Melody

Melody
Tawa Erlang



Kembali sendiri, aku berjalan jalan tak tentu arah dengan gamis panjangku yang berwarna coksu, senada dengan jas yang Erlang pakai. Siapa lagi kalau bukan Bunda yang mengusulkan kami untuk pakai couple-an gini. Herannya Erlang malah girang gitu lagi menyambutnya.


"Hai" langkahku terhenti bertepatan seseorang menyapa dari arah belakang. Hari ini sepertinya banyak sekali yang memanggilku, padahal ini adalah kali pertama untukku pergi kepesta yang banyak pengusahanya.


Berbalik badan, seseorang yang tidak asing nampak di hadapan mata membawa dua buah gelas berisikan anggur merah. Pria itu berjalan mendekat, sambil memamerkan senyumnya.


"Kamu April 'kan?" Tanyanya.


"Hm."


"Kamu sangat cantik, ku pikir tidak heran melihat Erlang terus menerus menatapmu sedari tadi. Seolah olah takut wanitanya pergi. Aku penasaran, hubunganmu dengan Erlang apa?" Devan Areson. Aku tidak habis pikir, sebenarnya keluarga Areson ini kenapa sih? Kok aneh semua.


"Perlukah ku beritahu?" Malas meladeninya, aku memutuskan untuk pergi saja. Jika tahu begini, aku menolak saja ikut datang kepesta. Biar saja Erlang merajuk terus.


"Wait wait wait... tahan dulu dong. Ini, aku membawakan minum untukmu." Pria dari keluarga Areson ini lekas mencegat kepergianku hanya menawarkan segelas air minum yang jelas dilarang dalam agamaku.


"Aku tidak minum alkohol."


"Ah sayang sekali. Tapi kalau dipikir pikir, kamu dengan Erlang sama sama tidak bisa minum alkohol ya. Kenapa? Tidak kuat?" Ternyata menghadapi langsung orangnya jauh lebih menyebalkan dari pada hanya menyaksikan. Devan Areson sangat menyebalkan, persis seperti adiknya Fanya.


"Minum apa? Minum air kebodohan?" Tanyaku sinis.


"Maksudmu apa?"


"Bukankah sudah jelas minuman itu memabukkan? Bahkan dokter saja menyarankan untuk tidak mengkonsumsi minuman beralkohol karena dapat menimbulkan berbagai penyakit. Kalian orang orang yang meminumnya jelas akan terlihat bodoh. Meminta kesehatan, tapi mendekati penyakit." Jawabku.


"April Lia ya... ternyata kamu memang semenarik itu sampai sampai Erlang Bagaskarapun terpikat olehmu. Kamu tau? Sepertinya aku... juga menyukaimu." Ujarnya berdiri selangkah maju menyisihkan jarak diantara kami. Aku menatapnya datar. Dasar ya, gak adik gak kakak. Hobinya kok main jadi pelakor pebinor sih?


"Atas dasar apa anda mengatakan menyukai istri saya?" Erlang datang dari arah entah berantah, menarikku kebelakang sedang dia berdiri bersitatap penuh ketegangan dengan Devan. Apa lagi yang akan terjadi sekarang?


"Atas dasar dia adalah wanita anda. Milik anda memang selalu menarik untuk dimiliki." Jawab Devan malah menantang. Aku tidak tahu sekarang aku berada di posisi apa sekarang, hanya saja melihat mereka seperti itu membuatku menghela nafas pusing.


"Sayangnya, hal menarik yang saya miliki, sampai sekarang belum bisa anda dapatkan. Betul?" Balas Erlang. Jelas terlihat bahwa Devan kalah telak dan memutuskan untuk pergi dari sana.


"Kamu!" Pikiranku buyar seketika mendengar seruan Erlang yang terlihat menahan amarahnya. Apa dia kembali marah melihatku dekat dengan lelaki lain?


"Iya?"


"Kemari!" Titahnya. Pasrah, aku yang berdiri agak jauh darinya berjalan perlahan menghampirinya yang berdiri tegap menghadapku dengan wajah dingin.


"Haaa..." sebuah hal yang tak terduga, dimana seseorang nampaknya dengan sengaja mendorongku jatuh kedalam sebuah kolam yang memang letaknya berdekatan dengan tempatku berdiri asal.


Byurrr


"April!"


Cukup lama berada di dalam kolam akupun segera berenang kepermukaan. Syukurnya aku bisa berenang, jika tidak aku akan menghajar siapa saja yang berani mendorongku seperti ini.


"April, kamu baik baik sajakan sayang?" Cecar Erlang berjongkok di pinggir kolam sambil memasang wajahnya yang khawatir.


"Sayang sayang! Apa aku terlihat baik baik saja sekarang?!" Omelku. Sudah tau orang terjatuh ke dalam air, malah ditanya baik baik saja apa tidak? Ya mikir dong. Pastinya gak baik baik sajalah.


"Tidak. Ya sudah kemarilah, aku bantu kamu naik." Erlang mengulurkan tangannya sehingga terlihat sebuah penampakan dari belakang tubuhnya. Ah... sekarang aku mengerti siapa biang kerok yang sudah mendorongku masuk kolam. Lihat saja bagaimana aku akan membalasnya.


"Menunduk!" Titahku sambil melepaskan hak tinggi yang ku pakai di dalam air saat ini.


"Ha?"


"Menunduk saja ku bilang!" Bentakku membuat Erlang cepat cepat menunduk sesuatu titah yang aku pinta.


