
"Apa?! Apa anda gila?!" Teriakan yang berasal dari gadis berkaca mata itu sedikit banyaknya menyita perhatian orang orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit. Sadar menjadi pusat perhatian, pria yang sedang berbicara dengan gadis itu seketika meletakkan jari telunjuknya di atas bibir mungil sang gadis.
"Aku tidak gila! Memangnya ada orang gila setampan aku ini?" Hem... kumat sudah jiwa narsisnya, membuat gadis yang tak lain Ririn itu merotasi matanya malas.
"Masnya, saya serius." Ketus Ririn sedang tidak ingin bercanda. Pembicaraan mereka ini terlewat serius, tapi pria ini bisa bisanya dia sempat untuk membanggakan ketampanannya itu.
"Aku juga serius. Aku ingin kamu menjadi pacarku untuk dikenalkan pada mama. Hanya untuk malam ini, salahkan waktu itu kamulah yang aku kenalkan sebagai pacar." Cetus Rifki merasa tidak ada pilihan lain selain meminta Ririn untuk menjadi pacar semalamnya. Setidaknya dia harus menyakinkan mamanya bahwa dia bukan jomblo abadi.
"Kok malah nyalahin saya sih masnya?! Yang kenalin saya sebagai pacar siapa? Kan masnya!" Tukas Ririn tak terima disalahkan, padahal dialah korbannya.
"Iya iya aku yang salah. Tapi please... kali ini aja. Tolong jadi pacar untuk aku kenalkan pada mama." Pinta Rifki sudah tak tahu bagaimana caranya agar gadis bermata empat ini mau menerima permintaanya.
"Hanya untuk malam ini." Potong Rifki sebelum sempat Ririn mengatakan ketidak inginannya untuk terlibat dalam hubungan Rifki dengan sang ibu.
Sebenarnya Ririn tak tega melihat Rifki yang terlihat sangat putus asa. Dia tidak tahu saja, Rifki sangat prustasi membayangkan jika dirinya gagal membawa Ririn kerumah mamanya untuk dikenalkan. Tentu mamanya akan mengejeknya kembali sebagai jomblo abadi, dan seketika itu juga mungkin dia akan dijodohkan dengan anak sahabat mamanya. Oh tidak! Jangan sampai itu terjadi, pikir Rifki.
"Kamu ingin berapa? Aku bisa membayar mahal, asal 'kan kamu mau jadi pacar semalamku." Pinta Rifki lagi.
Kali ini wajah berpikir Ririn berubah menjadi kesal saat Rifki menyinggung soal uang. Lelaki itu pikir dia gadis apaan yang mudah disogok dengan seonggok uang.
"Awalnya saya berpikir ingin menuruti keinginan masnya untuk menjadi pacar semalam," mata Rifki seketika berbinar mendengarnya. Oh akhirnya... dia akan terbebas dari kata 'perjodohan' yang disiapkan mamanya jika sampai dia tidak berhasil membawa pacar kerumah.
"Tapi saya seketika berubah pikiran. Masnya pikir saya wanita apa yang dengan mudahnya masnya akan bayar? Semurah itukan saya di hadapan masnya sehingga ingin membeli saya hanya untuk satu malam? Maaf masnya, saya tidak serendah itu!" Lanjut Ririn, membuat keterkejutan pada Rifki.
Ririn berbalik badan hendak pergi, namun tertahan saat merasa pergelangannya sengaja dicekal seseorang. Siapa lagi kalau bukan Rifki?
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Maafkan aku..." lirih Rifki. Untuk kali ini seorang Rifki Bramantyo merendahkan egonya hanya untuk seorang gadis yang begitu berarti dalam acara pembatalannya akan perjodohan yang sudah disiapkan sang ibu.
Ririn menatap manik mata Rifki yang terlihat begitu putus asa. Kembali rasa iba itu merelungi hatinya. Dia sungguh tak tega melihat Rifki harus mengemis seperti ini padanya hanya untuk satu malam perkenalan. Seketika Ririn berada dalam dilema.
"Maafkan aku. Aku sungguh tidak bermaksud ingin merendahkanmu. Aku hanya takut kamu menolaknya, pikiranku benar benar tidak bisa berpikir jernih sekarang." Jelas Rifki menarik perlahan tangan Ririn menggiringnya untuk duduk di kursi tunggu yang ada di koridor rumah sakit.
Ririn kembali menatap manik mata coklat itu dalam, dan yang ia hanyalah binar keputus asaan yang membuat rasa ibanya semakin dalam.
"Hanya makan malam 'kan?" Tanya Ririn membuang padangannya yang penting tidak melihat wajah tampan itu.
