Melody

Melody
Latihan



Sebuah mobil sedan berwarna hitam terparkir di halaman rumah di kawasan elit. Setelahnya terbukalah pintu, memperlihatkan seorang pria dan wanita yang terlihat sangat serasi saat berjalan bergandengan tangan masuk kedalam rumah.


"Kalian akhirnya datang juga." Rifki dan Ririn langsung disapa sang empu rumah yang tak lain adalah Yolanda, ibu dari Rifki. Di sampingnya Rendra memasang wajah datar menatap kepulangan sang putra semata wayang yang sangat durhaka menurutnya. Memilih bekerja dengan orang lain, padahal ayahnya ini memiliki begitu banyak cabang perusahaan. Di umurnya yang sudah setua ini masih harus mengurusnya, Rifki benar benar anak durhaka.


"Malam om, tante" sapa Ririn tersenyum lembut meski sedari tadi dia menahan sakit akibat hils yang ia pakai. Mungkin saja sudah ada luka di sana.


"Malam sayang. Kamu Ririn 'kan? Pacarnya Kiki?" Balas Yolanda tersenyum ramah pada pacar putranya yang terlihat sangat sangat cantik.


"Iya tante."


"Mah, nanti aja nanyanya kalau udah di dalam. Masa mama gak ngajak masuk sih? Di luar dingin loh, kasian pacar Ki nanti dia masuk angin." Tegur Rifki membuat Ririn menyikut pelan pria itu agar bisa bertindak sopan pada orang tua.


"Oh iya mama sampai lupa. Ayo sayang, kita masuk. Mama udah siapin makan malamnya," ajak Yolanda merangkul hangat Ririn menggiringnya untuk masuk. Di belakang, Rendra bersama sang putra Rifki nampak mengekori ibu rumah tangga itu menuju meja makan.


"Lumayan juga kamu cari pacar," cibir Rendra pelan.


"Hello... papa pikir aku siapa? Ini adalah seorang Rifki Bramantyo. Tentu saja Ki punya pacar yang tidak kaleng kaleng, seorang pekerja keras, bukan wanita sosialita." Sindir Rifki tak ingin kalah dari sang ayah.


"Kamu nyindir papa? Hei ingat! Bagaimanapun juga dia itu mama kamu!" Tekan Rendra tak terima.


"Emang Rifki ada bilang itu mama?"


"Kamu!" Tangan Rendra sudah ambil ancang untuk memukul putra durhakanya itu, namun terhenti saat mendengar seruan istrinya dari arah meja makan.


"Papa, Kiki! Udah dong berantemnya! Ketemu kok malah berantem. Kita ini lagi kedatangan tamu, sopan sedikit kenapa?!" Omel Yolanda tak habis pikir dengan suami dan putranya itu. Setiap bertemu pasti bertengkar. Mereka itu seperti bukan anak dan ayahnya, justru malah seperti adik dan kakak. Yolanda selalu pusing jika kedua pria itu bertengkar.


Lirikan penuh permusuhan itu menghunus masing masing, membuat Yolanda menghela nafas lelah, berbeda dengan Ririn yang tersenyum lucu dengan keluarga pacar bohongannya ini.


Rifki menarik kursi di samping Ririn, sedangkan Rendra duduk bersama dengan Yolanda istrinya.


Makan malam itu dilewati dengan dentingan suara antara piring dan sendok, sesekali tawa terdengar di mulut dua orang wanita yang tengah sibuk bercanda itu.


"Jadi kamu kerja sambil kuliah?" Tanya Yolanda tak percaya jika pacar dari putranya itu kuliah sambilan mencari pundi pundi uang melalui kerja paruh waktu di sebuah restouran.


"Iya tante. Saya tinggal di kota ini sendiri, jadi harus mandiri." Jawab Ririn menceritakan apa adanya dirinya. Ririn awalnya berpikir Yolanda akan ilfel setelah mengetahui latar belakangnya, ternyata wanita itu justru fine fine saja, bahkan wanita paruh baya itu malah memujinya.


"Orang tua kamu di mana?" Kini giliran Rendra yang bertanya.


"Ibu saya sudah meninggal, sedangkan ayah..." Ririn terdiam sejenak, bingung apakah harus dia jujur tentang keberadaan ayahnya saat ini.


"Ayah saya dipenjara," Ririn pikir tidak ada salahnya dia menceritakannya. Toh dia dan Rifki hanya pacar pura pura, jadi jika Yolanda dan Rendra tak suka dengan latar belakangnya tidak akan berpengaruh juga dengan hidupnya.


"Ayah kamu dipenjara? Kok bisa?"


"Ibu kamu meninggal? Kapan?" Pertanyaan penuh kekagetan itu terlontar secara bersamaan dari mulut pasangan suami istri itu. Rifki mengangkat alisnya heran dengan sikap kedua orang tuanya yang menurutnya terlalu berlebihan.


"Ibu saya meninggal saat saya masih berumur 10 tahun karena penyakit radang usus buntu yang parah. Sedangkan ayah dituduh korupsi uang perusahaan, makanya saat ini dia dipenjara," jawab Ririn mencoba terlihat baik baik saja meskipun sebenarnya dia harus membuka luka lama.


"Jadi ayah kamu masih hidup? Dan sekarang ada dipenjara?" Tanya Rendra masih terlihat tidak percaya.


"Iya. Sudah setahun terakhir dia di sana, tepat saat saya lulus SMA, ayah ditangkap atas tuduhan penggelapan uang perusahaan."


Yolanda dan Rendra setelahnya tidak banyak bicara lagi, seperti ada yang mereka pikirkan, membuat Ririn merasa kalau Yolanda dan Rendra tidak akan merestui hubungan mereka, yah meskipun hanya pacar bohongan.


