Melody

Melody
Kejelasan



Aku sudah duduk berhadapan dengan seorang pria bernama Daniel Kurniawan. Aku memutuskan untuk menjelaskan secara baik baik padanya perihal apa yang terjadi agar dia tidak berharap banyak padaku.


"Kenapa ril? Tumben ngajak ketemuan? Kangen ya?" Melihat tingkat harapan Daniel yang tinggi semakin membuatku gugup dan tak enak untuk menjelaskannya.


"Kak aku mau bicara serius." Ucapku berusaha sekuat tenaga untuk melawan rasa tak enak hati. Ini demi kebaikannya Aril.


"Ada apa?" Melihat aku yang serius, wajah jenaka itu perlahan berubah seserius mungkin untuk mendengarkan.


"Jangan berharap apapun lagi denganku kak." Tuturku.


"Kenapa?"


Ini waktunya. "Karena gosip tentang aku yang sudah menikah itu benar. Aku sudah menikah kak. Dan pria yang aku nikahi adalah Erlang Bagaskara," huh.... rasanya lega sekali saat aku mengatakannya.


Hening


Daniel mengerjap lalu tertawa kemudian. Wajahnya jelas menunjukkan rasa ketidak percayaan. "Hahaha kamu lucu ril. Mana mungkin kamu menikah dengan tuan Erlang, kan kamu sendiri yang bilang kalau tuan Erlang itu kakak ipar kamu!" Elaknya. Aku terdiam saja melihat Daniel tertawa tanpa mengubah mimik wajah yang serius.


Melihat aku yang tidak respon sama sekali, akhirnya tawa itu mulai terhenti. Kali ini dia menatapku dalam. "Kamu bercanda kan ril?" Tersirat mata penuh pengharapan itu sangat membuatku tak enak.


"Apa aku terlihat bercanda kak?"


"Ta-tapi waktu itu kamu bilang tuan Erlang kakak ipar kamu!" Sangkal Daniel.


"Saat itu aku hanya takut kakak menyebarkan berita tentang pernikahanku. Mengingat Erlang adalah pengusaha terkenal, aku tidak ingin sampai kehidupan tenangku terusik. Sampai aku teringat dengan pengharapan kak Daniel yang ingin menungguku, saat itukah aku berusaha untuk menyampaikan. Aku tidak ingin kak Daniel terlalu berharap pada sosok wanita jahat seperti aku ini." Jelasku panjang lebar.


"Begitukah kamu menganggap ku ril? Seburuk itu aku di matamu? JAWAB RIL!!" Aku cukup terkejut dengan reaksi kak Daniel, hanya saja aku cukup mengerti kak Daniel seperti itu juga karena perbuatanku sendiri. Apa yang aku tanam itulah yang akan aku tuai.


"Kamu benar benar membuatku kecewa ril.." aku terdiam dengan pandangan kosong saat Daniel beranjak pergi keluar dari cafe. Tanpa aku sadari satu tetes air mata sudah merembas keluar dari persembunyiannya. Daniel pria yang tulus. Ku akui dia pria yang sangat baik, bahkan aku sangat nyaman berteman dengannya. Berkat kesalahan yang aku perbuat, kini dua teman yang biasa ada untukku harus menghilang.


Mengusap kasar air di pipiku, aku segera beranjak setelah membayar bila minuman yang aku beli. Kali ini tujuanku adalah bertemu dengan Anton.


*


Dilain tempat, Daniel menutup kasar pintu mobil. Kepalanya bersandar pada setir dengan tangan yang terkepal kuat.


"AAARRRGGHHH!!!"


Bug


Tangisan itu keluar. Daniel akui kalau dia lemah karena cinta. April adalah cinta pertamanya, namun siapa yang sangka dia harus tersakiti olehnya. Masih jelas diingatan bagaimana rasa itu hadir memasuki relung hatinya. Membuat sendiri tahta tertinggi.


Menjadi satu satunya putra di dalam keluarga bukanlah mudah, terlebih keluarga itu memiliki bisnis di mana mana. Begitu juga dengan Daniel. Sedari kecil, dia ditempa oleh ayahnya untuk menjadi pebisnis handal sebagai sosok penerus. Jujur saja, Daniel selalu merasa iri dengan temannya yang lain. Saat remaja yang seharusnya dihabiskan untuk bersenang senang, Daniel justru harus belajar untuk masa depan.


