
Setelah melewati belasan jam untuk sampai di negeri Belanda, akhirnya aku bisa membaringkan diri di atas kasur empuk milik hotel yang aku tinggali untuk beberapa hari kedepan.
"Sayang, mandi dulu yuk.. baru setelah itu kita istirahat, atau mau makan juga boleh." Lirih Erlang duduk di sampingku.
Perlahan dengan gerakan malas aku bangun dari kasur, berjalan menuju koper untuk mengambil baju ganti dan segera pergi memasuki kamar mandi.
Saat akan menutup pintu, tiba tiba sebuah tangan menghalanginya. Aku menatap Erlang dengan raut wajah bingung. "Ada apa?" Tanyaku heran, tapi sedetik kemudian aku mencium bau tidak enak setelah melihat senyum manisnya itu.
"Hehe ayo mandi bareng!" Sudah aku tebak jalan pikirannya. Mencoba mencari kesempatan dalam kesempitan di saat aku tengah kelelahan seperti ini?
"Hehe aku tidak terbiasa mandi bersama," tolakku berusaha menutup pintu dari tahanan tangan lelaki yang ada di hadapanku ini yang sengaja menjegalnya.
"Maka dari itu kamu harus membiasakannya." Jawab Erlang tak ingin kalah mencoba mendorong pintu yang ku tahan sekuat tenaga.
"Tapi aku tidak ingin membiasakannya!"
"Harus dibiasakan karena kedepannya kita akan selalu mandi bersama!"
"Kamu pernah mendengar tidak, lelaki dan perempuan tidak baik berdua duaan, apalagi di dalam kamar mandi. Bahaya!"
"Itu berlaku untuk orang yang belum halal, berbeda dengan kita yang sudah sah secara hukum dan agama."
"Aku terbiasa mandi air dingin, sedangkan kau suka air hangat!"
"Kan ada kamu yang menghangatkan aku, kenapa aku harus khawatir kedinginan?"
Aku dan Erlang bersitatap mencoba membuat lawan menyerah. Namun, pada akhirnya aku membuka pintu lebar, membuat senyum Erlang terbit dengan lebarnya. Benar benar bahagia sekali dia.
"Ya sudah, kamu mandi duluan aja!" Pasrah ku, lalu keluar melewatinya hendak kembali berbaring di atas kasur. Namun, jegalan tangan dari Erlang membuatku menghentikan langkahku.
"Aku mintanya mandi berdua, bukan mandiri!" Sedetik kemudian aku sudah melayang di udara, menerima takdir dengan pasrah saat Erlang mengeksekusi di dalam kamar mandi.
***
Berdiri di balkon hotel sambil memandangi gemerlap cahaya kota Amsterdam di malam hari benar benar terasa indah. Hiruk pikuk suara orang orang yang saling bersahutan menambah kesan musik alami.
Sepasang tangan yang melingkar di pinggangku tanpa mencari tahu pun sudah ketebak siapa orangnya.
"Kamu belum makan, apa tidak lapar? Bukankah kamu punya maag?" Bisik Erlang sambil mengendus endus leherku membuatku sedikit risih.
"Memangnya siapa yang membuatku telat makan heh?" Sindirku meliriknya sinis.
"Maaf. Aku pesenin makan aja ya? Kamu mau apa, biar nanti pelayan hotel yang bawain." Tawar Erlang merasa bersalah karena telah membuatku harus melewatkan jam makan malam.
"Aku tidak mau memesan. Kenapa kita tidak keluar dan mencari jajanan pinggir jalan? Pastinya banyak yang berjualan di sini.." aku memutar tubuhku menghadap Erlang, dengan mata berbinar andalan aku memohon padanya.
"Di luar dingin. Kamu sensitif dengan hawa dingin.." risau Erlang.
"Tapi—"
"Yah.. please.. masa kamu tega biarin istri kamu yang cantik ini kelaparan? Kamu loh yang buat aku jadi gini!" Dengan jurus andalan, akhirnya Erlang mau mengizinkanku.