"Iya. Hanya makan malam saja." Ada binar kegirangan dari jawaban Rifki, dia sudah sangat berharap Ririn akan menerima permintaannya untuk menjadi pacar semalamnya.
"Tapi saya tidak punya gaun untuk acara formal itu." Ucap Ririn lagi, masih berharap agar rencana gila asisten pribadi Erlang Bagaskara itu batal karena permintaannya.
"Soal itu kamu tenang saja, aku sudah mengurus semuanya. Meskipun sebenarnya mama bukan tipe orang yang melihat perbedaan kasta, yang dia inginkan hanyalah anaknya ini memiliki seorang pacar untuk dikenalkan. Tapi demi menghormatinya, aku sudah menyiapkan semuanya. Maka dari itu, kita harus pergi sekarang agar selesainya juga cepat." Jawab Rifki sudah yakin dengan jawaban Ririn bahwa gadis itu setuju. Berbeda dengan Rifki, Ririn sebenarnya masih ragu jika harus pergi bersama Rifki, apalagi dia akan dikenalkan dengan status sebagai seorang pacar.
"Harus banget sekarang masnya?" Tanya Ririn yang tubuhnya merasa enggan untuk sekedar beranjak apalagi pergi jika tau hanya akan membuat drama.
"Ya haruslah Ririn. Kamu harus merubah penampilan kamu itu. Aku berfoto denganmu saat kamu tidak menggunakan kacamata, jadi bertemu dengan mama juga harus gitu. Kita hanya perlu merombakmu sedikit." Jawab Rifki gemas sekali melihat Ririn yang jelas masih ragu dengan permintaannya.
"Lepas kacamata?! Tapi masnya, kalau tidak pakai kacamata, gimana saya mau lihat?" Sungguh tak terduga saat Rifki mengatakan dia harus melepas kacamatanya, sedangkan matanya ini minus.
"Kan ada lensa, kamu pakai saja lensa mata. Sudah kamu tenang saja, semua sudah ku atur. Tugasmu hanya menjadi pacar yang baik di hadapan mama nanti." Jawab Rifki.
"Tapi---"
"Kamu kebanyakan tapinya! Udah ayo kita harus berpamitan dulu dengan Er, karena kita tidak punya waktu banyak. Kamu harus merubah dirimu dulu sebelum bertemu dengan mama nanti malam." Rifki menarik tangan Ririn masuk kedalam ruang rawat inap adik dari sahabatnya Arkan Bagaskara untuk berpamitan.
Cklek
"Maaf mengganggu. Ki mau pamitan dulu, soalnya Ki ada acara di rumah nanti malam, mungkin besok baru nanti Ki bakal jenguk Arkan," ucap Rifki sopan terutama pada Lucy, ibu dari sahabat sekaligus atasannya itu.
"Ril, aku juga mau pamitan ya. Habis ini aku masih harus kerja, maaf gak bisa temenin kamu sama Nana," timpal Ririn ikut berpamitan pada temannya April.
"Ya sudah, kalian hati hati ya. Terima kasih karena sudah datang menjenguk Arkan," tutur bunda Lucy tersenyum lembut meski matanya masih terlihat sembab akibat terlalu banyak menangis.
"Iya tan. Kalau gitu kami pamit pulang dulu. Assalamu'alaikum,"
Setelah berpamitan dengan keluarga Bagaskara, kini Rifki mengendarai mobil miliknya menuju tempat yang telah ia buat janji. Yaitu butik.
"Ayo!"
Ririn keluar dari mobil berjalan mengiringi langkah penuh wibawa dari seorang Rifki Bramantyo yang memasuki kawasan butik terkenal yang ada di kota itu.
"Pilihkan gaun untuknya! Ingat, jangan yang terbuka, jangan pula yang memperlihatkan lekuk tubuh. Baju yang tertutup namun elegan!" Pinta Rifki memang sedikit cerewet. Namun menurut sifat mamanya yang tidak suka wanita dengan pakaian terbuka, jadilah dia meminta pegawai butik untuk memilihkan baju yang tertutup namun masih elegan.
"Bagaimana kalau yang ini pak? Gaun ini memiliki lengan panjang dengan belahan yang terbuka sedikit di bagian bahunya. Ini terlihat sangat cocok jika nona ini yang memakainya," tawar pegawai itu memperlihatkan sebuah gaun cantik berwarna merah pada Rifki.
"Warnanya terlalu mencolok! Dan aku bilang jangan yang terbuka! Pilihkan yang lain!" Tolak Rifki mentah mentah, tak suka dengan warna gaun yang menurutnya sangat mencolok.
"Bagaimana dengan yang ini?"
"Suruh dia pakai saja!" Kesal sekali melihat pegawai itu terus saja menawarkan gaun yang tak sesuai dengan pesanannya.
