
Beberapa hari berada di rumah sakit yang penuh dengan wewangian obat tidak mengusik Arkan sama sekali dari rasa bahagianya saat Nana ada di sampingnya. Menemani hari sulit dengan status terindah.
"Pelan pelan kak," Arkan tersenyum simpul saat Nana membantunya untuk bangun dari atas brankar. Betapa menggemaskannya sang kekasih saat sedang khawatir seperti ini.
"Sssttt" ringisan kecil terdengar.
"Pelan pelan dong kak kan udah dibilangin juga!" Omel Nana membuat Arkan tak tahan untuk tidak mencubit pipinya.
"Iya maaf ayang.." Nana mendengus sebal dengan muka yang memerah menahan malu. Memangnya siapa yang tidak malu saat dipanggil 'ayang' di depan umum?
Keduanya tampak hening sembari terus berjalan keluar dari rumah sakit. Beberapa hari harus dirawat inap, akhirnya hari ini Arkan telah diperbolehkan pulang.
"Yang oh ayang!" Panggil Arkan mengusir rasa sunyi. Bagaimanapun juga dia adalah seorang Arkan Bagaskara, pria yang dijuluki sebagai buaya kampus. Rasanya kurang jos kalau tidak ada bumbu bumbu bucin dalam hubungan nya dengan Nana. Tidak bisa! Arkan harus mengukir kenangan manis dan membuat Nana mengakui cintanya. Tekad Arkan.
"Hm.." cuek sekali.
"Tadi ayang katanya mau ngajak aku?"
"Ha? Emang Nana mau ajak Kak Arkan kemana? Nana ada ngomong gitu ya tadi?" Berhasil. Ikan terpancing.
"Iya. Tadi ayang katanya mau ngajak aku buat meniti masa depan yang indah bersama." Memang patut diacungi jempol buat buaya kampus ini. Gombalannya bukan main, sampai meniti masa depan segala.
"Ih kak Arkan gombal!" Selayaknya gadis pada umumnya, Nana pun juga bisa tersipu saat digombali.
"Siapa yang gombal, memangnya ayang gak mau meniti masa depan bersama?" Pura pura ngambek.
"Bukan gitu. Iya Nana mau meniti masa depan bersama kak Arkan!" Cetus Nana panik.
Gelak tawa Arkan seketika terdengar. Betapa memuaskannya mengerjai seorang gadis sepolos Nana. "Ihhh ayang gombal! Belajar dari mana bisa ngegombal gitu!" Goda Arkan.
"Ih! Kan tadi kak Arkan yang bilang!" Tukas Nana tak ingin dituduh.
"Kapan? Kok aku gak ingat? Coba ayang ingetin, siapa tau aku bisa ingat?" Melihat Nana kesal adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi Arkan. Anggap saja, kesalnya Nana adalah asupan batinnya.
"Ada kok. Tadi kakak bilang gini. 'Iya. Tadi ayang katanya mau ngajak aku buat meniti masa depan yang indah bersama.' Gitu!" Ujar Nana sambil memperagakan gaya bicara Arkan.
"Ih ih gombal lagi ihhh!! Ayang genit banget ternyata!" Goda Arkan membuat wajah Nana memberengut seketika.
Plak
"Kak Arkan nyebelin ih!"
"Awh, sakit yang. Luka aku belum sepenuhnya sembuh loh?" Adu Arkan mengubah mimik wajah seolah tengah kesakitan.
"Eh maaf kak, Nana lupa. Sakit banget ya?" Raut wajah tak enak dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa Arkan jadi sedikit tidak tega mengerjai gadis sepolos Nana.
Cup
"Udah, aku gak apa apa kok. Mendingan kita pulang sekarang, aku mau istirahat. Ayang juga harus istirahat kan? Abis pulang kerja langsung kesini, pasti capek." Satu kecupan di mata Nana mendarat. Arkan sangat tahu sekali bagaimana cara ampuh menghentikan gadis yang menangis.
"Yuk!" Dengan penuh perhatian, Arkan mengajak Nana untuk masuk kedalam mobil yang sudah menunggu di depan rumah sakit. Setelah keduanya masuk, mobil segera melaju menuju kediaman Bagaskara yang terletak di komplek perumahan elit
*
Beda pasangan, lain cerita. Rifki justru saat ini disibukkan dengan Ririn yang sedari tadi terus merengek karena membuat salah satu temannya pergi. Kesalahan fatal yang dilakukan Ririn sungguh membuat Rifki bingung harus melakukan apa.
"Mas.. saya jahat banget ya? Saya tahu udah kecewain Aril, tapi saya pengen berubah. Saya udah gak mau ngikutin kak Al lagi. Saya juga mau tulus temenan sama Aril. Mas saya harus gimana?" Rengek Ririn untuk kesekian kalinya.
"Udah, kamu tenang aja ya. Nanti aku coba bantu pikirin, gimana caranya agar Aril mau maafin kamu. Tapi sebelum itu, sebaiknya kamu makan. Ini sudah malam, dan kamu belum makan apa apa bukan sedari tadi siang?" Bujuk Rifki penuh kelembutan.
