
Oke. Kesadaranku kali ini sudah terkumpul kembali. Betapa memalukannya diriku begitu agresif dengan menyerangnya lebih dulu. Apa aku masih bisa disebut seorang wanita?
"April kamu..." aku membuang muka melihat wajahnya yang terpaku sambil memegang bibirnya. Aku sendiri bahkan tidak percaya bahwa orang yang menyerangnya lebih dulu itu tadi aku. Sungguh memalukan.
"April ternyata kamu agresif juga ya."
Menoleh cepat. "Apa?! Kitakan suami istri, sah sah saja jika aku ingin melakukannya. Kenapa? Kamu tidak suka?!" Demi menutupi rasa malu, aku hanya bisa menyangkal sebisanya. Sungguh itu sangat memalukan.
"Tidak salah sih. Yang salahnya, kenapa kita tidak melakukannya di kamar saja? Ck ck. Perlu diperhitungkan lagi nanti." Gumam Erlang jelas sekali ingin mengejekku.
"Akh kamu menyebalkan!" Aku melempar satu buah jeruk yang ada di atas meja lalu bangkit pergi meninggalkannya. Aku sudah tidak dapat membendung rasa malu ini lagi.
"Eh April... sayang... tidak mau lanjut lagi?"
"BERISIK!!" Erlang menyebalkan.
Aku masuk kedalam kamar dan menguncinya dari dalam. Menjatuhkan diri di atas kasur, pandanganku terdiam lurus menatap pada langit langit kamar. Sikap Erlang yang berubah tidak dingin lagi ini membuatku semakin kebingungan mencari cara untuk melepaskannya.
"Dengan kamu yang seperti ini, aku mulai merasa enggan melepaskanmu." Gumamku sembari memijat kepala yang terasa pusing.
***
"Hai..."
Di sebuah restoran tempat Nana bekerja, seorang pelanggan yang terlihat seperti anak kuliahan memberanikan diri untuk menyapa si polos Nana.
"Kakak nyapa Nana?" Tanya Nana memastikan bahwa yang pria itu sapa adalah dirinya. Kan malu kalau sampai bukan dia yang disapa.
"Iya kamu. Kenalin, nama aku Robert, kamu bisa panggil aku Rob." Pria itu mengulurkan tangannya pada Nana sembari memperkenalkan diri.
"Hallo Kak Rob, kenalin nama aku Nana." Balas Nana lalu melanjutkan pekerjaannya membersihkan meja meja.
"Kamu masih kuliah?" Tanya pria itu mengambil duduk di meja yang tengah Nana bersihkan.
"Iya masih."
"Oh... di kampus mana?"
"Universitas ITN"
"Wah... berarti sekampus dong kita? Kamu di jurusan mana?"
"Nana di jurusan desain. Kalau kakak?"
"Aku ambil jurusan perikanan. Eh gak nyangka ya ternyata kamu sekampus juga denganku? Kok aku bisa gak tahu ya kalau di kampus kita ada cewek secantik kamu." Gombalan kalau cowok gak punya itu mustahil! Cowok itu king of gombal, modusnya melangit, janjinya sebukit. Nepatinnya? Bagaikan bernafas di dalam air. Artinya, gak mungkin!
"Dari lahir." Entahlah. Sekarang Nana sudah mulai bisa untuk tidak terlalu mempercayai orang baru, mengingat pengalaman buruknya dulu saat dengan mudahnya di bawa orang tak dikenal. Dan ini. Sama persis! Dulu juga Vero bilangnya mereka satu kampus, nyatanya?
"Eh, bagi nomor dong? Mungkin aja kita bisa lebih deket lagi?" Pinta Rob sembari menyerahkan ponselnya yang siap membuat nomor mangsa baru.
"Sorry ya! Nana itu udah ada yang punya. Siapa itu? Guelah orangnya!" Belum sempat tangan Nana ingin meraih ponsel Rob, Arkan datang dengan cepat menarik tangannya, merangkul pinggangnya merapat seolah olah takut wanita itu direbut lelaki lain.
"Lo... Arkan 'kan? Si buaya kampus itu?" Tanya Rob yang sangat mengenal Arkan yang tak lain buaya kampus.
