Melody

Melody
Romansa adik kakak



Aku melihat sekeliling yang dipenuhi oleh para tamu undangan. Orang tua Rifki terlihat bahagia menyambut para kolega bisnis di acara resepsi pernikahan putra semata wayang mereka yang akhirnya melepas masa lajang.


Teruntuk pasangan ArNa, alias Arkan dan Nana. Alay banget sebenarnya, tapi itulah Arkan yang bersikeras menginginkan aku memanggil keduanya sebagai pasangan ArNa. Terlihat mereka berdua sangat bahagia, menikmati hidangan yang ada sambil sesekali Arkan melancarkan gombalannya.


Beralih pada pasangan raja ratu sehari itu terlihat menyambut tamu dengan senyum yang ku lihat agak sedikit dipaksakan. Mereka beneran menikah ya? Tanpa cinta?


Kini tatapanku beralih pada Erlang. Pria yang ku gandeng ini tengah sibuk berbincang dengan kolega bisnis yang dia kenal yang kebetulan hadir. Aku dan Erlang juga awalnya menikah tanpa cinta. Tapi sekarang..


"Kenapa?" Tanya Erlang membuatku tersadar lalu tersenyum manis.


"Enggak apa apa. Lagi menikmati aja, sayang kalau dilewatin, indah banget soalnya." Jawabku.


"Hm? Emang apa yang indah banget?"


"Kamu" jawabku enteng.


Dengan gemas Erlang mencubit hidungku sambil tersenyum lebar. "Bisa aja gombalnya!" Kekehnya lalu mencuri kesempatan mencium keningku.


"Nampaknya, tuan Erlang tidak seperti yang digosipkan. Banyak yang mengatakan bahwa tuan adalah gay karena tidak terlihat dekat dengan wanita manapun. Tapi sepertinya orang orang salah, buktinya saya lihat tuan nampak bahagia sekali dengan istri" ucap seorang pria paruh baya menatap kami berdua dengan senyumnya, yang mana disetujui yang lainnya.


"Iya. Tuan nampak sangat romantis sekali. Istri anda sangat beruntung bisa memiliki anda sebagai suaminya.." timpal yang lain.


"Anda salah pak. Justru saya yang beruntung memilikinya sebagai istri" sangkal Erlang sambil menatapku penuh cinta yang ku balas sama.


"Benar benar pengantin baru. Saya jadi pengen cari istri saya ah.." satu persatu dari mereka mulai pergi mencari istrinya masing masing, membuatku tersenyum geli. Bisakah aku dan Erlang akan menjalin hubungan seperti ini terus hingga tua nanti?


"Kamu lapar gak?" Tanya Erlang merangkul pinggangku. Aku mengangguk lucu hingga Erlang tidak tahan untuk tidak melayangkan satu kecupan di pipi ku.


"Istri siapa sih. Gemesin banget! Jadi gak rela bawa ke acara manapun, sangking gak ingin berbagi!" Ujar Erlang.


"Ngapain takut berbagi? Orang aku udah kamu milikin sepenuhnya.."


"Bisa aja jawabnya. Udah ayo, kita samperin Arkan aja, tuh bocah juga lagi sibuk mesra mesraan." Erlang mempererat rangkulannya di pinggangku lalu membawaku menghampiri Arkan yang sedang bermanja-manja dengan Nana.


"Kamu tau sayang, kamu itu ibarat bunga dan aku lebahnya. Karena lebah tidak akan bisa hidup tanpa bunga. Seperti aku yang tidak bisa hidup tanpa kamu.."


Plak


Aku meringis saat melihat dengan kejamnya Erlang memukul kepala adiknya sendiri. Tapi aku setuju saja sih, Arkan gombalannya bukan main. Buaya emang udah pro.


"Awh. Siapa yang berani mukul gu— eh Abang.. hehehe" aku terkekeh melihat Arkan yang tidak jadi marah saat tahu kakaknya lah yang memukulnya.


"Bang Arkan kok dipukul sih? Sakit tau!" Keluh Arkan mengusap kepalanya yang entah benar sakit atau hanya pura pura.


"Gak usah tebar janji sama anak orang! Gak ada yang ngajarin kamu kayak gini!" Tegas Erlang.


