Melody

Melody
Bab 2



Melody turun dari pesawat dengan kacamata yang terbingkai diwajahnya serta tangan kanan yang menggenggam koper. perlahan tangan kirinya terangkat membuka kacamata dan menyematkannya di atas kepalanya. paras Melody yang cantik membuat berpuluh pasang mata yang ada di bandara menatapnya tanpa berkedip. bisik-bisik mengenai dirinya pun mulai terlontar dari orang-orang yang menatapnya tadi, seolah terbiasa dengan hal itu Melody tetap berjalan mengacuhkan mereka.


pandangannya menelusuri setiap sisi bandara, mencari keberadaan orang yang akan menjemputnya. perlahan senyumnya terukir disaat melihat sepasang paruh baya serta lelaki muda nan tampan berdiri tak jauh dari cafe yang ada di bandara. dengan langkah mantap Melody berjalan menuju ke arah mereka dan berteriak saat sudah sampai.


"MAMA,, PAPA,, KAKAK"


"ODY,,," mereka pun memeluk Melody bergantian untuk melepas rindu


"ya ampun anak mama tambah cantik dan tambah tinggi aja nih" goda mamanya


"A, mama bisa aja. jangan dipuji mah masa baru turun dari pesawat udah terbang lagi gara-gara pujian mama"


"udah yuk pulang kita lanjut kangen-kangenan di rumah aja" ucap Papa


"bener tuh kata papa" seru Kevin


mereka pun memutuskan untuk kembali ke mobil disusul mobil yang mereka tumpangi melaju membelah jalanan. tak butuh waktu lama untuk sampai di mansion mewah keluarga Aditama karena memang jarak antara bandara dan mansion tergolong cukup dekat, hanya membutuhkan waktu setengah jam kalau tidak macet.


para maid dan semua yang bekerja di mansion itu terlihat berbaris di depan pintu menunggu kedatangan majikan mereka. setelah gerbang tinggi yang menjulang itu terbuka muncullah mobil mewah yang di dalamnya ada majikan mereka. Melody dan keluarganya keluar dari mobil menghampiri para maid itu.


"Selamat datang di mansion Aditama nona Melody" seru mereka kemudian menunduk hormat


"terima kasih untuk sambutan kalian" sahut Melody tersenyum manis


"ayo sayang kita masuk" ucap Papa Ardi


Melody hanya mengangguk sebagai jawaban untuk sang papa lalu mereka pun memasuki mansion itu dengan Melody yang digandeng oleh Kevin.


"Mah, Pah, Kak makasih ya untuk sambutannya. Melody senang banget" ucap Melody yang kembali memeluk mama, papa dan kakaknya bergantian


"ini belum seberapa Dy, masih ada satu lagi" ucap Kevin


"emang apaan?"


"ayo ikut gue"


Kevin menarik tangan Melody berjalan menuju tangga hingga akhirnya mereka tiba di sebuah kamar dengan pintu warna merah maroon. tangan Kevin terangkat membuka pintu tersebut hingga terpampanglah isi dari kamar berpintukan merah Maroon itu. di sana ada ranjang ukurang Queen size yang dibalut dengan alas berwarna hijau membuat teduh jika dipandang lengkap dengan standing lamp ukuran besar. lalu ada televisi berukuran besar lengkap dengan alat-alat play station, ada juga sofa berwarna hijau yang dibentuk seperti huruf U menghadap televisi. meja rias yang sudah lengkap dengan skincare yang sering Melody pakai serta kulkas kecil yang berada di samping nakas. lalu Kevin pun menarik kembali tangan Melody menuju sebuah ruangan yang tampak tersembunyi dibalik tembok. yah itu walk in closet, di dalamnya banyak terdapat gaun, dress serta baju-baju lainnya dan tak lupa juga sepatu-sepatu yang tersusun rapi di dalam lemari.


"gimana kamu suka?"


Melody menoleh dan mendapati kedua orang tuanya berdiri di depan pintu walk in closet, dengan senyumnya Melody mengangguk antusias.


"suka banget mah" sahut Melody


jujur Melody sangat terharu dengan semua yang sudah disiapkan oleh orang tuanya. walaupun dia sering mendapatkan itu semua waktu di Turki karena Oma selalu memanjakannya, tapi tetap saja dia begitu senang karena disaat manja kepada orang tua dan dimanjakan Oma itu berbeda rasanya.


