Melody

Melody
Serpihan memori



"Ekhm!" Dehaman keras itu membuat aku maupun Kak Daniel mengalihkan pandangan pada sosok pria jangkung dengan wajah dinginnya.


"Selamat malam tuan," sapa Kak Daniel tersenyum ramah. Ini cuma perasaan ku saja atau memang mereka saling melempar tatapan permusuhan?


"Sudah belanjanya sayang?" Tak mengindahi sapaan Kak Daniel, Erlang berjalan kearahku dan merangkul pinggang ku. Tapi bukan itu yang membuatku kaget, tapi panggilan sayangnya itu loh.


"Apaan sih?! Lepas!" Berusaha sekuat tenaga melepas, dia justru semakin merapatkan diri, membuatku hanya bisa menghela pasrah.


"Kita memang tidak saling mencintai, tapi aku tegas 'kan lagi padamu. Tidak ada kata perceraian dalam rumah tangga kita!" Bisik Erlang, membuatku menoleh padanya heran. Emang aku ada bilang pengen cerai?


"Sayang?!" Netraku beralih pada Kak Daniel yang memandangku menuntut penjelasan. Tiba tiba saja kepalaku terasa pusing menghadapi mereka yang tidak ada habisnya.


"Om Er orangnya suka posesif kalau liat aku dekat dengan cowok," jawabku. Entah mengapa aku harus menjelaskannya? Ini semua juga gara gara Erlang yang suka sekali buat masalah untukku.


"Oh syukurlah. Aku kira kalian punya hubungan lebih. Ya udah, kalau gitu aku duluan ya. Teman teman yang lain pasti udah pada nunggu di rumah. Bye ril, jumpa besok,"


Aku memandang kepergian Kak Daniel dengan hembusan nafas lega. Sungguh tak pernah terpikir olehku bahwa aku begitu konyol dengan menyembunyikan status baruku dari teman teman yang lain. Bahkan Nana pun tidak mengetahui status baruku ini.


Aku baru tersadar saat Erlang melepas rangkulannya dan pergi begitu saja meninggal 'kan ku dengan kantong kresek yang penuh dengan bahan dapur.


"Gak gantle banget sih!" Cibirku dengan terpaksa mengangkut semuanya sendiri kedalam mobil.


Bug


Duduk di kursi sampingnya, hening menyapa dan mobil tak bergerak sedekitpun. "Kenapa tidak jalan?" Tanyaku tanpa meliriknya yang bergeming di tempat.


"Aku tidak akan melarangmu untuk mencintai siapapun, karna aku juga mencintai wanita lain. Tapi satu yang harus kamu ingat! Aku tidak ingin ada kata perceraian dalam rumah tangga ini. Karna bagiku, menikah hanya sekali seumur hidup. Aku sangat sangat berterima kasih karna kamu mau membantuku untuk mencari wanita yang aku cintai itu. Tapi, jika kamu memanfaatkan wanita itu agar bisa bercerai denganku, maka usahamu akan sia sia, karena itu tidak akan berhasil. Aku tidak akan pernah menceraikanmu!" Lugasnya panjang lebar.


Aku menatapnya dengan mata berkedip kedip lucu. Ini dia lagi ngomongin apa sih? Siapa juga yang mau cerai sama dia? "Benarkah? Apa kamu yakin tidak akan goyah setelah aku berhasil menemukannya? Yakin kamu tidak akan berpaling dariku setelah bertemu cintamu itu?" Sinisku.


"Cinta? Heh. Aku tidak yakin kamu bisa bertahan saat racun itu sudah masuk kedalam lubuk hatimu!"


Bug


Entah emosi apa yang menyelimuti perasaanku, sehingga membuatku segera keluar dari mobil dan berjalan tak tentu arah di jalanan yang mulai sepi.


Aku mengambil duduk di sebuah halte sambil memandang lurus kedepan dengan pandangan kosong. Ada apa denganku? Aku tidak pernah terbawa emosi seperti ini. Selama ini aku selalu bisa mengendalikan perasaan ku dari setiap masalah yang aku hadapi. Tapi kenapa dengan Erlang aku tidak bisa mengendalikannya?


