
Aku membuka mataku lebar dan langsung terbangun dari atas kasur. Menoleh kesamping, sosok menyebalkan itu nampak tertidur dengan pulas di bawah selimut. Memegang bibirku, aku teringat kembali kejadian tadi malam yang tiba tiba.
"Ahhh... April...!!" Mengacak acak rambut kesal sekaligus malu. Aku segera bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Pagi bun..." sapaku menghampiri Bunda yang sedang memasak di dapur. Tak ingin jadi menantu yang tak tahu sopan santun, akupun ikut mengambil alih masak di dapur.
"Pagi sayang. Gimana malam pertamanya?" Aku menoleh cepat sambil mengerjap gugup. Wah parah sih, kok Bunda tau?
"Hahaha.. it-itu..." seorang April yang dingin kenapa sekarang begitu bodoh hanya karena pertanyaan mertuamu sendiri?!
"Asik dong!" Aku mendelik tajam pada Erlang yang datang entah berantah, menghampiriku lalu mencium kepalaku sambil mengusapnya.
"Udah udah, kasihan April mukanya udah merah gitu." Aku seperti merasa mereka sengaja memojokkanku di sini.
"Kamu kuliah hari ini?" Setelah mengantar kepergian Bunda, Erlang berdiri menghadapku sambil bertanya.
"Iy-iya. * * * t-tapi..." aku mengeram dalam hati saat lidah ini kelu untuk berkata, bahkan untuk melihat wajahnya saja aku tidak berani.
"* * * t-tapi...?" Suka sekali dia mengejekku seperti itu. Dia gak tahu apa aku sungguh malu sekali.
"Aku kuliah siang, jadi kamu bisa pergi kekantor sekarang!" Ucapku membukakan pintu mempersilahkannya untuk segera keluar.
Memegang tanganku dengan alasan modus untuk menutup pintu. "Aku sudah mengatakan pada Rifki bahwa aku libur hari ini." Jawab Erlang tersenyum meladeniku.
Melirik tangannya, dengan senyum paksa aku perlahan melepaskannya dari tanganku. "Kenapa tidak kekantor saja?" Paksaku.
Grep
"Kau!!"
"Aku lelah April. Kamu pasti paham." Seolah magnet, badanku kaku untuk sekedar mendorongnya yang memelukku. April ada apa denganmu sebenarnya?!
"Aku tidak paham! Menyingkir!" Sadar, aku segera mendorongnya dan berjalan cepat menuju ruang tamu. Makin hari kok Erlang kelakuannya makin aneh aja sih?!
"Apa perlu aku ingatkan kalau semalam kita---"
"ERLANG BAGASKARA!!!" Aku berteriak prustasi, sedang dia tertawa puas dengan reaksiku yang malunya rasanya pengen nyebur aja ke laut.
"Haha... huft. Ayo!" Ajaknya tiba tiba menarik tanganku pergi dari apartemen.
"Kemana?" Dia tidak menjawab, hanya menoleh dan tersenyum. Aku sendiri pasrah saat dia menarikku pergi ke tempat yang entah kemana.
"Trans studio Bandung? Untuk apa kita kesini?" Meliriknya sembari mencoba melepaskan genggaman tangan yang begitu erat ia pegang.
"Menurutmu?" Hal paling menyebalkan adalah saat aku sepertinya pasrah sekali ditarik Erlang masuk kedalam trans studio Bandung setelah membeli dua tiket masuk.
"Kita mau kemana sih?! Udah keliling dari tadi, gak tau tujuannya mau kemana. Capek tau jalan terus!" Keluhku, karena pasalnya sedari tadi Erlang hanya menggandengku sembari terus berjalan tanpa memiliki tujuan.
"Bingung mau naik apa, soalnya ini juga pertama kalinya aku pergi ketaman bermain." Ucapannya tadi benar benar membuatku emosi.
"Kalau baru pernah kesini ngapain ngajak he?! Buang waktu tau gak! Udah capek jalan terus dari tadi, kamunya malah gak tahu mau ngapain?!" Ngomel terus akukan jadinya. Erlang juga sih, kalau baru pertama kali kesini setidaknya gak harus seperti ini jugakan?
"Kamu mah gak peka! Aku itu ngajak kamu kesini itu tandanya aku lagi pengen luangin waktu buat kamu. Niatnya tadi mau kencan, siapa yang tahu malah jadi gini?" Jawabnya. Dan seperkian detik saat mendengar lirihannya aku tau siapa biang kerok dari semua ini. "Apaan kencan pertama di taman bermain? Rifki awas aja kalau ketemu nanti!!"
"Udah deh kita pulang aja. Atau kalau enggak anterin aku kekampus, aku mau kuliah." Pintaku merasa di sini tidak memiliki tujuan sama sekali. Bukankah lebih baik aku ke kampus saja belajar?
"Gak. Kita udah kesini, jadi kita gak boleh keluar sebelum menaiki semua wahananya." Sarkas Erlang menarik tanganku paksa untuk menaiki salah satu wahana yang ada di sana.
