Melody

Melody
Makan malam



Hening menyapa setelah kedua Pak Polisi itu pergi. Aku sendiri bingung ingin melakukan apa, lagi pula aku tau aku memang salah, tapi aku juga melakukannya karena aku mengkhawatirkan keadaan Erlang.


"Kenapa diam? Merenungi kesalahan?"


Krik krik krik krik


Aku menghiraukannya dan sibuk dengan pemikiranku sendiri. Aku tidak tahu sekarang perasaanku seperti apa, bagaimana, hanya satu yang aku tau. Aku hanya sedang ingin diam dan menginginkan ketenangan.


"Sudahlah... bantu aku kupas buahnya!" Aku menuruti tanpa membantah. Membantunya mengupas buah anggur yang disediakan pihak rumah sakit untuk para paseinnya.


"Gak mau anggur!" Tolaknya saat aku menyerahkan anggur yang sudah aku kupas kulitnya. Masih diam, kini aku mengupas kulit buah jeruk lalu menyerahkannya padanya.


"Gak mau jeruk!"


Kali ini aku masih diam, meski dalam hati ada sedikit rasa dongkol padanya. Menarik nafas panjang, aku tolong mengupaskan buah pisang pula kali ini.


"Gak mau pisang!" Ibaratnya gunung berapi yang tengah meletus, itulah yang terjadi pada otakku yang mendidih karena kelakuannya yang menjengkelkan.


"Maunya kamu apa sih?! Kupas aja sendiri sana dasar nyebelin!" Omelku mencak mencak karena emosi.


"kamu juga, kupas terus gak nanya aku mau buah apa?" Lihat! Sekarang dia menyalahkanku. Gimana aku gak kesal coba...


Sabar April... sabar... orang sabar itu disayang tuhan...


"Baiklah, tuan muda Erlang Bagaskara yang mulai, anda ingin makan buah apa?" Dalam hati aku menahan amarah saat diri ini ingin sekali mencakarnya, kalau saja dia tidak sakit.


"Apel."


"Dari tadi kek!" Gerutuku tanpa menolak mengupaskan buah apel dan memotongnya kecil kecil agar mudah dia makan.


"Nih!" Menyerahkan piring dengan wajah tak ikhlas.


"Makasih istriku yang mulia...!" Entah mengapa, dia menatapku seolah lucu dan mengacak acak kepalaku gemas lalu menyantap apelnya.


Brukh


"Huaaa.... sakittt!!"


"Aduh... lo kenapa bisa jatuh segala sih? Ngapain manjat pohon ha? Kurang kerjaan!"


"Kakak ganteng mah jahat! Udah tau Lia jatoh, bukannya nolongin malah diomelin!"


"Ck. Iya iya maaf, sini kakak liat lututnya sama tangannya."


"Sstt sakit..."


"Makanya, jadi cewek itu jangan petakilan amat. Kalem kalem dikit kenapa? Udah nih..." ucap pria itu selesai menempelkan plester dilutut dan tangan Lia yang terluka.


Puk puk


"Lain kali, jangan naik pohon lagi."


Kreattt


Brukh


"Kamu kenapa?" Tanya Erlang melihatku aneh.


"Ah... eng-enggak. It-itu... kaget tadi ada kecoa. Iya kecoa..." jawabku gelagapan dan perlahan bangkit kembali duduk di samping Erlang.


"Kecoa doang kagetnya sampai jatuh gitu?" Herannya kembali memakan buah, sedang aku dalam kebimbangan dengan masalaluku yang entah mengapa semenjak mengenal Erlang sering kali terjadi pertukaran memori dari masalalu yang memasuki kehidupanku.


"Kakak ganteng?" Gumamku lirih mengingat nama pria samar yang ada di otakku.


Cklek


"Er kamu gak apa apa? Mana yang sakit ha? Kasih tau aku biar aku tambahin," Rifki tiba tiba datang entah dari mana masuk memutar tubuh Erlang panik dan dengan kocaknya pengen nambahin sakit. Ada ada aja humornya nih cowok.


"Ck, apaan sih! Menepis kasar tangan Rifki. "Pesananku mana?" Tagih Erlang pada Rifki.


"Iya iya nih!" Wajah penuh malas, Rifki menyerahkan kantong kresek yang entah apa isinya kepada Erlang.


"Nih!" Aku melirik kotak makan dan Erlang secara bergantian.


"Apa ini?"


"Kamu belum makan 'kan? Ya udah nih ambil!" Desaknya membuatku semakin bingung. Sakitpun dia masih mengingat saja kalau aku belum makan.


"Mau gak?!"


"Iya iya mau. Maksa banget sih!" Berhubung perut ini memang sedang kekurangan asupan gizi, dengan senang hati aku memakan makanan yang dipesan Erlang untukku.


"Pelan pelan makannya, gak akan ada yang rebut!" Tutur Erlang membersihkan sudut bibirku dengan tisu.


"Sebenarnya nih ya, aku itu orangnya gak biasa makan makanan cepat saji. Tapi berhubung kamu maksa tadi ya, ya udah aku makan," ucapku padanya.


"Apanya yang lahap gitu makannya!" Ujar Erlang nampak dongkol menatapku. Membalas tatapannya, aku terkekeh kecil.


"Makasih..."


Aneh memang. Sudah sejak kapan terakhir kali aku bisa sebahagia ini? Secerewet ini? Seceria ini dengan penuh ketulusan. Sejak kehadirannya, aku sudah tidak bisa merasakan apa itu namanya kebahagiaan. Banyak lelaki yang menjauhiku karena takut dengannya. Dan banyak wanita yang membenciku karena dia menyukaiku. Serba salah 'kan?


"Nyeeett nyeeett nyeeett nyamuk mau lewat..." pandanganku beralih pada Rifki yang menyindir kami bahwa sesungguhnya dia juga berada di sana, di ruangan yang sama, tempat yang sama, dan di udara yang sama.


"Cari pacar makanya om!" Ledekku tersenyum geli melihat kelakuan Rifki yang terlihat sangat lucu.


"Om?! Apa aku setua itu?!" Tanya Rifki meminta pernyataan Erlang apa benar dia terlihat sangat tua.


"Sstt... sayang memang iya."


"Enak aja! Aku gak setua itu kali! Tapi... beneran udah keliatan tua ya? Pantesan sampe sekarang masih jomblo,"


"Hahaa..." perasaan senang ini... benar benar aku merindukannya.