
Sejauh mata memandang, nampak satu orang yang dicari sudah berada di samping mobil. Tak ingin ketinggalan, aku berlari sekencang kencang untuk mendahului dia masuk ke mobil.
Bugh
"Hosh hosh hosh..." lari berkilo meter itu tidak mudah, nafasku saja sampai tersengal begini. Tapi untungnya aku tepat masuk bersamaan dengannya. Setidaknya aku tidak akan ditinggal.
Setelah dirasa pernafasanku kembali berjalan normal, akupun menoleh kesamping yang dimana Erlang menatapku dingin sekaligus aneh.
"Kamu berjanji akan menjemputku bukan? Ya sudah jalan, aku sedang lapar ingin segera pulang untuk memasak." Ucapku mencoba mencairkan suasana dingin dan canggung ini.
Tanpa ada jawaban, Erlang segera menyalakan mesin mobil lalu melesat pergi dari pekarangan kampus. Bukan Erlang sekali. Sungguh ngambek ya?
"Kamu ngambek?" Tanyaku sudah tak tahan dengan sikap diamnya. Setidaknya aku sekarang tahu, kalau dia diam berarti sedang merajuk.
Dia diam
"Beneran ngambek. Perlu dibujuk gak?" Tanyaku lagi.
Dia diam. Lagi
"Sepertinya memang harus..." sungguh, ternyata menghadapi orang dingin yang ngambek itu susah. Aku yang satu persatuan dengannya saja tidak tahu bagaimana membuatnya agar tidak terus menerus marah.
Ckitt
Mobil tiba tiba berhenti, wajah Erlang pun terlihat tidak bersahabat. Apa aku akan dimutilasi?
"Siapa lelaki yang berani memanggilmu honey.. sayang. Aaarrggghh!!" Beneran marah ternyata. Semua gara gara Alfino ini. Erlang jadi ngambekkan.
"Aku juga gak tahu siapa. Dia mahasiswa baru, Alfino namanya. Tadi aku gak sengaja lewat gudang, terus lihat Anton dia gebukin. Makanya aku tolong." Maafkan aku Erlang. Aku belum siap mengatakan yang sebenarnya. Ini persoalan rumit tentang masa laluku dengan Alfino.
Tapi ada satu hal yang membuatku penasaran. Alfino tidak mungkin datang kesini tanpa alasan. Apa mungkin dia sudah tau tentangku dengan keempat pria ini? Tapi siapa yang memberikan infonya ke luar negri? Apa selama ini ada mata mata yang mengikutiku?
"Siapa nama lengkapnya? Aku ingin mencari tahu asal usul pria itu. Siapa dia beraninya memanggil istri seorang Erlang Bagaskara dengan sebutan honey yang menjijikkan." Erlang nampak sekali marah dengan Alfino. Sungguh, masalahku semakin rumit saja dirasa.
"Aku gak tahu nama lengkapnya. Aku cuma tau nama depannya Alfino," aku bohong lagi. Dosa gak sih bohongin suami sendiri? Aku cuma takut, kalau Erlang mencari informasi tentang Alfino otomatis dia juga akan mengetahui masa lalu kami berdua. Nanti Erlang bakal tau dong aku berbohong. No! Itu tidak boleh terjadi.
"Kamu juga!" Aku kaget tiba tiba Erlang menunjukku dengan wajah kesalnya. Sekarang apa lagi salahku? "Kenapa banyak sekali lelaki yang ingin jadi pebinor di kampusmu? Apa mereka tidak tahu wanita yang mereka kejar ini adalah istri seorang tuan muda Erlang Bagaskara?!" Lanjutnya menggebu gebu.
"Hahaa it-itu..." aku mengusap tengkukku gugup. Ketahuan kan jadinya kalau selama ini aku menutupi pernikahan ini.
"Sungguh mereka tidak tahu?" Akupun menggeleng sebagai jawaban.
"Akan aku beritahu nanti." Ujar Erlang kembali melajukan mobil di jalan.
"Jangan!" Larangku tegas.
"Kenapa? Kamu suka mereka deketin kamu iya? Memangnya kamu tidak risih didekati tiga lelaki sekaligus? Apa salahnya mereka tahu kalau kamu istriku? Kamu malu memiliki suami sepertiku? Jawab April!" Aku mengerjap mendengar pertanyaan beruntun dari Erlang yang terbawa emosi.
"Kalau nanya itu satu satu dong. Lagian alasan aku gak ngasih tau tentang pernikahan ini cuma satu."
"Apa?" Potong Erlang tak sabaran.
"Erlang Bagaskara. Kamu itu seorang pengusaha besar, banyak wanita yang menginginkan menjadi nyonya Bagaskara. Terkecuali aku tentunya," melirihkan akhir kata.
"Intinya!"
"Aku paling tidak suka manusia bermuka dua. Kamu lihat bukan gosip kedekatanku denganmu di kampus? Semua orang menuduhku pelakor karena mereka tidak tahu kalau aku adalah istrimu. Setidaknya ini jauh lebih baik daripada orang yang mendekatiku hanya untuk menjilat. Yang pasti, aku tidak ingin orang orang tahu karena aku ingin hidup tenang. Ada kok masanya aku ngasih tau semua orang tentang hubungan kita yang sebenarnya." Jelasku.
"Yah kamu benar. Aku seorang pebisnis, musuhku sangat banyak. Hanya segelintir orang penting yang mengetahui siapa istriku. Menyembunyikanmu adalah yang terbaik dari pada mengumbar yang membuat celaka." Aku senang Erlang dapat mengerti. Lagipun, alasan keduaku karena aku akan segera menjadi janda setelah nanti menemukan wanitanya itu.