Wuss


Bukh


"Awh." Kena. Sekali lagi.


Wuss


Bukh


"Awh..." strike! Tepat mengenai biang keroknya. Fanya Areson. Kamu salah mempredeksi lawanmu.


"Duh... kena mbaknya ya? Sorry, saya gak lihat orang disitu soalnya tadi." Sinisku segera berenang ketepian menghampiri Erlang yang nampak terpaku dengan kelakuanku.


"Prrtt Hahahaaa..." tak hanya aku yang terdiam, semua tamu undangan juga sama terdiamnya melihat pria dingin Erlang Bagaskara tertawa lebar.


"Apa yang kamu tertawakan?"


"Hahaa jadi kamu menyuruhku menunduk cuma buat lempar sepatu?" Tanyanya sambil menahan untuk tidak tertawa lagi.


"Menurutmu? Bagaimana bisa aku berenang menggunakan sepatu! Cepat bantu aku naik!" Kesal juga. Ternyata dia tertawa karena aku melempar sepatu dengan menyuruhnya menunduk. Dasar Erlang Bagaskara.


"Huh... ya sudah, kemari!" Aku menyambut uluran tangannya sambil sejenak berdiam menyipitkan mata waspada.


"Tarik yang kuat ya!"


"Iya."


"Kalau aku jatuh kamu jatuh juga loh?!"


"Iya bawel, gak akan. Kalau kamu jatuh, aku juga bakalan jatuh. Kita jatuh sama sama oke?"


"Beneran ya?" Masih khawatir kalau sekitaranya akan terjatuh kembali. Erlang itukan banyak akalnya, mungkin saja dia akan melepaskanku saat sudah sampai kepermukaan.


"Ck!" Decakan kesal itu menandakan terakhir kalinya aku berada di dalam kolam sebelum Erlang menarikku kepermukaan tanpa persiapan dariku.


"Naik dengan baikkan?" Tanyanya sambil melepaskan jas miliknya dan menyampirkannya ke bahuku.


"Aku belum siap!"


"Ya terus? Kamu mau masuk ke kolam lagi biar kita ulang adegan sesuai keinginan kamu?" Apaan sih ngaco banget.


"Sudahlah aku mau pulang."


"Tunggu. Kamu ganti baju dulu saja, nanti aku pinta Rifki buat nyariin baju buat kamu. Kita bisa nunggu di kamar hotel." Tahannya. Astaga Erlang, dia gak sadar apa kalau saat ini semua orang menonton? Apalagi Kak Daniel, tatapannya udah curiga gitu lagi.


"Aku. pengen. pulang. Erlang Bagaskara! Jangan modus deh!" Pintaku penuh penekanan.


"Siapa yang modus? Aku itu khawatir sama kamu!" Sangkalnya.


"Modus berkedok khawatir, biasalah lelaki zaman sekarang." Sinisku.


"April... aku itu benar benar khawatir. Nanti kalau di jalan kamu masuk angin gimana? Aku juga yang repot!"


"Erlang Bagaskara... sebelum aku beneran masuk angin dan sungguh merepotkanmu, sebaiknya kamu cepat antar aku pulang. Aku pengen pulang!"


"Ya udah iya, kita pulang."


"Ya udah ayo..." ajakku mulai merasakan bulu kudukku mulai berdiri karena hawa dingin yang menusuk.


"Tapi tunggu!"


"APA LAGI?!" Kesal banget sih, berapa kali dia mengulur ulur waktu. Dia tidak lihat apa istrinya sudah gemetaran gini? Beneran pengen aku sakit ya? Katanya khawatir.


"Sepatunya gimana?" Aku melirik sepatu yang tergeletak dilantai lalu melirik Fanya dengan memar di kepalanya yang dibantu duduk di sebuah kursi bersama temannya.


"Erlang Bagaskara. Kamukan seorang pengusaha yang kaya raya. Sepatu seperti itu masih bisa kamu belikan? Ya udah tinggalin aja. Anggap sedekah sama yang punya pesta." Sindirku pada Fanya.


"Kamu!" Hahaa lagian siapa suruh kamu melawan April Lia. Lihatkan balasannya?


"Prrtt ekhm, sedekah yah. Ya udah, biarin aja. Nanti aku belikan yang baru. Ayo kita pulang, sebelum kamu masuk angin." Jelas sekali Erlang sangat ingin tertawa hanya saja mencoba menahannya, selain pemilik pesta adalah rekan bisnisnya, juga sahabat dari papanya. Tentu harus menghormati dong.


"Telat! Udah gemetar!" Ketusku segera berjalan mendahuluinya melewati kerumunan orang orang.


"Mau digendong? Biar hangat." Tawarnya modus. Sekarang Erlang nampaknya mulai pandai sekali bermodus ria.


Mendelik tajam, "belum pernah makan jotos ya?!" Ketusku sambil terus berjalan menyisihkan kerumunan orang orang.


"Belum." Aku diam menghiraukannya dengan tubuh yang sudah gemetar kedinginan. Kali ini tidak dapat dipungkiri, cuacanya sangat. Sangat dingin.


Dalam sekejap aku tiba tiba merasakan kakiku sudah tidak menapak lagi di atas lantai. Bukan. Aku belum mati. Erlang yang menggendongku ala brindal style.


"Erlang---"


"Sutt!!" Wajah Erlang yang terlihat lembut membuatku diam saat dia berjalan membawa tubuhku yang basah dari sana. Tanpa memperdulikan yang lain, aku merapatkan diri saat merasakan rasa hangat itu benar adanya.