
Acara berjalan lancar tanpa hambatan. Rifki yang merasa kakinya seakan ingin lepas segera membaringkan diri di atas kasur yang entah siapa yang menaburi bunga di atasnya.
Sedangkan Ririn, gadis itu sibuk membersihkan make up di wajahnya yang membuatnya risih. Setelah selesai membersihkan, Ririn berjalan menuju kopernya terletak untuk mencari baju ganti yang sudah disiapkan Yolanda, ibu mertuanya.
Ririn terdiam kamu melihat penampakan baju yang ada di dalam koper. Tangan Ririn membongkar koper berharap ada baju yang dia inginkan, namun nihil. Yolanda benar benar menyiapkan semuanya dengan baik.
"Hei, gue mau mandi duluan. Nanti habis gue baru Lo," ucap Rifki bangkit dari kasur, mengambil handuk dan baju ganti lalu masuk kedalam kamar mandi.
Ririn tidak menjawab, masih merenungi nasibnya yang memiliki baju setipis kertas, dan seterang rembulan itu. Jika Ririn memakainya, maka otomatis lekuk tubuhnya akan terekspose.
"Bagaimana ini?" Gumam Ririn merasakan otaknya buntu untuk sekiranya memikirkan jalan keluar agar dirinya tidak memakai lingerie yang disiapkan ibu mertuanya.
Cklek
Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Rifki yang terlihat lebih segar sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.
"Lo bisa mandi sekarang." Ucap Rifki duduk di kasur sambil memainkan ponselnya.
Ririn mengambil asal baju yang ada di dalam koper lalu pergi masuk ke dalam kamar mandi. Menanggalkan gaun yang masih melekat di tubuhnya, lalu masuk kedalam bathup.
Setelah sepuluh menit berendam, Ririn bangun dan membilas tubuhnya lalu memakai pakaian yang sudah di siapkan Yolanda.
Menatap pantulan diri di cermin. Bahu yang terekspos, belahan dada yang terlihat sedikit, dan lekuk tubuh yang tercetak jelas karena baju yang terang.
"Bagaimana aku keluar?" Lirih Ririn mondar mandir di dalam kamar mandi dengan perasaan gelisah.
Tok tok
"Rin udah belum? Gue kebelet pipis nih!" Teriak Rifki dari luar membuat Ririn seketika dilanda kepanikan.
"Rin! Ririn Lo masih hidupkan?! Ri—"
Cklek
Pintu terbuka, Rifki menatap Ririn yang memakai handuk kimono sambil terus berusaha menutupi dadanya. Rifki menggeleng tidak perduli, dan segera menerobos masuk untuk menuntaskan panggilan alamnya.
Setelah selesai, Rifki keluar lalu berjalan menuju kasur yang sudah terisi Ririn yang berbaring dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Melihat itu Rifki mengeryit bingung, namun berusaha untuk tidak perduli.
Saat ingin menyibak selimut, tiba tiba Ririn menahannya membuat Rifki tidak tahan untuk bercelutuk. "Lo kenapa sih?"
"Mas, kitakan nikah kontrak. Bukannya biasanya orang nikah kontrak itu bakalan tidur terpisah?" Tutur Ririn pelan.
"Emang ada gue peduli? Kalau ujungnya bakal nyuruh gue tidur dibawah, maka itu tidak akan berhasil. Karena gue gak akan mau!" Jawab Rifki hendak menyibak selimut tapi dengan cepat Ririn tahan.
"Mas kok gitu. Ngalah dong sama cewek! Masa mas tega nyuruh aku tidur di bawah?" Bujuk Ririn.
"Emang gue ada nyuruh Lo tidur di bawah?" Skakmat. Ririn tidak mampu berkutik saat Rifki mengeluarkan kata savage nya.
Ketiga kalinya Rifki mencoba membuka selimut, tapi masih coba di tahan Ririn agar Rifki tidak melihat dirinya dengan keadaan seksi seperti ini.
"Lo kenapa sih?! Lo gak mau tidur di bawah? Sama gue juga! Jadi gak usah banyak protes. Tidur aja sekasur, takut banget gue apa apain!" Omel Rifki.