"Ya maaf bang. Tapi Arkan beneran kok tadi ngomongnya. Arkan kan cinta sama Nana, jadi wajar kalau Arkan takut kehilangan Nana, karena Nana udah jadi separuh hidupnya Arkan." Melihat adegan ini aku seperti melihat Erlang yang berjiwa ayah mendidik anaknya. Mungkin karena papa meninggal di usia mereka yang bisa dibilang masih remaja, Erlang menjadi peran kakak sekaligus ayah yang mendidik Arkan.


"Kalian lagi ngomongin apa sih?" Ini nih biang keroknya. Dia yang dipermasalahkan dia juga yang bertanya ada apa?


"Lagi ngomongin kenapa aku bisa sayang banget sama kamu?" Baru saja dinasehati Arkan seperti sudah lupa akan nasehat itu saat melihat peluang besar.


"Emang kenapa?"


"Karena.. aku cinta sama Nana. Jadi otomatis aku juga sayang sama kamu.."


"Nana sayang sama kak Arkan. Berarti Nana juga suka dong sama kak Arkan?"


"Harus. Karena kalau Nana gak suka, Kak Arkan masih punya 1001 cara untuk membuat rasa itu ada."


Aku sibuk memperhatikan tekad Arkan meluluhkan hati Nana. Sedetik kemudian, aku merasa ada yang terus memperhatikan ku, membuatku menoleh dan mendapati Erlang menatapku lekat.


"Kenapa?" Tanyaku heran.


"Aku juga sayang sama kamu. Cinta pull malah.." jawabnya cemberut. Sepertinya dia kesal melihat kemesraan adiknya sendiri, dan tak ingin kalah mesra.


Cup


Aku mengulum senyum geli melihat wajah kaget Erlang saat aku menyerangnya tanpa aba aba.


"Iya tau kok. Aku juga.." aku segera berbalik dan mengambil apapun hidangan yang tersedia. Mencoba menutupi rasa senang ku dari Erlang.


"Lagi dong.." aku melirik Erlang malas. Plak. Aku menampar pipinya pelan saat pria itu menunduk sambil meminta lagi. Dasar tidak tahu tempat.


"Gak usah ngelunjak! Nih makan!" Tanpa belas kasih aku memasukan sepotong kue masuk kedalam mulutnya sebelum berbicara.


"Gula dong.." aku memasukan sepotong kue ke dalam mulutku. Namun, seketika aku membulatkan mataku sempurna saat Erlang mengecup pelan bibirku yang menggantung sendok yang sudah menyentuh bibirku.


"Tuh kan, kamu lebih manis dari kuenya." Seketika aku tersadar dari keterkejutan ku. Mendelik tajam, aku memukul kuat bahu Erlang kesal.


"Ih mas! Kalau ada yang lihat gimana? Kamu nyium gak tahu tempat!" Omelku dengan wajah yang sudah memerah antara malu dan juga bahagia.


"Oh, jadi tempat nyium itu cuma di kamar ya?"


Plak plak plak


"Mesum mesum mesum!" Aku memukul Erlang membabi buta yang justru di sambut tawa lucu dari lelaki tersebut. Benar benar menyebalkan.


"Erlang.." kegiatan kami harus terhenti saat ada orang yang menegur sapa Erlang. Saat aku mengalihkan pandangan, seketika itu juga tubuhku tiba tiba gemetar tanpa sebab.


"Om Fiki?" Erlang berdiri tegap menyambut sahabat dari almarhum papa itu.


"Om lihat kamu sangat bahagia bersama dengan istrimu. Sampai tidak sadar kalau om datang." Kekeh om Fiki yang mungkin di mata orang lain biasa saja, tapi di mataku sangat mengerikan.


"Maklum lah om. Namanya juga masih pengantin baru," jawab Erlang tersenyum bahagia.


"Nona kecil, tidak ingin menyapa om?" Kali ini om Fiki beralih menatapku. Refleks aku menggenggam tangan Erlang dan bersembunyi di balik tubuhnya.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Erlang menatapku khawatir. Aku tidak menjawab, hanya mempererat genggaman tangan pada Erlang.


"Om maaf, sepertinya istri Er lagi gak enak badan. Er pamit bawa ke kamar dulu ya om."


