
Ting
Bunyi notifikasi tanda pesan masuk terdengar. Aku yang sedang berbaring di atas kasur pun segera meraih benda pipih tersebut dari atas nakas.
"Pesan dari kak Damar?" Gumamku bertanya tanya. Karena penasaran akupun segera membuka pesan tersebut yang menampilkan satu buah Vidio dan satu pesan.
Itu rekaman cctv yang kamu inginkan waktu itu. Maaf kakak baru bisa ngirim sekarang, soalnya kerjaan kakak banyak banget jadi baru sempet cariinnya.
From: Damar Raharja
Wusshh
Seketika itu juga aku bangkit tak percaya. Jadi kak Damar berhasil mendapatkan rekaman cctv itu?
Tak menunggu lama, aku segera mencari laptopku lalu menyalin Vidio tersebut untuk di tayangkan secara leluasa.
Dari dalam rekaman terlihat jelas gadis berhodie navy itu berlari menyusuri koridor hotel. Tak lama setelah menghilang itu, tiba tiba seorang pria berlari memasuki lift dengan menggendong seorang wanita bergaun hijau botol. Setelah pintu lift tertutup, gadis berhodie tadi datang namun terlambat masuk. Dengan terburu buru gadis itu berlari menuju tangga darurat dan menghilang. Rekamannya habis setelah gadis berhodie itu memasuki tangga darurat.
"Wajahnya terlihat tidak asing? Coba kita buat sketsanya." Kali ini aku tidak melakukannya untuk Erlang, melainkan rasa penasaranku sendiri akan siluet wajah gadis itu yang terlihat tidak asing karena dalam rekaman gadis itu menggunakan masker.
Butuh waktu berjam-jam bagiku untuk menggambar sketsa sembari mencocokkan garis garis kemungkinan yang cocok untuk wajah gadis itu.
Sampai pada akhirnya...
Klak
Begitu aku menekan most laptop seketika itu juga aku mematung. Wajah ini... gak mungkin bukan?
Aku menekan berkali kali most berharap sketsa yang aku buat salah, namun nyatanya itu benar. Aku–
Di malam hari yang gelap, seorang gadis berhodie navy tengah duduk di bawah pohon yang ada di taman hotel sembari menunggu kakaknya keluar. Gadis yang tak lain adalah April saat remaja itu terlihat berkomat kamit menyanyikan sebuah lagu berjudul. "Don't watch me cry"
Mencoba mengusir kesunyian, April terus bernyanyi sampai pada akhirnya berhenti saat April merasakan firasat buruk mulai menghantuinya. Karena takut terjadi hal buruk pada kakaknya, April memutuskan untuk masuk kedalam pesta yang diselenggarakan oleh pemilik perusahaan tempat kakaknya bekerja.
Dan benar saja. Tepat saat April menginjakkan kakinya kedalam pesta, terlihat dari jauh Army dibawa oleh seorang pria asing masuk kedalam lift. Karena takut terjadi apa apa, April segera berlari menyusul menggunakan lift yang satunya. Tepat saat berada di lantai tujuh, April melihat pria itu membawa masuk kakaknya kedalam salah satu penginapan hotel yang membuat April berlari sekencangnya untuk mencapai pintu sebelum dikunci.
Brak
"Apa yang ingin kau lakukan pada kakakku?!!" Teriak April mengejutkan Brian pria yang membawa Army.
"Kakak...?" Lirih April menatap sendu kakaknya yang tak sadarkan diri di atas kasur king size. Beralih pada Brian, tatapan April seketika menajam.
Tak memperdulikan Brian, April segera melangkah mendekati Army untuk membawanya pulang. Namun, saat sudah hampir mencapai kakaknya, tiba tiba saja dari samping Brian dengan keras mendorong tubuh April hingga jatuh membentur sofa kecil di depan kasur.
"Berhenti!" Seru April dihiraukan Brian yang terus berlari sambil membawa Army menuju lift. Melihat hal itu April semakin melajukan larinya agar tidak tertinggal. Sayangnya, tepat saat dia mencapai lift, pintu itu tertutup. Dan yang terakhir kali April lihat adalah senyum puas Brian.
"Brengsek!!" Umpat April segera berlari menuju tangga darurat. Tanpa memperdulikan kakinya yang memar, saat ini yang paling utama adalah keselamatan kakaknya.
Brak
April mendorong kasar pintu dan ekor matanya seketika menangkap sosok Brian yang sudah berjalan menuju pintu keluar.
"Ya!! Kembalikan kakakku!!" Teriak April membuat Brian menoleh kebelakang dan langsung berlari. Melihat itu April segera berlari kencang mengejar mereka yang telah keluar dari hotel.
"Awasss!!" Seru April saat melihat seorang pria berdiri di depan pintu hotel hingga membuatnya yang tidak dapat menghentikan langkahpun tak bisa terelakkan untuk jatuh menimpa tubuh pria asing tersebut.
Brukh
Cup
April membulatkan matanya sempurna saat merasakan benda kenyal itu dari balik maskernya. Matanya sejenak bersitatap dengan pria asing tersebut sampai April sadar kalau saat ini kakaknya dalam bahaya. Berdecak sebal, April segera melapaskan sepatu ketsnya dan melemparkan itu pada Brian dan tepat sasaran.
Melihat Brian yang lengah, April segera bangkit dan menghampiri mereka. Tanpa babibu lagi, April langsung melayangkan tonjokan keras kerahang tegas Brian membuatnya jatuh tersungkur.
Tak sampai di sana, April terus memberikan pukulan tanpa ampun miliknya hingga membuat Brian terkapar tak berdaya. Melihat ada keributan, para satpam pun segera melerai dan membawa tubuh Brian kerumah sakit mengingat kondisi pria itu yang begitu mengenaskan.
Brukh
"Akhhh!" Aku seketika jatuh tersungkur dari atas kursi saat bayangan memori itu masuk tanpa permisi membayang dalam ingatanku.
Aku menatap takut sketsa wajahku dari layar laptop. Sungguh ini sangat tidak terduga, aku bahkan tidak ingat apa apa mengenai hal itu. Dan sekarang.. apa yang harus aku lakukan jika wanita yang Erlang cari selama ini adalah aku?
Tak menunggu waktu lama, aku segera bangkit dan berlari keluar dari kamar dengan perasaan takut. Dan saat aku dekat dengan pintu tiba tiba saja pintu itu terbuka, membuatku yang berlari tak dapat menahan langkah sehingga menabrak tubuh itu hingga terjatuh menimpanya.
Brukh
Cup
Seketika itu juga aku membulatkan mataku menatap manik mata coklat itu yang kini juga sama kagetnya denganku. Erlang. Pria itu....?
Tersadar. Aku segera bangun dari tubuh Erlang penuh dengan perasaan canggung. Teringat kembali kejadian beberapa tahun silam yang sama persis seperti ini tapi beda cerita.
"Aril kamu..?" Melihat Erlang yang menatapku tak percaya, aku segera bangun dan berlari kencang meninggalkan Erlang yang masih terpaku di tempat.
Tolonglah... sekarang apa yang harus aku perbuat?!!!