
"Pak dua ya!" Pinta Erlang pada bapak yang menjajakan permainannya. Deretan balon yang menempel pada papan triplek itu telah menunggu untuk diletuskan menggunakan panah.
"Ini mas." Aku terdiam berdiri di samping Erlang yang mulai menarik busur panah. Terlihat dari mukanya yang serius sekali untuk membidik salah satu balon.
Syutt
Tak
"Ahhh" aku mengulum senyum memperhatikan wajah kecewa Erlang saat gagal dipercobaan pertama. Sembari memakan jagung bakar, aku terus mengamati gerakan tangan Erlang yang kembali menarik busur untuk yang kedua kalinya, berharap kali ini dapat mengenai salah satunya.
Syutt
Tak
"Haa?!" Lagi. Untuk kedua kalinya, panah itu meleset. Aku geleng geleng kepala lalu mendekat.
"Mau ku bantu?" Tawarku.
"Tidak! Aku bisa melakukannya sendiri! Kamu cukup diam dan siapkan barang apa yang ingin kamu ambil. Aku tidak percaya kalau aku tidak bisa memenangkan permainan ini. Pak dua lagi!" Tolak Erlang tegas lalu menyerahkan uang berwarna biru dari dalam dompetnya.
"Oke." Aku tidak ingin ambil pusing dan membiarkannya berjuang, kita lihat saja sampai mana dia mampu bertahan.
Syutt
Tak
Gagal.
Syutt
Tak
Gagal.
"Dua lagi pak!" Aku masih memantau kegiatan Erlang yang terlihat sama sekali tidak ingin menyerah padahal sudah keempat kali dia gagal.
Syutt
Gagal
Syutt
Gagal
Tak
"Lima!"
Syutt syutt syutt syutt syutt
G-A-G-A-L. Gagal
"Arrrgghh! Permainan apa sih ini! Pak, bapak curang ya! Ngaku aja, bapak pakai apa sampai sampai dari tadi saya main gak menang menang?!" Tuduh Erlang membuatku ingin sekali tertawa.
"Yeee itu mah bukan salah saya mas! Orang masnya aja yang gak bisa main malah nyalahin saya! Saya kerja dagangnya jujur mas, gak ada curang sama sekali!" Balas si bapak yang tidak terima dituduh tidak tidak.
"Alah ngeles aja bapaknya kayak bajaj! Itu uang saya udah berapa ratus bapak dapat?! Jangan bilang bapak buka dagang penipuan ya! Saya bisa laporin bapak kepolisi atas kasus penipuan!" Celutuk Erlang malah semakin memanaskan keadaan.
"Enak aja! Mas beli saya kasih! Silahkan laporkan saja, orang saya gak salah kok!"
"Er udah! Lagian kamu kalah kok malah nyalahin orang?! Emang gitu permainannya juga!" Omelku menarik tangan Erlang agar tidak terbawa emosi kekalahan. Dasar memang ya, jiwa CEO yang tidak menerima bantahan apa lagi kekalahan.
"Kamu belain dia yank?!" Tunjuk Erlang pada si bapak pedagang yang langsung mengelus dada sambil mengucapkan istighfar. Memang ya pak, ketemu Erlang itu bikin emosi, bawaannya pengen banyak banyak istighfar.
"Aku gak belain! Emang kamu yang salah! Orang permainannya memang gitu juga! Jangan malu maluin deh!" Omelku.
"Tapi yank—"
"Apa?! Udah sini kasih aku uang!" Pintaku emosi sekali dengan sikap kekanakan yang terkesan manja itu.
"Buat apa?"
"Buat main."
"Main apa? Main ini? Jangan yank! Nanti kamu ditipu lagi, gak menang menang!" Tolak Erlang masih saja parnoan.
"Aku gak kayak kamu! Udah sini mana?" Setelah mendesaknya, barulah Erlang mau memberikan selembar uang itu padaku.
"Saya ambil lima ya pak." Pintaku tak tanggung tanggung. Lihat saja, aku akan mematahkan argumen Erlang mengenai kasus penipuan itu. Menyadarkan dia bahwa kekalahan itu ada pada ketidak mampuannya, bukan pada si bapak.
"Ini mbak."
Aku mengambil satu buah anak panah, lalu memasukkannya pada busur. Menarik kuat panah, satu mataku terpejam untuk mencari titik akurat balon untuk dipecahkan.
Syutt
Dor
Mengambil satu lagi, aku kembali melesatkan anak panah tepat pada balon balon.
Syutt
Dor
Syutt
Dor
Syutt
Dor
Keempat panah telah melesat meletuskan balon balon. Panah terakhir sejenak membuatku terdiam. Menoleh pada Erlang yang terpaku, aku menarik tangannya untuk ikut memegang panah sehingga membuatnya seakan memelukku dari belakang.
