Melody

Melody
Racun



Duduk berhadapan dengan seorang dokter. Tatapan Erlang yang serius, dan dokter yang tenang.


"Kenapa istri saya tidak mengingat kejadian penculikan itu?" Tanya Erlang tak sabar. Sudah sedari tadi pertanyaan ini terus menghantuinya, sesaat istrinya sadar dan tidak mengingat kejadian yang menimpanya.


"Bisa kemungkinan karena dia ketakutan, dan otaknya menolak keras untuk mengingat hal itu. Tapi, saya menemukan suatu yang menarik dari istri anda.." jelas dokter tersebut sambil mendorong hasil lab pada Erlang.


Sambil membiarkan Erlang membaca, dokter itu menjelaskan. "Saya menemukan adanya unsur racun yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Saya menduga, istri anda tidak dapat mengingat kejadian penculikan itu karena racun ini."


"Racun? Istri saya memiliki racun ditubuhnya?!" Erlang sungguh tidak percaya, tapi melihat sendiri hasil tes dari darah April, Erlang tidak punya pilihan lain untuk percaya. Hanya saja, bagaimana bisa istrinya hidup berdampingan dengan racun ini?


"Apa racunnya bisa dikeluarkan? Ya.. minimal obat penawar racun?!"


"Maaf. Seperti yang sudah saya katakan. Saya tidak mengenali jenis racun apa ini, dan penawarnya apa. Racun ini tidak pernah ada sebelumnya. Saya hanya bisa merekomendasikan obat yang sekiranya bisa menekan racun itu." Jawab Dokter memberikan resep obat pada Erlang yang lesu karena tidak dapat membantu istrinya.


Keluar dari ruangan, Erlang dihadang oleh Rifki yang sedari tadi menunggu sahabatnya itu keluar, membiarkan Ririn menemani April.


"Bagaimana?"


Erlang menatap sayu Rifki. Menggeleng pelan sambil menyerahkan dokumen itu pada Rifki lalu mengambil duduk di ruang tunggu.


"Racun? Nona Aril memiliki racun ditubuhnya?" Sama seperti Erlang, reaksi Rifki sama tidak percayanya saat tahu kenyataan tersebut.


"Gue gak tahu harus gimana. Dokter bilang, ada kemungkinan lupanya April dengan kasus penculikan itu karena racun ini. Pertemuan gue sama dia di hotel tiga tahun lalu juga dia lupa. Gue duga, hari itu sama dengan hari ini. Dia lupa sama gue, karena racun itu." Lirih Erlang menundukkan kepalanya frustasi.


"Kenapa Lo gak coba tanya Tante Lucy aja? Dia yang tahu tentang April. Bukannya karena alasan itu juga Lo terima tawaran Tante buat menikah sama April?" Sontak Erlang mengangkat pandangannya. Keningnya berkerut dalam berpikir.


"Gue pergi. Jagain April selagi gue gak ada!" Tanpa menunggu persetujuan Rifki, Erlang bergegas menuju parkiran dan mengendarai mobilnya menuju rumah utama. Menemui sang bunda untuk mempertanyakan racun yang ada di tubuh istrinya.


Brak


"Erlang! Kamu ngagetin bunda aja ih!" Lucy menatap kesal putranya. Namun, sedetik kemudian tatapan Lucy berubah serius saat melihat wajah dingin putranya.


"Katakan. Ada apa?" Meletakkan majalah yang ia baca ke atas meja, mempersilahkan Erlang untuk duduk berhadapan dengannya.


"Bunda pasti tahu soal racun yang ada di dalam tubuh April," ucap Erlang tanpa basa basi.


Tatapan Lucy seketika berubah dingin. Tatapannya kosong menatap lurus pada putranya yang sedikit demi sedikit mengetahui kebenarannya.


"Papa mu yang berikan racun itu."


"Papa ingin membunuh April? Tapi kenapa? Memangnya salah April apa sampai sampai papa ingin membunuhnya?!" Cecar Erlang tak percaya bahwa papanya yang telah meninggal lah yang telah melakukannya.


"Lebih tepatnya, papamu hanya ingin mengunci ingatan April. Nama racun itu adalah pengacau pikiran. Setiap kali ada kenangan buruk yang memberatkan pikiran penggunanya, secara spontan racun akan beraksi menghapus memori itu hingga penggunanya akan melupakan kejadian itu." Jelas Lucy.


"Lalu? Dimana obat penawarnya?"


"Papamu sudah meninggal. Berarti hanya April yang tahu dimana obat penawarnya. Mereka berdua yang membuat racun itu,"


Fakta itu seakan menampar Erlang. Hanya April yang tahu obat penawarnya. Seseorang yang menciptakan racun, justru harus menyimpan racun itu di dalam tubuhnya dan melupakan obat penawarnya.


"Sebenarnya hubungan papa sama April itu apa Bun?" Tanya Erlang bingung.


"Rekan bisnis. Mungkin?"