"Satu botol lagi!" Pinta Daniel pada bartender. Untuk pertama kalinya Daniel berada di dalam sebuah klub dan mengkonsumsi minuman haram itu. Pikirannya benar benar kacau. Kali ini papanya mulai mendektinya untuk menikah. Puluhan tahun Daniel menuruti keinginan papanya, belajar bisnis tanpa henti dan merelakan impiannya yang ingin menjadi seorang chef internasional. Sekarang dia dituntut untuk segera mencari pendamping dan menghasilkan cucu. Dipikir membuat anak seperti membuat plastik?!


Brukh


Masih dalam setengah sadar, Daniel berjalan tak beraturan khas orang mabuk. Mulutnya meracau tidak jelas dengan langkah yang tak bertujuan.


Tap


Langkah Daniel terhenti saat sekumpulan preman menghadang jalannya. Masih dalam keadaan setengah sadar, Daniel mencoba menghadapi mereka.


"Apa?"


"Bos kayaknya dia anak orang kaya, pasti duitnya banyak. Lumayan bos buat jajan!" Ujar salah satu dari preman itu.


Sang bos tersenyum lalu melangkah mendekati Daniel yang berdiri sempoyongan akibat pengaruh alkohol yang masuk kedalam tubuhnya. Dengan paksa bos itu mengambil dompet Daniel hingga membuat Daniel jatuh tersungkur di atas aspal jalanan.


"Wahhh beneran sultan ternyata dia bos. Duitnya merah semua!"


Sang bos tersenyum menyeringai, lalu mengeluarkan semua uang sampai habis dan melempar dompetnya tepat kemuka Daniel. Saat berbalik, bos itu dibuat terpaku saat anak buahnya yang lain telah habis terkapar tak berdaya. Di depannya terlihatlah seorang wanita yang menatapnya tanpa raut ekspresi.


"Kembalikan uang itu!" Tutur wanita itu.


"Uang apa?" Sang bos berusaha menyembunyikan uang yang dia ambil dibalik tubuhnya, namun sayangnya wanita itu tidak gampang dibodohi.


Bug


Satu tendangan itu mampu membuat segepuk uang beterbangan dan mendarat diatas aspal. Tak terima diperlakukan seperti itu, sang bos mencoba memberikan pelajaran pada sosok gadis yang menjadi pahlawan kemalamannya Daniel. Namun, sosok gadis itu sangat handal dalam bela diri hingga mampu menumbangkan sang bos hanya dalam hitungan detik.


Setelah semua preman itu ditumbangkan, sang gadis memunguti semua uang dan berjalan menghampiri Daniel yang tampak terpaku kagum padanya. Tangan gadis itu terulur, membuat Daniel tanpa sadar menyambutnya yang justru ditepis kasar wanita itu.


Gadis itu mengambil dompet Daniel dan memasukkan kembali uang itu kedalamnya. Dengan inisiatif gadis itu menepikan satu buah taksi. Sembari berbicara dan mengeluarkan uang, gadis itu kembali pada Daniel dan membantu pria itu bangun dengan dibantu oleh supir taksi.


"Iya mbak."


*Keesokan harinya Daniel jelas dimarahi papanya akibat kelakuannya yang jelas melenceng dari ajaran beliau. Daniel sungguh tidak perduli, yang ada dipikirannya hanya sosok penyelamatnya itu. Telinga Daniel seolah tuli saking otaknya hanya berpusat pada gadis itu.


Tanpa mengindahkan omongan papanya, Daniel beranjak pergi menuju kampus. Saat ini moodnya benar benar anjlok saat papanya kembali membahas perihal calon istri. Sungguh tidak ada habisnya*.


Sesampainya di kampus, Daniel beranjak keluar dari dalam mobil sembari mendengar jeritan penuh kekaguman dari para gadis untuknya. Padahal jelas dia tidak sesempurna itu untuk dipuja. Saat pandangannya menyapu lapangan, siluet tubuh seseorang yang tampak familiar membuatnya terpaku. Tepat saat gadis berbalik, jantung Daniel berdetak lebih cepat. Sosok itu...


"Arilll" teriakan membahana Nana mengalihkan intens Daniel. Melihat Nana memeluknya, kini Daniel meyakini nama gadis itu adalah...


"Aril. Ya?" Tanpa sadar seutas senyum manis itu mengembang membuat para gadis berteriak kegirangan, terkecuali untuk gadis bernama April Lia itu.