"Tapi aku masih ngambek ya! Kamu deket sama lelaki lain sampai berani merangkulnya. Jika bukan karena lelaki itu berwajah penuh luka aku sudah akan mengira kamu berselingkuh dariku." Ya Allah suamiku ini... kok menyebalkan sekali sih? Masa iya masih ngambek.
"Ya udah mau apa?" Tanyaku memutar bola mata malas. Sengaja itu pasti dia. Nyebelin.
"Om Fiki mengundangku keacara ulang tahun putrinya. Temani aku." Jawab Erlang sambil menepikan mobil kesalah satu cafetaria.
"Om Fiki?"
"Fiki Areson. Sahabat papa sekaligus ayah dari Devan Areson. Ayo turun." Ajaknya setelah melepaskan safety belt. Akupun segera turun mengikuti langkahnya memasuki cafetaria ini.
"Silahkan pak."
"Devan Areson? Ah, pria menjengkelkan yang di kantormu dulu itukan?" Tanyaku setelah mengingat pria bernama Devan Areson itu.
"Hm, iya." Gumamnya sambil membolak balik buku menu. "Saya pesan cumi goreng tepung, sama minumnya orenge juice. Kamu?"
"Samakan saja." Pintaku.
"Saya ulang ya mbak, pak. Cumi goreng tepung 2, sama orenge juice 2. Ditunggu dulu pesanannya ya pak, mbak." Ulang waiters itu membuatku hendak tertawa.
"Aku mbak, berarti masih muda. Kamu pak, prrtt udah tua berarti." Ejekku sekuat tenaga menahan tawa.
"Puas ngejeknya? Emang aku kelihatan tua banget?" Kali ini kupikir dia ngambek sekaligus bertanya tanya. Apa benar aku terlihat tua? Hahaa lucunya.
"Sayang... iya. Hahaha" tawaku sudah tidak dapat dibendung. Wajahnya yang ditekuk itu benar benar lucu sekali.
"Masa sih? Baru 25 tahun." Aku semakin tertawa melihatnya memeriksa penampilannya menggunakan kamera ponsel.
"Lah aku? 19 tahun, 6 tahun kita bedanya. Orang sekilas lihat juga pasti ngiranya aku ini adik kamu. Atau kalau yang berlebihan, mungkin menganggap kita anak dan bapaknya." Jawabku.
"Ini pesanannya mbak, pak." Waiters yang melayani kami tadi kembali dengan membawa makanan dan minuman yang kamu pesan.
"Mbak." Aku maupun waiters itu sama sama menoleh pada Erlang waktu dia memanggil.
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya waiters itu ramah.
"Saya gantengkan mbak?" Tak hanya waiters itu saja yang melongo mendengar pertanyaan Erlang barusan, aku bahkan ikut tak percaya mendengarnya.
"Mak-maksudnya pak?"
"Saya gantengkan mbak?"
"Ga-ganteng kok pak." Menjawab dengan malu malu.
"Tuh denger dia bilang aku ganteng. Saya masih kelihatan mudakan mbak?" Erlang Bagaskara, kali ini kamu benar benar membuatku malu.
Waiters itu mengangguk malu.
"Tuh dia bilang aku masih muda, ganteng juga. Mana ada kelihatan tuanya? Jangan samakan dewasaku dengan umurku. Dewasa bukan karena faktor usia, tapi dari keadaan." Melihat Erlang yang bersikap seperti ini membuatku tersenyum kecil. Entah kenapa, dia terlihat lebih ceria dibanding kukenal dirinya yang dulu sebelum kami bertemu.
"Duh maaf ya mbak, kakak saya emang gitu. Candaan saya selalu dianggap serius. Sebagai tanda terima kasih, saya kasih tips lebih untuk mbak," ucapku memberikan dua lembar rupiah berwarna merah untuk waiters itu.
"Makasih banyak mbak."
"Kembali kasih."
"Tapi... bapaknya ini beneran kakaknya mbak ya?" Tanya waiters itu setelah menerima tipsnya.
"Kok nanya gitu?"
"Ah, enggak apa apa kok mbak. Saya kira kalian pacaran, soalnya kelihatan serasi sekali." Lah? Dia bilang serasi. Udah dibilangin kakak juga.
"Tuh dia bilang aja kita serasi. Makasih ya mbak, ini saya tambahin tipsnya." Sahut Erlang tiba tiba lalu menyerahkan tiga lembar uang merah pada waiters tadi. Menang banyak kamu.
"Makasih banyak pak, mbak. Kalau gitu saya tidak akan ganggu lagi, permisi." Dengan riang hati gembira waiters itu pergi setelah berhasil mendapatkan uang 500 ribu dalam sekali pelayanan.
Tuk
Aku dengan kesal memukul tangan Erlang menggunakan garpu. Pria ini dingin dingin kok bikin malu sih?
"Dia aja bilang kita cocok." Masih aja dibahas, bikin orang kesel aja. Tanpa memperdulikannya aku lebih memilih memakan pesananku yang telah dingin karena keasikan membahas yang unfaedah dengannya.
"Oh ya, kamu bilang mau aku menemanimu ke acara ulang tahun putri rekan bisnismu. Memangnya acaranya kapan?" Tanyaku teringat dengan ajakan ngambek Erlang tadi.
"Malam ini." Jawabnya santai. Tidak tahu saja dia aku kaget sampai tersedak. Dia bilang apa tadi?
"Malam ini?"