
Aku memandang bangun yang menjulang tinggi di depan ku saat ini, dan beralih menatap pria yang berdiri di samping ku.
"Dark hotel?" Gumamku tak percaya. Jadi, hotel yang dia maksud untuk bermalam, malam ini adalah Dark hotel?
"Bukan kah kamu pernah berjanji ingin membantu ku untuk menemu 'kan wanita yang aku cintai? Ya, di sinilah kami bertemu dan berpisah." Jawab Erlang enteng.
"Telat! Negosiasinya udah gak berlaku!" Aku mendengus sebal, menarik koper ku masuk menuju lobi tempat resepsionis berada. Cih! Dasar pria kurang ajar! Jangan harap aku akan membantunya menemukan wanita yang ia cintai itu. Merugi 'kan ku saja.
"Selamat datang mbak, ada yang bisa saya bantu?" Sambut Resepsionis itu ramah.
"Kamar pesanan atas nama Erlang Bagaskara ada di mana ya mbak?" Tanyaku, meski pun tau orang yang di maksud sudah ada di belakang.
"Oh, kamar presiden suit pesanan atas nama Erlang Bagaskara ada di lantai 15 mbak nomor 157 mbak." Jawab mbak mbak itu.
Aku melirik kebelakang. "Kamu pesan kamar presiden suit?" Tanya ku menatapnya penuh arti.
"Iya. Kenapa?"
"Ya, tidak apa apa sih. Tapi, seharusnya kamu pesan kamar yang ada dua kasur sekaligus." Ucap ku menatapnya dengan senyum pura pura prihatin.
"Kenapa?" Tanyanya lagi.
"Karna aku tidak mau berbagi ranjang denganmu!" Jawabku, segera mengambil kunci kamar dan pergi lebih dulu meninggal 'kannya.
"Hei, tidak bisa seperti itu! Harus kongsi dong!" Teriak Erlang berlari mengejar ku yang sudah berada di depan pintu lift.
"Sayangnya, aku tidak mau!"
"Dasar istri durkaha!" Umpat Erlang.
"Suami tercela!" Balasku tak mau kalah.
Ting
Pintu lift terbuka, aku segera masuk dan saling mendorong dengan Erlang yang ikut masuk kedalam.
Brukh
Aku maupun Erlang sama sama membaring 'kan tubuh di atas kasur king size lelah, karna sepanjang perjalan menuju kamar kami tak henti hentinya adu mulut, memutus 'kan siapa yang akan tidur di kasur dan siapa yang akan tidur di sofa.
Berbalik miring. "Hei, katamu. Kamu bisa membuat sketsa wajah wanita ku itu jika aku mendeskripsi 'kannya secara detail. Ayo! Sekarang juga aku akan menjelas 'kannya secara rinci." Ucapnya membuat ku langsung bangkit memandangnya tak percaya.
"Itu dulu! Negosiasinya sudah berakhir dan sudah menjadi bagian masalalu. Lagian siapa suruh waktu aku tawarin kemarin gak mau." Sinis ku bersidekap dada.
"Cih. Bunda dibawa bawa! Salah kamu sendiri plin plan! Kalau aja waktu itu kamu terima, waktu seminggu itu jauh lebih dari cukup buat aku nemuin wanita kamu itu!" Decih ku malas, dan segera beranjak mengambil wudhu sebelum tidur.
"Jadi bisa bantu apa enggak?" Tanya Erlang penuh harap saat aku keluar dari kamar mandi, berbaring di atas kasur dan masuk kedalam selimut.
"Enggak!"
"Ayolah please! Kamu gak bakal jadi janda kok kalau aku nemuin keberadaan wanita itu. Aku cuma pengen tau aja gimana rupa wajahnya, cuma itu doang."
Aku masih bergeming sambil memejam 'kan mata. Malas menanggapi omongannya yang penuh dusta. Cowok kalau sekalinya udah cinta, susah move on-nya. Apalagi kalau cewek itu selalu berada di sekitarnya. Auto makin susah move on.
###
Mentari bersinar dari upuk timur menyinari kehidupan bumi yang 8 jam dirundungi kegelapan yang penuh dengan berbagai macam kejahatan berkeliaran.
Setelah melaksakan salat subuh dan membantu Erlang salat, aku keluar dari kamar lebih dulu meninggal 'kan suami ku yang berada di dalam kamar mandi.
Aku berjalan menuju ruangan cctv untuk mencari info tentang gadis yang disukai suami ku itu secara diam diam. Aku ingin menyelidiki dulu asal usul gadis itu, apakah dia wanita baik atau tidak agar aku bisa tenang melepas Erlang bersama gadis pujaannya.
"Permisi. Saya boleh melihat rekaman cctv ini?" Tanya ku pada petugas yang menjaga keamanan hotel.
"Boleh neng, mau rekaman di tanggal berapa?" Lelaki paruh baya itu mulai mengetik layar komputer mencari file rekaman yang tersimpan di dalam memori.
"Em, saya boleh mencarinya sendiri pak? Soalnya saya lupa tanggal berapa waktu itu." Elakku.
"Boleh neng. Silahkan!"
Aku maju mendekati layar komputer. Jari jemari ku mulai beraksi, mengetik sana mengetik sini. Mencari rekaman yang merekam kejadian malam itu. Karna Erlang sudah mengata 'kan, bahwa rekaman cctv saat itu sedang dalam masa perbaikan.
Aku menatap layar yang ada di hadapan ku yang merupakan rekaman beberapa tahun lalu. Hingga mataku menangkap siluet tubuh familiar yang berlari menuju pintu keluar dengan jarak yang cukup jauh dari cctv. Wajahnya tidak terlihat, karna orang itu membelakangi cctv, yang aku lihat hanya bentuk tubuhnya saja yang terasa familiar.
Klik.
Aku menekan tombol pause dan memutar ulang rekaman hingga berhenti di titik pas. Aku segera membesar 'kan rekaman itu. Dan benar! Sesuai dugaan ku, ada satu cctv yang merekam adegan terjadinya ciuman itu.
Wanita yang memakai hodie hitam itu berlari kepintu keluar dengan cepat, seperti sedang mengejar ngejar seseorang. Hingga saat ingin keluar, dia justru menabrak Erlang hingga jatuh bersamaan dan mungkin mereka tak sengaja berciuman di sana. Dan wanita itu segera bangkit kembali berlari mengejar seseorang, meninggal 'kan Erlang yang masih terpaku kaget sekaligus tak percaya.
"Tolong salin rekaman ini pak!" Pintaku.
"Siap. Sebentar neng!"
Siapa wanita itu? Kenapa aku merasa tidak asing dengan wanita yang berlari itu, Seperti... ah sudahlah! Jangan terlalu dipikir 'kan. Tugas utama selanjutnya adalah mencari info tentang wanita itu dan menemuinya.