Melody

Melody
Belajar salat



Aku masuk kedalam kamar ku, menjatuhkan tubuh di atas kasur sambil memijat kening yang terasa pusing.


" Kakak ganteng? "


" Geser geser! " aku mendengus sebal, memilih untuk menyingkir membiarkan suami ku itu berbaring di samping ku.


Dengkuran halus terdengar darinya yang langsung terlelap dalam tidurnya. Aku memiringkan tubuhku menghadap kearahnya, memandangi setiap sudut bagian wajahnya yang hampir bisa dikatakan sempurna.


" Benarkah aku sudah menikah? " gumamku terus memandangnya, hingga rasa kantuk pun menyerang, membuatku tak tahan untuk ikut tertidur di sampingnya.


*


Aku mengerjap erjap 'kan mataku saat sayup sayup mendengar panggilan Azan Ashr dari mushala dekat sini.


Aku perlahan bangkit, memandangi setiap kamar, lalu bangkit mengambil handuk dan baju ganti masuk kedalam kamar mandi.


" Hoaamm "


Cklek


" Apa yang kau! " aku membulatkan mataku sempurna melihat seorang pria mandi di kamar mandi ku tanpa menggunakan sehelai benang pun.


" Aaarrrrgghhhh "


Aku segera menutup mataku, berbalik badan keluar mencari pintu. Karna tidak dapat melihat, sesekali aku kepalaku menghandam tembok.


Cklek


Aku menyadarkan tubuhku di pintu dengan nafas naik turun. Mataku ternodai, sudah tidak suci.


Astaga kenapa aku sampai lupa kalau aku sudah menikah? Bagaimana jika nanti dia mengatakan aku wanita mesum? Oh tidak!! Ahhh tau lah.


Beberapa saat menunggu, akhirnya pintu kamar mandi itu pun terbuka. Memperlihat 'kan pria yang kini menjadi suami ku itu hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.


Tanpa meliriknya, aku segera bangkit masuk kedalam kamar mandi untuk bebersih diri dan melaksanakan sholat wajib.


Aku keluar menggunakan gamis panjang, berjalan kearah lemari mengambil mukena dan sajadah yang ada di sana. Ku lirik Erlang yang sibuk bermain ponsel di atas kasur lengkap dengan pakaian yang ku siap 'kan tadi.


" Kamu gak salat? " tanyaku sambil membentang dua sajadah berniat ingin salat berjemaah.


Dia menoleh. " Enggak." gelengnya kembali menatap ponsel. Aku menghela nafas pelan, berjalan mendekatinya dan langsung merebut ponsel itu dari tangannya.


" Apa yang kamu lakukan?! " bentaknya.


Dia mendengus kesal. " Tapi, aku gak tahu gimana caranya salat! " jujurnya membuang pandangan kesembarang arah.


" Tidak tahu sama sekali? " tanyaku, dan dia mengangguk membenarkan. Aku menatapnya dari atas sampai bawah dengan pandangan tak percaya. Tubuh kekar, ganteng, tinggi dan sebesar ini tidak pernah 'kah sekali saja sujud menghadap Allah?


" Hei jangan memandang ku seperti itu! Aku ini seorang pengusaha, tidak ada waktu untuk belajar hal seperti itu! Jadi, kembali 'kan ponsel ku! " ketusnya hendak mengambil ponselnya, tapi dengan cepat aku menjauhkan ponsel itu dari jangkauannya.


" Tidak peduli mau pengusaha, pejabat, presiden, orang miskin dan orang kaya, maupun sebagainya. Semuanya sama di mata Allah. Harta yang kamu dapat, tak lebih adalah harta yang diamanah 'kan Allah untuk kau jaga. Harta adalah cobaan besar dari Allah untuk orang yang memilikinya.


Karna harta dapat membutakan hati dan akal sehat manusia. Demi seonggok nasi, mereka rela menghancurkan satu sama lain untuk mendapatkannya. Padahal, nasi itu bisa dibagi untuk semua orang. Itulah manusia, serakah. Tidak pernah mau bersyukur atas apa yang tuhan berikan padanya. Jangankan hendak bersujud, bahkan menyebut namanya saja engkau tidak pernah. "


" Sudah ceramahnya? Kembali 'kan ponsel ku! " dengan kasar dia merebut ponselnya kembali, dan berbaring di atas kasur tanpa menghiraukan ku.


" Setelah aku salat, aku akan mengajari mu bagaimana caranya salat. Salat itu wajib, karna pahalanya dapat mengantar 'kan kita kesurga. " tuturku dihiraukannya. Aku menghela nafas pelan, lebih memilih melaksana 'kan salat Ashr. Urusan dia mau atau tidak, itu urusan nanti.


Setelah selesai salat, aku menatap Erlang yang masih sibuk dengan ponsel di tangannya. Aku segera bangkit, berdiri di sampingnya dengan pandangan sulit diarti 'kan.


" Apa? " mungkin karna risih, dia meletakkan ponselnya keatas kasur dan memandang ku kesal.


" Saatnya belajar salat, suami ku. Sudah saatnya kamu belajar untuk menjadi imam yang baik untuk istrimu ini. Menjadi pemimpin perusahaan besar saja kamu bisa, masa menjadi pimpinan keluarga yang baik dan soleh tidak bisa? " ucapku penuh kelembutan, sindiran dan penekanan.


" Huft... tapi aku gak bisa! " dengusnya.


" Karna kamu tidak bisa, makanya aku ajarin. Anggap saja kamu sedang belajar membangun perusahaan baru dari nol. Tapi, bukan untuk di dunia. Melainkan untuk di akhirat. " jawabku.


" Terserah! "


Aku tersenyum kecil saat dia bangun dari kasur dengan sangat malas. Aku melirik jarum jam yang terpasang di dinding kamar. Masih ada waktu beberapa jam lagi sebelum resepsi pernikahan nanti malam.


" Sekarang apa? " tanyanya.


" Langkah pertama adalah berwudhu. Jadi, ayo ikut aku ke kamar mandi untuk belajar mengambil air wudhu. " ajakku.


" Kenapa harus wudhu sih? Kenapa gak langsung salat aja? " keluhnya enggan beranjak dari tempat.


" Mau menghadap Allah itu, harus bersih dan suci dari hadast hadast kecil yang menempel. " jelasku pelan pelan.


" Kan aku sudah mandi? Sudah bersih, wangi juga. " bantahnya. Aku hanya mampu menghela nafas, mencoba menjelaskannya secara pelan pelan dan tidak memaksa agar dia tidak tertekan.


" Ini beda. Wudhu itu sunnah, tapi jika salat kita wajib berwudhu terlebih dahulu. Entah itu sudah mandi atau belum, kita tetap harus berwudhu. Anggap saja, berwudhu adalah langkah mensuci 'kan diri sebelum menghadap Allah. " jawabku.


" Terserah. " Aku tersenyum kecil, dan segera menarik tangannya masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil wudhu.