Melody

Melody
Makan siang



Kelas telah berakhir, aku segera keluar setelah membereskan buku buku yang berserakan di atas meja.


Berdiri di pinggir jalan, aku memainkan ponsel ku sembari menunggu orang datang menjemput.


"Hai ril, sendiri aja? Nunggu dijemput ya?" Aku mengalihkan netra ku kekanan. Kak Daniel dengan senyum manisnya berdiri di sampingku.


"Hm"


"Aku temani ya," aku diam tanpa ingin menjawab dan lebih memilih memainkan layar gawai.


"Em.. ril, soal tadi aku minta maaf ya karna gak percaya sama kamu. Tapi... kamu beneran belum nikah kan ril?" Hening cukup lama, Kak Daniel mulai membuka suara.


Tin tin


Belum sempat aku menjawab, sebuah mobil Laborgini tiba tiba berhenti tepat di depanku. Aku mengerutkan kening merasa kenal dengan mobil ini, hingga kaca mobil itu terbuka terjawab sudah pertanyaanku.


"Masuk!" Titahnya tanpa melirik kearah kami sedikit pun. Aku memandangnya aneh dengan alis terangkat sebelah. Ngapain dia di sini?


"Dia siapa ril? Kamu kenal sama dia?" Aku mengalihkan netra ku membalas tatapan bingung dan penasaran dari Kak Daniel.


"Om? Om ngapain di sini?" Tanyaku berjalan mendekat kepada Erlang yang langsung menatapku tajam.


"OM?!"


Aku membulatkan mata sambil sesekali melirik kepada Kak Daniel untuk memberi isyarat. Bukan tanpa alasan aku mengatakannya, aku saat ini merasa seperti diikuti seseorang, dan aku merasakannya sudah sedari keluar dari kelas tadi.


"Jemput. Udah cepetan masuk!" Jawabnya malas.


"Dia om kamu ril?" Tanya Kak Daniel melirikku dan Erlang bergiliran. Hingga saat pandangannya jatuh ke pria dingin yang sayangnya adalah suamiku, tiba tiba keningnya berkerut.


"Tuan Erlang?"


Erlang yang merasa dipanggil, mengalihkan pandangannya kepada Kak Daniel. "Apa kita saling mengenal?" Tanyanya dengan alis terangkat sebelah.


"Saya Daniel Kurniawan, anak dari pak Damy Kurniawan, rekan bisnis anda." Jawab Kak Daniel menjelaskan sekaligus memperkenal 'kan diri.


"Oh."


Kak Daniel tersenyum kecut saat Erlang nampak tidak ada minat kenal mengenal dengannya. "Aku tidak menyangka, ternyata tuan Erlang adalah om kamu ril, soalnya beliau masih terlihat muda untuk mempunyai keponakan seperti kamu." Kekeh Kak Daniel cari masalah.


"Aku bukan omnya!" Tegas Erlang membuatku memijat kening pusing. Tidak bisakah dia bekerja sama, dan mengesampingkan rasa malu dan amarah?


"Maksudnya?"


Aku menghela nafas panjang saat melihat tatapan bingung Kak Daniel. "Dia anak sahabat Abah." Jawabku mau tak mau berkata seperti itu.


"Oh.."


"Sudah ngobrolnya? CEPAT MASUK!!"


Aku mendelik sinis padanya dan segera mengambil duduk di kursi penumpang karna malas duduk di sampingnya.


"Kenapa tidak jalan?" Tanyaku heran karna dia bergeming tanpa mau menjalankan mobil, padahal aku sudah duduk manis di dalam mobilnya.


Melirikku di kaca spion, dia memasang wajah dinginnya. "Pindah! Aku bukan supirmu!" Titahnya tegas.


Aku memutar bola mata malas dan lebih memilih pindah dari pada permasalahan semakin panjang dan mobil akan tetap diam di tempat tanpa berjalan pulang.


Setelah aku pindah, mobil inipun mulai melaju membelah jalanan kota yang tidak terlalu macet karna masih siang hari.


