku agar dia tidak duduk di sana. Menyebalkan jika sampai itu terjadi.
"Salah jika aku ingin duduk di sebelah wanitaku?" Kalimatnya yang menekan kata wanita ini benar benar membuatku tak dapat berkutik. Dengan sangat tidak rela aku mengambil kembali tanganku, pasrah jika dia ingin duduk di sana.
Kreett
Aku membulatkan mataku sempurna saat tiba tiba Anton menerobos duduk di sampingku sebelum Alfino berkesempatan mendudukinya. Ku lirik Alfino, pria itu diam dengan pandangan dinginnya, yang artinya waspada sudah.
"Anton lo ngapain duduk di sini?" Tanyaku penuh penekanan sambil melirik Alfino sesekali untuk melihat sudah level berapa emosi pria itu.
"Emang kenapa? Bangkunya kan kosong, juga gak ada yang nempatin. Gak apa apa dong gue duduk di sini?" Jawab Anton setelah menatapku dia memutar tubuhnya menghadap Alfino sambil dagu terangkat menantang.
Gawat. Alfino pasti marah banget. Jangan sangka sangka, wajah tenangnya itu yang wajib diwaspadai. Karena diam dan dinginnya dia adalah tanda kemarahan besar. Dia suka diam, tapi aku gak yakin pulang nanti dia tidak akan mengapa apain Anton.
"Anton pindah." Ucapku mengambil tindakan. Selain aku malas Alfino marah, aku juga ingin menyelamatkan bocah satu ini. Alfino itu licik. Dia punya berbagai macam trik hanya untuk menghancurkan lawannya.
"Loh?" Anton berbalik menatapku tak percaya, seolah niat baiknya untuk menjauhkanku dari Alfino tidak diterima. Ini bukan soal niat baik atau apa, tapi ini soal Alfino. Bahkan sampai detik ini aku belum bisa memikirkan bagaimana caranya agar dia berhenti terobsesi padaku.
"Anton pindah." Ucapku lagi.
"Gak bisa ril, nanti kalau gue pindah, pasti nih cowok bakal duduk di sini. Gue gak mau ya, punya rival baru lagi. Cukup Daniel, Arkan sama tuan Erlang aja. Jangan nambah dia!" Tunjuk Anton pada Alfino. Duh dasar Anton! Ngapain pake acara nyebut nama mereka semua segala sih?! Makin parahkan jadinya.
"Anton gue bilang pindah."
"Tapi----"
"LO YANG PINDAH ATAU GUE YANG PINDAH!!" Bentakku sudah kehilangan batas emosi. Keadaan hening sejenak setelah aku melampiaskan emosiku pada Anton. Semua orang menatap kami bertiga yang seolah lebih menarik dibandingkan mata pelajaran yang disampaikan Miss Fina.
"Oke. Gue pindah. Tapi dia! Menunjuk Alfino. "Juga gak boleh duduk di samping lo. Ayo!" Aku menjatuhkan kepalaku keatas meja melihat Anton menarik tangan Alfino pergi duduk tepat di belakangku.
Anton. Kamu benar benar nyari mati.
Mata pelajaran hari ini sudah selesai. Aku melirik kepergian Alfino yang tiba tiba tanpa menyapaku terlebih dahulu, setelahnya disusul Anton yang juga ikut keluar menuju belokan yang sama. Melihat itu perasaanku benar benar tidak enak. Cepat cepat aku memasukkan semua buku kedalam tas dan segera berlari menyusul arah jalan keduanya.
Brukh
"Sorry." Ucapku karena tidak sengaja menyenggol seseorang akibat terlalu terburu buru mengejar kedua orang yang sedang dalam bahaya itu. Ah atau lebih tepatnya Anton yang sedang dalam bahaya.
Puk
Saat aku ingin melanjutkan lari, orang itu menahan tanganku membuatku menatap tangannya lalu beralih pada orangnya.
"Hai ril, kamu mau kemana? Kok buru buru banget?" Tanya Kak Daniel.
"Mau ke---" menoleh kedepan, aku sudah tidak melihat lagi jejak keduanya. Aku sedikit menggeram mengetahui telah kehilangan bayangan keduanya.
"Kamu kenapa ril? Kok mukanya kelihatan panik gitu?" Aku menangkat wajahku lalu menoleh pada Kak Daniel cepat.
"Kak, tolong aku buat nyari Anton," pintaku. Jika aku sendiri menemukannyapun, juga tidak mungkin bisa meleraikan. Alfino itu orangnya amat bruntal.
"Anton? Ngapain kamu nyari Anton? Kamu suka sama dia?" Cecar Kak Daniel diwaktu yang tidak tepat.