"Tolong..."


Aku menoleh cepat kesamping saat sayup sayup mendengar seseorang minta tolong.


"Tolongggg..." kali ini pendengaran ku tidak salah. Dari jarak 300 meter kedepan, aku melihat seorang wanita tengah berlari kencang. Di belakangnya hampir sepuluh orang preman mengejarnya.


Aku bangun dari dudukku dan berlari menghampiri mereka yang menghilang di balik gang sempit di sana.


"Hiks hiks ja-jangan mendekat!! Hiks hiks Aku bilang jangan mendekatttt!!!" Teriak Seorang wanita berjongkok sambil menutup wajahnya takut.


"Tenanglah... kami akan melakukannya dengan lembut..." ujar si pria dengan seringai menjijikkannya.


"Ja-jangan hiks..."


"Hehee kemarilah sayang..."


Bug


Brukh


"Shit!! Siapa yang berani menendangku ha?!" Teriak pria itu memandang murka pada teman temannya yang lain.


"Wah wah wah... nampaknya hari ini kita sangat beruntung. Bertemu dengan dua orang wanita cantik yang datang untuk dinikmati," decak pria yang satu memandangi tubuhku dengan fantasi liarnya.


Aku masih bersikap tenang saat salah seorang dari mereka berjalan mendekat dan berniat ingin menyentuhku.


Krak


Bug


Brukh


Semua orang meringis ngilu melihat teman mereka yang terkapar menyedihkan di aspal penuh debu. Pandangan mereka beralih padaku dengan mata murka.


"Beraninya lo! Gue bakal bikin lo menderita karna sudah menghajar abang gue!" Geram yang paling muda berlari kearahku dengan tangan mengepal bersiap melepas tinju.


Tak


Bug bug


Brukh


Sekali lagi. Pria itu terkapar di samping abangnya yang mulai bangun dari aspal mencoba membantu adiknya bangun.


"Tangkap dan bunuh dia!!" Seru si abang tadi murka. Masih bersikap tenang, aku menatap semuanya yang maju bersamaan untuk menghajarku.


Bug bug bug


Aku menangkis dan membalas setiap serangan yang datang secara bertubi, membuatku sungguh kewalahan karna jumlah mereka yang terlalu banyak.


Bug


Menendang yang satu, nafasku tersendat sendat karna kelelahan. Dan saat aku berbalik, sebuah serangan tak terduga menghampiriku, membuatku terpaku diam saat merasakan sebuah de javu.


Tak


Sebelum pukulan itu menghantam wajahku, seseorang lebih dulu menahannya dan mendorongnya pelan menjauh. "Jangan sentuh wanitaku!"


Jangan sentuh wanitaku!


Aku mencengkram erat kepalaku saat sebuah memori tiba tiba masuk mengisi indra pikiranku satu persatu.


Bug bug bug


Seorang pria terlihat sedang berkelahi dengan sengit melawan orang orang bertubuh kekar yang jumlahnya tidak bisa di bilang sedikit.


Seorang wanita yang terikat di sebuah kursi hanya bisa menonton perkelahian itu dan berusaha melepaskan ikatan di kaki dan juga tangannya.


Wanita itu terpaku diam saat sebuah kepalan tangan melayang kearahnya.


Bug


Pria dengan wajah samar, dengan cepat menahan tangan itu dan mendorongnya pelan menjauh. "Hosh hosh jangan. Hosh Sentuh. Hosh hosh wanitaku!"


Kembali kedunia nyata. Tubuhku seketika bergetar hebat saat melihat serpihan memori itu. Aku tidak dapat mengingat pasti, siapa dan di mana saat itu terjadi. Wajahnya samar, aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Yang aku ingat hanya dia yang telah menyelamatkan ku dari bahaya.


"Aril kamu gak apa apa?" Kesadaran ku perlahan pulih seiring tepukan di bahuku. Aku menoleh padanya, wanita dengan kaca mata bulat itu menatapku khawatir.


"Ririn?"