Melody

Melody
Bab 6



Mobil itu memasuki pekarangan mansion keluarga Aditama dan berhenti di teras mansion. pintu mobil terbuka dan muncullah satu sosok lelaki tampan dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya. dia memerintahkan maid untuk membawakan kopernya masuk ke dalam mansion, kemudian menghampiri wanita cantik yang berdiri tepat di samping pilar pintu masuk.


"tante Galuh" ucapnya sambil memeluk erat wanita itu


"hai Arsa, ayo masuk"


Mereka pun masuk dengan Arsa yang berdiri di samping Galuh sang tante. namun, belum sampai di pintu masuk sebuah telur melayang diudara dan hap... mendarat tepat di wajah Arsa. semua yang menyaksikan itu melongo dan tidak tau dari mana datangnya telur yang bisa terbang itu, sementara si pelaku yang melemparkan telur tengah berusaha menahan tawa dan bersembunyi di balik tembok di lantai dua.


"*****, siapa sih yang lempar gak mungkin kan nih telur bisa terbang dari dapur sampai sini" ucap Arsa dengan kesal sambil membersihkan wajahnya menggunakan tisu basah yang disodorkan oleh seorang maid


"siapa yang melakukan ini? tidak sopan sekali" marah Galuh memandang tajam seluruh maid yang berbaris di sana


"maaf nyonya kami tidak tau siapa yang melakukannya, sedari tadi kami berada disini dan dapur dalam keadaan kosong" sahut seorang wanita tua yang berstatus sebagai kepala maid di mansion itu


Tak lama kemudian segepok tepung pun kembali melayang dan mengenai wajah serta rambut Arsa hingga membuat seluruhnya berwarna putih. kembali mereka kaget dan dibuat cengo dengan hal yang terjadi barusan. belum habis rasa terkejut, mereka kembali di kagetkan dengan suara tawa yang menggelegar di ujung tangga atau lebih tepatnya tempat Melody bersembunyi. dia pun keluar dari persembunyiannya dan masih saja setia dengan tawanya.


"selamat datang di mansion Aditama, sepupu. gimana lo suka sama sambutan gue?" ucapnya tekekeh geli membuat lelaki yang menjadi tumbal kejahilannya mendengus kesal


"oh jadi lo biang keroknya"


Arsa berjalan dengan cepat menaiki tangga menghampiri Melody, seolah ada alarm berbahaya berbunyi di kepalanya Melody pun langsung berbalik dan berlari dengan kencang. Arsa yang melihat Melody berlari pun sontak mengejarnya dan tidak akan membiarkan buruannya lepas begitu saja.


Galuh hanya menggelengkan kepalanya melihat tinggah dua remaja berbeda kelamin itu. dia sama sekali tidak menghentikan mereka.


"WOY, JANGAN LARI LO" teriak Arsa yang mengejar Melody


"HUAAA.... mama Arsa mau nangkap Ody"


jadilah mansion mewah itu dipakai lapangan lari-lari oleh Melody dan Arsa.


"UDAH CUKUP" teriak Galuh membuat mereka menghentikan larinya dan berbalik menatap Galuh sambil saling dorong-mendorong untuk berjalan paling depan.


"Melody, Arsa baru aja sampai dan kamu malah menyambutnya seperti itu?"


"ya abis gara-gara Arsa, Melody jadi masuk daftar pengawasan Oma"


"kalian ini udah besar tapi masih aja tingkah kaya anak kecil"


"tau nih lo pada" sahut Kevin yang baru saja masuk ke rumah


"DIAM LO" ucap Arsa dan Melody bersamaan.


 


\*


 


Galuh menata piring dan makanan hasil masakannya diatas meja makan. yah, dia memang selalu memasak untuk suami dan anak-anaknya sementara para maid mengerjakan pekerjaan lainnya.


"malam sayang" sapa Ardi mencium dahi istrinya lalu menarik kursi dan duduk


"malam sayang" sahut Galuh dengan lembut


"anak-anak belum turun?"


"belum nih, kamu tolong panggilkan ya"


Belum sampat Ardi membuka mulutnya suara teriakan dari atas tangga mengalihkan perhatian mereka berdua.