"Hahaa na.. na. Jadi Arkan ini pacar lo? Kok bisa sih lo pacaran sama dia, emang gak takut disakitin? Mungkin aja lo bakal jadi korban phpan dia? Entar kalau lo sakit, datang aja ke gue. Gue siap kok jadi pacar lo." Ejek Rob berusaha meraih tangan Nana, namun dengan cepat Arkan tepis.
"Jangan coba coba sentuh cewek gue! Dan apa tadi? Haha lo berharap banget ya gue putus dari Nana? Lo kalau doyan sama bekas gue, mending cari yang lain. Banyak kok bekas gue yang bertebaran di kampus. Ya... lo tinggal pilih aja, itu juga kalau emang mereka mau sama lo?" Balas Arkan mengejek.
Bug
Brukh
"Kak Arkan!!" Hal yang tak terduga terjadi, Rob yang terlewat emosi langsung melayangkan bogemnya di wajah Arkan, sampai sampai pria itu terpental jatuh.
"Ssttt sialan lo!!" Melihat sudut bibirnya yang berdarah, Arkan tidak tinggal diam, dia langsung membalas memukul Rob hingga terjadilah pertengkaran yang tidak terelakkan. Banyak dari pengunjung lain yang justru merekam aksi perkelahian mereka dari pada membantu Nana untuk melerai. Ya gitulah, viralin dulu baru nolong.
"Kak Arkan... Kak Arkan udah, jangan berantem terus! Nana takut... hiks"
Arkan menghentikan tangannya untuk menghajar Rob saat mendengar isak tangis Nana yang membuatnya tidak tega. Menendang sekali lagi, Arkan segera bangun menghadap Nana yang terus menangis dengan tubuh gemetar.
"Suttt udah jangan nangis ya? Maafin Kakak kalau udah bikin kamu takut. Sekarang udah ya, jangan nangis lagi." Jika dengan mantan mantan terdahulu Arkan selalu cuek, berbeda dengan Nana yang dia sikapi dengan penuh kelembutan. Sembari memeluk Nana, sesekali Arkan menciumi pucuk kepalanya.
Sakit itu pasti. Tapi karena berhubung yang ada dipelukannya saat ini adalah Nana, Arkan berusaha untuk tidak goyah dengan rasa sakit, dan mencoba melawannya.
"Ka-kak Arkan? Kakak---"
"Sutt kakak baik baik aja. Bentar ya..." saat Arkan berbalik badan, saat itu juga kepalan tangan melayang padanya, namun Arkan jauh lebih gesit dengan menahan tangan itu dan sekali tendangan. Rob langsung terlempar menghantam kursi kursi hingga tak sadarkan diri.
"Ka-kak Arkan. Kepala kakak hiks..." secara otomatis Nana dapat melihat darah berkucuran keluar dari kepala Arkan akibat luka dari hantaman kursi kayu yang beratnya tidak main main.
Menoleh kebelakang, Arkan tersenyum lalu sedetik kemudian...
Brukh
"Kak Arkannnnn!!!"
***
"Hiks hiks Kak Arkan.... hiks hiks huaaa" adakah yang bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi? Aku tiba tiba mendapat telfon dari Nana yang mengatakan bahwa Arkan masuk rumah sakit. Saat aku dan Erlang sampai, yang ku lihat Nana menangis histeris sendirian di ruang tunggu UGD.
"Tenang na... Arkan itu kuat orangnya. Gak bakalan mati juga." Ucapku harap harap Nana mau tenang dari tangisnya yang memenuhi seluruh ruangan.
"Huaaaa" yah kok nambah nangis sih? Salah ngomong apa gimana sih ini aku? Erlang juga, kayak lucu banget ya ngeliat aku menderita seperti ini sampai senyum senyum gitu lihatnya.
"Gak usah senyum senyum! Nanti dikira gak waras lagi. Adik masuk rumah sakit kok malah senyum senyum?!" Omelku.
"Ya... gak apa apa. Aku cuma gak nyangka aja. Ternyata istri aku cantik juga ya?" Ini apaan sih, di rumah sakit dengan kondisi yang tidak memungkinkan ini dia masih sempet sempetnya ngegombal?! Dia belum pernah ngerasain bogem mentah ya? Mumpung lagi di rumah sakit ini. Bikin kesel aja.
"Ha ha ha, gak lucu!" Tawaku hambar.
