Melody

Melody
Calon mertua



"Maaf, saya bawa April sebentar." Erlang segera menarik tanganku menjauh dari Om Dino dan Kak Daniel.


"Adik ipar? Maksudmu apa?" Cecar Erlang nampak sekali tidak suka ku bilang aku adik iparnya.


"Kamu sudah berjanji tidak akan memberi tahu orang orang tentang siapa aku sebenarnya. Kak Daniel itukan orang kampus, aku gak mau dia tau." Jawabku.


"Terkecuali dia April. Kamu tidak lihat dia secara terang terangan mengatakan kamu calon istrinya di depan suami kamu sendiri!!" Tak terima.


"Ya itu karena dia tidak tahu kalau kamu itu suami aku."


"Makanya dikasih tau April. Kamu memangnya mau dia tempel tempelin kamu terus seperti itu? Gak ya ril. Aku gak mau!" Tolaknya dengan tegas.


"Ya terus aku harus gimana? Kalau Kak Daniel tau terus dia kasih tau ke orang orang gimana?" Tanyaku mulai pasrah.


"Aku yang menjamin dia tidak akan membocorkannya. Lagian, kalau memang dia tidak berniat ingin menjadi pebinor, aku yakin setelah mengetahuinya dia akan menjauhimu. Bukankah kamu risih didekati dia?" Memang sih, aku agak risih didekati mereka. Cuman...


"Nanti aku kasih tau, cuma gak sekarang." Putusku.


"Kapan?"


"Nunggu waktu yang tepat. Memangnya kamu mau, kalau aku ngasih tau di sini terus dia nangis nangis?" Pede sekali aku mengatakan Kak Daniel akan menangis nangis karenaku.


"Kamu mengatakannya seolah pria itu budak cintamu saja," ujar Erlang sok bertampang malas.


"Of course, kenyataan." Jawabku bangga.


"Sudahlah, ayo kembali. Mereka sudah menunggu cukup lama." Kami berduapun memutuskan untuk kembali menghampiri Om Dino dan Kak Daniel yang nampak tengah berbincang bersama rekan bisnis lainnya.


"Maaf menunggu lama," ucap Erlang.


"Tidak apa apa tuan, dapat dimaklumi." Jawab Om Dino ramah.


"Ril, jadi tuan Erlang ini kakak ipar kamu? Suami kakak kamu?" Tanya Kak Daniel sepertinya senang sekali. Seperti menang lotre saja.


"Hm."


"Haha. Tuan Erlang, sepertinya kita akan segera menjadi saudara ipar," Kak Daniel kenapa denganmu? Kamu sepertinya niat sekali memancing emosinya Erlang.


Tersenyum devil. "Tentu. Kalau anda bisa melewati saya." Jawab Erlang nampaknya ingin bermain cantik. Entah kenapa aku tidak suka terjebak di situasi yang membingungkan seperti ini.


"Tidak masalah." Balas Kak Daniel tersenyum tak kalah menantang. Bisakah aku keluar dari penjara cinta ini? Terlalu melelahkan berdiri bersama mereka.


"Erlang."


Keadaan seketika pecah saat seseorang memanggil nama Erlang. Waktu aku menoleh, tiba tiba saja aku terpaku, seperti sebuah deja vu yang entah apa.


"Om Fiki."


"Lama tidak berjumpa Er, bagaimana kabarmu?" Tanya pria tua itu sambil menepuk pundak Erlang akrap.


"Baik om."


"Oh ya, om dengar kamu sudah menikah. Kamu membawa istrimu 'kan?"


"Tentu." Erlang tiba tiba menoleh padaku, membuat pria itu ikut mengalihkan pandangannya padaku. Dan saat mata kami bertemu.


Deg


"Hahaa..."


Aku mencengkram erat kepalaku saat bayangan anak kecil tertawa riang sembari menggandeng dua pasangan muda yang juga terlihat bahagia.


"April. Kamu... kamu gak apa apa?" Erlang berjalan mendekatiku, memegang bahuku dengan wajah yang terlihat khawatir.


Aku masih memegang kepalaku sembari sedikit demi sedikit memori masuk ke otakku.


"Papa, bunda, hari ini Cila seneng banget bisa main bareng papa sama bunda," ucap seorang anak kecil yang duduk di tengah antara papa dan bundanya.


"Bunda juga seneng bisa main sama Cila." Jawab wanita paruh baya itu dengan wajah yang terlihat buram.


"Kapan kapan kita main lagi ya sayang," ujar seorang pria paruh baya sama buramnya.


Dorr dorr dorr


Ckittt


Brak brak brak


Sebuah kecelakaan tak terduga terjadi, mobil yang mereka tumpangi tiba tiba ditembak oleh orang tidak dikenal, membuat sang supir langsung menabrakkan mobil ketiang pembatas menuju jurang yang membuat mereka hampir terjatuh.


Dari arah belakang Cila melihat seorang dengan mata menakutkan berlari bersama anak buahnya mendekati mobil yang sudah hampir terjatuh itu.


Brak brak


"Tapi mas..."


"Pergi ku bilang!!"


"Papa..." Cila meraih tangan papanya yang sudah berlumuran darah cukup banyak sembari menangis tidak ingin pergi.


