
"Sudah aku kirim fotonya kak,"
"Yah. Terima kasih adik."
"Aku harus kerja lagi, bye..."
Seorang pria berwajah datar menatap gambar yang telah sepupunya kirim padanya. Gambar April bersama Erlang, bersama Daniel, Arkan, Anton juga saat April diperebutkan. Semuanya tidak luput dari pandangannya.
"Hah... nampaknya sudah cukup aku membiarkanmu bermain dengan mereka. Sudah saat aku kembali," meletakkan ponsel keatas meja, pria itu berjalan menuju balkon sambil mengesap secangkir kopi yang ia bawa.
"Indonesia... i'm come back."
***
Aku berdiam meneliti cara Erlang yang terlihat sangat kharismatik saat sedang sibuk diacara rapat bersama rekan kerjanya untuk membahas produk baru yang aku sarankan tempo hari.
"Idenya sangat luar biasa, sesuai sekali dengan temanya. Ide sendiri tuan?" Erlang nampak keluar bersama rekan lain setelah selesai rapat. Nampaknya semua orang sangat puas. Syukurlah.
"Seseorang memberikannya," jawab Erlang seadanya. Memang ya, pantas saja orang orang bilang dia sangat dingin, ternyata memang dingin.
"Tapi kenapa denganku dia cerewet sekali?" Gumamku tanpa mengindahkan pandangan darinya.
"Begitu saja? Nampaknya orang itu sangat jenius, mungkin saja dengan kejeniusannya dia bisa membangun perusahaannya sendiri, bukan memberikannya pada orang lain?" Seseorang yang nampak seumuran dengan Erlang angkat bicara seakan meremehkan. Aku tidak suka pria itu.
"Apa anda iri karena orang lain itu adalah saya, bukan anda?" Balas Erlang begitu tenang, ihhh gayanya aku suka sekali.
"Tidak juga. Saya hanya penasaran, siapa gerangan orang jenius ini? Apakah seorang wanita?" Kenapa aku melihat pria itu seakan akan menguji Erlang. Dari tingkahnya saja sudah membuatku sangat jengkel, ingin rasanya kupijak pijak kepalanya.
"Pentingkah saya beri tahu?" Bagus! Kalah 'kan dia Erlang! Aku mendukungmu dari belakang!
"Konsumsi pribadi." Ejek pria itu.
"Bukan tentang pribadi. Tapi memang dia milik saya, jadi sudah sepantasnya menjadi milik saya." Jawab Erlang dan pergi dengan gaya tegas dan coolnya. Dan saat melewatiku, dia melirikku sekilas lalu kembali berjalan. Paham akupun cepat cepat menyusul langkahnya menuju ruangan.
"Siapa pria itu? Dia terlihat menyebalkan. Melihatnya benar benar ingin rasanya memakan orang hidup hidup!" Gerutuku mengingat pria itu.
Cklek
Erlang masuk ke dalam ruangannya dan mengambil duduk di sofa sambil melonggarkan dasi dan melihat lengan bajunya.
"Devan Areson. Tuan muda dari keluarga Areson. Anak pertama dari sahabat papa. Menggantikan ayahnya datang ke acara rapat hari ini," jelasnya singkat padat dan jelas.
"Tapi kenapa keliatannya dia sangat tidak suka denganmu?" Tanyaku duduk di sampingnya.
"Mungkin karena aku tampan?" Aku memandangnya tak percaya. Kenapa sifatnya berubah 180 derajat dengan cepat?
"Humormu menyebalkan!"
"Sudahlah. Ayo makan siang," Erlang bangun, menoleh padaku lalu mengulurkan tangannya.
Pak
"Kantin kantor ya?" Pintaku meraih uluran tangannya dengan senang hati.
"Ayolah... aku belum pernah pergi kekantin kantor selama ini. Katanya makanannya di sana enak, please ya... mau ya..?" Rayuku memasang wajah seimut mungkin.
"Huft... terserah." Aku tersenyum devil melihat pergi begitu saja. Senangnya mengerjai pria itu.
"Erlang tunggu!!"
"Kenapa tidak dimakan? Ayo makan!" Saat ini kami sudah berada di kantin kantor dengan bercampur baur dengan pegawai lain yang juga ingin makan siang.
"Kamu tidak risih?" Aku berhenti makan, melirik kekiri dan kekanan memahami apa yang membuat Erlang sedari tadi enggan untuk makan. Terlalu banyak pasang mata yang menatap kami berdua dengan berbagai gosip macam masuk.
"Sudah terbiasa." Jawabku kembali melanjutkan makan. Di kampus bahkan jauh lebih parah dari ini. Jika saja mentalku tidak kuat, mungkin sekarang aku sudah gila.
"Sudahlah, makan saja. Tidak usah perdulikan mereka. Anggap aja angin lalu." Jengkel juga melihat Erlang seperti risih sekali, padahal aku tau dia sudah menjadi gosip kesana kemari seperti kabar angin di kalangan masyarakat. Tapi kenapa menghadapi pegawainya sendiri dia tidak biasa.
Tak
Aku menghela nafas sambil meletakkan alat makan. Pusing sekali melihatnya mau makanpun ribet. Karena kesal, aku menarik mangkuk makannya lalu mengisi sendok dengan nasi juga lauk lainnya.
"Aaa..." pintaku menyodorkan sendok itu padanya. Dan apa yang terjadi? Dia nampak semakin risih. Memang ya, seharusnya aku tidak perlu mengajaknya kekantin kantor kalau tau begini jadinya.
"Ck. Aaa!!"
Masih dalam keadaan ragu ragu, diapun perlahan menyuap makanannya sambil menatapku. Kenapa melihatnya seperti itu terlihat sangat imut?
"Nih! Makan sendiri, jangan manja!" Kenapa denganku? Kenapa aku malah salah tingkah gini sih? Benar benar seharusnya aku tidak pergi mengajaknya kekantin. Senjata makan tuan ini namanya.
Ddrrrtt dddrrrtt
Aku melirik ponsel Erlang yang berdering, membuat pria itu menghentikan aktivitasnya sejenak untuk mengangkatnya.
"Hm."
"Ha? Bunda di apartemen?!" Aku menatap Erlang dengan pandangan bertanya tanya. Bunda di apartemen? Kenapa Erlang harus sekaget itu?
"Hm. Erlang sebentar lagi pulang. Bye."
"Kenapa?" Tanyaku saat kulihat dia sudah selesai berbincang dengan bunda melalui via telfon.
"Bunda datang keapartemen, nyuruh kita cepat pulang." Jawabnya seperti kedatangan bunda adalah sebuah beban.
"Ya. Terus? Cuma datang ke apartemen 'kan, kenapa kamu terlihat seperti beban sekali melihat bunda datang?" Aneh melihatnya.
"Kita tidur terpisah April."
"Lalu? Bunda juga gak tau, kenapa harus sepanik itu sih? Heran."
"Bunda ingin menginap!"
"APA?!"