"oh iya sayang mobil yang papa pesan untuk mu juga sudah datang dan sekarang ada di garasi" ucap papa Ardi


"beneran pah?"


"cie.. yang dapat mobil baru bisa dong ntar sore kita jalan-jalan keliling Jakarta" ucap Kevin tersenyum simpul


"nanti aja deh pah. Ody mau istirahat dulu cape nih" ucap Melody menolak


"dan ya gue mau jalan-jalan sama lo ntar sore. lagian gue udah lama gak tinggal disini jadi agak lupa sama tempat-tempat disini"


"lo sih kelamaan jadi bule Turki" cibir Kevin


Melody tidak menggubris perkataan Kevin, dia melengos begitu saja menuju kamarnya sambil menarik tangan mama dan papanya keluar dari walk in closet.


sementara itu diwaktu yang sama tetapi di tempat yang berbeda, terlihat seorang lelaki sedang duduk di pinggir kolam renang sambil mencelupkan kakinya ke dalam air kolam. tampaknya dia tengah melamun tapi tidak ada yang tau apa yang sedang dia lamunkan di pikirannya itu.


namanya Bastian Franklin Erlangga, lelaki tampan dengan setuja pesona yang dapat memikat setiap gadis yang melihatnya. lelaki dengan paras wajah seperti dewa yunani, wajahnya dipahat begitu sempurna oleh tuhan. Lelaki dengan rahang kokoh, mata dengan netra warna hitam yang selalu menatap tajam lawan bicaranya dilengkapi bulu mata yang lentik serta bibir tipis berwarna merah yang dapat mengundang seseorang untuk mengecupnya.


namun sayang, sifatnya tidak seindah parasnya. Bastian memiliki sifat yang dingin dan kalau bicara sering kali kata-katanya menyakiti hati orang lain.


"Woy, melamun aja lo" seru seorang lelaki yang baru saja datang sambil menepuk bahu Bastian


Bastian hanya diam tanpa menjawab perkataan lelaki itu bahkan menoleh pun tidak. dia tidak peduli dengan perasaan orang-orang yang berada di sekitarnya.


"lo lagi mikirin apa sih Bas? masih mikirin dia lagi?" tanya lelaki itu lagi


"bukan urusan lo"


"yaelah Bas gue ini sahabat lo jadi gue tau apa pun yang terjadi sama lo"


Bastian kembali diam tidak ingin menjawab perkataan orang itu.


"kalau lo gini terus gimana lo bisa move on, yang ada lo semakin terpuruk Bas. ayo bangkit Bas, lupain dia, dia cuma mau menghancurkan hidup lo. lihat di luar sana banyak yang kangen sama lo yang dulu"


"udah ceramahnya?" sinis Bastian menatap tajam lelaki itu


"Bas gue cuma mau...."


perkataan lelaki itu terpotong saat Bastian memilih bangkit dan melangkahkan kakinya meninggalakan lelaki itu di dekat kolam renang.


"Bas gue gak tau lagi gimana caranya buat balikin sifat lo yang dulu, tapi tenang aja gue gak akan mundur dengan mudah" lirih lelaki itu pelan


lelaki yang menasehati Bastian tadi bernama Senja Dimitri, dia lelaki tampan yang menjabat sebagai sahabat dari lelaki sedingin balok es seperti Bastian. banyak sahabat Bastian yang memilih pergi karena sifat dan kata-kata Bastian yang kadang menyakiti hati mereka. tapi Senja berbeda, dia memilih bertahan karena dia tau dibalik sifat Bastian yang sekarang masih terselip sedikit rasa hangat dari sifatnya yang dulu.


Bastian menatap Senja dari jendela kamarnya, perlahan senyum yang sudah lama tidak terlihat kini terbit di bibirnya walau itu sangat tipis.


"thanks lo udah mau bertahan dengan sifat gue yang sekarang. maaf kalau gue sering nyakitin lo dengan kata-kata gue" lirih Bastian pelan.


hay, ketemu lagi dengan author kece badai.


cuma mau bilang aja sih, jangan lupa tekan like dan love-nya ya😊. bantu suport Author terus dengan tetap stay di cerita-cerita romansa ala author oke😉.