
Aku menatap penampilanku di depan cermin setelah Bunda datang mendandaniku untuk pergi kepesta bersama. Sepertinya Bunda juga diundanf keacara pesta ulang tahun tuan Fiki itu.
"Aduh... cantik banget sih putrinya bunda. Perasaan bunda cuma poles sedikit aja wajah kamu udah secantik ini. Bunda jamin, Er kalau lihat pasti terpana." Ujar Bunda sambil menatap pantulan wajahku di cermin.
"Bunda terlalu memuji, Aril 'kan emang udah cantik dari lahir." Sejak kenal dengan keluarga Bagaskara sedikit sedikit aku mulai merubah kebiasaanku tanpa ekspresi menjadi penuh ekspresi.
"Hahaa iya iya. Putri Bunda memang selalu cantik. Ayo sayang kita keluar, Er sama Ar udah nunggu." Ar yang dimaksud Bunda itu Arkan ya. Entah kenapa mereka berdua memiliki panggilan masing masing.
"Er, ini istri kamu." Tutur Bunda membuat Erlang yang duduk membelakang segera berbalik. Tidak hanya Arkan yang tatapannya aneh, Erlang pun juga seperti itu. Aneh tatapannya.
"Widih... kakak ipar gue cantik banget--- aduh!!" Arkan hanya berniat memuji, tapi malah ditendang kakinya sama Erlang.
Erlang bangun, mengambil tanganku lalu menciumnya. Entah mengapa perlakuannya ini justru membuatku bergidik ngeri. Erlang kenapa jadi sok romantis gini sih?
"It's so beautiful my wife," bisiknya lalu merangkulku sambil tersenyum.
"Mulutmu sekarang jadi manis sekali ya.." balasku tersenyum malas padanya.
"Iya dong, kan ngambil manisnya dari bibir kamu." Jawabnya membuatku tiba tiba saja malu sendiri.
Plak
"Apaan sih?!" Muka merah pasti. Udah ketebak dari panas yang menjalar di sana. Lagian Erlang kok mesum banget sih.
"Sudah belum romantisannya? Kita udah telat loh ini, ayo." Tegur Bunda membuat kami semua akhir memutuskan untuk segera berangkat menuju pesta yang diselenggarakan di hotel bintang lima. RoD hotel.
Di dalam perjalanan aku berusaha keras untuk melepaskan Erlang dariku yang terus menempel. Kenapa sih punya suami nyebelin banget.
"Bisa gak jauhan dikit." Pintaku terus berusaha mendorongnya. Tapi memang dasarnya ini cowok nyebelin, dia malah semakin memelukku.
"Kamu itu kayak magnet ril. Menjauhpun aku akan tetap tertarik padamu," gombal aja terus. Ih, kok aku kesel sih. Erlang emang gak cocok pasang tampang buaya, lebih cocok pasang dingin aja. Lebih tenang.
"Yang udah punya istri, nempel aja terus kayak cicak!" Tuh, Arkan saja sampai berkomentar kalau Erlang itu terlalu menempel padaku seperti cicak.
"Bilang aja iri." Omongan kamu Er... pedes banget sih.
"Sorry aja nih ya, gue gak bakalan iri. Banyak cewek yang pada ngantri buat jadi pacar gue, tinggal tunjuk. Jadian." Ujar Arkan penuh percaya diri.
"Tapi gak bisa dapetin Nana." Sahutku.
"Bunda... ini pasangan apa sih? Kok omongannya pedes pedes semua." Rengek Arkan pada Bunda yang duduk di belakangnya, atau di samping Erlang.
"Nanti kalau kamu menikah juga bakal ngerasain jadi abang kamu. Udahlah, anggap aja mereka kasat mata." Jawab Bunda. Hanya saja... Bunda kok kelihatan sedih gitu sih?
