Melody

Melody
Bab 8



Bastian melangkahkan kakinya ke sebuah pemakaman umum dengan bunga tulip yang berada di genggamannya. di tatapnya satu persatu nisan yang berada di sana, hingga kakinya berhenti melangkah tepat di samping sebuah makam yang bertuliskan Ashela Putri.


Diletakkannya bunga tulip itu di dekat pusara Shela lalu di usapnya dengan lembut pusara itu.


"hai sayang, aku datang nih. kamu apa kabar? baik dong yah" ucapnya lirih dengan mata yang berkaca-kaca.


Bastian selalu saja menangis jika berada di makam Shela. momen-momen bahagia bersama gadis itu berputar bagai kaset rusak di kepalanya. dia tidak mampu melangkah karena selalu dibayangi oleh wajah dan senyum Shela.


"kamu gak mau jawab aku Shel, aku kangen banget sama kamu, aku kangen cerita-cerita bereng kamu" lirihnya lagi kini air bening itu telah lolos dari kelopak matanya


"*Fa subhanal ladzii bi yadihii malakuutu kulli syai-iw wa ilaihi turja'uun"


"shadaqallahul'adzim*"


Alunan nada lembut itu terdengar samar-samar di telinga Bastian. dia langsung menoleh kearah datangnya suara itu, hingga pandangannya terpaku pada seorang gadis yang duduk di dekat sebuah makam sambil membaca surat yasin.


Ditempat yang sama dan waktu yang sama Melody juga tengah berziarah ke makam sang Opa. awalnya dia ingin berziarah bersama kakaknya dan Arsa namun tidak jadi dikarenakan kedua lelaki itu banyak alasan. Pertama Kevin mengatakan jika dirinya ada latihan basket jadi tidak bisa ikut dengan Melody untuk berziarah, kedua Arsa mengurung diri dikamar sambil bermain play station dan tidak menggubris Melody yang berteriak memanggilnya.


jadi disinilah dia berada di makam sang Opa sendirian. dia duduk disamping pusara setelah menaburkan kembang dan air kemudian Melody membuka surat yasin dan membacanya.


Dia lebih baik mendoakan dari pada menangisi, bukan karena tidak sayang tapi menurutnya Opa lebih perlu doa daripada tangisan. itulah sebabnya setiap dia berziarah ke makam sang Opa, doa selalu berdoa dan tidak menangis. lagi pula, menangisi orang yang telah meninggal itu tidah baik karena bisa membuat mereka yang telah meninggal tidak tenang di alam baka.


"suaramu indah"


Melody terlonjak kaget saat mendengar suara seseorang yang menyapanya. dia langsung menoleh kebelakang dan membelalakkan mata saat tau siapa yang menyapa sekaligus memuji suaranya.


"ELO" teriak mereka bersamaan karena terkejut


"astaga gak disekolah bahkan dimakam pun ketemu sama balok es" ketus Melody setelah berhasil menguasai dirinya dari keterkejutan


"apa lo bilang" sahut Bastian dingin dan menatap tajam Melody


"es balok puas"


Karena tidak ingin berlama-lama dengan orang sedingin es balok seperti Bastian, Melody langsung berbalik dan mengusap lembut pusara Opanya.


"Ody balik dulu ya Opa kapan-kapan kesini lagi bareng kak Kevin dan Arsa. assalamualaikum" ucapnya kemudian berlalu dari hadapan Bastian


Saat Melody tidak kelihatan lagi Bastian pun pergi. namun sebelum meninggalkan pemakaman dia melirik makan yang disinggahi Melody dan melihat nama yang tertulis disana yaitu Nugroho Frans Aditama.


Sementara itu di parkiran Melody menggerutu, berbagai sumpah serapah dia keluarkan. bagaimana tidak saat dirinya ingin pulang mobilnya tidak mau hidup alias mogok, dengan sangat terpaksa Melody menunggu taksi di sebuah halte yang tak jauh dari pemakaman.


Bastian yang ingin memasuki mobilnya tak sengaja melihat Melody yang duduk di halte, dahinya mengernyit bingung namun tak lama dia mengendikkan bahu acuh.


