
Setelah Uma keluar, perias kembali masuk kedalam kamar untuk merias kembali make up yang luntur akibat tangisan ku yang tak dapat dibendung lagi.
" Huhuu gue ikutan nangis Li. " Aku melirik kedua sahabat ku yang memang ikut menangis melihat diriku bersama Uma tadi.
" Gitu aja nangis, cengeng lo! " ejekku.
" Kita itu bukan cengeng! Tapi terharu. Tolong ingat garis bawahi. TER-HA-RU! " ucap Hasna.
" Oke! Garis bawahi CE-NGENG!! " godaku.
" Terserah lo deh! Yang penting lo bahagia, meski hati ini yang harus terluka. " tutur Hasna hiperbola. Lebay akut.
" Oke, berhubung penghulunya sudah tiba. Acara akad sudah bisa dimulai. Diharap wali dari mempelai wanita, para saksi dan mempelai pria duduk di tempatnya masing masing. Karna sebentar lagi kita akan memulai akad nikah."
Suara MC di luar sana tiba tiba membuatku gugup setengah mati. Gini ya rasanya saat detik detik pengucapan janji suci akan dilakukan? Gugup, gelisah, cemas, takut, dan berharap bercampur menjadi satu.
Pantesan waktu Kak Armi mau nikah dulu juga sampai keluar keringat dingin, ternyata gini ya rasanya? Menyesal aku mengatakan Kak Armi lebay waktu itu. Karna rasanya emang gak enak!
" Make up 'nya udah selesai mbak. Kalau begitu saya keluar dulu ya. " Perias itu pamit undur diri setelah selesai membenarkan riasan wajahku.
" Makasih ya mbak, " ucap Sasa tersenyum ramah, dan disambut senyum ramah juga.
" Girls! Gue gugup banget, saking gugupnya gue jadi pengen pipis! " cicitku meremas gaun pengantin yang ku pakai dengan tangan gemetar dingin.
" Udah tahan aja dulu! Bentar lagi lo bakal dibawa keluar setelah suami lo selesai ijab kobul. " ujar Hasna tak ada akhlak.
" Tenang Li. Tarik nafas, lalu buang! " aku menuruti instruksi dari Sasa dengan mengambil dalam lalu membuatnya secara perlahan.
" Berzikirlah, biar lo bisa tenang. Karna detik detik seperti ini, setan akan selalu berupaya menyesatkan umat muslim kita agar tidak bisa melakukan sunah rasul. Apalagi pernikahan yang merupakan ladang ibadah. " tuturnya lembut.
Aku mengangguk patuh, memejamkan mata dan mulai berzikir. Tenang. Instruksi dari Sasa benar benar berhasil menghilangkan kegugupanku.
Tok tok tok
" April, bunda masuk ya! "
" Masuk aja, pintunya gak dikunci. " seruku membuka mata cepat. Wanita paruh baya itu masuk dengan senyum cerah menghiasi bibir merahnya.
" Selamat ya sayang, mulai sekarang kamu adalah bagian dari keluarga Bagaskara. Bunda senang sekali, akhirnya April jadi menantu Bunda. " suasana kembali mengharu biru saat Bunda memeluk tubuhku erat.
" April juga senang bisa jadi menantu Bunda. " Jawabku sebagian benar, sebagian lagi tidak. Benar aku senang menjadi menantu Bunda yang begitu baik padaku. Tapi, bagian tidaknya adalah karna aku awalnya tidak ingin menikah sebelum lulus kuliah, justru kini harus menikah di usia muda.
" Ya udah, ayo kita keluar. Semua orang udah pada nunggu. " Bunda mengulurkan tangannya menggiringku keluar dari dalam kamar.
di sampingku ada Sasa, sedangkan di belakangku ada Hasna yang membantuku memegangi gaun yang melambai lambai di atas lantai.
Dari kejauhan, semua orang memusatkan pandangannya kepadaku. Hanya satu orang yang tidak, dan itu adalah suami ku sendiri. Apa segitu tidak inginnya dia melihatku? Aku tahu dia menikahi ku hanya karna permintaan Bunda, aku pun juga begitu. Tapi, gak segitunya juga kali.
Aku perlahan duduk di samping suamiku di bantu Sasa dan Hasna, setelahnya mereka pergi bergabung dengan rombongan alumni Sd dan Smp kami.
Rasa penasaran membuatku melirik sedikit wajah suamiku. Namun, seketika aku terjungkal kebelakang saking kagetnya saat mengetahui siapa orang itu.
" Ka-kau!! " tunjukku dengan wajah tak percaya. Dia menoleh kepadaku, tersenyum manis dengan seringai tipis.
