
"Ririn?" Aku terpaku melihat Ririn berada di sini. Tidak. Tidak mungkin dia wanita yang meminta tolong tadikan?
Bug bug bug
Pandanganku kembali beralih pada Erlang yang sibuk adu jotos dengan mereka yang hampir menghajar ku tadi.
"Eh Aril mau kemana?" Sebelum aku pergi ingin menolongnya, Ririn lebih dulu mencekal tanganku. Menahanku untuk tidak pergi.
"Ya nolongin lah, mau apa lagi?" Jawabku menatapnya lalu menatap Erlang masih dalam keadaan penuh kekhawatiran.
"Jangan ril bahaya! Mereka itu cowok semua, entar kalau Aril kenapa kenapa gimana? Mending di sini aja!" Larang Ririn yang ku mengerti khawatir denganku.
Aku menghela nafasku, perlahan melepas cekalan tangan Ririn lalu memegang kedua bahunya. "Rin, aku tau kamu khawatir sama aku, tapi aku gak mungkin ngebiarin orang yang mau nolong aku gitu aja. Dalam kamus hidupku, gak ada kata 'ninggalin teman di saat susah!' Sorry rin, aku perlu bantu dia," tuturku panjang lebar lalu menoleh kebelakang dan segera menyusul Erlang yang mulai kewalahan.
Bugh
Satu tendangan mendarat tepat sebelum pria itu sempat mendaratkan pukulannya kepada Erlang dari belakang. Erlang yang baru saja selesai melawan musuhpun menoleh padaku bingung.
"Butuh bantuan?" Tanyaku menatapnya dengan senyum kecil.
"Cih!" Decihan menyebalkan, tapi memang pada dasarnya sedang membutuhkan bantuan. Saling bersandar dan memunggungi, kamipun mulai mengalahkan satu persatu lawan yang berjumlah cukup banyak untuk kami lawan.
Bugh bugh bugh
"Hahhhh...." aku bernafas panjang setelah menyelesaikan beberapa orang yang sudah tidak dapat bangun lagi.
"Sudah selesai?" Tanya Erlang berjalan menghampiriku. Dengan senyum merekah aku berdiri menghadapnya menganggukkan kepala.
"Awas!!" Sekian detik kemudian, Erlang tiba tiba berteriak dan menarik tubuhku cepat lalu memutar haluan. Seketika mataku membulat sempurna saat menyaksikan pisau itu menggores lengan Erlang yang mencoba melindungiku.
"Elang!!" Pekikku nyaring dan dengan cepat membaringkannya di pangkuanku dengan perasaan penuh khawatir.
"Pengejaanmu salah! Namaku Erlang, bukan Elang!" Rutuknya masih sempat saja cari masalah. Tidak tahu apa orang lagi khawatir.
"Sama aja! Beda R-nya doang!" Sautku.
"Kamu gak pernah sekolah ya?!" Huh. Berdebat dengannya memang tidak akan kelar, terlalu melelahkan jika sudah harus adu mulut dengannya.
"Huh... sakit gak?" Tanyaku melemah. Tidak ada salahnya mengalah, lagipun dia juga sudah menolongku.
"Ssstt" saat tak sengaja diri ini memegang lukanya, Erlang-pun langsung meringis merasakan sakitnya.
"So-sorry. Be-bentar!" Aku cepat merogoh saku celanaku, seingatku aku ada membawa sapu tangan di sana.
"Tahan sebentar!" Ucapku setelah menemukan sapu tangannya. Dengan penuh hati hati aku mulai melilitkan sapu tangan di lengannya untuk menghentikan pendarahan yang terus mengalir.
"Sssttt"
"Sakit ya? Sorry sorry..."
"Kalian gak apa apa?" Tanya Ririn berlari menghampiriku dan Erlang yang berbaring di pangkuanku.
"Aku gak apa apa, tapi Erlang..." aku meringis ngilu melihat baju Erlang yang sudah penuh dengan darah segar dari lukanya.
"Mereka udah pergi, sorry aku telat bantuinnya." Sesal Ririn.
"Gak apa apa. Tapi kamu pulang naik apa? Mau kita anterin dulu?" Tawarku meski tau saat ini Erlang membutuhkan rumah sakit untuk penanganan lanjut pada lukanya, karena takutnya terjadi infeksi.
"Gak perlu. Rumahku deket sini kok, mending kamu anterin teman kamu itu kerumah sakit, dia lebih butuh pertolongan soalnya," tolak Ririn yang syukurnya mengerti.