"Gak mungkin! Papa meninggal saat umur Er masih 15 tahun. Itu berarti April baru berumur 8 tahun! Mustahil anak kecil bekerja sama sebagai relasi bisnis!" Tutur Erlang kesal dengan sikap tak acuh bundanya.


"Kalau begitu, tanyakan saja pada April. Ada hubungan apa dia dengan papamu.."


"Bunda bercanda? Dengan adanya racun di tubuh April, mana mungkin dia tahu tentang papa? Bahkan kasus penculikannya saja dia bisa lupa!"


"Penculikan? Maksudmu April diculik? Sekarang keadaannya bagaimana? Dia baik baik sajakan?!" Cecar Lucy membuat Erlang merutuk dalam hati karena emosi membuatnya keceplosan bicara.


"April baik baik saja. Hanya seorang pria penuh cinta obsesi yang melakukannya. Sekarang pria itu sudah berada dipenjara. Erlang tidak akan membiarkannya keluar jika itu sama dengan mengancam nyawa April," jawab Erlang mulai melemah.


Helaan nafas lega terdengar. Lucy menatap wajah putranya yang memiliki kekhawatiran lebih pada sang istri. Dan itu membuat Lucy merasa senang.


"Er,"


"Papamu melakukannya demi melindungi April, karena saat itu dia masih kecil, tidak mengerti apa apa. Bagi April. Mengingat, sama dengan mati."


***


Hari ini aku sudah boleh pulang. Dan hari ini aku akan mengetahui kejutan yang Erlang katakan kemarin. Selama di dalam perjalanan, pandanganku menyapu pemandangan di luar jendela. Begitu banyak gedung gedung pencakar langit yang menjulang tinggi ke awan.


"Kayaknya gedung lebih buat kamu betah lihatnya dari pada suami sendiri." Cibir Erlang membuat pandanganku beralih padanya. Melihatnya yang manyun seketika aku menyadari.


"Kamu.. cemburu? Sama gedung?" Kekehku di akhir kata. Lucu saja melihat Erlang cemburu dengan gedung gedung karena berhasil merebut perhatianku.


"Apa salahnya aku cemburu? Lagian ada makhluk tampan nan indah di sampingmu malah tertarik ngeliat yang diluar. Aku tuduh kamu selingkuh baru tahu rasa!" Gerutu Erlang semakin membuatku merasa gemas melihatnya.


Cup


"Gak usah cemburu. Kan hati aku udah ada di kamu.." ujarku memberikan sedikit kecupan di pipi pria itu.


Ckittt


Aku melirik Erlang bingung saat mobil dipinggirkan paksa. Tatapan Erlang berubah menyelidik padaku.


"Tadi kamu bilang apa?"


"Em.. gak usah cemburu?"


Aku memajukan tubuhku tepat di samping telinga Erlang lalu membisikkan kata sakral di sana.


"I Love You.."


"Apa tadi? Co-coba ulangi! Aku takut salah denger!"


"I Love You Mas Er!" Kali ini aku mengatakannya lebih keras, agar dia merasa tidak salah dengar lagi.


"Ini. Ini kamu serius? Gak lagi gak ngerjain aku kan?" Tanya Erlang masih belum percaya sepenuhnya kata itu keluar dari mulutku.


"Ya udah kalau enggak percaya." Aku memalingkan wajahku kesal. Sudah dibilangin, malah gak percaya. Dasar cowok!


Namun, tarikan keras itu membuatku segera menoleh. Menghantam benda kenyal yang mulai bermain main bersama benda lainnya. Aku perlahan memejamkan mata, menikmati ciuman dari Erlang sambil mengalungkan tangan di leher pria itu.


Setelah merasa kehabisan nafas, Erlang mengakhiri ciuman tanpa memberikan jarak sedikitpun dariku. Jemarinya menyapu bibirku, menghapus jejak air liur yang masih menempel.


"I Love You More" bisiknya membuatku tersenyum. Tanpa perduli, aku kembali menghantamkan diri mengambil kendali padanya.


***


Setelah acara pengutaraan hati itu, kini aku sudah sampai di depan sebuah rumah sederhana berlantai dua di kawasan komplek Kemang Sari. Tatapanku beralih pada Erlang yang tersenyum lembut padaku.


"Ini.."


"Yah. Rumah kita untuk kini, esok dan selamanya. Tempat dimana kita akan bermain, bersama anak kita. Dan tempat berkumpulnya cucu kita untuk kedepannya." Tutur Erlang membuatku terharu. Aku tersenyum senang, membiarkan diriku dipeluk dan di bawa masuk kedalam rumah baru kami.


Desain interior klasik memanjakan mata saat aku pertama kali masuk kesini. Rumahnya sederhana, tidak ada lift atau semacamnya. Hanya ada tangga penghubung kelantai dua. Erlang benar benar mengerti seleraku.