" Hai, istriku! " sapanya membuatku semakin kaget dan tak percaya. Aku menggeleng pelan dengan mata mengerjap, berharap ini hanya mimpi.
" Kenapa kau ada di sini? Kemana suami ku? " cecarku masih tidak menerima jika dia adalah orang yang selama ini aku cari.
" Suami? Aku lah suamimu! "
Aku menghela nafas gusar, memijat keningku pusing. Aku mendelik tajam padanya yang bersikap begitu tenang. Sekarang aku mengerti alasan dia ngotot ingin menikah denganku. Dan kejadian tempo lalu... astaga malunya aku! Aku begitu membanggakan calon suamiku, padahal orang menyebalkan yang ada di hadapanmu saat itu adalah orang yang kau banggakan itu.
" Dunia begitu sempit! " dengusku kembali duduk tenang menghadap penghulu. Namun, jika setiap orang yang menikah akan berwajah ceria, aku justru memasang wajah datar.
" Silahkan tanda tangan--- "
Belum sempat penghulu itu menyelesaikan kalimatnya, aku lebih dulu menyambat pulpen di tangan beliau dan memberikan tanda tanganku di buku nikah itu. Ketahui lah, aku masih sangat kesal saat mengetahui pria bayangan itu adalah Erlang Bagaskara.
Apa selama ini dia mempermainkan ku? Kenapa tidak dari awal saja mengaku bahwa dia adalah calon suami ku, setidaknya aku tidak akan sekesal ini menikah dengannya.
" Silahkan mempelai wanita memasangkan cincin ke jari manis mempelai pria! " tutur Penghulu.
" Baiklah, silahkan mempelai wanita mencium tangan mempelai pria. " Aku diam mengambil tangannya dan menciumnya khitmat.
" Mempelai pria, silahkan mencium kening mempelai wanita! "
Deg deg deg
Jantung ku berdegub dengan kencang saat mendengar mencium di kening. Sumpah demi apa?!
Cup
Mataku berubah kosong. Serpihan memori tiba tiba memasuki inti pikiranku, membuat kepalaku terasa pusing.
*Cup
" Astagfirullah! Demi apa Kakak ganteng nyium aku?! Omg hellow!! Kakak ganteng harus nikahin aku! Gak mau tahu pokoknya harus nikah sama aku! "
" Apaan sih? Orang gak sengaja juga*! "
Aku mencengkram kuat hijabku sambil memejamkan mata menyerap sakit akibat serpihan memori yang menguak terlalu paksa.
" April "
" Aril "
" Lia!! "
Semua orang berteriak heboh melihatku yang lemas, untungnya si Erlang masih punya hati menahan tubuhku agar tidak terjatuh.
" Aril kamu gak apa apa nak? " tanya Uma berjalan mendekat, di ikuti Kak Armi dan Kak Rahmah, serta Bunda.
" Dek, kamu gak apa apa? " Kini giliran Kak Wardi yang khawatir, posisi kami cukup dekat karna dia dan Kak Danar yang menjadi saksi.
" Aril gak apa apa kok, cuma agak pusing sedikit. " jawabku tersenyum kecut. Kenapa percakapan singkat itu tiba tiba ada? Kakak ganteng? Siapa dia?
" Ya elah Li, dicium aja lo udah lemes gimana mau malam pertama nanti?! " seru Arka si biang rusuh tak tahu malu.
" Huuuuu "
" Dasar mesum!! " sorak orang orang.
" Psstt. Heh, lo gak punya penyakit bawaan kan? " bisik Erlang di telingaku. Aku meliriknya malas.
Bugh
" Sembarangan!! Emang kamu mau sama wanita penyakitan? " tanyaku balik.
" Ya enggak lah! "
" Nah itu! Kalo aku penyakitan, kita gak bakal jadi suami istri gini! " ketusku kembali duduk tegap agar tidak selalu bersandar di punggung pria itu.
" Aduh abang! Bisikin apa sih sampe istrinya langsung kuat gitu? Bisikin pelan pelan ya nanti malam? " seru Arka kembali.
" Arka mesum diam gak lo! " ancam Vina.
" Iya! Malu maluin aja! " timpal Erin.
" Alah, dia mah emang bawaan dari lahir malu maluin. Orang kalo lahir nangisnya 'oek oek' dia nangisnya malah 'ah ah' " ujar Budi.
" Sama aja lu! "
" Kitakan satu prekuensi, ya gak bro? "
" Yoi " Budi dan Arka bertos ria.
" Ngomong sekali lagi gue penggal lo hidup hidup! " ancamku menunjuk wajah mereka satu satu.
" Ampun Li "