
Setelah mengambil cuti beberapa hari dengan alasan sakit, hari ini aku sudah diizinkan Erlang untuk kembali masuk kuliah. Semuanya nampak berbeda. Banyak pasang mata yang menatapku aneh karena tidak biasanya bersikap dingin, bahkan seorang April yang selalu cuek, bisa tersenyum sekedar menyapa kakak tingkat.
Mereka hanya tidak tahu. Aku memang seperti ini pada awalnya. Aku ceria. Aku mudah akrap. Aku mudah berbaur dengan orang lain. Hanya saja yah.. karena Alfino semuanya berubah.
"Aril.."
Tap
Aku menghentikan langkahku, lalu perlahan memutar tubuh menghadap sosok gadis cupu yang terlihat gelisah saat berhadapan denganku.
Menghela nafas pelan. "Kita bicara di luar aja." Tanpa menunggu persetujuan aku lebih dulu melangkah pergi tanpa berminat ingin tahu apakah dia mengikuti ku atau tidak.
"Jadi ada apa?" Saat ini aku sedang duduk berhadapan dengan Ririn di sebuah cafetaria yang masih berada dilingkungan kampus.
Ririn terdiam, nampak menimang nimang kata yang pas untuk dia ungkapkan padaku.
"Kalau kamu gak mau bicara, aku pergi. Masih ada soalnya.."
"Tunggu!" Sebelum aku benar benar beranjak pergi, Ririn dengan sigap mencekal pergelangan tanganku, membuatku mengurungkan niat untuk pergi.
"Jangan pergi. Oke, aku bakal ngomong.." ujarnya membuatku diam menunggu dia melanjutkan ucapannya.
"Maaf" satu kata yang aku sudah ketahui kemana arah pembicaraannya. Meski enggan, aku masih ingin mendengar pembelaannya.
"Maaf karena selama ini aku ngedeketin kamu gak tulus, padahal kamu udah baik banget sama aku. Saat itu yang aku pikirin cuma gimana caranya biar papa bisa bebas dari penjara. Dan Kak Al memberiku kesempatan itu. Tapi saat dipertengahan, aku mulai sadar. Kamu terlalu baik untuk bersama dengan kak Al yang bahkan memiliki penyakit gangguan jiwa. Ku pikir, dengan mengakhiri semuanya, aku bisa berteman baik sama kamu dan akan mencari jalan keluar lain buat bebasin papa dari penjara. Siapa sangka, kamu malah denger waktu aku akhiri semuanya." Jelas Ririn.
Aku terdiam. Aku awalnya memang kecewa karena Ririn mengkhianati pertemanan kami. Tapi ya, namanya juga manusia. Setiap orang juga pasti punya alasan tersendiri memilih jalan ini, atau jalan itu.
"Awalnya aku cukup kecewa karena kamu tidak menghargai pertemanan kita. Tapi ya sudahlah. Gak guna juga benci sama seseorang." Jawabku seakan pasrah dengan keadaan.
"Jadi kamu mau maafin aku?"
"Hm"
"Aaaa makasih..." aku tersenyum kecil dan membalas pelukan Ririn yang sangat bahagia setelah mungkin rasa bersalahnya telah dimaafkan.
"Oh ya. Aku mau nanya. Kok Alfino gak kelihatan ya?" Ini pertanyaan yang buat aku penasaran setengah mati. Setiadaannya Alfino di sekitarku itu termasuk hal yang janggal dan cukup aneh, karena biasanya dimana ada aku disana ada Alfino.
"Loh, Aril gak tahu? Alfino kan masuk penjara. Tuan Erlang sendiri yang menuntut Alfino kepengadilan, sampai om sama tante gak bisa berkutik apalagi menyelamatkan putra mereka seperti kejadian tiga tahun lalu." Terang Ririn membuatku terdiam.
"Erlang? Maksudmu, Erlang Bagaskara?"
"Iya."
"Tapi kenapa Erlang nuntut Alfino kepengadilan?"
"Dari yang aku dengar sih, tuan Erlang menuntut Alfino dengan kasus berlapis. Menguntit, atau mengganggu kenyamanan orang lain, terus kasus penculikan dan percobaan pembunuhan." Aku terdiam dengan tatapan kosong.
"Menurut kamu, kok bisa Erlang nuntut Alfino?"
"Bisa kok. Secara yang diganggu oleh Alfino adalah istri kesayangannya. Jadi menurutku, sikap tuan Erlang itu wajar saja. Sebagai seorang suami yang ingin melindungi istrinya." Jawab Ririn.
