
"Selamat datang, silahkan ingin pesan apa?" Ucapku melayani pelanggan yang baru saja tiba.
"Saya pesan salmon scrembled satu, sama minumnya jus stroberry satu. Kamu sayang?"
"Samain aja, minumnya jus alpukat."
"Oke saya ulang lagi ya. Salmon scrembled 2, jus stroberry 1, sama jus alpukat 1. Baiklah, ditunggu sebentar ya pesanannya." Ulangku lalu pergi memberikan catatan kepada chef di dapur.
"Nih!"
"Biasa aja kali mukanya ril, kamu ngasih pesanan kayak mau makan orang aja," celutuk Rafi salah satu juru masak di resto.
"Siapin aja!"
"Iya iya ini lagi siapin. Nih!" Menyusun pesanan di atas nampan, akupun berjalan keluar mengantarkan pesanan pelanggan.
"Salmon scrembled, jus stroberry dan jus alpukat. Silahkan menikma---"
Kring
"Kita duduk di mana?"
"Terserah."
Tangkapan mata ini tak sengaja melihat sosok suami yang tengah berjalan bersama seorang wanita memasuki resto dan mengambil duduk di ujung dekat pintu.
"Mbak, hello mbak...!!"
"Ah iya? Oh... ma-maaf. Silahkan menikmati." Aku berjalan pergi dengan salah tingkah. Sampai di kasir aku menatap mereka dengan mata memicing. Siapa wanita itu? Mungkin relasi bisnis.
"Eh eh eh! Kamu mau layanin itu ya? Biar aku aja!" Cegah ku saat salah seorang teman kerjaku Rifa hendak menuju meja Erlang.
"Tapi..."
Tak peduli dengannya, aku berjalan menghampiri meja kedua sejoli itu. Terlanjur penasaran, jadi ya sudahlah.
"Permisi mas dan mbaknya. Silahkan mau pesan apa?" Ucapku ramah sambil memberikan buku menu pada keduanya.
Saat Erlang menoleh, dia nampak terkejut melihatku dan ku balas dengan seringai tipis yang sebenarnya sedang menahan emosi.
"Aku pesan spaghetti oglio olio sama minumnya jus jeruk. Kalau kamu mas?" Pesan wanita tak dikenal itu.
Mas?!
"Samakan saja!" Sambil memegang kening dan melirikku sesekali.
"Baiklah, kalau begitu ditunggu sebentar ya pesanannya," berbalik badan timbul taring yang membuatku cepat cepat pergi. Entah mengapa rasanya kesal sekali memergoki suami pergi bersama wanita lain, padahal diri ini juga sedang mencarikan wanita untuknya.
Brak
"Astaga! Ril kamu lagi pms ya?! Ini udah dua kali loh kamu datang ke dapur dengan tampang tak bersahabat seperti itu!" Omel Rafi ku hiraukan.
"Siapin aja! Aku mau ketoilet bentar!"
Sebenarnya ada apa denganku? Akhir akhir ini sering sekali marah marah tidak jelas. Apa mau datang bulan ya?
Brukh
"Er!!" Aku berseru kencang saat tiba tiba Erlang menarik tanganku dan mendorongku kesisi dinding yang cukup untuk tidak terlihat orang orang.
"Sedang apa kamu di sini?" Tanyanya.
"Awh sakit Er, pelan pelan dong!" Seruku cemberut. Jujur saja, dorongannya kali ini cukup kuat.
"Iya iya maaf. Mana yang sakit hm?" Aku mengerjap gugup saat dia mengusap kepalaku sembari meniup niupnya pelan. Jantung! Kenapa kau berdetak kencang sekali?
"Kamu selingkuh!" Cicit ku mencoba menutupi rasa gugup saat dia berada sangat dekat denganku.
"Selingkuh? Mana ada aku selingkuh!" Sangkalnya dengan cepat menjauh agar dapat melihatku.
"Tuan muda Erlang Bagaskara yang mulia, saya tanya. Memangnya wanita tadi siapa sampai sampai memanggil anda dengan embel embel mas?!"
Bikin kesel aja.
"Rekan bisnis!" Jawabnya.
"Tuan muda. Saya sungguh tidak perduli mau dia selingkuhan atau rekan bisnis. Tapi jika kamu hanya ingin bermain main, maaf. Saya menyerah menemukan wanita anda itu!" Ucapku datar lalu berjalan pergi takutnya Rafi marah marah karena aku belum datang juga mengambil pesanan.
Dengan sekali tarikan tubuhku kembali terpojok ke dinding dengan wajahnya yang hampir tidak berjarak lagi denganku.
"Aku serius,"
Cup
"Baik untuk pernikahan ini."
Cup
"Maupun dengannya." Tak sempat untuk menolak, dia sudah mendaratkan dua ciuman sekaligus sehingga membuatku tak bisa berkata apa apa.
"Aril?"
Aku dan Erlang menoleh secara bersamaan mendengar suara memanggil namaku.
"Nana?" Gumamku lalu melirik Erlang dan langsung mendorongnya kuat. Tanpa bicara apa apa aku segera menarik tangan Nana pergi dari tempat menyebalkan itu.
"Kamu lihat apa saja tadi?" Tanyaku serius pada Nana di ruang ganti.
"Nana cuma lihat Aril dipojokin sama cowok tadi. Emang dia siapa sih ril?" Entah harus bernafas lega atau apa, tapi syukurlah Nana tidak melihat kelakuan Erlang yang menyebalkan tadi.
"Bukan siapa siapa, cuma orang asing. Kamu ganti baju gih baru kerja. Aku mau antar pesanan dulu." Jawabku.
"Ini pesanannya. Selamat menikmati," tuturku tak seperti awal tadi. Kali ini aku malas menatap atau meliriknya sedikitpun.
"Tunggu!" Aku menghela nafas saat merasakan tangan ini dicekal seseorang di saat ingin pergi.
"Iya, ada yang bisa saya bantu lagi pak?" Tanyaku sambil melirik tanganku yang nampaknya nyaman sekali dia pegang, tidak ada niat ingin melepaskannya?!
"Tips untukmu!" Aku melirik tangannya yang terdapat beberapa lembar uang tips untukku.
"Kau!!" Tidak tidak. Kamu tidak boleh marah di sini April. Ingat... jaga image, sabar aja.
"Ah... terima kasih banyak pak. Tapi tolong, bisa lepaskan tangan saya?" Dengan menahan rasa jengkel aku tersenyum memberi isyarat bahwa dia sedang dalam bahaya.
"Oh..." lihat senyum liciknya itu. Perasaanku benar benar tidak enak. Aku punya firasat kalau ini bukanlah hal baik.
Masih menatapku, dia menarik tanganku lembut dan menciumnya penuh romantis. Aku tau sekali dia sedang tersenyum licik di baliknya.
"ERLANGGGGG!!!"