"Jadi kapan kalian memutuskan untuk menikah?" Tanya Yolanda setelah lama terdiam.


"Prrttt"


"Uhuk uhuk uhuk" jika Rifki menyemburkan minumannya, lain halnya dengan Ririn yang langsung tersedak makanan.


"Iya menikah. Kalian sudah pacaran, sudah saatnya untuk menuju kenjanjang yang lebih serius." Jawab Yolanda.


"Mah. Kita baru pacaran sebulan, masa udah langsung nikah aja? Ki belum siap kalau harus nikah mah." Alibi Rifki yang penting dia jangan sampai menikah dengan Ririn. Apalagi mengingat hubungan mereka yang hanya sebatas pacar bohongan.


"Cih, umur segitu masih banyak aja alasannya. Jadi bujang lapuk baru tau rasa kamu!" Ledek Rendra mampu mendapatkan tatapan tajam Rifki.


"Tan, kalau untuk menikah kayaknya kecepetan deh. Umur Ririn baru 20 tahun, kuliah juga baru semester tiga," kali ini Ririn yang memberikan alasan logis berusaha agar pernikahan itu tidak terjadi.


"Kecepetan buat kamu, terlalu lambat untuk Kiki. Pacar kamu itu umurnya sudah 27 tahun, kalau nunggu kamu lulus kuliah keburu tua dia. Lagiankan kamu bisa nikah sambil kuliah, tidak ada larangan jugakan kalau kalian menikah?" Ujar Yolanda membalas alasan yang diberikan pasangan pura pura itu.


"Lagi pula, kamukan tinggal sendiri, kalau menikah dengan Kiki, ada yang pasti jagain kamu. Kamu juga tidak perlu capek capek buat kerja. Kiki itu sultan, uangnya banyak." Tambah Yolanda membuat Rifki dan Ririn tidak dapat berkata kata.


"Sudah ya. Pokoknya dua minggu lagi kalian akan menikah."


"Dua minggu?!" Sumpah demi apa. Berita ini lebih mengagetkan dari yang sebelumnya. Dua minggu? Dalam dua minggu mereka akan menjadi suami istri?


"Mah kok cepet banget sih? Dua minggu mana cukup buat persiapin semuanya?" Gerutu Rifki tak terima.


"Kamu lupa kamu itu anak siapa? Rendra Bramantyo! Dua minggu itu lebih dari cukup bagi papa untuk mempersiapkannya!" Cetus Rendra yang sedari tadi diam menyaksikan perdebatan sengit antara istrinya dengan pasangan muda yang dalam dua minggu akan resmi menjadi suami istri.


"Kiki, umur kamu itu sudah tidak muda lagi. Setelah kamu menikah, papa sama mama tidak akan khawatir lagi dengan kamu yang tinggal berjauhan dengan kami. Ada istri yang akan melayani kamu," tutur Yolanda mencoba mencari pengertian anaknya atas keputusan mereka yang ingin segera menikahkan keduanya.


"Terserah mama sama papa saja. Ki pasrah," pada akhirnya Rifki menyerah berdebat dengan keduanya. Saat ini turuti saja dulu, soal kedepannya itu urusan gampang masih bisa dipikirkan nanti.


Ririn mendelik tajam mendengar putusan Rifki yang tidak meminta persetujuannya terlebih dahulu. Apa ini? Berawal dari pacar bohongan berujung pernikahan? Ini sungguh gila!


"Sepakat ya, berarti dua minggu lagi kalian akan menikah." Ririn maupun Rifki tidak ada yang menjawab, keduanya sibuk dalam pikiran masing masing.


*


"Masnya saya gak mau ya kalau sampai menikah! Saya itu masih muda, masih pengen berkarir dulu!" Sepanjang perjalanan Ririn mengatakan rasa keberatannya itu pada Rifki. Sungguh dia tidak terpikir akan menikah di umur semuda ini, apalagi itu dengan Rifki. Asisten pribadi Erlang Bagaskara yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis.


"Memangnya aku juga mau? Enggak! Udahlah. Kita turuti saja dulu keinginan mama, soal gimana caranya batalin itu urusan belakang. Masih ada waktu dua minggu buat mikirinnya." Jawab Rifki risih karena sedari tadi perempuan di sampingnya ini tidak berhenti mengomel yang mana itu membuat telinganya pengang.


"Tapi gimana?"


"Soal itu kamu tenang saja. Pokoknya kamu terima beres! Intinya kita tidak akan menikah!" Tegas Rifki menghentikan mobilnya karena mobilnya tidak dapat masuk kedalam gang sempit itu.


"Saya pegang ucapan masnya ya!"


"Hm. Oh ya jangan lupa besok!"


"Besok?"


"Besok kita harus ngukur baju! Pulang kuliah nanti aku jemput!" Ujar Rifki.


"Iya." Jawab Ririn segera melepas sabuk pengamannya lalu membuka pintu mobil kalau saja seseorang tidak menahannya. Menoleh kebelakang, alis Ririn mengerut melihat telapak tangan Rifki yang terulur padanya.


"Anggap saja latihan jadi suami istri." Goda Rifki membuat Ririn lekas menepis kasar tangan itu yang membuatnya jengkel.


"Modus!" Ririn cepat cepat turun dari mobil dan masuk kedalam gang di mana kontrakannya berada.


Setelah memastikan Ririn telah aman, Rifki segera melajukan mobilnya menuju apartemen tempat ia tinggal.


"Menikah?" Kekeh Rifki sambil menggeleng gelengkan kepala tak habis pikir.