"Masnya jangan marah marah dong! Padahalkan dari tadi dia udah cape milihin gaun buat aku, kenapa gak masnya sendiri aja sih yang pilihin? Biar gak salah terus!" Tegur Ririn sudah sangat lelah seperti ini yang memakan waktu hampir satu jam lamanya. Dia tidak menyangka, ternyata sisi lain dari Rifki yang selain Narsis ternyata tukang perintah juga.
Rifki diam saja sambil menghela nafas pelan diapun berjalan menuju rak yang menggantung puluhan gaun dan dress yang terlihat sangat cantik dan mahal tentunya. Meraih satu buah gaun, Rifki berjalan mendekat pada Ririn dan langsung melemparnya pada gadis itu paksa.
"Nih pakai!" Tuhkan. Tukang perintahnya kumat lagi. Dengan mendengus sebal, Ririn masuk kedalam bilik yang menjadi tempat ganti wanita.
Sesaat setelah melihat pantulan dirinya di cermin, Ririn lalu keluar dari skat pembatas yang menghalangi jarak pandang orang yang ada di luar. Berjalan perlahan mendekati Rifki yang terlihat fokus pada ponselnya.
"Masnya"
Merasa dipanggil, Rifki mengalihkan pandangannya pada sesosok gadis yang kini berdiri anggun di hadapannya menggunakan sebuah gaun sederhana dengan lengan sebatas siku berwarna silver yang terlihat begitu anggun saat gadis itu pakai.
"Saya ambil yang ini, sama sekalian tas dan sepatu itu. Ini ambillah!" Rifki menyerahkan kartu limited tanpa batas miliknya itu pada pegawai yang melayani mereka tadi. Setelah selesai bertransaksi, mereka berduapun memutuskan untuk menuju tempat selanjutnya, yaitu salon.
"Masnya, sepatunya gak nyaman. Saya gak biasa pakai hils, kaki saya kaku sama yang tinggi tinggi gini." Benar saja, Ririn tidak terbiasa menggunakan hak tinggi, berjalanpun dia sampai tertinggal jauh dari Rifki.
"Kalau begitu biasakan!" Huh. Sangat menyebalkan. Batin Ririn saat Rifki begitu tidak pekanya pada dirinya yang kesulitan menggunakan hils seperti ini.
Memasuki salon, Rifki berjalan mendekati seorang wanita cantik yang terlihat sedang bercengkrama dengan salah satu pelanggannya.
Puk
Tepukan pelan itu mengalihkan pandangan si wanita. Sebuah hal tak terduga saat ia lihat teman sekelasnya dulu saat SMA kini berdiri di hadapannya setelah sekian tahun tidak bertemu.
"Rifki? Ini beneran lo? Udah lama gak ketemu." Sapa wanita bernama Laura itu memutuskan untuk melayani temannya.
"Iya. Lo dandani dia gih! Biar cantik!" Pinta Rifki tidak ingin berbasa basi. Waktu sudah bergulir cepat, pukul 7 malam nanti dia sudah harus berada di rumah untuk makan malam sekaligus mengenalkan Ririn sebagai pacarnya.
Pandangan Laura beralih pada sosok Ririn yang terlihat sangat risih dengan hils yang sedari tadi ia keluhkan karena rasa sakit yang ia dera saat memakainya. Melihat dari atas sampai bawah seolah menilai penampilan Ririn yang masih mengenakan kacamata dengan rambut yang dikuncir ekor kuda.
"Siapa ki? Pacar lo ya?" Tebak Laura sambil tersenyum penuh ejekan. Memangnya siapa yang tidak kenal Rifki? Cowok bermulut manis tapi tidak pernah sekalipun berpacaran. Alias jomblo abadi.
"Ck. Udah dandanin aja kenapa ribet sih!" Desak Rifki tak ingin meladeni ejekan temannya itu.
"Iya iya. Gak banget sih pak Rifki ini. Ayo mba, ikut saya. Saya akan membuat mba cantik." Laura menggiring tubuh Ririn untuk melakukan rombak wajah.
Sembari menunggu, Rifki duduk di sofa panjang bersama dengan para lelaki lain yang nampaknya bernasib sama dengan dirinya yang menunggu wanita mereka selesai nyalon.
Beberapa lama kemudian...
"Masnya"
Pusat perhatian Rifki terhenti lalu beralih pada sumber suara. Seketika itu juga matanya terpaku pada sosok cantik yang kini berdiri di hadapannya. Masih dengan gaun yang sama, wajah yang memakai kacamata itu ini berubah 180 derajat menjadi wanita yang sangat cantik.
"Cantik." Satu kata yang tanpa sadar terucap dari bibir Rifki.