Melody

Melody
Kisah pelik April



"Hiks hiks mas tolongin saya.. saya gak mau sampai kehilangan teman sebaik Aril..."


Rifki memijit keningnya pusing. Ririn telah bercerita dan merengek padanya sudah hampir 3 jam lamanya. Rifki sendiri bingung harus apa? Tidak ada yang menyangka kalau Ririn bersepupu dengan Alfino saingan cinta Erlang. Bahkan Erlang yang ada di sana pun tak banyak bicara, hanya diam menyimak sosok gadis nerd yang merengek pada Rifki sahabatnya.


"Jadi intinya. Selama ini kamu mendekati Aril untuk menjadi mata mata Alfino, tapi saat di pertengahan misi, kamu justru merasa nyaman berteman dengan Aril dan memutuskan untuk mengakhiri misi dari sepupumu itu. Tapi hal tak terduga terjadi, Aril mendengar dan mengetahui semuanya?" Perjelas Rifki mencoba mencari kesimpulan dari cerita Ririn.


"Hiks.. saya harus bagaimana mas?"


"Hubungan April dan sepupumu itu sebenernya apa? Kenapa sepupumu sangat tergila gila sekali pada April?" Erlang yang sedari tadi diam menyimak akhirnya angkat bicara.


Ririn menoleh pada Erlang, ragu untuk menceritakan masa kelam sepupunya yang terobsesi pada sosok April.


Menghela nafas sejenak, Ririnpun memutuskan untuk menceritakan semuanya. "Dulu Aril dan Al berasal dari sekolah yang sama. Dari yang saya tahu, sepupu saya itu sangat intovert, sedangkan Aril sangat ekstrovert. Diam diam Al menyukai Aril karena senyum gadis itu yang menenangkan. Sampai pada akhirnya rasa itu mulai menuntut lebih. Al merasa Aril miliknya, dan tidak membiarkan lelaki manapun dekat dengan Aril. Setiap lelaki dekat dengan Aril, lelaki itu pasti berakhir mengenaskan. Dari situlah, sifat Aril mulai dingin dan tertutup. Dia selalu menghindari lelaki karena takut pada Al yang selalu bertindak diluar nalar. Sampai pada akhirnya ada satu orang lelaki yang berani mendekati Aril secara terang terangan, bahkan tidak terlihat takut sama sekali pada Al. Hingga pada saat itu, Al melakukan hal tak terduga. Al membunuh pria itu tepat di depan mata Aril. Sebenarnya Al melakukannya karena ingin membuat Aril takut dan enggan mendekati lelaki lain. Dan terbukti itu berhasil bahkan hingga sekarang. Sejak saat itu, Al dinyatakan dituntut. Tapi karena pengaruh keluarga, Al berhasil keluar dan dipindahkan oleh paman keluar negeri. Tapi karena rasa obsesi Al yang masih menjadi, dia meminta saya untuk memata matai Aril dengan iming iming akan membantu saya membebaskan papa dari penjara."


Baik Erlang maupun Rifki sama sama terdiam sambil mencerna isi cerita dari Ririn. Terlebih Erlang, dia terdiam tak percaya bahwa alasan senyum istrinya itu hilang adalah karena Alfino. Pria brengsek yang begitu terobsesi pada istrinya. Dia juga masih tak percaya bahwa hidup istrinya sepelik itu saat remaja. Saat dimana seharusnya dia merasakan cinta manis, justru malah sebaliknya. Dia harus terlibat oleh obsesi seorang pria tak waras yang meninggalkan trauma mendalam hingga sekarang.


Tanpa berkata apapun, Erlang segera meraih jasnya lalu bergegas keluar berniat untuk pulang kerumah, memeluk istrinya dan mengatakan bahwa semua akan baik baik saja karena dia akan selalu ada untuk melindunginya.


Tepat saat membuka pintu, Erlang dibuat terkejut saat tubuh April menghantamnya. Karena belum siap, Erlang pun terjatuh sambil tangannya memeluk pinggang April.


Brukh


Cup


Satu kecupan itu seolah mengulik kisah lama. Membuat Erlang terpaku menatap sepasang mata yang membulat padanya. Rasa ini.. persis seperti kejadian empat tahun silam saat di hotel.


Tiba tiba April bangun dan menyadarkan Erlang dari nostalgianya. Erlang perlahan bangun dan menatap April yang kini menatapnya penuh kegelisahan.


"Aril kamu...?" Masih dalam keadaan tidak percaya. Erlang terpaku sambil menatap kepergian April yang tiba tiba berlari pergi. Tersadar dari lamunannya, Erlang perlahan bangun dan berjalan masuk kedalam kamar.


Pandangan Erlang terkunci pada laptop yang masih menyala di atas nakas. Berjalan mendekat, seketika itu juga Erlang terdiam. Sketsa wajah April. Sepertinya Erlang mengerti kenapa April berlari gelisah seperti itu tadi. Hanya saja...


"Kenapa dia harus berlari saat tahu wanita yang aku cintai itu adalah dia?"