Melody

Melody
Bab 15



Bolos adalah satu kata yang selalu ada dalam diri Melody. seperti saat ini dia tengah membolos dari pelajaran Matematika yang menurutnya terlalu membosankan karena selalu menghitung hitung angka yang sama. saat ini Arsa tidak sekolah karena harus memastikan bahwa kabar mengenai perjodohan Melody dan Keny tidak sampai ke telinga kedua orang tua Melody.


Hembusan nafas kasar Melody lontarkan karena sampai saat ini dia belum menemukan cara untuk membatalkan perjodohan itu. diremasnya rambutnya frustasi, lalu dia menangkup wajahnya dengan kedua tangan.


"gue gak tau lagi mau gimana" gumam Melody


Ponselnya berbunyi dan menampilkan pesan chat dari Keny.


Ody, ne yapmaliyis?


(Ody, kita harus bagaimana?)


Dengan cepat Melody membalas pesan tersebut.


Gorunuse gore ilk once Oma ile tanismiyorsunuz, Oma' nin eslestirmeyi tartismaya devam etmesine engeliyor


(sepertinya kamu jangan bertemu Oma dulu, ini bertujuan agar Oma tidak terus menerus membahas perjodohan)


Melody mematikan ponselnya agar Keny tidak menghubunginya lagi, disaat kepalanya berdenyut pusing memikirkan masalah perjodohan konyol yang Omanya lakukan.


"sendirian aja"


Melody menoleh dan mendapati Bastian di belakangnya. dengan senyum tipis terukir dibibirnya.


"yoi" sahutnya singkat


"lo kenapa bolos?"


"lah, lo juga bolos kan. mana lo baru masuk udah bolos ae"


"udah rutinitas gue kali kalo bolos mah"


"sama dong kalau gitu, jadi lo gak usah nanya lagi"


"lo tumben gak bareng Arsa? dia dimana?"


"Arsa gak masuk, gak enak badan katanya tadi" alibi Melody agar Bastian percaya


Bastian hanya mengangguk saja sebagai jawaban.


Sebenarnya tadi Bastian tidak berniat untuk bolos. namun, saat dia keluar dari toilet dia melihat Melody yang duduk sendirian ditaman dengan kondisi yang seperti frustasi banget. makanya, dia langsung menghampiri Melody dan tidak jadi masuk kelas. dengan sedikit basa-basi akhirnya dia bisa mengobrol dengan Melody, gadis yang akhir-akhir ini bisa membuatnya nyaman.


"Kevin gak marah kalau lo bolos?"


"nggak lah"


"oh, lo mau ikut gue gak?"


"kemana?"


"jalan aja gitu, dari pada bosen di sekolah. lagian kitanya juga bolos"


"oke, gue ikut lo"


Bastian pun beranjak dari duduknya, disusul Melody. mereka berdua berjalan menuju gerbang belakang agar tidak ketahuan kalau ingin membolos.


Ternyata gerbang belakang memang tidak dikunci hingga memudahkan mereka untuk keluar dari sekolah. ditambah, motor Bastian diparkirkan diluar gerbang tepatnya di sebuah warung yang tidak jauh dari sekolah.


"niat banget lo sampai naro motor disini?" ucap Melody sambil memakai helm yang diberikan Bastian padanya ketika sudah berada di dekat motor


"gue emang selalu parkir disini kok"


"oh"


"ayo naik"


Setalah memastikan Melody duduk dengan benar, Bastian melajukan motornya membelah jalanan yang terkesan lumayan lancar.


\*\*\*\*


Arsa keluar dari kamarnya dan celingak-celinguk memperhatikan sekitar.


"bi, om sama sama tante kemana? kok gak keliatan?" tanya Arsa pada seorang ART yang kebetulan melintas di hadapannya


"tuan sudah berangkat ke kantor den sejak tadi, kalau nyonya sih katanya tadi pergi arisan"


"oh oke. makasih bi"


"sama-sama atuh den"


Setelah ART itu pergi, Arsa langsung tersenyum lega.


"untung aja tente dan om Ardi udah pergi, kan Oma gak bakal nelfon mereka" ucapnya bangga.


namun, beberapa detik kemudian dia terbelalak kaget saat mengingat satu hal yang mungkin saja terjadi.