"Bun, bunda baik baik aja kan?" Tanyaku, membuat Erlang dan Arkan sama sama menoleh pada Bunda, berbeda dengan Rifki yang fokus menyetir mobil, namun terlihat sesekali dia melihat kami di belakang lewat kaca spion.
"Ha? Oh... Bunda gak apa apa kok sayang. Bunda cuma keinget sama papa mertua kamu, dia pasti bahagia banget kamu menjadi menantunya." Ujar Bunda. Seketika itu juga Erlang dan Arkan sama sama menunduk. Apa mereka sedih teringat papa mereka?
"Aril juga bahagia bisa jadi anaknya bunda sama papa. Bunda sama papa udah baik banget mau nerima Aril. Secara kadang mertua itu gak sebaik yang dibayangkan." Ucapku mencoba mencairkan suasana melow ini.
"Aril. Baik dulu, maupun sekarang. Meskipun kita tidak sedarah, kamu tetap putri bunda." Aku tersenyum haru lalu memeluk Bunda, membuat Erlang terpaksa menyingkir agar aku dan Bunda dapat leluasa berpelukan.
"Sudah dong peluk pelukannya, kita sudah sampai nih." Tegur Arkan yang sudah turun sedari tadi, disusul Rifki setelahnya untuk membukakan pintu untuk kami bertiga.
"Ayo." Erlang mengulurkan tangannya minta digandeng, sedangkan aku menatapnya aneh. Sambil menghela nafas, Erlang menggenggam erat tanganku lalu membawaku masuk.
"Yuk bun," Arkan menggandeng tangan Bunda masuk karena berhubung yang satu single perrn yang satu jomblo, jadinya saling melengkapi.
Dan untuk Rifki...
"Yang sabar ya bang Ki..." ejek Arkan membuat Rifki hanya mampu menghela nafas dan mengikuti kami dari belakang. Tentunya tanpa pasangan.
"Selamat datang..." sambut para staf hotel. Konsep yang digunakan di sini adalah out room, jadi begitu indah bertemaramkan bintang bintang yang sebenarnya tidak kelihatan.
"Selamat ulang tahun." Ucap Erlang kembali kesifat dinginnya sambil menyerahkan kado pada wanita muda bernama Fanya Areson.
"Bang Er... aku pikir bang Er gak akan datang. Fanya kangen tau." Secara refleks aku memang akan terdorong saat tiba tiba Fanya menerobos memeluk Erlang begitu saja. Bikin kesel aja.
"Lepas."
"Gak mau. Bang Er kok sekarang jarang datang kekantornya papa? Sengaja ya mau hindarin Fanya?" Cerocos bocah itu membuatku semakin jengkel.
"Kalau udah punya istri, buat apa harus nemuin wanita lain?" Sahutku bersikap setenang tenangnya. Oh ayolah. Aku seorang April Lia. Wanita dingin yang dijuliki ice girl di kampus. Membasmi satu pelakor? Gampang!
"Aku mengaku?" Tanyaku pada Erlang yang dibalas diam gugupnya saat aku memberinya tatapan tajam, lalu akupun beralih pada Fanya si polos pelakor ini.
"Tidak. Kan aku bilang, kalau sudah punya istri, untuk apa menemui wanita lain. Tolong dipikirkan. Apa ada aku bilang di sana kalau AKU ADALAH ISTRINYA MAS ERLANG BAGASKARA." Menekan semua kata penuh emosi.
"Memang tidak ada sih. Tapi bang Er, gosip bang Er udah nikah itu bener?" Aku mengepalkan kedua tanganku melihat wanita itu berubah kembali polos. Aku sungguh benci rubah berupa kelinci.
"Iya."
"Aku ingin kesana. Kamu lanjutkan saja main dengannya. Menjengkelkan." Melirihkan kata di akhir, aku segera pergi meninggalkan dua sejoli menyebalkan itu.
"Eh? April... Aril. April tunggu!!"