Tin.. Tin.. Tin..


Setelah kaca di buka terlihatlah sang pemilik mobil yang berhenti di sebuah halte. Melody menunduk untuk melihat dan dia menatap bingung pada Bastian yang berada di dalam mobil.


"apa" ketus Melody


"masuk"


"gak mau"


"gue bilang masuk"


"maksa banget sih lo es balok"


"buruan, disini jarang ada taksi, mau lo di perkosa preman"


Diam-diam Bastian tersenyum tipis melihat reaksi Melody mengenai perkataannya.


"beneran ya disini ada preman?" tanya Melody menghadap Bastian yang mendapat anggukan kecil dari lelaki dingin tersebut


"lo takut?"


"iyalah, siapa coba yang kagak takut sama preman"


"terus kalau lo takut kenapa ziarah sendirian?"


"tadi juga mau bareng sama kak Kevin dan Arsa tapi gak jadi. abis mereka berdua banyak banget alasannya ya kan gue jadi kesal, yaudah gue pergi sendiri deh jadinya dan tiba-tiba aja tadi mobil gue mogok. apes banget hidup gue"


Bastian tertawa melihat gerutuan Melody. disaat seperti ini Melody malah terlihat lucu dimatanya.


Melody melongo melihat Bastian yang tertawa, menurutnya lelaki itu jauh lebih tampan kalau sedang tertawa. rasa-rasanya kharisma lelaki itu jauh lebih memukau dan mempesona jika dirinya tertawa.


"gue tau kok kalau gue ganteng, gak usah ditatap sebegitunya" goda Bastian terkekeh


"PD banget lo. tapi emang bener sih, lo lebih ganteng kalau lo sering senyum" sahut Melody membuat Bastian diam dan kembali ke wajah aslinya


"yah, balik lagi ke sifat es balok, senyumnya hilang" lirih Melody. dia merasa kehilangan senyum Bastian


"rumah lo dimana?" tanya Bastian mengalihkan pembicaraan


"lo tau rumah kak Kevin? itu rumah gue juga"


"lo siapanya Kevin?"


"adiknya"


"kok gue baru liat lo?"


"selama ini gue tinggal di Turki bareng Oma"


"terus cowok yang kemarin bareng sama lo di sekolah itu siapa?"


"Arsa maksud lo?"


"mungkin. gue gak tau namanya"


"namanya Arsa Brawijaya, dia sepupu gue. anak baru pindahan dari Belanda"


"kok pindah ke Indonesia?"


"kepo banget sih lo es balok"


Bastian diam. dia juga bingung dengan dirinya yang tidak ingin berhenti berbicara dengan gadis yang duduk disampingnya ini, padahal itu bukanlah sifatnya. dia juga merasakan ada yang berbeda dengan dirinya karena ntah mengapa dia malah merasa nyaman dengan sosok gadis yang menjadi adik dari sahabatnya itu.


Ditepisnya jauh-jauh perasaan tersebut, dia menyangkal rasa nyaman yang baru saja diperolehnya tanpa tau kalau kedepannya dia akan lebih terikat dengan Melody.


Sedangkan Melody jangan ditanya, dia lebih memilih diam dan memandang ke arah luar melalu jendela yang ada di sampingnya. menurutnya pemandangan jalanan kota beserta gedung-gedung pencakar langit jauh lebih memukau daripada memandang lelaki berwajah dingin di sampingnya.


Keheningan melanda kedua anak remaja itu. membiarkan hati menjelajahi sanubari keduanya, saling mengetuk dan memberi pesan agar lebih mudah membuka diri pada satu sumber yaitu kenyamanan. Melody tidak mengelak ataupun menampis perasaan itu, dia menikmatinya. baginya ini adalah hal yang indah sekaligus pertama kali di rasa. tidak menyangka jika ada sosok lelaki yang bisa memberikan kenyamanan padanya selain sosok Papa, Kakak dan sepupunya Arsa.


jangan lupa tekan like dan love ya😊.


share juga keteman-teman kalian yang lain biar bisa suport Author dalam berkarya.