"Tapi---"
"Dua kursi!" Sebelum sempat aku membantah, Erlang lebih dulu sudah memesan dua bangku yang sebenarnya tidak perlu dipesan. Cukup diam mengantri menunggu untuk bermain selanjutnya.
"Ayo!" Aku kali ini benar benar pasrah waktu Erlang mengajakku untuk duduk di kursi wahana Yamama Roaling Coaster. Siap siap kocok perut.
"Yakin mau main ini?" Tanyaku meliriknya ragu ragu. Sebenarnya bukan untuk mengkhawatirkanku, mengkhawatirkannya justru. Diakan pertama kalinya main beginian.
"Yakinlah, emang kenapa?" Jawabnya percaya diri.
"Ya... kamu lihat aja nanti." Aku menoleh kesamping sewaktu wahana ini mulai berjalan melewati sebuah terowongan, sebelum pada akhirnya keluar dan tiba tiba....
Yusss
"Aaarrrggghhh"
Brukh
"Masih mau main lagi?" Tanyaku sambil memijat kepalanya yang dia bilang pusing sehabis diajak nyari mati di wahana mengerikan itu.
"Masih kuat kok. Cuman tunggu aku istirahat sebentar dulu, masih pusing soalnya." Jawab Erlang tampak menikmati pijatanku.
"Jangan yang terlalu ekstrim gitu. Yang simple aja, kamu masih pemula soalnya." Tuturku sambil memberikan minum pada Erlang.
"Emangnya mau naik apa lagi?"
"Sekarang udah jam 11, kita naik satu wahana aja lagi, karena sebentar lagi aku harus kekampus." Ucapku melihat jam sudah menunjukkan pukul 11.00 tepat. Masih ada sekitar dua jam lagi mata pelajaran pertamaku dimulai.
"Ya udah, kamu mau naik apa?" Aku menatap Erlang lalu beralih menatap sekeliling bingung. Aku tidak tahu wahana mana yang ingin aku naiki, hanya saja...
"Waktu kecil ada satu wahana yang sempat aku ingin naiki namun tidak pernah terjadi. Ku pikir, aku ingin naik itu." Teringat semasa kecil sering diajak Kakak ke pasar malam, aku selalu tidak pernah berani menaiki wahana ini. Terlalu menyeramkan soalnya.
"Apa?"
"Rumah hantu."
Di sinilah kami berdua saat ini berada. Di dalam wahana Dunia Lain. Aku, Erlang dan pengunjung lain sama sama dinaikkan di atas sebuah rel kereta yang akan membawa kami menelusuri dunia ini.
Tuing
Hap
Sebuah tengkorak tiba tiba saja muncul membuat semua orang berteriak histeris, termasuk aku yang refleks memeluk Erlang sambil memejamkan mata tak berani. Ini masih siang loh, apalagi malam ya? Bisa pingsan kayaknya aku.
"Udah gak apa apa kok. Oke?" Bisik Erlang sambil mengusap kepalaku lembut. Aku tidak perduli. Sepanjang perjalanan mataku selalu tertutup, tidak pernah berani untuk terbuka barang sederuk saja.
"Ngajak ke rumah hantu, sendirinya malah takut." Ejek Erlang di dalam perjalanan menuju kampus. Aku diam membiarkan dia mengejekku sesuka hatinya. Lagipun memang benar aku ketakutan.
Ckitt
"Kita sudah sampai." Mobil berhenti tepat di depan kampus di jurusanku. Aku melepas safaty belt dari tubuhku sebelum membuka pintu mobil.
"Tunggu!"
Aku menghentikan kakiku untuk turun lalu menoleh kebelakang sebelum tiba tiba Erlang melakukan sesuatu yang tidak terduga.
Cup
"Pulang aku jemput." Ucapnya setelah mencium keningku. Aku hanya dapat mengangguk kaku sebelum akhirnya turun dan pergi cepat meninggalkannya.
Cup
"Pulang aku jemput."
"Akhhh apa yang terjadi denganmu April. Kenapa malah kebayang terus sih?!" Aku menggeleng kuat mengharapkan agar bayangan wajah tampan Erlang menghilang.
"Tapi..."
"Aaarrrrgghh"
"Dia lucu juga." Mungkin orang orang akan aneh melihatku terkekeh sendiri di koridor. Apalagi seorang April yang notabenenya selalu berwajah dingin.
"April..."
Tap
Aku langsung menghentikan langkahku saat mendengar suara familiar itu. Suara yang selama ini sangat ingin aku hindari. Suara ini...
Aku cepat berbalik badan dan melihat seorang pria berparas rupawan berdiri sambil tersenyum devil padaku.
"Alfino?"
"Hai, lama tidak jumpa. Honey..."
Aku menatapnya dingin, seolah sedang berpikir keras mengapa dia bisa ada di sini. Di kampus ini.
Nampaknya hidupku akan semakin kacau kedepannya.