Melody

Melody
Sasa dan Hasna



Aku duduk didepan cermin dengan perasaan gugup. Hari ini adalah hari bersejarah bagiku, dimana beberapa jam lagi aku akan melepas masa lajangku.


Ku tatap lamat lamat wajah yang biasanya polos tanpa make up, kini bersinar cantik dengan riasan yang di lakukan perias terkenal yang Bunda bawa. Tak lupa aku memakai kebaya putih rancangan Tante Icha yang membuatku semakin terlihat cantik.


Cklek


" LIAAA " aku memutar pandanganku kearah pintu dan seketika tersenyum lebar saat melihat dua sahabat tercintaku masuk kedalam kamar.


" Sasa!! Hasna!! " teriakku girang. Mereka adalah sahabatku sejak duduk dibangku sekolah dasar, semua yang terjadi padaku mereka selalu tahu. Dan sekarang, mereka bela belain ninggalin kuliah mereka hanya untuk menghadiri acara pernikahanku.


" Ya ampun.. gue gak nyangka ternyata si bontet bakal ngelangkahin kita beb! " ujar Hasna begitu heboh.


" Kalo gue bontet, berarti lo kurcaci dong? Secara lo lebih endek dari gue! " balasku tak terima di katakan bontet sama mereka. Wajar saja, karna dari mereka bertiga, aku yang paling muda.


" Cih! Dua senti doang apa 'nya yang kurcaci! " cibirnya membuatku mengulum senyum geli. Bersama mereka, tidak ada namanya April yang dingin, hanya ada Lia yang ceria.


" Selamat ya Lia, gue gak nyangka lo bakal nikah secepat ini. Apalagi waktu lihat calon suami kamu, sumpah ganteng abis! " Kini giliran Sasa yang angkat bicara. Si wanita kalem berhijab yang juga akan bertingkah cerewet jika sudah berkumpul kami berdua.


" Oh ya? Ganteng banget ya? " tanyaku penasaran. Seganteng apa emangnya si Erlang itu sampai sampai si Sasa yang jarang bahas cowok ganteng, bilang kalo calon suamiku ganteng.


" Iya Li. Sumpah, kaya oppa oppa korea! " jawab Hasna antusias. Duh, kok aku tambah gugup gini ya?


" Emang kamu gak ada lihat calon suami kamu? " tanya Sasa duduk di bibir kasur sambil membolak balik koleksi buku novelku yang kutaruh diatas meja belajar.


" Enggak "


" Enggak? Trus gimana caranya kalian bisa nikah? " Hasna menarik kursi duduk disampingku siap mendengarkan cerita dariku. Nampak Sasa 'pun berjalan lalu duduk satu bangku dengan Hasna ingin mendengar juga.


" Ta'aruf terus nikah " jawabku singkat.


" Bukannya kalo ta'aruf itu proses pengenalan diri ya? Pastinya pernah ketemu dong buat saling mengenal satu sama lain. " ujar Sasa.


" Iya deh iya, percaya kok percaya. "


" Eh tapi Li, gue masih gak nyangka lo udah mau jadi istri orang aja. Hasna yang umurnya udah 20 aja belum nikah nikah. " tutur Sasa masih belum percaya.


" Kok gue di bawa bawa? Gue itu bukannya gak mau nikah, tapi gue itu lagi pengen fokus kuliah dulu, nikah itu urusan belakangan. " ujar Hasna.


" Iyalah mau jadi istri orang, ya kali jadi istri kalian mulu. " kekehku. Nyaman rasanya bersama mereka, sayangnya kami harus berpisah ketiga kota yang berbeda untuk menempuh pendidikan masing masing.


Tok tok tok


" Aril, Uma masuk ya? "


" Masuk aja ma! Pintunya gak di kunci kok! " seruku saat mendengar ketukan pintu dari luar pintu kamar. Perlahan pintu di buka, menampilkan wanita paruh baya kesayanganku masuk mendekatiku.


" Duduk tante! " Sasa dan Hasna segera bangkit mempersilahkan Uma untuk duduk. Uma tersenyum tipis lalu duduk dihadapanku, menggenggam erat kedua telapak tanganku yang dingin karna merasa gugup.


" Aril, sebentar lagi kamu akan menjadi istri orang. Tugas Uma dan Abah juga sebentar lagi akan berpindah tangan pada suamimu. Uma hanya ingin berpesan, jadilah istrinya yang baik. Turuti semua perkataan suamimu kelak, jangan melawan apalagi berani memarahinya. Karna sebentar lagi, surgamu yang kini ada ditelapak kaki Uma, akan berpindah pada telapak kaki suamimu. Ridho suamimu, adalah ridho Allah. Murkanya suamimu adalah murkanya Allah.


Jika ada masalah, selesaikan baik baik dengan kepala dingin. Dampingi selalu suamimu dikala susah maupun senang dengan hati ikhlas dunia akhirat. Sesungguhnya Allah menyukai umatnya yang ikhlas dan penyabar. Setelah ini, hidupmu yang sesungguhnya akan di mulai. Cobaan yang paling berat adalah setelah kita menikah, karna pernikahan adalah ladang pahala, dan iblis akan selalu memiliki caranya sendiri untuk menggoda umat muslim untuk berbuat dosa. " nasehat Uma panjang lebar.


" Iya ma. Makasih karna selama ini Uma udah rawat Aril. Maaf jika selama ini Aril suka bikin Uma marah, kesal, sedih. Aril sayang sama Uma... " aku memeluk Uma dengan air mata yang tidak dapat di bendung lagi. Sejatinya aku adalah wanita lemah yang tertutupi oleh topeng kuat. Fisik ku memang kuat, tapi tidak dengan perasaan.


" Udah jangan nangis, nanti make up 'nya luntur! " kata Uma padahal kini dia juga sama sedihnya denganku.


" Uma, izinin Aril cium kening Uma sama kaki Uma untuk pertama dan yang terakhir. Karna Aril gak mau menyesal dikemudian hari jika belum melakukannya. Allah menyuruh kita setidaknya sekali dalam seumur hidup mencium kening dan kaki orang tua kita. " pintaku perlahan mencium kening Uma, lalu beralih turun mencium kaki terhormat yang menjaga surga untuk anak anaknya.


" Uma maafkan kamu nak. Uma do'akan semoga rumah tanggamu sakinah mawadah warahmah. " aku semakin menangis saat Uma mengusap pucuk kepalaku.


" Aril sayang Uma... "