Melody

Melody
Pindahan



"Tenang bun, Aril bakal sering sering kok ngunjungin bunda. Jangan sedih gini ya bun," bujukku. Bunda begitu tau aku dan Erlang ingin pindah, langsung saja merengek tidak ingin berpisah, dan mau tidak mau akulah yang harus menenangkannya, sedang 'kan si suami duduk tenang menungguku mengucapkan salam perpisahan.


"Kenapa harus pindah sih? Aril udah gak sayang lagi sama bunda?" Rajuk Bunda membuatku menggaruk kepala bingung.


"Eh enggak gitu bun. Aril sayang kok sama bunda, tapi sebagai istri Aril cuma bisa ngikut apa kata suami. Emm-- Ma-mas Erlang pe-pengen pindah ke-ke apartemen," jawabku kikuk, apalagi waktu memanggil Erlang dengan sebutan mas, entah mengapa membuatku geli.


"Dasar anak durhaka! Ngapain pake pindah segala sih?! Kamu sengaja ya mau misahin bunda sama mantu bunda?! Iya!" Kini Bunda berjalan menghampiri Erlang dan menjewernya, membuatku meringis ngeri.


"Awh awh sakit bun.. lepasin bun sakit beneran ini!" Teriak Erlang terlihat seperti... hihii imut juga dia kalo lagi mohon gitu.


"Biarin! Biar tahu rasa! Berani beraninya kamu mau misahin bunda sama mantu bunda!" Omel Bunda sedikit demi sedikit mulai melepaskan jewerannya.


"Erlang gak ada niat misahin kok bun. Kita pindah itu biar bisa punya waktu berdua, harap harap bonusnya juga dapat. Siapa tahu bunda bakal cepet punya cucu," jelas Erlang acuh tak acuh sambil mengusap kupingnya yang memerah.


Aku melotot tajam yang justru disambut wajah cueknya. "Beneran? Kalau begitu bunda setuju kalian pindah. Tapi kalau ingin berkunjung kesini cucunya harus udah ada," aku semakin melongo saat Bunda dengan mudah menyetujuinya. Pria ini benar benar pandai mencari alasan.


"Ya-ya sudah, ka-kalau gitu. A-aril pergi packing baju dulu." Aku segera beranjak pergi menuju lantai tiga, meninggal 'kan sepasang ibu dan anak itu di sana. Terlalu pusing memikirkan kelakuan mereka yang aneh.


Cklek


Pintu terdengar dibuka saat aku sedang sibuk memasukkan baju baju punyaku maupun punya Erlang kedalam koper. Pria yang telah resmi menjadi suamiku itu kini membaringkan tubuhnya di kasur sembari memainkan layar gawainya.


Aku mengangkat bahu cuek dan kembali mengemas baju. Setelah selesai, aku menarik dua koper itu keluar dari Walking closet sesekali melirik Erlang yang nampak fokus pada ponselnya.


Setelah selesai mengemas, aku berjalan kearah kasur dan mengambil laptop yang terletak di atas nakas. Mungkin pergerakan ku mengganggu konsentrasi Erlang, sehingga pria itu mulai duduk di sampingku melirik penasaran kearah layar laptop.


"Kamu sedang apa?" Tanyanya penasaran.


Melirik sekilas, "aku sedang membuat sketsa wajah wanita itu. Aku masih mencoba mencocokkan bentuk wajahnya apakah sesuai dengan wanita itu ataukah tidak. Itu tergantung padamu nanti." Jawabku fokus membentuk bentuk sketsanya di layar laptop.


Kok aku merasa ada yang aneh. Tumben Erlang tidak heboh? Biasanya jika menyangkut tentang wanita pujaannya, dia selalu antusias. Karna penasaran akupun meliriknya.


Deg


"Matamu..."


Aku segera mengalihkan pandangan saat melihat Erlang terlihat begitu intens menatap mataku. "Kenapa dengan mataku?" Tanya ku berusaha cuek dan menyibukkan diri agar perasaan aneh ini hilang. Tapi bukannya hilang, aku semakin merasa jantungku semakin berpompa begitu cepat. Apa aku punya penyakit jantung?


"Ah? Tidak ada." Aku mengangkat bahu cuek. Menutup laptop dan meletakkan kedalam tasnya.


"Kita jadi pindah bukan?" Tanyaku.


"Jadi. Ayo!"


Aku dan Erlang segera keluar dari kamar membawa koper masing masing. Berpamitan sebentar dengan Bunda, kamipun akhirnya melaju pergi menuju gedung apartemen yang ditinggali Erlang kini.


"Ini kamarmu. Kamarku ada di atas jika kamu butuh sesuatu." Aku melirik Erlang dan pintu kamar secara bergantian.


"Kita tidak tinggal sekamar?" Tanyaku.


"Emang kamu mau tinggal sekamar?"


"Tidak juga," jawabku cuek. Menarik koper masuk kedalam kamar dan menguncinya dari dalam.


Aku memandang seluruh isi kamar ini sedikit kagum. Kamar ini sangat luas untuk ku huni sendirian. Kasur king size, sofa, *wa*lking closet, kamar mandi, dan masih banyak lagi barang di sana yang tentunya cukup berguna untukku.


Aku menarik koper dan menyusun baju bajuku di dalam lemari. Cukup terkejut saat aku membuka lemari, begitu banyak baju muslim tergantung di sana.


"Apa Erlang yang menyiapkannya?" Gumamku memilih cuek dan segera memasukkan baju baju milikku kedalam lemari.


Setelah selesai, aku segera membersihkan diri dan duduk di kasur sembari menatap sketsa wajah wanita pujaan suamiku.


"Sudah sejauh ini, kenapa aku masih merasa tidak asing dengan mata ini ya?" Aku memicingkan mata menatap lekat lekat manik mata hitam wanita itu yang terasa familiar.


"Tapi di mana aku pernah melihatnya?"