"Saya gak lapar."
"Ck. Gak usah ngelak! Ayo kita cari tempat makan yang enak!" Tanpa meminta persetujuan Ririn, Rifki menggenggam tangan itu dan mengajaknya pergi mencari tempat makan.
"Bang ketopraknya dua ya!" Seru Rifki pada Abang ketoprak yang dibalas dengan acungan jempol.
Ririn duduk diantara banyaknya orang di malam itu yang juga mencari makan hemat duit yang letaknya dipinggir jalan. Sedari tadi matanya tampak melihat sekeliling lalu beralih pada Rifki. Menyadari Ririn menatapnya, Rifkipun bertanya.
"Kenapa? Ada yang salah dengan mukaku? Oh atau kamu lihat wajah ku terlalu tampan ya? Santai saja, aku tau aku ini memang tampan." Berbicara penuh rasa percaya diri.
"Bukan itu. Masnya jangan narsis." Elak Ririn blak blakan.
"Terus?"
"Saya cuma heran aja. Mas memangnya tidak risih makan ditempat seperti ini? Secara 'kan mas ini orang kaya, pastinya kalau gak di restoran ya cafe buat cari makan." Ujar Ririn mengatakan keheranannya.
Rifki menatap Ririn dalam, tangannya mulai terlipat di atas meja sederhana yang berbahan dasar dari kayu itu. "Menurutmu, orang kaya tidak boleh makan dipinggir jalan? Harus banget ya, di restoran restoran mewah atau cafe tempat anak muda pada nongkrong?"
"Enggak gitu maksud saya–"
"Ririn. Dengerin aku. Gak semua orang kaya itu sukanya di restoran kelas atas, ada kok yang lebih suka berada di tempat sederhana seperti ini. Tergantung sifat orangnya aja. Dan jujur, aku jauh lebih bahagia makan di sini, karena sosialisasinya lebih berasa. Malam memang dingin, tapi hangatnya berasa sampai kehati. Aku bukan gak suka restoran, tapi tempat seperti ini jauh lebih membuatku nyaman." Ungkap Rifki bertepatan dengan pesanan mereka yang telah datang.
"Makasih bang"
Ririn menatap Rifki yang terlihat bersemangat mengaduk ketoprak pesanannya lalu mulai melahapnya. Saat Rifki menatapnya, kedua mata itu bertemu. Mengunci satu sama lain dibawah gemerlapnya bintang yang sebenarnya tidak terlihat sama sekali.
"Dan satu hal lagi. Aku sudah terbiasa makan di tempat seperti ini sejak aku masih SMA. Saat itu aku dan Erlang pasti akan berburu kuliner jalanan setelah pulang sekolah. Sampai pada masanya kami berdua mulai tumbuh dewasa dan mulai sibuk dengan pekerjaan masing masing. Kesibukan itu yang membuatku dan Erlang sudah lama meninggalkan kebiasaan berburu kuliner jalanan kami." Lanjut Rifki sedikit sendu.
"Kalau begitu, bagaimana kalau saya temani mas buat berburu kuliner? Di taman pasti banyak pedagang kaki lima yang sedang berjualan," tawar Ririn.
"Memangnya perutmu kuat?" Tanya Rifki menatap Ririn sambil tersenyum simpul.
"Kuat. Karena saya sudah mempersiapkannya sedari siang." Jawab Ririn yakin.
"Kalau begitu, mohon bantuannya." Tanpa banyak tanya, Rifki meraih tangan Ririn berjalan menghampiri penjual ketoprak untuk membayar makanan. Setelah itu merekapun segera pergi menuju taman yang letaknya tidak terlalu jauh.
Berbagai makanan mereka cicipi. Dari cilok, siomay, batagor, gorengan, bakso, mie ayam, dan yang lainnya. Pokoknya malam itu mereka tidak menyia nyiakan keadaan begitu saja. Benar benar berburu semua kuliner yang ada di taman itu.
Seperti saat ini, mereka tengah duduk di bangku taman sambil menikmati jagung bakar yang mereka beli.
"Oh ya mas, saya penasaran. Mas dulu pernah punya pacar tidak?" Tanya Ririn membuat gerakan Rifki berhenti seketika. Dia terdiam sambil menatap Ririn dalam.
"Pernah sekali." Jawab Rifki entah kenapa mulai kehilangan nafsu makannya.
"Kenapa kalian putus?" Tanya Ririn lagi seolah tidak melihat perubahan mimik wajah Rifki yang mulai tidak enak dilihat.
"Kamu mau permen kapas tidak?" Tawar Rifki mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Saya tid–"
"Sebentar aku belikan!" Belum sempat Ririn menahannya, Rifki lebih dulu beranjak menghampiri penjual tersebut dan membeli salah satu permen kapasnya.
"Sepertinya aku salah membuat pertanyaan," gumam Ririn menatap Rifki penuh tanya.