"Kamu tahu darimana kalau aku adalah istri Erlang?" Sekarang aku baru sadar kalau Ririn sepertinya sangat mengetahui privasiku.
"Gak cuma aku doang ril yang tahu. Satu kampus juga udah tau kalau kamu itu istri sah tuan Erlang yang selama ini disembunyikan dari publik. Orang tuan Erlang sendiri yang mengakuinya."
Tidak aku sangka, ternyata Erlang sudah bertindak sejauh itu. Mungkin kesabarannya telah habis, dan takut istrinya semakin banyak yang mengincar. Tapi tunggu. Sepertinya aku melupakan seseorang. Nana!
***
Di depan sana, seorang gadis yang terlihat sibuk bermain bersama dengan seorang pria menyita perhatianku. Dia Nana. Dan pria yang bersamanya adalah Arkan. Awalnya aku pikir, Nana akan kesal dan bersembunyi dariku karena telah menutupi rahasia sebesar ini darinya. Tapi sepertinya dugaanku salah. Dia terlihat bodo amat, dan asik dengan dunianya sendiri yang menganggap orang lain mengontrak.
"Nana!" Panggilku berjalan menghampiri kedua pemuda yang tengah bermain ayunan itu.
"Arilll.." Nana bangkit dari ayunan dan berlari layaknya anak kecil yang lama tak berjumpa dengan kakaknya lalu memeluk ku erat.
"Kamu udah tau?" Tanyaku sambil mengelus rambutnya pelan.
"Tau. Kak Arkan udah cerita, dan udah kasih penjelasan kenapa Aril gak mau publik tau soal hubungan Aril sama bang Er," jawab Nana mengembangkan senyum polosnya.
"Maaf.."
"Gak apa apa kok Aril. Nana ngerti. Nana bahkan mungkin gak akan sanggup kalau ada di posisinya Aril. Jadi, Aril gak perlu ngerasa bersalah. Nana gak apa apa kok," tidak salah aku menjadikan Nana sebagai sahabat terbaikku. Meskipun dia polos, tapi dia masih mau mengerti keadaan orang lain. Sepertinya, om Hardi berhasil membuat Nana sedikit demi sedikit merubah kebiasaan manjanya menjadi dewasa. Pemikirannya yang sempit sekarang sedikit meluas. Dia telah belajar kerasnya kehidupan, dan bagaimana caranya bertahan hidup.
"Ril.." pandanganku beralih pada pemuda yang tak lain adalah adik ipar ku sendiri. Arkan Bagaskara.
"Jujur sama gue. Kalian ada hubungan apa?" Tanyaku to the point. Jujur saja, aku merasa ada sedikit kejanggalan diantara mereka berdua. Jangan bilang firasat ku benar.
"Status pacar, otw pelaminan." Enteng sekali pria ini berucap. Tapi melihat binar malu, dan binar bucin dari kedua orang ini membuatku tersenyum geli. Apa bedanya aku dan Erlang dengan mereka? Statusnya saja yang berbeda.
Puk puk
"Jagain Nana. Kalau Lo berniat main main, gue gak akan segan segan bully Lo tiap hari. Gak perduli kalau gue harus minta bantuan dari Erlang sekalipun" bisikku sambil menepuk pundak Arkan beberapa kali.
"Lo tenang aja. Gue udah insyaf. Nana bakalan jadi yang pertama, dan terakhir bagi gue. Kali ini gue bener bener serius sama Nana" jawaban Arkan membuatku tersenyum puas.
"Kalian lagi bisikin apa sih?" Aku segera menjauh dari Arkan lalu tersenyum menghadap Nana.
"Bukan apa apa. Aku pergi dulu ya. Kayaknya Erlang udah mau sampai jemput. Baik baik pacarannya, ingat! Minimal jarak satu meter!" Tuturku sambil mengacak rambut Nana gemas.
"Lo itu buaya! Gue gak mau ambil resiko Nana terluka hatinya karena digigit sama Lo!"
"Gue emang doyan makan hati. Tapi hati ayam! Bukan hati manusia, apalagi hati orang yang gue cinta!"
"Dih bucin.." ledekku lalu pergi diiringi teriakan Arkan yang menggema.
"Dih kayak Lo gak aja!"
***
Sesampainya di area parkiran kampus, aku sudah dapat melihat Erlang berdiri bersandar di kap mobil, sehingga menarik perhatian banyak mahasiswa, terlebih para cewek cewek genit yang kekurangan kasih sayang.