"Kak ini bukan waktunya buat ngebahas perihal suka gak suka. Anton itu dalam bahaya. Kalau kakak gak mau bantu nyari, yaudah. Aku bisa nyari sendiri kok." Jawabku hendak pergi, namun tertahan saat Kak Daniel mencekalnya.
"Iya iya. Aku bantu cari."
"Makasih kak. Kalau gitu kita mencar aja, cari tempat tempat sepi. Dia menyukai tempat sepi yang gelap." Tuturku menepuk bahu Kak Daniel beberapa kali lalu berlari kearah terakhir aku lihat mereka pergi.
"Dia? Eh Aril... DIA SIAPA?!!!"
"Ada lihat Anton?"
"Gak ada."
"Lihat Anton gak?"
Menggeleng.
"Lihat Anton?"
"Gak lihat."
Aku berhenti sejenak sambil memijat kepalaku pusing. Kemana sih Alfino ngajak Anton sampai gak terlihat jejaknya sama sekali. Menurut sifat Fino yang suka sepi dan gelap, juga tidak suka ribet. Ada kemungkinan mereka masih di sekitar kampus. Cuman dimana?
"Tunggu. Sepi dan gelap, tidak suka ribet. Jangan jangan....!!!" Ketemu sudah jawabannya. Aku segera pergi menuju tempat yang mereka tuju sebelum bertemu dengan trio menyebalkan ini.
"Naura Adiwarna. Gue lagi gak mau debat sama lo, jadi sebaiknya lo minggir, karna gue lagi buru buru." Ucapku penuh penekanan.
"Woah... haha." Ngapain lagi terkekeh gitu? Gak kesurupankan?. "Lo masih April bukan sih? Tumben amat ngomong gak ngirit kata." Lanjutnya membuatku memutar bola mata malas.
"Tul!" Sahut antek anteknya.
Aku menatapnya datar lalu pergi begitu saja, namun segera ditahan Naura yang mendorongku untuk kembali ketempat. Aduh... kenapa sih disituasi genting begini aku harus ketemu banyak masalah?!
"Buru buru amat. Kenapa sih? Gak lo banget tau gak." Ujar Naura seolah olah dialah yang paling mengerti sifat dan sikapku seperti apa.
Kali ini sudah tidak ada waktu hanya untuk meladeni mereka. Yang aku takutkan adalah Anton sudah babak belur di sana. Kalau sampai itu terjadi, pastinya aku bakal ngerasa bersalah banget. Karena Alfino ngelakuin itu karena cemburu dia dekat dekat denganku.
Tersenyum devil. "Menurut lo, gue bakal jadi kecoa yang kalau ngeliat sampah langsung didatangin? No. Orang lihat sampah itu kalau gak dipungut buat dibuang, ya ditinggalin. Sederhana bukan?" Jawabku berjalan cepat menerobos mereka semua.
"Gila banget dia bilang kita sampah."
"Dasar Aril sok kecentilan!!"
"Soal gosip tentang lo..."
Tap
Aku menghentikan langkahku mendengar Naura tiba tiba membahas masalah gosip kampus yang menyebar. Sekarang dia mau apa lagi? Jangan bilang dia biangnya.
"Ternyata gue gak perlu ribet ribet buat ngurusin itu. Nyatanya, alam semesta itu adil. Dia bikin semua orang tau kebusukan lo yang sebenarnya! Yah... awalnya emang gue yang ngejebak lo. Tapi gak nyangka aja, ternyata lo beneran seperti itu. Munafik!" Lanjutnya.
Kali ini aku berbalik sempurna menghadapnya yang menyilang tangan di dada. Aku tersenyum devil menyikapi sikapnya yang masih sama. Sombong dan arogan.
"Tapi pada akhirnya, lo tetap gak bisa menantang takdir. Kalau Kak Daniel itu sukanya sama gue. Bukan sama lo." Perihal soal Daniel, Naura selalu akan marah. Ku pikir hanya ingin main main, tapi setelah aku lihat lagi, kali ini dia tulis menyukai Kak Daniel. Cuman caranya aja yang salah.
"Eh ril, lo gak usah kepedean ya. Lo itu udah punya tuan Erlang, ngapain sih masih aja ngasih harapan sama Kak Daniel? Gak cukup satu cowok lo?!" Senjata makan tuan. Dia yang mancing, dia juga yang kena.
"Bukannya kebalik ya. Lo. Yang gak cukup satu cowok!" Balasku lalu berbalik dan berlari kencang. Aku sudah terlalu banyak membuang buang waktu.
"APRIL LIA! CAMKAN INI. SUATU HARI GUE BAKAL BIKIN LO NGERASAIN BERADA DI POSISI GUE!! INGAT ITU!!" Teriak Naura yang samar samar ku dengar.
Bodo amat. Yang penting sekarang adalah bagaimana keadaan Anton.
Brak
Aku terpaku melihat tubuh Anton penuh luka dan darah yang mengalir di berbagai sudut tubuhnya. Sedang Alfino berdiri di depannya sambil tersenyum puas.
