
Brak
"Nana!!" Aku menyapu pandanganku keseluruh penjuru dengan perasaan khawatir. Jujur saja, Nana bagaikan adik kecil bagiku yang sangat aku sayangi.
"Mana Nana? Kok gak ada?" Tanyaku menoleh cepat pada Kak Daniel saat mendapati uks saat ini kosong. Tak ada satupun pasein di dalamnya.
"Sorry aku bohongin kamu. Aku cuma mau ngomong serius berdua sama kamu, jadi aku rasa ini tempat yang cocok untuk kita berbua bicara," jujur Kak Daniel membuat emosiku naik.
"Gak lucu Niel!" Tekanku.
"Aku tau. Tapi please, aku mau ngomong sebentar aja sama kamu. Berdua..." ibanya.
"Apa?" Meladeni orang akan membuatku semakin emosi. Biarkan sajalah, apa yang ingin Kak Daniel sebenarnya ingin katakan.
"Kamu beneran gak ada hubungan apa apakan sama tuan Erlang?" Tanya Kak Daniel membuatku meliriknya aneh. Setiap ada gosip, kenapa sih Kak Daniel selalu nanya kebenarannya, dan selalu terlihat marah dan emosi banget.
"Hm."
"Jadi foto itu gak benar 'kan? Pasti tuan Erlang 'kan yang goda kamu duluan?"
"Hm."
"Jadi gak apa apa dong, kalau aku suka sama kamu, dan pengen kamu jadi pacar aku?" Kali ini jelas pertanyaannya merujuk pada pernyataan cinta. Inilah waktunya. Sudah saatnya aku jujur agar tidak terus menerus memberi harapan palsu padanya.
"Aku gak suka sama kamu, juga gak mau pacaran. Sorry banget, kamu bisa cari yang lain," jawabku singkat dan hendak pergi sebelum Kak Daniel lebih dulu menahan tanganku.
"Tapi aku maunya kamu! Aku tau kamu emang gak cinta sama aku, tapi please. Izinin aku buat perjuangin kamu. Aku yakin, jika aku terus berjuang lambat laun kamu akan membalas perasaanku." Kekehnya.
"Terserah." Setelah mengatakan itu akupun pergi dari sana, memutuskan untuk pulang lebih awal. Hari ini benar benar hari yang melelahkan. Lagi pula, aku memang tidak bisa menebak apa isi pikiran orang lain. Memaksa dia untuk melupakan ku pun juga bukanlah hal mudah. Aku hanya berharap, Kak Daniel tidak menjadi setelahnya yang dibutakan oleh cinta.
"Ril ikut gue! Gue mau ngomong sama lo!" Baru saja keluar, seseorang kini kembali menarik tanganku berlari melewati kerumunan orang orang di koridor kampus.
"Kemana?!"
"Udah ikut aja!"
Tak lama setelahnya, kamipun sampai di kantin kampus yang masih ramai dengan para mahasiswa mahasiswi kampus.
"Mana Nana?" Tanyaku duduk berhadapan dengannnya dengan pandangan dingin dan datar.
"Lagi ada kelas, jadi sekalian nungguin di sini. Mang kayak biasa ya!" Jawabnya sambil memesan makanan.
"Lalu?"
"Eh eh ril, wah... gue gak nyangka ternyata hubungan lo sama bang Er udah sejauh itu. Asal lo tau aja nih ya! Bang Er itu orangnya dingin plus kaku. Perlakuannya ke lo itu termasuk hal yang sangat ajaib, soalnya seumur hidup bang Er gak pernah dekat dengan cewek manapun apalagi sampai kayak gitu." Cerocos Arkan kayak kereta lewat, panjang banget.
Ya iyalah. Orang masa depannya dia ada di tanganku.
"Oh." Malas meladeni, dijelaskan pun Arkan tidak akan mengerti. Ini tuh privasi antara kami berdua, apa yang membuat kami begitu dekat dan bersahabat. Nyatanya, karena tanpa ku dia tidak akan mampu bertemu dengan wanitanya itu.
"Eh ril..." panggil Arkan.
"Hm."
