ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C89. Terungkap



"Nak? Kamu yakin melihat wanita itu dalam keadaan sehat. Apa benar dia teman masa kecil Dady?." Tanya Nayla menyakinkan dirinya.


"Benar mommy Lathe mendengar sendiri wanita itu mengatakan teman masa kecil Dady. Lathe bingung kenapa kak Yuyu bisa sedekat itu ya. Apa mungkin mereka punya hubungan khusus." Tutur Lathe.


"Karena Yuyu adalah anak kandung nya tentu dia ingin lebih dekat lagi dan berusaha mengambil hati Yuyu. Apakah Yuyu akan membenciku karna menutup kebenaran ini darinya? Tapi aku juga baru mengetahui jika Jia telah kembali." Gumam Nayla dalam hatinya.


"Mungkin Yuyu hanya kenal dengannya." Balas Nayla singkat. Dan Lathe menjawabnya.


"Apasih mommy! Jika hanya sebatas kenal aja apa perlu memeluk seerat itu bahkan ekspresi wanita itu saat kak Yuyu pergi menunjukkan kesedihan yang amat mendalam. Aku pikir pertemanan mereka tidak sesederhana itu. Mommy katakan apa yang sebenarnya terjadi! Mommy pasti mengetahui lebih banyak kan."


"Mommy gak bisa berkata banyak, jika masih penasaran tanyakan saja pada Dady." Jawab Nayla kemudian berdiri memalingkan wajah sedihnya.


"Aku akan bertanya pada Dady secepatnya. Mommy terlihat sedih juga mendengar kabar ini. Pasti banyak rahasia yang tersimpan." Gumam Lathe menatap kepergian Nayla.


Siang berganti malam dengan cepat membuat Lathe yang menunggu lama itu sangat merasa bosan tapi kepentingan ini sungguh tak bisa ia abaikan, mondar mandir menunggu Theo dan Nathe pulang sedangkan Nayla dan Xinyue tak beranjak dari kamar sejak tadi siang. Lathe menunggu sendiri dengan ambisinya yang kuat melupakan rasa lelahnya hingga suara klakson mobil Theo terdengar di telinga nya.


"Dady?." Panggil Lathe.


"Sayang, ada apa menunggu di luar cuaca dingin nanti kena flu loh." Sahut Theo.


"Hmm.. ada yang ingin aku katakan pada Dady. Ini sangat penting, ayo Dady masuk." Ajak Lathe.


"Baiklah." Ucap Theo mengikuti Lathe.


"Dady Nathe langsung ke kamar ya, sangat lelah. Ingin mandi air hangat dulu." Sahut Nathe yang kemudian pergi dengan cepat.


Nathe sangat rajin membantu Theo di perusahaan sedikit banyak paham suasana bekerja. Mendengar Nathe berkata lelah akhirnya Lathe memberi kan teh hangat untuk Theo setelah nya bertanya tentang Jia Li.


"Dady? Apakah punya teman masa kecil."


"Mengapa bertanya ini." Tutur Theo santai.


"Tadi siang aku menjemput kakak di kampusnya trus bertemu wanita disamping kakak. Dia bilang teman masa kecil Dady tapi yang membuat Lathe heran kenapa dia begitu dekat dengan kakak?."


"Mommy sudah tahu berita ini?." Tanya Theo.


"Hu'um tapi raut wajah mommy sedih dan banyak melamun jadi aku gak dapat informasi apa-apa dari mommy." Jawab Lathe menjelaskan.


"Memang benar wanita itu teman Dady sewaktu kecil, Dady pernah jatuh cinta padanya dan menikah hingga punya anak yakni Xinyue. Itu masa lalu Dady sebelum bertemu mommy mungkin karena itu alasan Jia ingin lebih dekat sama kakakmu." Jawab Theo sejujurnya.


