
Brak
Seseorang tiba tiba menarikku lalu mendorongku kesebuah tempat sepi yang jelas tidak ada mahasiswa lain yang melewatinya. Sambil bersandar di dinding Alfino mengurungku dengan tangannya sambil tangan satunya membelai wajahku.
"Kamu tau honey? Matamu. Hidungmu. Bibirmu. Dan semua yang ada pada tubuhmu, semuanya adalah milikku. Your Mine! Mine!" Bisiknya.
Aku diam.
"Kamu tahu bukan bagaimana aku jika mengetahui seseorang menyentuh milikku?"
"Jangan sakiti dia!" Sambarku cepat. Jelas aku mengerti maksud Alfino apa. Jangan karenaku, Erlang yang harus menanggungnya.
"Kamu melindunginya?"
"Aku tidak melindunginya. Dia memang tidak salah. Jelas yang mendekatinya adalah aku. Aku yang mendekatinya! Jadi kamu tidak berhak menghukumnya, melainkan menghukumku." Jelasku.
"Tentu. Kamu akan mendapatkan hukumanmu. Tapi setelah aku memberikan hukuman sepadan untuk dia yang mudah tergoda!" Ujar Alfino melepaskan tangannya dan berjalan pergi. Melihat itu aku cepat cepat memegang tangannya.
"Jangan. Aku mohon jangan Fin. Aku akan menjauhinya, tapi ku mohon kamu jangan sakiti dia. Dia gak tahu apa apa Fin, ku mohon jangan apa apakan dia." Pintaku hanya bisa memohon, berharap Alfino mau menghentikan niat jahatnya pada Erlang.
"Kalau begitu ceraikan dia dan menikah denganku!" Seketika itu juga aku melepaskan genggaman tanganku darinya sambil menatapnya kaget.
"Kenapa? Bukankah kamu ingin dia selamat?"
"A-aku..."
"Kamu memang menginginkannya celaka," Alfino berbalik badan membuatku panik sekaligus bingung dengan jawaban yang harus aku berikan. Haruskah bercerai?
"Seminggu."
Tap
"Kasih aku waktu seminggu buat lepasin dia. Setelah itu aku janji akan menceraikannya dan menikah denganmu." Pintaku tak punya pilihan lain.
"I love you honey..."
Brukh
Aku jatuh terduduk setelah Alfino menghilang. Aku tidak tahu mengapa sampai detik ini aku selalu tidak berdaya melawan Alfino. Sifat dia yang suka mengancam akan membunuh siapa saja lelaki yang mendekatiku membuatku trauma sampai sekarang. Ini tidak berlebihan, tapi memang dia pernah membunuh salah seorang pria yang kekeuh mendekatiku. Itulah alasan mengapa dia pernah masuk penjara dan menghilang selama dua tahun setelah orang tuanya membawa dia ke luar negri. Siapa yang sangka dia kembali lagi dan kali ini ancamannya adalah Erlang. Suamiku sendiri.
***
"Na, kamu tau gak? Kamu sama teh itu ada persamaannya lo?" Ujar Arkan yang duduk di samping Nana.
"Emang apa?" Tanya Nana polos.
"Sama sama bikin aku nyaman."
"Emang Nana bikin nyaman?"
"Iya. Apalagi kalau Nana peluk, Kakak pasti makin nyaman." Secara tak terduga, Nana justru mendekat dan memeluk tubuh Arkan, membuat pria itu diam terpaku tak percaya.
"Hehee beneran nyaman Kak." Ujar Nana sambil terus mengusak usak kepalanya di bidang dada Arkan. Sebagai lelaki normal apa yang akan terjadi jika hal itu terjadi? Yap mikir sendiri.
Sadar dari keterkejutannya, Arkan secara perlahan melepaskan pelukan Nana darinya lalu meminum habis teh es yang ia pesan hingga tandas.
"Katanya kalau Nana peluk bakalan nyaman, kok malah dilepas?" Sindir Nana jelas sengaja melakukan hal itu pada Arkan. Memang ya, otak Nana mulai agak geser ke arah yang benar.
"Takut khilaf Na." Jawab Arkan apa adanya.
"Bilang aja Kak Arkan emang boong. Gombal doang!" Yah ngambek. Lihat Arkan, dia sudah gelagapan gitu takut Nana tidak membolehkannya menemuinya lagi. Buaya kampus ternyata nyangkutnya sama lollipop.
"Haha... ril."
"Ah iya?" Terlalu banyak melamun membuat tak sadar kalau sedari tadi yang ku lakukan hanya mengaduk aduk minuman. Dipanggil jadinya malah kaget.
"Kamu kenapa? Kok kelihatan lagi banyak pikiran gitu? Kamu lagi ada masalah ya?" Tanya Ririn jelas tahu kalau aku sedang banyak pikiran.
"Enggak."
"Kalau ada masalah itu cerita ril, siapa tahu aku bisa bantu?" Aku menatap mata Ririn yang terlihat tulus. Apa aku cerita saja ya? Tapi...
"Aku tidak apa apa." Sepertinya belum waktunya aku menceritakan semuanya. Selain aku tidak terbiasa, aku juga tidak ingin menjadi beban orang lain. Ku pikir, aku hanya perlu menyelesaikan ini secara cepat. Dan aku tau dimulai dari mana.
"Iya tau, urusan negara rumah tangga." Sahut Arkan masih dalam misi membujuk calon yang merajuk. Aku hanya memutar bola mata malas sambil terus melangkahkan kaki pergi.