"Cila dengerin papa ya, Cila harus hidup. Cila gak boleh inget kejadian ini. Papa sayang sama Cila, jaga diri kamu baik baik ya." Pria itu dengan paksa menelankan sebuah pil obat ke pada putrinya.


"Enggak gak mau!! Hiks hiks Cila gak mau pisah sama papa. Hiks hiks gak mauuuu!!" Setelah dipaksa menelan, Cila segera dibawa wanita itu pergi dari sana, berlari sekencang kencangnya meninggalkan mobil yang hampir jatuh ke jurang.


"Papaaaaaaa!!!"


Ditengah tangisan sebelum tak sadarkan diri. Lagi. Cila kembali bersitatap dengan mata menyeramkan itu, hingga pada akhirnya jatuh tak sadarkan diri.


"Papa.."


"PAPA!!" Aku berseru kencang dengan nafas yang sudah tidak beraturan.


"Ril, kamu kenapa? Kamu baik baik ajakan?" Aku baru sadar Erlang masih di sini, refleks aku memeluknya ketakutan.


"Papa Er... papa." Aduku.


"Papa yang mana?" Tanya Erlang sembari mengusap kepalaku menenangkan.


"Papa----" aku terdiam seketika. Benar juga. Papa mana yang ada di dalam pikiranku? Setahuku aku memanggil orang tuaku Abah dan Uma. Lalu Papa dan Bunda?


"April?"


"Ah iya?"


"Kamu baik baik sajakan? Apa perlu kita pulang saja, biar kamu bisa istirahat. Sepertinya kamu sedang tidak sehat," ajak Erlang lembut.


"Tidak. Tidak perlu. Aku agak berhalusinasi sedikit tadi, tapi sekarang udah gak apa apa kok." Tolakku perlahan menjauhkan diri darinya.


"Kamu punya penyakit halu?" Wah gak bener nih lelaki. Masa dia bilang aku punya penyakit halu?


"Halusinasi. Bukan halu. Ingat garis bawahi!! HALUSINASI. BUKAN HALU. Kamu kira aku cewek apaan!" Sekarang jadi keselkan. Erlang cepet banget bikin keadaan cair.


"Sama aja."


"Beda tuan Erlang Bagaskara. Halu ini sebuah kesengajaan seseorang berekspektasi. Beda sama halusinasi yang tidak disengaja." Jelasku panjang lebar. Punya suami kok ngeselin banget sih.


"Sama kok. Sama sama menghayal!"


"Terserah!" Malas aku meladeni sikapnya yang menyebalkan itu, membuatku memilih untuk pergi mencari angin segar lain. Yang pasti tidak DIDEKATNYA!


Tapi lama lama jalan kok bosan juga ya? Arkan mana ya Arkan? Bunda kek atau Rifki gitu? Gak ada teman berbincang, padahal kalau dipikir pikir aku juga jarang bicara, kecuali dengan Erlang pastinya. Pria itu ada saja tingkahnya yang membuatku harus banyak bicara.


"Aril?" Aku menoleh kebelakang saat seseorang memanggil sembari menepuk pundakku. Sepasang suami istri berusia tidak muda lagi saling bergandengan tangan dengan minuman di tangan mereka masing masing.


"Om Hardi, tante Yuli?" Wah sebuah ketidak sengajaan aku bertemu dengan kedua orang tuanya Nana di sini.


"Beneran Aril ternyata, tante kira tadi tante salah lihat orang." Aku tersenyum kecil menanggapi ucapan tante Yuli.


"Gimana kabarnya om dan tante?" Tanyaku basa basi.


"Kita baik." Jawab om Hardi dengan sifat tegas namun humorisnya.


"Ril, keadaan Nana gimana? Dia baik baik sajakan? Gak jajan sembarangan kan? Terus sekarang dia tinggal dimana? Tempatnya bagus gak? Gak kotorkan?" Cecar tante Yuli membuat mengerjap bingung harus menjawab mulai mana.


"Eeee it-itu..." aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal bingung harus menjawab apa. Aku bahkan akhir akhir ini jarang bertemu dengan Nana akibat kesibukanku yang entah apa. Saat dalam kebingungan mendalam, tak sengaja aku melihat Arkan tengah bersama dengan cewek cewek tentunya. Kan satu per sama buaya.


Tiba tiba ide cemerlang datang.


"Arkan!!" Seruku sambil melambaikan tangan. Pria itu menoleh padaku, lalu dengan cepat ku pinta dia kemari. Setelah berpamitan dengan para wanita, Arkan pun berjalan kemari menghampiriku.


"Kenapa?"


"Om, tante. Kenalin, ini Arkan Bagaskara. Dia teman Aril juga Nana. Ar, kenalin ini om Hardi sama tante Yuli. Orang tuanya Nana," bisikku di akhir kata.


"Orang tuanya Nana?" Tanya Arkan memastikan dan ku jawab dengan anggukan kepala.


"Oh... orang tuanya Nana. Hallo om, tante, apa kabar. Kenalin Arkan Bagaskara, temennya Nana." Tebakanku selalu benar, mengetahui om Hardi juga tante Yuli adalah orang tuanya Nana, dia pasti langsung cari muka.


Membiarkan mereka berbincang, aku memutuskan untuk pergi membiarkan Arkan mengambil hati calon mertuanya. Sayang sekali Nana tidak ada di sini. Aku yakin dia sangat merindukan mamanya.