Dengan wajah yang ditekuk, aku berjalan menghampiri Erlang yang tersenyum melihat kehadiranku, lalu merentangkan tangan minta dipeluk.
"Sengaja ya mau jadi pusat perhatian? Biar banyak cewek yang suka sama kamu iya?!" Omelku setelah berdiri berhadapan dengannya.
Perlahan senyum Erlang surut, tangannya yang terentang pun perlahan turun. "Kamu kenapa? Kok tiba tiba marah?" Tanya Erlang dengan sifatnya yang super duper tidak peka.
"Cari tahu aja sendiri!" Masih dengan wajah yang ditekuk, aku masuk kedalam mobil, melipat tangan di dada sambil menatap keluar jendela enggan melihat Erlang.
"Yang.. kok kamu marah? Salah aku apa?" Tanya Erlang masih tidak mengerti dimana letak kesalahannya.
"Serius kamu nanya kayak gitu? Kamu sengaja ya, nunggu diluar buat narik perhatian cewek cewek iya?!" Aku berbalik menatap Erlang masih dalam mode marah.
"Pfff jadi ceritanya kamu lagi cemburu nih?" Aku memalingkan wajahku saat melihat Erlang mulai mengaktifkan mode jahilnya.
"Enggak! Siapa yang cemburu!"
"Itu kamu cemburu"
"Enggak, aku gak cemburu!"
"Oh, kalau gak cemburu, boleh dong aku keluar? Kayaknya banyak deh cewek yang tertarik buat ngajak kenalan.."
Secepat kilat aku mendelik tajam pada Erlang. Menyiratkan ancaman kalau dia berani keluar, akan aku kuliti dia hidup hidup.
Erlang terkekeh pelan, sambil menepuk kepalaku gemas. "Bercanda. Niatnya tadi aku pengen nunjukin sama cowok cowok yang ada di sini kalau kamu adalah milik aku, siapa yang sangka, kalau pesonaku sulit ditolak sama cewek cewek sini— aduh!"
Aku memukul bahu Erlang kesal. Bukannya membujuk, dia malah semakin membuatku kesal saja. Beginilah yah.. resiko punya suami ganteng. Pelakor bertebaran.
"Gak lucu!"
"Iya iya maaf.."
"Hm. Udah jalan!"
"Maafin dulu tapi!"
"Iya udah dimaafin"
"Beneran?"
"Iya beneran. Udah cepetan jalan!"
"Itu marah lagi!"
"Kamu juga yang gak percayaan! Dibilang udah dimaafin juga"
"Dih kok kamu malah nyalahin aku?"
"Yah emang kamu salah!"
"Ya udah maaf"
"Iya aku udah maafin kok sayang. Mending kamu sekarang jalanin mobilnya, karena aku udah laper.."
"Kiss dulu.."
Plak
Aku memukul mukanya pelan. Benar benar tidak tahu malu. "Gak usah ngelunjak! Mending sekarang kamu jalan, atau aku keluar dan cari taksi buat pulang sendiri!"
"Iya iya ini aku jalanin." Cepat cepat Erlang menghidupkan mesin mobil, lalu mulai membawanya keluar dari area kampus.
Di jalan, hening melanda. Erlang fokus pada jalanan, dan aku sibuk melihat pemandangan. Namun, seperkian detik aku teringat ucapan Ririn tentang tuntutan Erlang pada Alfino yang jelas merujuk padaku.
"Kamu nuntut Alfino kepengadilan?" Tanya ku tak ingin berbasa basi, karena memang aku orangnya gak suka ribet.
"Tau darimana?" Balas Erlang setelah terdiam sejenak sambil sesekali melirik ke arahku.
"Ririn cerita. Katanya, kamu nuntut Alfino kepengadilan. Itu karena aku kan?" Jujur saja, aku merasa ada sedikit kejanggalan di cerita ini. Kasus Alfino sudah ditutup tiga tahun yang lalu, dengan kemenangan ada di aku dan Farhan. Alfino dengan pengaruh keluarganya dibawa paksa keluar negeri. Jadi, alasan Erlang kembali mengungkit masa yang telah habis rasanya aneh. Kecuali, ada kasus sama yang terulang kembali. Tapi aku yang sebagai korban tidak mengingatnya?
"Iya"
Aku terdiam. Jawabannya meskipun tidak memuaskan, aku tidak ingin bertanya lebih. Mungkin memang Erlang tidak puas dengan hasil akhirnya, sehingga kembali menuntut Alfino kepengadilan.
Dan keadaan kembali hening hingga kami sampai di rumah...