Srakk
Saat Rifki membuka selimut, otomatis sebagian tubuh Ririn akan ikut terbuka. Baik Rifki maupun Ririn terdiam dalam suasana canggung. Rifki bahkan sampai kesusahan meneguk salivanya melihat betapa seksinya malam ini istrinya. Sedetik kemudian, Rifki menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan pikiran kotor itu dan sigap menutup tubuh Ririn hingga tenggelam di dalam selimut.
"Gue tidur di bawah." Tak ingin banyak bicara, Rifki mengambil selimut cadangan di dalam lemari lalu mengambil bantal dan berbaring di lantai. Melihat itu Ririn sedikit merasa bersalah karena sudah membuat Rifki harus tidur di lantai, sedangkan dirinya tidur di kasur. Tapi mau bagaimana lagi? Ririn tidak punya pilihan lain.
***
Pagi hari di resort hotel. Aku duduk berdampingan dengan Erlang, Arkan dengan Nana, dan Tante Yolanda bersama om Rendra. Hanya menunggu pasangan pengantin yang baru sah kemarin.
"Kok matahari gak secerah biasanya ya?" Tanya Arkan mengundang banyaknya perhatian orang orang yang ada di meja ini.
"Hm? Perasaan matahari cerah banget deh," lirih Nana melihat keluar hotel di mana cahaya mentari menyorot bumi dengan sinar terangnya.
"Gak cerah tau! Soalnya matahari kalah cerah dari hari aku saat mengawali hari bersama kamu.."
Aku memutar bola mataku malas. Aku mulai merasa, Erlang dan Arkan memiliki satu kemiripan. Yaitu sama sama bucin.
"Bisa aja kamu gombalin anak orang Ar!" Kekeh Tante Yolanda merasa terhibur melihat romansa anak muda.
"Hehe ya bisa dong Tante, kalau gak bisa ya dibisa bisain." Balas Arkan mengundang tawa Tante Yolanda.
Tap tap tap
Langkah kaki yang beradu dengan lantai menimbulkan suara yang membuat pandangan kami semua otomatis menatap pemiliknya.
Pasangan yang ditunggu tunggu akhirnya tiba. Rifki terlihat memakai baju kaos yang terlihat santai, dan Ririn yang memakai sweater kebesaran yang aku tebak bukan miliknya.
"Kenapa kalian lama banget sih? Orang orang bisa ngelewatin sarapannya cuma buat nunggu kalian berdua!" Omel Tante Yolanda setelah Rifki dan Ririn benar benar berdiri di samping meja makan.
"Mama kayak gak pernah ngerasain jadi pengantin aja. Dulu bahkan mama gak ikut sarapan karena kelelahan. Ini tuh wajar, udah deh mah.." tegur om Rendra cuek meski sifat ingin menggoda putranya itu terselip licik dari perkataannya.
"Oh iya ya. Aduh maafin mama ya Rin, kamu pasti kecapean. Tau gitu kamu gak perlu turun kesini, pasti tubuh kamu sekarang sakit banget. Iya 'kan?" Belum sempat Ririn menjawab, Tante Yolanda sudah menggiring Ririn untuk duduk. Aku menatap Ririn yang terlihat sangat canggung dengan suasana ini. Ini perasaanku saja atau memang ceritaku dan Ririn tidak jauh berbeda?
"Sakit banget ya berdiri berjam jam nyambut tamu?"
Krik krik krik
"Kenapa?" Pertanyaan Nana membuat kami semua tidak dapat berkata kata. Nana benar benar masih polos.
"Tan, jangan bahas 'itu' lah.. kasihan Nana dia masih polos. Jangan cemari otak suci kekasih Arkan Tante!" Protes Arkan yang tidak ingin kekasihnya itu kehilangan kepolosannya karena pembahasan orang dewasa ini.
"Duh maaf maaf. Tante terlalu bersemangat sampai lupa, masih ada perjaka dan perawan di sini. Ya sudah kita sarapan aja.."
Keadaan kembali terkontrol dengan baik. Ririn pun ku lihat tidak secanggung tadi setelah Nana berhasil mengubah topiknya. Tapi ada satu hal yang menurutku aneh hari ini.
Hanya perasaanku saja atau.. Erlang lebih banyak diam hari ini?