Tit tit tit
Cklek
Sampai di apartemen, aku segera memasuki kamar tamu. Sambil melempar tas ke atas kasur, aku menarik meja belajar lalu membuka laptop untuk menyelesaikan segera sketsa wajah wanita yang dicari Erlang selama ini. Hanya saja, Kak Danar sampai sekarang belum mengirim rekamannya padaku. Akupun memutuskan menelfon kak Danar untuk mengetahui perihal rekaman yang ku pinta.
"Hallo kak?"
"Iya ril, ada apa?"
"Rekaman kemarin belum ada ya kak?"
"Duh maaf banget ril, Kakak lagi sibuk gak sempet buat pergi nyari rekamannya. Tapi kakak bakal usahain secepetnya buat dapetin rekaman itu."
"Bisa dua atau tiga hari ini udah dapet gak kak? Aril butuh banget soalnya. Rekaman itu sangat penting, dan cuma Kak Danar yang bisa nolongin Aril." Pintaku.
"Emm... bisa. Kebetulan lusa Kakak libur. Nanti kalau kakak udah ketemu sama rekamannya nanti bakal langsung kakak kirim ya."
"Makasih ya kak."
"Iya sama sama. Kalau gitu kakak tutup dulu ya, kakak masih harus bertugas soalnya."
"Iya."
Aku meletakkan ponselku di atas meja sambil bersandar di kursi dengan tangan yang memijat kepala pusing. Semoga saja Kak Danar secepatnya menemukan rekaman itu, karena tanpa rekaman itu aku tidak akan bisa menemukan wanitanya Erlang. Ku pikir dengan adanya wanita itu, aku memiliki alasan untuk pergi nantinya.
Grep
"Kamu udah pulang ternyata, padahal tadi aku niatnya mau jemput kamu buat ngajakin makan siang bareng." Sebuah tangan tiba tiba memelukku dari belakang. Dari aroma tubuh dan suaranya saja aku sudah kenal. Siapa lagi kalau bukan Erlang Bagaskara? Suamiku sendiri.
"Aku sudah makan." Jawabku sambil melepaskan tangannya dariku, lalu bangkit keluar dari kamar.
"Kalau begitu, masakkan aku sesuatu. Aku belum makan loh?" Erlang kembali mengambil kesempatan dengan memelukku dari belakang.
"Hm." Dan untuk sekali lagi, aku melepaskan tangannya dariku dan memutuskan untuk menuruti keinginannya dengan membuatkan makanan untuknya.
"Ini."
"Wah... istriku ternyata memang pandai memasak ya. Dari baunya saja sudah dapat terasa kalau kamu memasak ini dengan cinta." Aku memutar bola mata malas dengan ucapannya yang berlebihan. Orang masak pake garam dikira pake cinta. Makan tu cinta!
"Makan saja!" Sambil mencuci piring aku menggerutu kecil di belakangnya. Dasar Erlang. Apa sikapnya selama ini memang selalu kekanak kanakan seperti ini? Bagaimana jadinya nanti jika aku pergi meninggalkannya? Apa dia akan tetap seperti ini?
Grep
"Sayang... kamu kenapa? Kenapa sejak aku pulang kamu jadi berbeda? Apa aku ada salah? Maafkan aku ya." Bisik Erlang semakin membuatku tak kuasa menahan air mata. Pria ini terlalu baik untuk menanggung semuanya yang sebenarnya adalah kesalahanku.
"Loh kok nangis? Aku beneran ada salah ya? Maafin aku ya..." Erlang menarik tubuhku sepenuhnya kedalam pelukannya. Di dalam sana aku hanya dapat menangis. Kenapa harus kamu sih Er? Kenapa harus kamu yang Alfino tergetin. Aku selalu bertanya tanya apakah hidupku hanya tercipta untuk menjadi masalah buat hidup orang lain? Kenapa harus selalu seperti ini? Kenapa aku gak Alfino biarin buat hidup bahagia walau sebentar aja. Saat ini saat aku mulai merasa nyaman, dia malah menghancurkannya.
"Sayang... udah ya..."
"Hiks maafin aku Er hiks hiks.. maafin aku..." Ucapku ditengah tengah isakan yang teredam di bidang dada Erlang.
"Sutt... kok malah minta maaf? Emang kamu ada salah apa sama aku sampai kamu minta maaf?" Erlang menarik tubuhku, menangkup wajahku sembari jari jemarinya menghampus jejak air mata di pipiku.
"Udah ya. Mending kamu duduk di sini temenin aku makan." Erlang menarik satu buah kursi untukku lalu menarik satunya lagi untuk dirinya.
"Buka mulut aaa..."
"Kamu makan aja, aku gak laper." Tolakku mendorong pelan sendok yang hendak ia suapkan padaku.
"Sesendok aja aaa..." pasrah, akupun membuka mulutku menerima suapan nasi darinya. Ku pikir pikir masakanku memang jauh lebih baik dari sebelumnya. Apa benar aku tadi pakai bumbu cinta?
Mengunyah secara perlahan nasi goreng, aku menatap wajah Erlang yang terlihat sangat tampan meski dilihat dari sudut manapun. Bukankah akan sangat merugikan jika aku melepaskannya? Tapi mau gimana lagi, tidak ada pilihan selain melepaskannya.
"Er..." panggilku masih dalam keadaan mengagumi wajahnya secara terang terangan.
"Iy---"
Aku tidak perduli dengan rasa malu, yang pasti aku dan Erlang sudah halal. Tidak menjadi masalah jika aku ingin menciumnya bukan?