"Lihatlah dan perhatikan." Gumamku menarik panah bersama Erlang yang masih diam antara menyimak atau kaget.
"Istriku memang hebat." Bisik Erlang membungkukkan badannya untuk mensejajarkan diri denganku. Dengan wajah yang berpangku di bahu, Erlang ikut menarik panah. Pandanganku sejenak meliriknya, sesaat kemudian tersenyum dan kembali fokus pada permainan.
"Ku hitung sampai tiga ya. Satu... dua... Tiga!"
Cup
Syutt
Dor
Aku membulatkan mataku sempurna saat dalam hitungan ketiga, sebuah ciuman singkat mendarat di pipiku. Masih dalam keadaan kaget, aku menoleh pada Erlang yang masih dalam posisinya sedang tersenyum dengan begitu menawannya. Sesaat pandangan kami bertemu, mengharuskan jantung berkerja ektra.
"Ahhh saya ambil yang itu aja pak!" Pintaku pada boneka tedy bear berukuran jumbo berwarna putih.
"Ini mbak"
Setelah menerimanya, aku dan Erlang memutuskan untuk mencari tempat permainan lainnya yang terlihat menyenangkan.
"Mau main apa lagi?" Tanya Erlang mengambil satu tanganku yang mendekap boneka lalu menautkan jemari dengan tangannya. Benar benar canggung sekali.
"Emmm gimana kalau kita naik komedi putar?" Usulku menghentikan langkah dan berdiri menghadap Erlang sepenuhnya.
"Boleh. Ayo!" Aku tersenyum membiarkan Erlang menarik tanganku lembut menuju wahana komedi putar yang terlihat ramai diisi oleh kalangan kaum muda mudi ataupun anak anak yang ingin bersenang senang.
"April Lia!" Seru Erlang yang berada di atas kuda di samping punyaku. Aku menoleh padanya sembari menikmati suasana wahana yang berputar serta naik turun.
"Tetaplah berada di sampingku dan jadilah istriku. Untuk selamanya!" Deg. Seketika aku merasa sebuah batu menghantam kejam ulu hatiku. Aku terdiam menatap Erlang tak percaya. Kenapa dia harus mengatakan sesuatu yang membuatku semakin dirundung dilema.
Wahana berhenti, menandakan bahwa waktunya telah selesai. Aku segera turun dari kuda disusul Erlang dari belakang. Sebenarnya aku canggung, namun sebisanya aku menutupi rasa itu agar Erlang tidak curiga dengan kegelisahan hatiku.
"Er aku ingin itu!" Tunjukku pada bapak penjual permen kapas yang berjejer para anak kecil yang ingin membeli.
"Baiklah. Kamu tunggu dulu saja di sana, biar aku beliin dulu." Aku mengangguk dan berjalan menuju kursi yang ada di bawah pohon sembari menatap sosok Erlang yang terlihat sabar sekali mengantri dari deretan anak kecil, bahkan sesekali dia mengalah pada anak kecil yang menangis meminta permen kapas.
Melihat itu aku sejenak terdiam memikirkan kembali perkataan Erlang yang barusan.
"April Lia!" Seru Erlang yang berada di atas kuda di samping punyaku. Aku menoleh padanya sembari menikmati suasana wahana yang berputar serta naik turun.
"Tetaplah berada di sampingku dan jadilah istriku. Untuk selamanya!" Deg.
"Nih!" Lamunanku buyar saat satu buah permen kapas sudah ada di depan mata. Aku menatap Erlang tersenyum lalu menyambut permen itu dengan senang hati.
"Kamu sudah puas main? Habis ini kita pulang ya, udah larut malam banget soalnya. Besok kamu harus kuliah 'kan?" Tutur Erlang yang sayup sayup ku dengar karena fokusku pada permen gula yang manis ini.
"Awh!" Aku meringis memegangi pipiku saat merasakan panas karena cubitan dari Erlang.
"Kamu dengerin aku gak sih yank? Aku lagi ngomong loh tadi!" Gerutunya terlihat imut saat cemberut seperti itu. Benar benar pria manja.
"Iya denger."
"Terus?"
"Sebelum kita pulang, kita naik satu wahana lagi ya? Ini wajib banget buat kita naiki." Ucapku menatapnya dengan senyum berbinar.
"Wahana apa?"
"Bianglala."
Aku dan Erlang sudah berada di dalam salah satu box bianglala yang mulai berputar naik secara perlahan. Pemandangan indahnya kota jelas terlihat dari atas sini. Memang ya, pantas saja bianglala ini suatu wahana wajib. Orang pemandangannya saja memang memukau.
"Asik banget kayaknya lihat keluar terus dari tadi, emangnya ada apaan sih sampai sampai kamu cuekin suami kamu yang tampan ini?!" Cibir Erlang membuat netraku otomatis beralih pada wajah kesalnya. Kenapa lagi sih sama nih anak.