Dengan hati riang aku berjalan menyusuri jalanan di mana banyak para pejalan kaki, khususnya anak muda yang terlihat berkeliaran bersama dengan pasangannya masing masing. Meskipun pakaian mereka sedikit banyak membuatku risih, tapi ku pikir apa bedanya dengan Indonesia yang juga terjerumus gaya barat seperti mereka?
"Dingin?" Aku menoleh pada Erlang yang tercetak jelas kekhawatiran dengan kulitku yang sangat sensitif terhadap hawa dingin. Hanya saja anehnya, aku terbiasa mandi air dingin meski nanti tubuhku akan sedingin es.
"Lumayan.." aku tidak berbohong. Suhu di Indonesia dan Belanda itu berbeda. Indonesia termasuk dalam benua Asia yang rata rata bersuhu tropis. Sedangkan Belanda termasuk dalam benua Eropa yang terkenal dengan subtropis.
Erlang meraih tanganku, menggenggam nya lalu memasukkannya kedalam saku jaket tebal miliknya. Aku tersenyum saja mendapat perlakuan seperti itu, hingga pandanganku menatap lurus kedepan yang di sana terlihat jajanan kaki lima yang penuh akan orang yang ingin membeli.
"Mas mau itu!" Pintu ku melas.
"Ayo!" Aku dan Erlang berjalan menuju antrian. Menunggu cukup lama hingga pada akhirnya tiba giliran kami yang memesan.
"Give me ten!" Pinta Erlang. Pedagang itu tersenyum dan segera membungkus kan pesanan kami lalu meletakkan di dalam kotak setelah memberikan saos lalu menyerahkannya pada kami.
Erlang memberikan beberapa uang dalam bentuk mata uang Belanda yaitu euro. Setelah membayar, aku dan Erlang kembali menyusuri jalanan sambil menikmati bitterbollen atau bakso daging yang di goreng.
"Ada lagi yang kamu mau?" Tanya Erlang membuatku menghentikan langkah sambil meneliti apa yang akan aku beli lagi untuk dijadikan makan malam.
"Aku mau itu!" Tunjukku pada stand yang menjual kentang goreng dengan aneka toping.
"Untuk tuan putri apa yang tidak?" Aku terkekeh dengan tutur kata Erlang yang terdengar romantis namun menggelikan.
Kembali mengantri, kali ini kami mengantri cukup lama karena begitu banyak orang yang juga menginginkan hal yang sama seperti aku, yaitu makanan.
Kali ini aku membiarkan Erlang yang ambil alih, sedangkan aku sibuk menghabiskan jajanan sebelumnya yang masih tersisa beberapa.
Berdiri di sudut memudahkan ku untuk melihat Erlang yang bersusah payah berjejal untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Oh betapa romantisnya aku punya suami.
Sesaat aku memandangi Erlang dengan kagum, pandanganku justru jatuh pada wanita di samping Erlang yang terlihat seperti sengaja mendekatkan tubuhnya hingga sesekali bersentuhan dengan Erlang, namun dengan cepat Erlang pasti akan menghindar, tapi wanita itu terus mengulanginya hingga membuatku risih.
"Honey, what took you so long?" Aku maju menyingkirkan wanita itu yang berusaha memepet Erlang suamiku. Punya nyali juga dia menggoda suamiku.
"Oh, maaf. Orangnya banyak banget, ngantrinya jadi lama. Kamu lapar banget?" Tanya Erlang mengusap wajahku lembut. Sekilas aku melirik wanita tadi yang mulai menjauh saat tahu gebetannya sudah punya kekasih halal. Syuh syuh pergi sana dasar pelakor!
"Sayang?"
"Hm, oh. Aku sudah tidak ingin lagi. Kita pulang aja ya.. aku ngantuk. Hawanya juga makin dingin, takutnya aku gak kuat." Selain itu mood ku juga sudah rusak karena wanita tadi.
"Ya sudah, kita pulang." Erlang merangkul erat pinggangku, sengaja memberiku kehangatan lebih agar tubuhku yang sensitif dingin ini sedikit memiliki tanda tanda kehidupan.