
"Eh eh itu orangnya..."
"Iya iya."
"Jadi ternyata emang terbukti ya kalau kelakuannya gak sebaik luarnya,"
"Iya. Cantik tapi kok doyannya jadi pelakor,"
Bagaikan seorang artis, begitu banyak pasang mata menatapku dengan pandangan beragam. Aku berjalan tanpa menghiraukan mereka, sudah terbiasa memang.
Tap
Busss
"Hahahaaa...!!"
Oke. Hari ini benar benar ada yang gak beres. Sekarang lihat? Tubuhku penuh dengan tepung, dan itu menjadi bahan tertawaan orang orang yang melihatnya.
Aku diam melirik ke kelas lalu pergi dari sana menuju toilet untuk membersihkan diri. Benar benar gak ada kerjaan sekali mereka itu.
"Eh, lo udah denger gosip tentang si April gebetannya kak Daniel itu gak?" Saat sedang berada di dalam salah satu toilet, samar samar aku mendengar mahasiswi lain tengah menyebut nyebut namaku di sana.
"Eh iya iya denger. Gak nyangka ya, ternyata selain sok cakep, kerjaannya juga godain suami orang."
"Iya. Kesel banget tau gak. Nih ya, gue denger pengusaha yang nyium tangannya waktu di resto itu Erlang Bagaskara. Gue denger juga nih, dia baru sebulan lalu menikah, tapi gak tau deh gimana wajah istrinya, soalnya kayak ditutup tutupin gitu."
"Kasihan ya istrinya, dia pasti sakit hati banget lihat suaminya selingkuh. Si April itu juga! Gak tahu malu banget, doyan kok ngambil suami orang."
"Iya. Ya udah yuk ah, bentar lagi kelas bakal mulai."
"Yuk!"
ERLANG BAGASKARA!!!!
"Kali ini apa lagi....?" Kesal sendiri aku setelah tau penyebab semua orang seperti memojokkanku. Ternyata foto waktu Erlang mencium tanganku di resto waktu itu sudah tersebar. Pasti ada yang sengaja foto dan nyebarin beritanya.
"Lagian aku istrinya, siapa yang kalian kasihani!!" Gerutuku memutuskan untuk beranjak pergi, tapi kali ini aku benar benar malas masuk kelas. Sekali kali bolos juga gak apa apalah.
Cklek
Bolosku kali ini lebih memilih untuk pergi ke rooftop kampus. Bangunan tinggi ini cukup bagiku untuk menenangkan diri dari semua yang tengah menyudutkanku. Aku sebenarnya tidak perduli sama mereka, hanya saja entah mengapa sejak bertemu Erlang reputasiku di kampus sepertinya memang sangat buruk.
Menikmati semilir angin yang menerpa, aku memilih mendengarkan lagu untuk membuat otakku sedikit tenang dan lupa dengan apa yang ada sekarang.
Love is gone - Dylan Matthew
Don't go to night
Stay here one more time
Remind me what it's like
And let's fall in love, one more time
I need you now, by my side
It tears me up, when you turn me down
I'm begging please, just stick around
I'm sorry, don't leave me
I want you here with me
I know that your love is gone
I can't breathe, i'm so weak
I now this isn't easy
Don't tell me that your love is gone
***
Semilir suara yang masuk dari jendela yang terbuka menghentikan tangan Erlang untuk bekerja. Alunan merdu itu benar benar menyita perhatiannya untuk berjalan mendekat dan mendengarkan suara lembut seseorang yang datang bersama angin menyambutnya.
Don't tell me that your love is gone
I can't breathe, i'm so weak
I now this isn't easy
Don't tell me that your love is gone
Erlang membuka matanya perlahan setelah lagu itu berakhir. Ditatapnya lamat lamat hamparan luas bangunan kota yang menjulang dari atas tempatnya berada.
"Suara ini..."
Di malam yang gelap, nampak seorang pemuda tengah berlari menggunakan baju olahraganya. Di dalam kegelapan dia terus berlari, dan berlari hingga pada akhirnya memutuskan untuk beristirahat.
Kreet
Pemuda yang tak lain adalah Erlang itupun mengambil duduk di salah satu bangku yang ada di pinggir jalan sambil menegak air minum yang ia bawa bersamaan.
🎶 I'm not crying 'cause you
left me on my own 🎶
🎶 I'm not crying 'cause you
left me with no warning 🎶
Erlang terdiam lalu secara perlahan menoleh pada sumber suara yang terdengar sangat halus didengar. Suaranya benar benar merdu, membuat kaki Erlang seakan terhipnotis untuk mencari sumbernya.
🎶 I'm just crying 'cause i can't
Escape what could've been 🎶
🎶 Are you aware when you
set me free 🎶
🎶 All i can do is let my
Heart bleed 🎶
Tap
Erlang menghentikan langkahnya seiring lagu itu telah berakhir. Berdiri tepat di depan sebuah hotel sederhana, Erlang yang terlanjur penasaran mencoba untuk melangkah memasuki hotel tersebut.
"Minggir!!" Terkejut sedikit saat tangannya baru di pintu, tiba tiba seseorang lebih dulu keluar sambil menggendong seorang wanita yang tengah tak sadarkan diri. Melihat itu Erlang hanya menggeleng heran. Dan saat berbalik badan...
"Awass!!"
Brukh
Cup
Sebuah ciuman tak terduga dan tak sempat terelakkan untuk Erlang saat seorang wanita tak sengaja menabraknya hingga mau tidak mau mereka jatuh bersamaan ke lantai.
Bagai adegan slow motion Erlang bersitatap dengan sepasang mata yang begitu indah, apalagi saat sinar lampu menyinarinya dari atas, membuat Erlang seperti sedang dijatuhi seorang bidadari.
Sedetik kemudian, hal tak terduga terjadi. Wanita itu berdecak sebal dan langsung melepaskan sepatunya lalu melemparnya hingga terdengar suara mengaduh dari belakang.
"Entah mengapa aku yakin dia adalah pemilik suara itu. Kalau iya... apa dia ada di sekitar sini?" Gumam Erlang cepat cepat berlari keluar.
***
Puas sudah rasanya aku bernyanyi, aku memilih untuk segera beranjak karena sudah terlalu lama di sana, takutnya masuk angin karena anginnya cukup kuat.
"Aril kamu dari mana aja?!" Sambar Kak Daniel tiba tiba muncul saat aku baru turun dari rooftop.
"Rooftop,"
"Udah, kita gak ada waktu. Nana lagi nangis nangis tuh karena si Arkan masuk uks gara gara berantem sama anak jurusan lain," jelas Kak Daniel secepat kilat.
"Ayo!" Tanpa basa basi aku segera berlari menuju ruang uks. Tempat di mana Kak Daniel mengatakan Nana menangis karena Arkan yang sedang sakit.