"Siapa pria tadi?" Tanyanya acuh tak acuh.


"Senior kampus,"


"Oh."


Aku mengangkat bahu cuek, memasang headset ketelinga dan mulai memejamkan mata mendengarkan alunan musik dari Pink sweat berjudul 'At my worst'.


Ckittt


Aku mengerutkan kening dalam diam saat tidak merasakan pergerakan dari mobil. Saat aku membuka mata, sebuah bangunan restouran membuatku menoleh kearah Erlang yang turun dari mobil dan berjalan kepintu samping tempatku duduk.


Cklek


"Aku lapar. Kita makan siang dulu!" Ucapnya membukakan pintu untukku. Aku menatapnya biasa saja dan segera turun dari mobil.


"Sama 'kan saja!"


"Dua steak, medium well."


"Baik. Silahkan ditunggu ya tuan, nona."


Tak lama setelahnya, pelayan itu kembali datang membawakan pesanan kami dan menaruhnya di atas meja.


"Silahkan dinikmati!"


Aku mengangguk singkat dan mulai menyantap steak daging itu. Tidak ada yang salah jika aku bisa memotongnya tanpa kesusahan seperti orang lain, karna aku entah mengapa cepat dalam memahami dan menirukan hal hal yang dilakukan orang orang di sekelilingku.


"Lusa kita pindah ke apartemen." Putus Erlang tiba tiba. Aku menghentikan makanku, meliriknya dengan bingung.


"Pindah?"


"Iya. Kita sudah menikah, sudah saatnya kita mandiri tanpa membebani orang tua lagi." Jawab Erlang makan dengan tenang.


"Terserah kamu." Cuekku.


Hening sejenak, Erlang tiba tiba membuka suara. "Siapa pria tadi? Pacarmu" Tanya Erlang acuh tak acuh.


"Bukan."


"Kekasih hatimu?"


"Bukan juga."


"Trus?"


"Hanya senior."


"Yakin hanya senior?"


Aku menghentikan makanku dan menatapnya serius. "Kamu kenapa sih?" Heranku. Kenapa dia seolah olah sedang menuduhku berpacaran dengan Kak Daniel?


"Ak--"


"Dengar! Meski aku menyukai seseorang sekalipun. Aku tetap menghargai pernikahan ini dan mencoba menjadi wanita setia sampai masanya. Jadi, hilangkan pikiran jelekmu itu tentangku! AKU TIDAK SELINGKUH!!" Tegasku menekan kata 'aku tidak selingkuh'.


"Aku tidak---"


"Aku sudah selesai makan. Ayo pulang!" Aku bangkit pergi meninggal 'kannya lebih dulu menuju parkiran mobil.


"Aril?" Aku menghentikan langkahku melirik wanita culun yang kini berdiri di depanku dengan wajah polosnya yang penuh heran.


"Ririn?"


"Aril kamu di sini juga? Sama siapa?"


"APRIL!!" Ririn mengalihkan pandangannya kearah Erlang yang kini berdiri di sampingku.


"Aku tidak menuduhmu selingkuh!" Ujar Erlang tanpa sadar bahwa saat ini bukan hanya ada dia dan aku, melainkan ada Ririn juga.


"Selingkuh? Dia pacar kamu ril?" Tanya Ririn nampak kebingungan. Aku masih diam dengan pandangan lurus kedepan. Ku lirik Erlang lalu Ririn secara bergantian.


"Bukan,"


"Lalu siapa?"


"Kamu sedang apa di sini?" Aku memandangnya datar dan berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


"Aku kerja di sini ril,"


"Oh. Aku duluan, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Bug


Aku menghembuskan nafas lega setelah berhasil masuk kedalam mobil setelah dipergoki Ririn makan bersama dengan Erlang. Si Erlang juga! Ngomongnya ambigu banget, gak bisa lihat sekitar dulu sebelum bicara. Kalau gini 'kan aku yang juga yang susah.