"Anton!!" Aku berlari menghampiri tubuh Anton yang terluka cukup parah. "Lo gak apa apa?" Tanyaku sambil membantunya untuk bangun dari lantai yang penuh debu. Berhubung ini gudang, jadi hanya ada cahaya berasal dari pintu yang masuk ke dalam sini.
"Gue gak apa apa. Thanks karena lo udah khawatir sama gue." Jawabnya sambil tersenyum dengan bibir yang sudah pecah karena pukulan Alfino. Stop. Alfino udah kelewatan.
"No lo apa apaan sih?! Ngapain lo mukul dia sampai babak belur gini? Lo mau masuk penjara lagi?!" Bentakku tak suka dengan sikap Alfino yang suka seenaknya.
"Kamu belain dia?"
"Ini bukan perihal bela gak belanya. Tapi sikap lo itu udah kelewatan. Kalau sampai dia meninggal gimana?! Kejadian lalu gak cukup ya lo buat jadi pelajaran ha?!"
Dia terkekeh menandakan dia sudah marah besar. "Dengan sikap kamu yang ngebela dia, aku semakin ingin membuatnya hilang di muka bumi ini." Ucapnya.
"Eh Alfino. Lo pasang kuping lo baik baik ya. Gue. Anton Sudirman, tidak akan mau mengalah sama lo gitu aja. Lo kalau suka sama Aril, saing secara adil. Karena sebelum Aril memutuskan untuk memilih, gue akan tetap mempertahankan perasaan ini." Aduh si Anton pake nantang segala lagi. Gak cukup apa dia babak belur gini? Untung masih hidup. Kalau sampai KO gimana?
"Gue juga." Ini lagi aduh... Kak Daniel datang malah bikin suasana makin keruh aja. Bahkan dia berdiri di sampingku. Gak lihat wajah merah Alfino? Ini untuk pertama kalinya aku lihat Alfino semarah ini. Mungkin karena kesal Anton maupun Kak Daniel orang yang tidak mudah digertak? Soalnyakan dulu setiap dia melakukan ini pada cowok yang ngedeketin aku, mereka semua otomatis cari aman dengan menjauhiku. Sekarang? Aku bahkan tidak tahu bagaimana nasibku kedepannya.
"Gue emang gak tahu lo siapa. Tapi kali ini gue setuju sama anak motor ini. Lo gak tahu datang dari mana tiba tiba pengen ngerebut Aril dari kita gitu aja? Eh lo inget baik baik ya. Sebelum Aril memutuskan untuk memilih, dia masih milik bersama," lanjut Kak Daniel membuatku memijat kepala pusing.
Tap tap tap
"Hosh Aril... akhirnya... gue nemuin lo juga. Ril, Bang Er udah di depan tuh. Dia nungguin lo, katanya udah janji bakal jemput lo pulang. Eh? Kok rame banget di sini?" Aduh pusing kepalaku gini. Tadi Anton, habis itu Kak Daniel, sekarang Arkan?! Mereka beneran gak takut mati ya?
"Gak perlu. Aku sudah di sini." Aaarrrgghh aku ingin sekali terjun bebas dari atas gedung kampus. Erlang kamu kenapa harus ikutan datang kesini juga sih? Gak lihat suasana panas gini? Jangan jadi kompor please.
"Eh bang? Kok di sini, tadi katanya pengen nunggu di mobil aja."
Aku dan Erlang bersitatap dalam diam. Tatapannya dingin, jelas ada yang membuatnya marah. Tapi apa?
"Hehe." Kekehan dari Alfino mengalihkan perhatianku. Sekarang apa lagi Alfino...? Kedatangan kamu benar benar masalah buatku.
"Ternyata selama aku pergi, begitu banyak kotoran yang menempel padamu ya honey." Ucap Alfino dengan panggilan menjijikkan itu.
"HONEY?!!" Anton, Kak Daniel, dan Arkan sama sama terkejut mendengar panggilan Alfino padaku, tak terkecuali Erlang yang sudah mengepalkan tangan dengan rahang yang mengeras.
"Tapi tenang saja. Tidak akan lama lagi, aku pasti akan membersihkannya. Kamu yang paling mengerti aku. April sayang..." Lanjut Alfino lalu pergi dari gudang penuh senyuman.
Saat aku melirik Erlang pria itu masih dalam keadaan semula, dan tiba tiba pergi begitu saja. Gawat gawat, dia pasti merajuk.
"Kak, tolong bawa Anton kerumah sakit ya. Aku masih ada urusan penting, makasih banget ya." Pintaku memberikan Anton pada Kak Daniel.
"Eh Aril...?"
Erlang Bagaskara. Entah mengapa aku malah khawatir kamu merajuk padaku.