Melody

Melody
Resepsi pernikahan



Aku memandangi diri ku di depan cermin. Kali ini pakaian ku berganti dengan gaun pengantin berwarna coksu untuk acara resepsi satu jam kedepan nanti.


Ku lirik Erlang yang sibuk bermain dengan ponselnya dengan pakaian jas lengkap berwarna silver.


Cklek


"April, Erlang, kalian sudah siap?" Tanya Kak Armi masuk kedalam kamar tanpa mengetuk pintu lebih dahulu.


"Apa acaranya akan segera dimulai?" Tanyaku memandangnya.


"Iya. Kalian cepat turun gih, para tamu undangan sudah berdatangan." Titah Kak Armi keluar dari kamar.


Aku melirik Erlang yang kini bangun membenarkan pakaiannya. Aku mengangkat bahu cuek, segera bangkit dari kursi berjalan pelan keluar kamar. Gaun yang panjang ini benar benar membuatku kesusahan untuk berjalan, sesekali aku terinjak ujung gaun dan itu sangat menyebal 'kan. Makanya aku lebih suka pakai celana jins atau celana kolut agar bisa leluasa berjalan, tapi masih menutup aurat tentunya.


Krak


"Ah!" Aku memejamkan mata ku saat tak sengaja menginjak ujung gaun, dan hampir terjatuh jika saja seseorang tidak menangkapku.


Aku membuka mata ku perlahan. Terpampang jelas di hadapanku, wajah tampan Erlang yang bersinar akibat sorotan cahaya lampu di atasnya.


"Kalo jalan itu hati hati!"


Tersadar, aku segera bangun meliriknya datar. "Gaunnya kepanjangan!" Ketusku berlalu pergi meninggal 'kannya menuju acara resepsi yang dilaksanakan di halaman belakang rumah.


Tak lama setelah aku sampai diatas panggung, Erlang datang menyusul dan ikut berdiri di samping kanan ku.


Tak lama acara pun dimulai. Orang orang mulai naik keatas panggung untuk memberikan ucapan selamat kepadaku dan juga suamiku.


"Selamat ya Li. Gue gak nyangka, lo bakal nikah lebih dulu. Padahal waktu sekolah dulu, lo kayak alergi gitu dekat sama cowok." Dia Amanda, teman sebangku di zaman putih abu abu ku.


"Thanks"


"Aduh Lia... potek hati abang neng. Lo tega banget sih nikah gak ajak ajak. Suami lo terlalu ganteng, gue 'kan jadi minder dekat lo kalau selera lo setinggi ini." Nah, yang ini Naufal. Si lebay kelas yang suka sekali menggodaku.


"Nih hadiah buat lo! Pake ya, gak mau tahu pokoknya harus dipake! Ini tuh, demi kesejahteraan rumah tangga lo sama suami lo!" Caca. Cewek wibu yang suka sekali koleksi anime jepang.


"Hadiah dari lo itu, selalu berujung buruk." Iya buruk. Masih teringat jelas di otakku saat dulu dia memberikan aku kotak pensil sebagai kado ulang tahun. Dan kalian tahu apa yang terjadi?


"Balikin kotak pensil gue! Dasar maling!" Anak kelas sebelah datang mengambil kotak pensil yang dicuri Caca untuk dijadi 'kan hadiah ulang tahun ku. Aku yang tidak tahu apa apa, harus masuk ruang Bk mengganti 'kan Caca yang cengengesan di balik pintu.


"Liaaa!!" Aku tersenyum lebar menyambut pelukan hangat kedua sahabatku. Mereka adalah saksi perjalan suka dan duka yang aku jalani selama 19 tahun aku hidup.


"Congrast buat lo Li." Ucap Hasna.


"Jangan lupain kita kita meski lo sudah menikah. Tetap jaga tali silaturahmi kita sampai tua nanti ya!" lirih Sasa memelukku manja.


"Pasti." Jawabku pasti.


"Selamat bang! Akhirnya lo meried juga. Doanya yang baik baik aja deh, gue lagi buru buru soalnya." Tutur Arkan memeluk Kakaknya.


"Buru buru kenapa memangnya?"


"Hehe, buru buru nyari mangsa gebetan!" Jawabnya berlari ngibrit saat Erlang ingin memukulnya.


Aku melirik Erlang dingin. "Bagaimana? Nampaknya akan ada pertunjuk 'kan seru setelah ini." Bisikknya.


