Melody

Melody
Berubahlah



"Sedang apa kamu?"


Aku terdiam dengan tangan masih berada di knop pintu. Aku kenal suara ini. Suara Erlang suami ku.


"Tidak ada." Jawabku berlalu pergi memasuki lift turun ke resto Hotel.


"Oh" aku menghela nafas lega saat dia tidak banyak bertanya tentang aku yang keluar dari ruangan cctv.


Setelah pintu terbuka, kami berdua keluar bersama dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Memesan makanan, dan menyantap sarapan dalam diam.


"Cctv. Untuk apa kamu keruangan itu?" Tanya Erlang menatap ku dingin. Aku memakan makananku dalam diam, sesekali meliriknya yang tak mengindahkan pandangan dariku sama sekali.


"Menurutmu?" Jawab ku acuh tak acuh.


"Apa untuk mencari wanita itu?"


Aku menghela nafas pelan, mengambil tisu untuk membersihkan mulutku. Setelahnya, aku memandang dia serius. "Sebegitu inginnya kah kamu bertemu dengannya?" Tanyaku.


"Sangat!"


"Sayangnya aku tidak berminat," aku bangkit kembali menuju kamar hotel. Soal biaya, suami ku bisa membayarnya. Cuma makanan itu, tidak akan membuatnya bangkrut.


Sebelum aku tahu asal usul gadis itu, maka selama itu juga Erlang tidak akan menemuinya.


***


Lamaran. Pernikahan. Dan malam pertama. Semuanya tidak ada yang berkesan sama sekali di benakku. Aneh ya, kalau biasanya pengantin baru saat ditanyai malam pertama, pasti jawabnya malu malu kucing. Lah aku? Ditanya malam pertama jawabnya malah gini.


"Biasa aja."


Simple 'kan? Orang orang sampai menatap ku aneh. 'Nih orang beneran manusia gak sih?' Begitulah mungkin isi pikiran mereka.


"Aril-nya lagi ngambek kak. Soalnya waktu malam pertama, saya gak bisa muasin dia." Ujar Erlang membuatku mendelik tajam padanya.


Sialan! Siapa yang muasin dan siapa yang dipuasin? Gila aja nih orang! Mulutnya gak bisa disensor dikit apa? Malu maluin aja.


"Benarkah? Wah... semangat banget kamu ril. Dulu aja waktu kakak lagi malam pertama di kamar, kamu malah gedor pintu sambil bilang. 'BRISIK!!' Sekarang kamu udah ngerasain 'kan?" Ledek Kak Armi membuatku mendengus sebal.


Aku akui memang iya waktu itu aku gedor pintu mereka. Gimana enggak? Aku lagi ngerjaain tugas sekolah, di sebelah kamar malah berisik. Gak konsen woi!


"Benarkah?" Erlang melirikku dengan senyum mengejeknya. Aku membalas tatapan itu dingin, gara gara dia aku harus jadi bahan candaan orang orang rumah.


"Sudah sudah, jangan diledek lagi. Kasihan Arilnya." Uma datang membawa lalapan kesukaan ku dan menaruhnya keatas meja makan, dan menarik kursi ikut bergabung bersama kami.


"Kalian jadi hari ini pulang ke Bandung?" Tanya Uma menatapku dan Erlang secara bergantian.


"Gak perlu izin. Sudah seharusnya sebagai istri, untuk ikut kemanapun suami pergi. Dan mulai sekarang, Aril adalah milikmu seutuhnya. Janji yang kamu ucapkan di hadapan Allah adalah bukti, bahwa tugas Abah menjaga Aril sudah usai, dan berpindah tugas kepadamu," tutur Abah serius.


"Er akan menjaga Aril semampu Er, karna Er hanya manusia biasa yang terkadang bisa salah dan lupa." Jawab Erlang mengulang kata yang aku ajar 'kan padanya beberapa hari lalu.


"Abah percaya kamu bisa menjaga dan membimbing Aril menjadi istri yang baik." Menepuk bahu Erlang kuat.


"Sudah sudah, ayo makan!"


Kami pun akhirnya makan sesekali berbincang hangat mengenang masa lalu saat kami kecil.


"Ril, kamu itu sudah menikah. Ubahlah sifat dingin kamu itu! Lupain masalalu kamu itu. Abang yakin, dia gak akan berani lagi sentuh kamu saat tahu kamu sudah menikah." Ucap Kak Danar tiba tiba.


Hening


Semua orang terdiam dan menghentikan makan mereka serempak. "Kenapa? Memang benar bukan? Dia sudah pergi ril, apa lagi yang kamu takutin sih?" Lanjut Kak Danar semakin membuat air mukaku berubah.


Plak


"Aduh sakit sayang!"


"Mulut kamu itu loh yang! Bisa disaring gak?! Aril, gak usah dengerin Abang iparmu yah. Mulutnya emang gak bisa disaring." Kak Armi menatapku tak enak.


Kreett


"Aril udah selesai makan." Aku bangkit pergi meninggalkan meja makan dengan perasaan campur aduk.


Ucapan Kak Damar tadi gak salah. Memang dia sudah pergi, tapi aku tahu dia memiliki banyak mata untuk mengawasi semua gerak gerikku. Itu benar benar membuatku takut. Takut kejadian dua tahun lalu terulang kembali.


Cklek


"Hei. Kamu kenapa?" Erlang berjalan menghampiriku, memposisikan diri duduk berhadapan denganku di atas kasur minimalis yang hanya cukup untuk dua orang, itupun harus berdempetan.


"Tidak apa."


Erlang maupun aku sama sama terdiam. Suasana mendadak jadi canggung, aku sendiri bingung harus menyikapinya seperti apa untuk kedepannya. Awalnya kami berdebat karna sebuah kesalah pahaman, dan sekarang semuanya sudah terpecahkan. Dan apa yang harus kami lakukan sekarang? Apakah akan ada perjanjian kontrak seperti yang aku baca di novel novel?


"Kamu sudah masuk 'kan baju kedalam koper?" Tanya Erlang.


"Sudah. Apa kita berangkat sekarang?"


"Boleh. Tiga jam lagi kita penerbangan akan take up. Jadi kita berangkat sekarang."


"Baiklah, aku siap siap dulu."