"Sejauh ini kamulah yang menjadi penyemangat ku, tanpa kamu bagaimana aku melewati hari yang penuh tekanan ini?" Gumam Daniel memukul stir kuat.


*


Jika aku dan Daniel bertemu di cafe, maka dengan Anton aku bertemu di perpustakaan. Dari kejauhan sudah terlihat Anton yang sedang membaca buku dengan serius. Teringat olehku saat dia dengan lapang dada menerima penolakkanku dan meminta untuk berteman. Bolehkah aku berharap Anton tidak membenciku karena kenyataannya aku telah menikah?


"Hai" sapaku.


"Oh hai, duduk ril." Aku tersenyum kecil lalu mengambil duduk di depannya. Anton menutup bukunya sambil menyangga wajah menggunakan tangan dengan senyum yang memukau.


"Lama nunggu?" Tanyaku basa basi.


"Enggak kok. Oh ya, katanya lo mau ngomong sesuatu. Mau ngomong apa emang?"


Pertanyaan ini. Aku mengambil nafas dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan untuk menetralisir kan rasa gugupku. "Sebelumnya gue pengen minta maaf karena udah bohongin Lo, sama yang lainnya."


"Bohong? Emang Lo bohong soal apa?"


"Soal gue yang sudah menikah."


Krik krik


Hening


Anton terlihat mengerjap. "Lo ngomong apa tadi? Sorry gue takut salah denger," ujarnya.


"Enggak kok. Lo gak salah denger, gue emang udah nikah." Jelasku.


"Sama siapa?!" Kali ini raut keterkejutannya tak terelakkan. Reaksinya sangat jauh berbeda dengan Daniel. Apa hanya perasaanku saja?


"Erlang Bagaskara."


"Seriusan?!" Kali ini aku yang memandangnya aneh. Kok tidak terlihat tanda tanda kemarahan dari Anton.


"Lo... gak marah?" Tanyaku heran.


"Kenapa harus marah?" Anton bertanya balik yang semakin membuatku terheran heran.


"Karena gue udah bohongin Lo dan bikin Lo berharap lebih sama gue?" Tuturku mencoba memancingnya untuk marah.


"Enggak gue gak marah. Gue maklum kalau emang Lo pilih yang lain. Gue kan juga pernah bilang, gue akan menerima siapapun yang Lo pilih jika itu yang menjadi pusat kebahagiaan Lo. Cinta itu hadir karena rasa, bukan paksa. Jadi gue gak mau paksain perasaan Lo kalau emang Lo gak cinta sama gue. Dan untuk Erlang, gue pikir dia pria yang baik. Lo bakal hidup sejahtera bersamanya, gak perlu mikirin uang bulanan buat belanja pastinya." Jelas Anton sambil bercanda di akhir kata.


"Lo... masih mau temenan sama gue?" Tanyaku penuh harap.


"Tentu. Lo akan selalu jadi temen gue. Kalau Erlang nyakitin Lo, bilang aja sama gue biar gue yang kasih dia pelajaran!" Tanpa ku pinta air mata mulai turun. Sungguh tak menyangka bahwa Anton sebaik itu mau menerima.


"Lo baik banget sih an, padahal gue udah jahat banget bohongin Lo. Tapi Lo masih tetap mau berteman sama gue.." Katakan saja aku cengeng, karena sungguh aku sangat terharu dengan sikap dewasa Anton dalam berpikir.


Puk


"Udah jangan nangis. Gue gak apa apa kok sumpah. Semenjak penolakan Lo waktu itu gue udah tekatin hati buat gak ambil hati apalagi dendam yang hanya akan membuat hubungan kita renggang. Dan gue juga udah anggap Lo seperti adik gue sendiri. Jadi please jangan nangis ya... lo jelek kalau lagi nangis." Aku membiarkan tangisku keluar membasahi baju Anton. Membiarkan Anton memelukku berusaha untuk menenangkan.


"Makasih Anton"


*


Setelah pertemuanku dengan Anton, aku telah berdiri di rooftop kembali. Aku sudah mengakhiri sebagian cerita. Tinggal satu saja lagi. Dan ini yang paling sulit, aku takut untuk mengakhiri cerita ini. Rasa yang hadir yang membuatku ragu untuk mengakhirinya.


"Aku harus bagaimana? Erlang,"