"Tidak apa apa. Mungkin istrimu memang butuh menenangkan dirinya. Baiklah om pergi dulu, kamu temani saja istrimu. Nona kecil, om pergi dulu."


Jujur saja aku benci setiap lelaki itu berbicara. Kehadirannya saja sudah seperti mengintimidasi ku. Aku merasa pernah mengenal om Fiki tapi kenangan itu sangat buruk.


"Sayang, kamu gak apa apa?" Erlang membalik badannya menghadap ku seutuhnya. Tatapannya jelas tersirat kekhawatiran.


"Bisa bawa aku kembali ke kamar? Aku takut.." cicitku. Tanpa banyak kata, Erlang menggendongku ala bridal style pergi dari kerumunan yang kini menjadikan kami berdua sebagai pusat perhatian karena mengalahkan keromantisan pemilik acara resepsi.


Sesampainya di kamar, Erlang menurunkan ku perlahan ke atas kasur, lalu dia berjongkok di hadapanku yang masih gemetar ketakutan.


"Bisa cerita, kamu kenapa?" Tanya Erlang lembut. Aku menatapnya takut. Jujur saja aku juga tidak mengerti takut kenapa.


"Aku takut sama om Fiki,"


"Om Fiki? Tapi kenapa? Dia pernah jahat, atau ngancem kamu? Jujur aja, aku pasti percaya sama kamu."


Aku menggeleng. "Aku takut sama om Fiki tanpa sebab. Setiap ketemu sama beliau, aku selalu merasa feeling yang tidak baik. Aku merasa kami pernah mengenal sebelumnya, tapi aku lupa apa yang beliau lakukan hingga membuatku ketakutan setiap kali bertemu beliau," jawabku dengan bibir gemetar. Erlang sigap menggenggam tanganku sambil sesekali mengusapnya pelan.


"Kamu sungguh tidak ingat pernah bertemu dengan om Fiki dimana, dan apa yang terjadi?"


Dor


"Aku ingat sedikit. Dan itu saat aku masih kecil. Aku keluar dari taman hiburan bersama dua orang asing yang aku panggil bunda dan papa. Saat dalam perjalanan pulang, tiba tiba saja ada yang menembak ban mobil kami sehingga mobil itu lepas kendali dan menghantam pembatas jalan."


"Papa..." Cila meraih tangan papanya yang sudah berlumuran darah cukup banyak sembari menangis tak ingin pergi.


"Cila dengerin papa ya, Cila harus hidup. Cila gak boleh inget kejadian ini. Papa sayang sama Cila, jaga diri kamu baik baik ya." Pria itu dengan paksa menelankan sebuah pil obat ke pada putrinya.


"Enggak gak mau!! Hiks hiks Cila gak mau pisah sama papa. Hiks hiks gak maupun!!" Setelah dipaksa menelan, Cila segera dibawa wanita itu pergi dari sana, berlari sekencang kencangnya meninggalkan mobil yang hampir jatuh ke jurang.


"Papaaaaaaa!!!"


Aku termenung mengingat kejadian singkat itu. "Aku ingat dulu papa memaksaku untuk menelan pil obat. Hanya saja, aku merasa aneh. Di ingatanku, mereka memanggilku dengan panggilan Cila,"


"Bunda membawaku pergi. Dan saat itu, aku melihat mata seorang pria yang begitu menyeramkan menyorot tepat di mataku. Dan jujur saja, aku merasa familiar dengan mata itu saat melihat om Fiki."


Aku menatap Erlang setelah selesai bercerita. Ternyata bercerita bisa membuat hati sedikit banyaknya terasa lebih ringan.


"Mas?"


"Ha oh? Kamu yakin kamu ingat hal itu?"


"Tentu. Aku ingat ini pas ketemu om Fiki di acara ulang tahun putrinya. Saat itu kepalaku sangat sakit saat memori itu memaksa masuk. Aku akan selalu sakit kepala jika memori memaksa masuk, atau mencoba mengingat paksa memori itu." Jawabku yakin.


"Ya sudah, tidak perlu dipikirkan. Lebih baik kamu tidur, sini aku kelonin." Erlang berbaring di samping ku memelukku erat sambil tangannya menepuk nepuk pelan punggungku. Perlahan aku menutup mata saat rasa kantuk mulai tiba, hingga tak ingat kapan memasuki dunia mimpi.