Terdapat ruang keluarga, dapur, dan lima buah kamar. Tiga di lantai atas, dua di lantai bawah. Di belakang terdapat sebuah halaman cukup luas yang kelak bisa aku jadikan taman bunga. Di samping rumah, terdapat sebuah gajebo dan kolam renang. Ayunan, serta seluncuran yang mengarah langsung ke arah kolam renang. Erlang benar benar niat sekali mempersiapkan semua ini untuk anak anaknya kelak. Sepertinya dia berniat ingin bermain air bersama nanti.


"Kamu benar benar niat mempersiapkan semuanya." Saat ini aku dan Erlang memilih duduk di ayunan dengan aku berada di pangkuannya, menatap langsung kearah kolam renang yang terlihat asri karena ada beberapa tumbuhan yang sengaja di biarkan tumbuh di sekitarannya.


"Tentu saja. Bahkan sebelum aku menikah denganmu, aku sudah membuat rumah ini. Berharap bisa hidup bersama orang aku cintai hingga tua nanti." Jawab Erlang menyusupkan kepalanya di ceruk leherku sambil menggeseknya pelan.


"Tapi setelah kamu menikah denganku, kamu tidak membawaku kesini. Malah ke apartemen," protesku.


"Awalnya aku tidak tahu kalau kamu adalah wanita yang aku cari tiga tahun lalu,"


"Jadi karena aku bukan wanita yang kamu cintai makanya gak mau bawa aku kesini? Iya?!" Aku melepaskan diri dari pelukan Erlang, menurunkan kaki berniat ingin pergi. Namun, Erlang lebih dulu menarik ku kembali kedalam pelukannya.


"Bukan gitu. Aku bawa kamu ke apartemen bukan karena aku tidak ingin membawa kamu kesini. Aku hanya sedang meyakinkan diri dan berusaha mencintai kamu. Tapi, sepertinya tidak susah karena kamu memang sudah mencuri hatiku sejak tiga tahun yang lalu." Terang Erlang mencium pipiku gemas. Aku masih cemberut, entah karena alasan apa.


"Udah dong ngambeknya. Kan sekarang udah aku bawa. Itu artinya kamu udah resmi jadi nyonya Bagaskara, yang begitu dicintai oleh Tuan Bagaskara," rayu Erlang menatapku dengan mata polosnya. Kenapa dia begitu menggemaskan?!


"Aku maafin. Tapi dengan satu syarat!"


"Apa?"


"Kamu harus masak buat makan siang nanti." Ucapku membuatnya melongo. Selama ini yang selalu memasak adalah aku, jadi sesekali aku juga ingin mengerjainya.


"Oke"


Eh? Kok cepet banget dia jawabnya.


"Tapi setelah aku memakanmu.." aku tidak bisa mengelak saat Erlang menjatuhkan bibirnya di atas bibirku. ******* lembut penuh tuntutan. Aku hanya bisa pasrah saat dia semakin memperdalam ciuman, lalu dengan sekali hentakan dia mengangkat tubuhku dalam gendongan.


Tanpa melepaskan pangutan, Erlang menaiki satu persatu anak tangga lalu membuka satu pintu kamar dan menutupnya. Dan yah.. kalian bayangkan saja sendiri apa yang terjadi.


***


Tiba waktu makan siang, aku dibuat kagum saat melihat Erlang yang ternyata jago masak. Tidak ku pungkiri melihat Erlang memakai kelemek sambil memotong sayur di atas talenan terlihat begitu mempesona.


"Aku tahu aku ganteng.." sahut Erlang melirikku sekilas dengan senyum jahilnya.


"Iya. Kamu memang ganteng. Bangga deh aku punya suami ganteng kayak kamu." Aku tidak pandai mengelak. Mulutku terlalu pandai memuji. Atau lebih tepatnya aku memang agak sedikit agresif.


"Iya dong harus bangga. Kapan lagi coba punya suami udah ganteng, kaya, jago masak pula. Dan yang paling penting. Aku cinta sama kamu.." jawab Erlang semakin membuatku tersenyum senang. Kebahagiaan yang telah lama hilang kini telah aku dapatkan kembali.


"Love you too"


Tak perlu menunggu lama, kini makanan telah siap di atas meja. Sup ayam, ditemani telur balado dan tempe orak arik telah siap.


Erlang mengambil satu buah piring dan dua buah sendok di atas meja. "Kok piringnya cuma satu?" Tanyaku heran.


"Sepiring berdua, biar romantis." Jawab Erlang mulai mengambil nasi berserta lauk pauk kedalam piring.


"Sekalian aja sendoknya satu!"


"Dih kode ya, biar bisa disuapin?"


"Iya dong!"


"Ya udah sini aaa"


Aku dan Erlang benar benar makan satu piring dan sendok berdua. Saling menyuapi satu sama lain sambil sesekali bercanda tawa. Tidak aku sangka, pernikahan yang semula hanya karena rasa terpaksa kini berubah menjadi kisah cinta yang begitu romantis.


"I Love You.." ucapku.


"Love you too"