"Bang Er mau kemana? Temenin Fanya yuk kesana ketemu temen temen." Dasar pria buaya bertopeng dingin. Semua cewek aja dia deketin. Nyebelin banget sih ih.
Brukh
"Sorry sorry, saya tidak sengaja. Nona baik baik saja kan?" Ini lagi ah, gak cukup sama Erlang sekarang malah ditabrak orang.
"Hm."
"Loh Aril?" Aku mengangkat pandanganku saat mendengar pria itu memanggil namaku.
"Kak Daniel?" Oh god. Sekarang apalagi yang akan terjadi?
"Wah... aku gak nyangka kita bisa ketemu di sini. Jodoh banget ya." Aku hanya menghela nafas halus mendengarnya berkata seperti itu. Bilang aja jodoh terus.
"Oh ya, kamu kesini ngapain?" Lanjutnya setelah puas berhalu ria dengan kenyataannya yang tidak seperti itu.
"Menurutmu?" Ya orang dateng kesini pasti mau kepesta lah. Diundang. Peka dikit kenapa, orang masih emosi ini.
"Kamu cantik sekali malam ini." Puji Kak Daniel basi. "Sungguh, kamu terlihat berbeda dari biasanya. Aku saja hampir tidak mengenalimu saking cantiknya." Lanjutnya memuji.
"Oh."
Keadaan hening dan terasa canggung. Aku malas bicara, Kak Daniel mungkin bingung ingin memulai pembicaraan yang ujungnya pasti akan dijawab singkat.
"Daniel!! Kemarilah!" Keadaan ini terpecah saat seseorang tiba tiba berseru memanggil nama Kak Daniel. Dari perawakannya yang sudah terlihat berumur, aku menebak pria itu adalah Ayahnya Kak Daniel.
"Ril, ikut aku ketemu papa yuk." Ajak Kak Daniel tanpa meminta persetujuanku langsung menarik tanganku pergi menghampiri papanya. Dan yang menjadi masalahnya adalah Erlang juga ada di sana.
"Daniel, kemari nak." Pinta Papanya Kak Daniel merangkul anaknya, sedangkan aku segera melepaskan tangan Kak Daniel waktu lihat tatapan Erlang sudah setajam silet.
"Tuan Erlang, perkenalkan. Ini putra pertama saya, Daniel Kurniawan. Daniel, perkenalkan ini tuan muda Erlang Bagaskara, rekan bisnisnya papa. Suatu hari dia akan menjadi rekan bisnismu juga." Ucap Om itu.
"Tuan Erlang, lama tidak bersapa." Ujar Kak Daniel mengulurkan tangannya sambil tersenyum, namun Erlang nampak enggan membalasnya, membuat Kak Daniel mau tidak mau menarik kembali tangannya.
"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Om Kurniawan.
"Ti---"
"Iya. Tuan Erlang ini anak sahabat orang tuanya Aril." Sambar Kak Daniel sebelum Erlang menjawabnya.
"Aril?"
"Ah, sampai lupa. Kenalin pah, April Lia. Teman kampus sekaligus calon menantunya papa." Aku mendelik tajam pada Kak Daniel. Bisa bisanya dia mengenalkanku sebagai calon istri. Apa dia tidak tahu, Erlang sudah memerah begitu mukanya.
"Oh...?"
"April." Panggil Erlang.
"Iya?" Jawabku siap dengan resiko apapun nanti. Erlang ketara sekali marah padaku.
"Kemari." Tak membantah, aku berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya. Secara tiba tiba, dia melingkarkan tangannya di pinggangku, membuatku panik dan berusaha melepaskannya.
"Tuan Dino, perkenalkan. April Lia, Is---"
"Adik ipar." Sambarku.
"ADIK IPAR?!" Tak hanya Om Dino dan Kak Daniel yang kaget, Erlang pun tak kalah kaget juga mendengar aku menyebut diri ini adik iparnya.