Tap tap tap
"Erlang! Er gimana keadaan adik kamu? Dia baik baik ajakan? Gak kenapa kenapan 'kan?" Dari arah koridor Bunda berlari cepat diiringi Rifki juga Ririn di belakangnya. Oh ya, jadi itu tadi aku yang telfon Ririn buat kemari. Berhubung aku orangnya gak pandai nenangin orang, makanya aku minta bantuannya si Ririn. Diakan orangnya agak pemalu gitu, pastilah tau kan cara nenangin orang?
"Arkan masih ditanganin sama dokter bun," jawab Erlang memberikan tempat untuk Bunda duduk di sampingnya sembari merangkul wanita itu yang tengah menangis penuh kekhawatiran dengan keadaan anak bungsunya.
"Na..." Ririn duduk di samping Nana dan mengambil alihnya untuk ditenangkan, sedang Rifki lebih memilih bersandar di tembok untuk menunggu.
Cklek
"Keluarga pasein Arkan Bagaskara?" Panggil dokter yang baru saja keluar dari UGD.
"Saya dok! Saya Bundanya. Gimana keadaan putra saya dok? Dia baik baik ajakan? Gak kenapa kenapakan?" Cecar Bunda bahkan sangking khawatirnya sampai sampai itu bahu si dokter digoyang goyang gitu, untungnya Erlang dengan sigap menghentikan aksi Bunda yang kelewat ekstrim.
"Anak anda baik baik saja, hanya luka sobekan di bagian kepala dan sudut bibirnya. Kami sudah menanganinya, syukurnya tidak terjadi hal fatal yang mengganggu saraf otak anak anda." Jelas dokter tersebut.
"Kami bisa menjenguknya sekarang?"
"Bisa. Tapi jangan banyak banyak, hanya satu sampai dua orang saja yang boleh masuk. Semuanya bisa menjenguk setelah pasein dipindahkan keruang rawat inap." Jawab dokter.
"Kalau gitu biar bunda sama mas Er aja yang masuk duluan, kita lihatnya nanti aja setelah Arkan dipindahkan." Ucapku melirik Erlang yang langsung paham dan segera membawa Bunda masuk.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu."
"Terima kasih dok,"
Aku melirik Nana lalu memutuskan untuk duduk kembali sembari membantu Ririn menenangkan Nana yang sampai sekarang belum berhenti menangis.
"Udah na... kan tadi kata dokter Arkannya baik baik aja. Nana gak perlu khawatir ya..." tutur Ririn mengusap usap punggung Nana.
"Tapi hiks Nana hiks tetap aja hiks ngerasa ber hiks salah. Kak hiks Arkan, kayak gini hiks juga karena Nana." Isak tangis itu membuatku menghembuskan nafas lemah dan tak tega.
Sembari berjongkok di depan Nana, aku menggenggam erat tangan gadis polos itu. "Na. Ini bukan salah kamu, Arkan seperti ini itu karena pilihannya sendiri buat ngelindungin kamu. So, kamu gak perlu nyalahin diri kamu sendiri. Ayo semangat! Arkan pasti butuh kamu yang baik baik aja, bukan malah yang kayak gini. Dia bela belain masuk rumah sakit itu biar kamu gak kenapa kenapa, masa iya kamu mau bikin perjuangannya sia sia? Gimana kalau dia malah nyalahin diri sendiri karena udah bikin kamu nangis?" Bujukku.
"Ayo udah nangisnya, yang Arkan butuh itu senyum kamu. Bukan air mata." Lanjutku dan sepertinya itu berhasil membuat Nana berhenti diam. Tak berselang lama setelah itu, brankar yang membawa tubuh Arkan dibawa keluar untuk dipindahkan keruangan lain.
"Kak Arkan..." Nana langsung bangkit membantu para perawat mendorong brankar Arkan sembari menggenggam tangan pria buaya itu.
"Ril," panggil Erlang memberi kode untukku ikut berjalan bersamanya. Mengerti, aku segera mensejajarkan jalanku dengan Erlang juga Bunda sembari merangkul Bunda yang masih terlihat lelah sehabis menangis. Di belakang Ririn dan Rifki berjalan bersama mengiringi langkah kami menuju ruangan tempat Arkan akan dirawat inap kedepannya.