"Sebenarnya, gak cuma bang Er yang ngerasa kalau deket lo itu kayak ngerasa udah kenal lama. Gue juga sama. Jujur aja nih ya, sejak pertama kali liat lo di masa ospek dulu, gue udah ngerasa akrap sama familiar banget. Gue ngerasa... kayak pernah ketemu sama lo atau lebih tepatnya kenal lama sama lo, tapi gak tau di mana." Aku meliriknya dengan pandangan sulit diartikan.
Kenal lama?
"Tapi aku enggak."
"Ah lo ril, bikin suasananya jadi gak asik. Sama bang Er lo udah kayak kereta, sama gue lo malah kayak siput." Gerutunya.
"Terserah." Aku segera bangkit menyampirkan tasku di bahu dan beranjak pergi dari sana.
"Eh mau kemana ril?!"
Ckitt
Berdiri di pinggir jalan, tiba tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Huft... aku kenal mobil ini.
"Masuk!" Titahnya dingin dan tanpa melirikku sama sekali. Malas berdebat, aku segera mengambil duduk di sampingnya dan membiarkan mobil melaju normal di jalanan kota.
"Nih!" Aku melirik tangannya yang memberikanku selimut. Ada apa dengan pria ini?
"Apa?"
"Bajumu kotor!" Ujarnya melirikku sekilas.
"Emang. Baru tau?!" Mengingat baju kotor ini tiba tiba saja aku emosi. Jika bukan karena kelakuannya di resto hari itu aku tidak mungkin seperti ini sekarang. Erlang Bagaskara.
Ckitt
Dugh
"Awh... sakit. Bisa pelan pelan gak ngeremnya?!" Aku meringis merasakan jidatku terjedot dasbor mobil karena kelakuan Erlang yang ngerem dadakan.
Sedetik kemudian aku terdiam melihat dia perlahan mendekat, menyampirkan selimut ketubuhku lalu mengusap hijabku yang penuh tepung sembari meniupnya sesekali.
Deg deg deg
Kenapa?! Kenapa kamu begitu sih jantung?! Kenapa setiap dekat dengannya kau tidak bisa mengontrol detak jantungmu. Please demi apa... dia beneran deket banget.
"Sepertinya tadi aku melihat seseorang ditembak?" Bisiknya masih dengan membersihkan hijabku.
"Ha?" Aku mendongkak bingung. Tunggu! Jangan bilang dia denger suara jantungku yang kencang banget ini lagi? Wah mati. Malu dong aku.
"Ma-mati dong kalau ditembak," candaku membuang pandang. Please... aku tau dia menatapku, tapi kenapa itu terasa menakutkan ya?
"Tadi aku mampir kekampus, buat ketemu sama petingginya, trus gak sengaja lewat uks." Udah kecium nih bau baunya menuju kemana. Habislah kau April.
"La-lalu?"
"Ada seseorang yang sedang jatuh cinta di sana sedang menyatakan cintanya."
"Tapi 'kan udah aku tolak! Dianya aja keras kepala mau terus berjuang!" Sambarku tak sabar mendengar ceritanya yang terkesan diulur ulur.
"Emang aku ada bilang itu kamu?"
"Kau!!" Makin kesini Erlang aku rasa semakin menyebalkan. Kenapa sih aku harus menikah dengannya? Kurang apa lagi coba penderitaanku?
"Aku mulai menyadari sesuatu di sini. Kamu... mengikis jarak. "Menyembunyikan pernikahan kita?" Bisiknya.
"Iya. Lalu?" Tersenyum sambil mendorong wajahnya untuk sedikit menjauh.
"Kamu memang tidak risih dengan rumor yang beredar sampai sampai kamu dibully gini?" Tanya Erlang.
"Biasa aja."
"Oh oke. Kalau gitu, kita bisa tambahin rumornya lagi." Ujarnya membuatku melongo.
"Ha?" Dengan isyarat kening menunjuk keluar, akupun penasaran dan menoleh.
"Gak ada apa ap--"
Cup
"Kena!" Kekehnya perlahan menjauh dan kembali melajukan laju mobilnya. Masih dalam keadaan terpaku, seketika itu juga aku tersadar.
"ERLANGGG!!!"