"Kalau gitu, aku tinggal dulu ya rin. Assalamu'alaikum..." aku bangun dan membantu Erlang bangun berjalan menuju mobil yang terparkir tak terlalu jauh dari tempat kami berdiri.
"Pelan pelan..." cicitku mendudukkanya perlahan di kursi samping mengemudi lalu beralih padaku yang mengambil duduk di kursi pengemudi.
"Ck tenang!" Jawabku mulai membawa laju mobil membelah jalanan kota yang terlihat lenggang karena sudah sangat larut malam.
"Masih kuat 'kan? Sabar ya, ini lagi nyari rumah sakit terdekat." Ucapku membawa laju mobil dengan stabil, karena jujur saja ini adalah kali pertama aku mengemudi, belajar dari pengamatan saat mang Rudi, Erlang dan Arkan yang mengemudi, ini hasilnya. Aku bisa mengemudi.
"Lang? Erlang? Erlang kamu denger gak sih Lang?! Erlanggg!!" Aku semakin panik saat tidak mendengar satu jawabanpun dari Erlang membuatku tanpa sadar menancap gas tanpa memperdulikan lalu lintas lagi. Yang utama sekarang ada Erlang!
"Suster!! Suster tolongin suami saya suss!!" Teriakku keluar dari mobil dan berlari merangkul Erlang keluar dari mobil menuju rumah sakit.
Tak lama kemudian para perawat sigap mengambil alih tubuh Erlang dan membawanya cepat keruang UGD.
Plak
"Bisa gak kalau tidur itu dikondisikan?! Kamu tidur itu udah kayak orang mati tau gak! Dipanggil gak nyaut nyaut, bikin orang panik aja!" Omelku setelah suster mengobati luka di lengannya dan mengatakan bahwa Erlang baik baik saja, hanya tertidur karena kelelahan.
"Emang ada yang minta kamu panik?"
Plak
"Awh... sakit!" Pekiknya.
Aku diam membuang pandang. Diam adalah cara terakhir saat aku sedang menahan emosi dan khawatir secara bersamaan.
"Psstt kamu marah?" Tanya Erlang.
"Emang aku keliatan marah?" Tanyaku balik menatapnya dingin.
"Kamu beneran marah nih?"
"Kan aku udah bilang aku gak marah!"
"Itu kamu marah!"
"Kamu kok nyebelin sih?!"
Tok tok tok
Cklek
"Permisi, maaf mengganggu sebentar. Mobil yang terparkir di halaman depan dengan plat ****** apa benar milik anda?" Dua orang dengan seragam kepolisian tiba tiba masuk dan bertanya.
"Benar. Ada apa ya?" Jawab Erlang melirikku sekilas curiga. Mati aku. Habis kena omel ini mah.
"Kami dari kepolisian akan menyita mobil anda karena telah melanggar peraturan lalu lintas, untuk lebih jelasnya anda bisa datang kekantor kepolisian untuk melakukan sidang," jelas Pak Polisi datar.
"Tunggu! Saya tidak pernah mungkin melanggar peraturan lalu lintas. Selama ini saya selalu mematuhi aturannya!" Bantah Erlang semakin membuatku kicep. Pertama kali mengemudi, pertama kali kena tilang.
"Tapi dari rekaman cctv, benar itu adalah mobil anda," jawab Pak Polisi tak ingin kalah.
"April..."
Aku memejamkan kedua mataku merasa bersalah sekaligus takut. "Sorry... tadi aku panik banget sampe gak nyadar udah menerebos lampu merah..." cicitku tau kalau diri ini salah.
"April... kau tau?! Ini untuk pertama kalinya dalam hidupku, seorang Erlang Bagaskara di tilang karena ulah istrinya sendiri!" Gerutu Erlang seperti menahan rasa geram padaku.
"Ya aku tau! Ini juga pertama kalinya aku kena tilang!" Balasku meliriknya cemberut.
"Lagipun, aku melakukannya juga karena aku mengkhawatirkanmu," cicitku pelan, entah dia mendengar atau tidak aku tidak perduli.
"Huft... begini saja. Kalian silahkan bawa saja mobil saya, nanti saya akan suruh Asisten saya untuk mengurusnya," ucap Erlang.
"Terima kasih untuk kerja samanya, dan maaf sudah mengganggu aktivitas anda. Kalau begitu kami pamit undur diri,"