"Pemandangannya bagus. Jarang jarang loh bisa lihat kota malam dari atas sini." Jelasku kembali menatap kearah luar yang menunjukkan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.
"Enakan mana mandangin kota sama wajah aku?!" Cetus Erlang semakin melantur.
"Ya enakkan mandangin kota lah!" Sarkasku, tak peduli jika wajahnya sudah sekesal apa mendengar penuturan ku.
"April!"
"Ap— mmmpppp!!!" Aku membulatkan mata sempurna saat mendapat serangan dadakan dari Erlang yang mengendap habis bibirku tanpa ampun seakan sedang memberikan pelajaran karena berani memilih pemandangan kota daripada dirinya.
"Mmmpppp!!" Aku memukul dada Erlang saat aku sudah mulai kehabisan nafas. Setelah melepaskannya, aku langsung meraup habis udara sekitar seakan aku telah lari maraton.
"Lain kali kalau mau cium itu lihat tempat dong! Untung kita masih di atas, kalau sampai ketahuan petugasnya kan malu!" Omelku mengusap kasar bibirku yang bisa dipastikan bengkak akibat permainan Erlang yang tidak ada lembut lembutnya.
Ting
Pintu terbuka, aku cepat cepat keluar dengan wajah yang sudah memerah menahan malu. Erlang benar benar ya! Bikin gemes.
"Eh yank tungguin!" Aku menghiraukan panggilan Erlang dan memilih berjalan menuju mobil terparkir. Lebih baik cepat pulang karena aku sudah tidak sabar untuk mandi membersihkan diri daripada harus melayani si pemuda angkuh itu.
Grep
Langkahku terhenti saat Erlang berhasil meraih tanganku. Berdiri menghadapnya, jelas terlihat tatapan mata itu kini berubah serius.
"Kamu marah? Karena aku menciummu, atau karena ucapanku di komedi putar barusan?" Tanya Erlang.
"Aku mau pulang." Cicitku berusaha untuk menghindar, tapi Erlang lebih sigap menahan ku dan membawaku ketempat yang lebih sepi agar dapat leluasa berbicara.
"Bilang sama aku. Kamu marah?" Tanya Erlang kembali. Hening sejenak, aku masih berada dalam kebingungan untuk mencari jawaban yang pas.
"Aku tidak marah,"
"Lalu?" Aku menatap mata itu sedikit ragu ingin mengatakannya. Tapi ku pikir tidak ada alibi yang tepat selain itu untuk menyembunyikan permasalahan ku.
"Aku hanya kaget. Bukankah kamu bilang dulu menyukai wanita lain? Lalu kenapa tiba tiba menginginkanku untuk terus berada di sampingmu sebagai seorang istri?" Jawabku pelan.
"Aku memang pernah bilang menyukai seorang wanita. Tapi bukan kah aku juga pernah bilang bahwa aku tidak akan pernah menceraikanmu?" Memang iya. Dulu Erlang bersikeras tidak akan pernah menceraikanku meskipun saat itu posisi nya dia menyukai wanita lain.
"Aku menepatinya. Lagi pula, aku sudah menemukan wanita itu," aku seketika mengangkat wajahku tak percaya. Benarkah dia telah menemukannya?
"Siapa wanita itu?" Entah kenapa aku takut mendengarnya. Lebih takutnya Erlang akan pergi dariku. Padahal, aku juga berniat ingin meninggalkannya.
"Ka—"
Ddrrtt
Suara dering ponsel menghentikan mulut Erlang berucap. Berdecak sebal, Erlang segera mengangkat panggilan telfon dari seseorang yang tidak aku kenal siapa.
"Apa sih Ki! Ganggu tau gak!" Dari roman romannya sih aku tebak itu Rifki, sahabat sekaligus asisten pribadinya.
"Ck. Gak usah ngomel sama gue! Marah aja sama mama lo yang maksa sama gue buat kasih libur buat lo!"
"Ya udah sih. Nasib lo jomblo, salah sendiri gak mau cari pacar."
"Udah deh gue lagi sibuk, gak ada waktu buat layanin curhatan lo. Bye!" Secara sepihak Erlang memutuskan panggilan telfon lalu memasukkan ponselnya kedalam saku.
"Rifki ya?" Tebak ku.
"Iya."
"Ohhh. Ya udah, kita pulang sekarang aja ya? Takut kemaleman, besok aku ada kuliah pagi."
"Ya udah ayo."
Meskipun masih penasaran siapa sosok yang Erlang temui itu, tapi sebisa mungkin aku menahannya. Aku hanya perlu mencari tahu sendiri beserta identitas asli wanita itu agar dapat melihat apakah cocok membersamai Erlang yang tak lama lagi harus aku tinggalkan.