"Terima kasih pak Adi." Ucapnya tersenyum kecil membalas jabatan Om Adi.


Aku menarik nafas pelan, dan menghadap mereka tersenyum kecil. "Om Adi, Naura. Kalian datang juga?" Sapaku basa basi. Oke, jika kamu ingin main main, kalau begitu kenapa tidak bermain bersama saja?


"Aril?!" Semburat keterkejutan tak dapat terelakkan dari Bapak anak itu. Mereka memandangku dari atas sampai bawah tak percaya.


"Jadi nak Aril adalah istri Pak Bagas?" Tanya om Adi masih tak percaya, begitu pula dengan Naura.


"Iya om."


"Kamu tahu kalau Pak Bagas ini mantan calon tunangannya Naura?"


Melirik Naura dan Erlang bergantian, aku menjawab dengan gelengan kepala.


"Bohong! Kamu gak mungkin gak tahu kalau dia itu mantan calon tunangan aku!" sangkal Naura mulai beraksi.


"Pah! Asal papa tau aja, Aril sebenarnya adalah dalang di balik batalnya pertunangan aku. Aku sebenarnya gak kabur, tapi diculik sama dia! Dia sengaja mau batalin pertunangan aku karna iri sama aku!" Adunya penuh dusta.


"Kenapa kamu gak bilang dari awal?!"


"Naura sebenarnya pengen bilang, tapi gak berani karna Aril ngancem bakal celakain papa. Papa tau sendiri 'kan, Naura gak pernah ngecewain papa selama ini." Jawabnya.


"Benar itu nak Aril?" Pandangan ramah yang biasanya om Adi tunjukkan kini berubah dingin dan mencekam. Tak ingin kalah, aku juha membalas pandangan beliau tak kalah dingin.


"Iya dan tidak. Tanya 'kan pada putri kesayangan anda itu. Dia diculik, atau mengingin 'kan diculik?" Jawabku.


Semua tamu undangan serempak menonton perdebatan sengit antara aku dan juga Om Adi. Aku biasa biasa saja, toh aku juga bakal tahu hal ini pasti akan terjadi. Erlang tidak mungkin tidak membalas perbuatan ku yang menggagal 'kan acara pertunangan dia. Dan dengan ini, ku rasa dia puas karna acara pernikahan ku pun, sama kacaunya dengan acara pertunangan dia waktu itu.


"Apa maksudnya Naura? Kamu ingin diculik?!" Kini Om Adi beralih menatap tajam putri kesayangannya.


"Bohong pah! Dia fitnah Naura!"


Tatapan tajam itu beralih padaku. Aku membalasnya dengan pandangan dingin dan tenang. "Fitnah? Perlukah saya panggil 'kan Kak Daniel sebagai saksi, kalau Naura masuk kedalam mobilnya tanpa perlawanan."


"Jika saya waktu itu membatal 'kan pertunangan Naura dengan sengaja karna iri, untuk apa? Iri karna apa? Karna Naura akan menikah dengan lelaki kaya? Begitu kah? Sayangnya tidak. Jika saya ingin, saya bahkan bisa mendapat 'kan pria yang jauh lebih baik lagi dengan sangat mudah."


"Putri anda, meminta saya membantunya membatal 'kan acara pertunangan itu. Oke, sebagai teman yang baik saya turuti. Dan anda tahu apa balasan yang dilakukan putri anda terhadap saya setelah saya menolongnya?" tanyaku menghela nafas sejenak.


"Dia ingin membuat saya kehilangan kesucian saya. Apakah itu balasan yang setimpal? Tak percaya? Mertua saya adalah saksi, di detik detik kesucian saya hampir direnggut!!" Jawabku mengepal 'kan tangan kuat.


"Om boleh menyalah 'kan saya karna telah lancang menghancurkan acara pertunangan itu dan membuat om malu. Tapi, bukan berarti putri anda juga tidak salah. Karna jika bukan dia, saya tidak pernah ingin membuat om kecewa." Lanjutku.


"Pah, semua ini gak ben---"


"Diam! Ikut Papa pulang!" Aku menghela nafas pelan, mengambil duduk sambil memijat kening pelan.


"Maaf atas ketidak nyamanan hadirin sekalian. Silahkan! Lanjut 'kan kembali makannya!" Seru Kak Wardi membuat ruangan yang tadi hening kembali riak dengan suara orang orang.


"Impas!" Bisik Erlang ikut duduk di sampingku. Aku meliriknya malas, memilih tak ingin adu mulut dulu dengannya.