"astaga, kan om Ardi sama tante Galuh punya ponsel. duh, bisa jadi Oma nelfon mereka nih. gimana ya"


Arsa berjalan mondar-mandir. dia khawatir kalau Omanya itu membicarakan soal perjodohan Melody dengan Keny kepada om dan tentenya alis mama dan papa Melody.


"alamat bisa gawat ini kalau om sama tante tau. bisa-bisa Ody gak akan lepas dari perjodohan ini. gue harus gimana ya biar bisa nolongin Ody?"


Sebuah lampu menyala di kepalanya, lalu dengan senyum mengambang Arsa berlari kembali ke kamarnya.


"halo" ucap Arsa dengan antusias saat telponnya tersambung


"...."


"kamu masih ingat Melody kan sepupu ku?"


"...."


"nah, aku ingin meminta bantuan mu untuk membuat ponsel kedua orang tua Melody tidak dapat di telpon oleh Oma Dery. nanti aku akan mengirim nomor kedua orang tuanya dan Oma Dery padamu" ucap Arsa to the point


"...."


"ck. ini urgent. nanti kalau ada waktu luang aku akan menceritakannya pada mu"


"...."


"sama sahabat sendiri pun kamu perhitungan sekali" cibir Arsa


"...."


"lakukan saja, nanti aku akan membayar berapa pun yang kamu mau" sinis Arsa


Terdengar kekehan disebrang telpon membuat Arsa kesal bukan main.


"...."


"nah, begitukan enak. seharusnya jadi sahabat itu harus saling membantu bukan perhitungan seperti tadi"


"....."


"oke. aku tunggu kabar baiknya. thanks bro"


"......"


"masalah satu selesai" ucap Arsa setelah sambungan telpon terputus


Sementara itu, Melody dan Bastian sudah sampai di kota tua. Bastian sengaja mengajak Melody kesana karena menurutnya di kota tua Melody bisa sedikit melupakan masalah yang sedang dihadapinya.


"semoga aja lo bisa lupain sedikit masalah lo. walaupun, gue gak tau lo ada masalah apa" batin Bastian


"lo mau kemana dulu nih?" tanya Bastian


"hmm.. lo tau kan gue gak terlalu banyak tau tentang Jakarta. jadi terserah lo deh mau kemana dulu" Melody terlihat bingung


Bastian tersenyum tipis bahkan tidak ada yang bisa melihat senyum itu.


"ayo"


Bastian akhirnya menarik tangan Melody. eh, bukan menarik karena lebih tepatnya Bastian menggenggam jemari gadis itu.


Melody tersentak saat Bastian menggenggam jarinya. dia melihat tangan mereka yang bertaut lalu menatap Bastian.


"gak apa-apa ya" kata Bastian


"oke"


Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri jalanan kota tua. disana banyak sekali hiburan dan warung-warung kecil yang menjual berbagai macam makanan.


Bastian membawa Melody menuju ke warung penjual gulali. dia membelikan gadis itu satu buah gulali.


"manis banget" kata Melody


"namanya juga gulali"


"sini lo juga harus coba"


"gak, gue gak mau. gue gak suka manis"


"dikit ae elah es balok. ayo buka mulut lo, aaa"


Dengan sedikit paksaan akhirnya Bastian mau membuka mulutnya dan mencicip secuil gulali yang disodorkan Melody ke mulutnya.


"enak kan?" tanya Melody yang dibalas anggukan kecil dari Bastian


"makanya jangan nolak dulu. dirasain dulu baru lo nolak"


"gitu ya"


"hmm"


Mereka pun kembali menyusuri jalanan. Bastian mengajak Melody untuk menaiki sepeda mengelilingi kota tua. di sana mereka juga membeli mainan gelembung yang bisa ditiup.


Menaiki sepeda sambil meniup gelembung membuat sensasi tersendiri di diri mereka. Melody tertawa saat gelembung itu mengenai hidungnya. bahkan dia juga sedikit melupakan masalah perjodohannya dengan Keny.


Bastian tersenyum simpul melihat kebahagiaan terpancar diwajah gadis itu. ntah mengapa ada rasa senang tersendiri di hatinya saat bisa mengukir senyum di wajah Melody.


Hari itu, mereka berdua menghabiskan waktu di kota tua. mencoba berbagai hal baru yang belum pernah mereka temukan. kebahagian serta senyum tawa pun menghiasi hari mereka yang diawali dengan bolos sekolah.


jangan lupa vote dan coment ya gays😊.