"ARSA...." teriak Melody menggelegar sementara yang diteriaki sudah sampai di meja makan


"good night om, tan" sapanya


"good night too Arsa"


Lalu turunlah Melody dengan wajah kesal sementara di sampingnya berdiri Kevin yang dengan telaten merapikan rambut adiknya, karena tadi diberantakin Arsa.


"malam Mah, Pah" sapa mereka berdua serentak


"malam sayang"


Mereka pun duduk di kursi masing-masing dan Galuh dengan telaten mengisikan piring anak dan suaminya dengan nasi dan lauk pauknya. disana hanya ada keheningan, yang terdengar hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring.


"Bas.." panggil sang Mama yang bernama Leona


"hmm"


"Bas.."


"hmm"


"ck, kalau mama ngomong tuh di sahut Bas jangan cuma hmm-hmmm aja"


"ada apa Ma?"


"gitu dong kan mama jadi gak berasa ngomong sama patung"


"jadi kenapa Ma?"


"gak apa-apa sih, mama cuma kangen kamu yang dulu"


Bastian yang mendengar lirihan mamanya pun sontak menoleh dan mendapati mamanya menunduk di sampingnya. jujur dia tidak tega membuat mamanya seperti itu tapi mau bagaimana lagi dia pun sudah terlanjut nyaman dengan sifatnya yang sekarang.


"Bastian ke kamar" ucapnya dingin meninggalkan mamanya di ruang keluarga sendirian


"kapan kamu bisa kembali ke sifat asli mu nak" lirih batin sang mama


Mamanya hanya bisa menatap punggung Bastian yang semakin jauh kala dirinya menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Leona merasa hubungannya dengan Bastian semakin hari makin merenggang, tidak seperti dulu. ini semua disebabkan karena kejadian yang menimpa gadis yang dicintai putra tunggalnya itu. dia masih ingat kala dimana Shela berpamitan pada dirinya dan Bastian untuk melanjutkan sekolah di luar negeri, walaupun waktu itu Bastian sepertinya sangat tidak setuju dengan keputusan gadisnya. namun, dengan paksaan akhirnya Bastian menyetujuinya dan membiarkan gadis itu pergi tapi naasnya di pertengahan jalan mobil gadis itu mengalami kecelakaan karena rem mobilnya blong. sejak saat dimana gadis itu dinyatakan meninggal Bastian berubah. dia menjadi orang yang dingin dan kata-katanya sering menyakiti orang lain.


"Mah"


"Mama"


Leona tersadar dari lamunannya kala suaminya Erlangga atau kerap disapa Angga melambaikan tangan di depan wajahnya.


"papa, kok udah disini aja. kapan pulang?"


"udah dari tadi, mama sih melamun aja kan jadi gak tau kalau papa pulang"


"maafin mama ya pa karena gak menyambut papa di depan pintu seperti biasa"


"gak apa-apa mah sekali-kali biarin papa yang nyamperin mama"


Leona tersenyum, sungguh dia sangat berterima kasih pada tuhan karena diberikan kesempatan untuk menjadi pendamping seorang lelaki sebaik Angga.


"makasih ya pah"


"buat?"


"semuanya"


"mama ngomong apa sih? papa gak ngerti"


Leona hanya membalasnya dengan senyuman.


"oh iya tadi mama kenapa melamun? ada masalah?"


"nggak kok. mama gak apa-apa"


"papa kenal mama nggak sehari dua hari loh, papa tau mama ada masalah jadi cerita aja sama papa"


"pah mama merasa jarak antara kita dengan Bastian itu semakin hari makin jauh. Bastian seperti membangun tembok yang sangat kokoh di sekelilingnya hingga membuat orang-orang yang berada di sekitarnya tidak bisa mendekatinya" ucap Leona terisak


Angga memeluk istrinya. dia juga merasakan apa yang dirasa oleh Leona, namun dia tidak mempermasalahkannya.


"sabar ya mah. papa yakin suatu hari nanti pasti Bastian kita akan kembali seperti semula"


"semoga aja ya pah. mama kangen banget Bastian yang cerewet"


"iya mah"


Tanpa disadari Leona dan Angga, sedari tadi Bastian mendengar pembicaraan mereka. dia menghela nafas gusar kemudian memilih pergi dan kembali ke kamarnya.


jangan lupa tekan like dan love😊.