"Oh begitu pantas saja mommy seperti berpikir banyak, pasti mommy merasa kurang nyaman kehadiran wanita itu. Dady gak akan meninggalkan aku, Nathe dan Mommy kan?."


"Mana mungkin. Dady kan sudah bilang itu masa lalu, bagi Dady mommy adalah segalanya."


"Janji? Jagain mommy terus ya. Kalau Dady selingkuh sama wanita itu akan ku pukul wajah tampan Dady biar menjadi buruk rupa." Ancam Lathe dengan serius.


"Dady pria sejati dong! gak bisa tertarik dengan wanita lain selain mommy. Apalagi ada Nathe dan Lathe yang menambah warna dalam cinta Dady dan mommy hingga terus bersinar." Jawab Theo.


"Baguslah Dady berkata seperti ini membuatku sangat lega. Gak perlu ada, yang harus di takutkan lagi kedepannya." Sahut Lathe tersenyum.


"Anak ini kemarin masih membuat ulah gak di sangka hari ini begitu terlihat dewasa. Mengerti perasaan mommy nya dan memiliki rasa khawatir sama seperti sifat mommy nya." Pikir Theo.


"Ya sudah istirahat lah lebih awal nak. Dady akan menemui mommy dulu ya." Ujar Theo.


"Baiklah kalau begitu. Aku gak akan menganggu Dady dan mommy." Jawab Lathe tersenyum yang kemudian pergi masuk kamarnya.


Disamping itu Theo naik ke lantai atas dengan lift dan segera melihat Nayla dengan sedikit khawatir.


"Sayang?." Sapa Theo setelah sampai.


"Sudah pulang, akhir-akhir ini sering lembur ya. Jangan sampai kesehatan mu menurun." Jawab Nayla bersikap biasa saja.


Mendengar pernyataan suaminya Nayla hanya bisa membalas dengan senyuman lalu memeluknya.


"Aku mengerti perasaanmu. yang perlu kamu tahu sejak melamarmu di pemakaman itu hatiku sudah melupakan masa lalu dan berharap kita bisa bersama selamanya, kau sendiri melihat betapa hancurnya diriku saat itu." Sambung Theo.


"Aku percaya padamu dan hatiku gak akan pernah berubah sekalipun Jia berada dekatmu. Jika Jia ingin kembali padamu apakah aku harus pergi?." Ungkap Nayla dalam pelukan.


"Sayang, mau sekuat apa usaha nya ingin bersamaku jika aku gak mau dan pilihan ku hanya kamu untuk apa kamu pergi? Satu-satunya cara adalah kita hadapi bersama. Aku sangat butuh kepercayaan mu untuk itu." Tutur Theo lembut.


"Terimakasih sayang telah memberi ku keyakinan penuh akan cintamu." Sahut Nayla.


"Jika hatimu sudah merasa lebih baik aku ingin menemui Yuyu dulu ya." Pinta Theo.


"Aku tahu anak itu pasti sangat terguncang." Balas Nayla dan Theo mengangguk paham.


Sesampainya di kamar Xinyue, Theo berada di depan pintunya lalu berusaha tenang.


"Tok tok tok." Suara pintu di ketuk. Xinyue mendengar nya tetapi diabaikan nya.


"Sayang? Boleh Dady masuk." Pinta Theo.


"Silahkan Dady, Yuyu ada di dalam dan pintu nya gak di kunci." Sahut Xinyue. Lalu Theo masuk dengan pelan, ia melihat Xinyue sedang duduk di meja belajarnya sembari melamun.


"Anak Dady koqq gak turun dari siang. Dady membawakan snack nih buat Yuyu." Ucap Theo.


"Dady.. Yuyu sangat sedih hiks.. mommy bukanlah ibu kandungku lantas mengapa Yuyu harus merasakan ketulusannya. Ibu kandungku menginginkan ku berada di sisi nya tapi aku gak bisa meninggalkan mommy. Dady? Aku harus bagaimana, apa yang harus aku lakukan!." Tangis Xinyue pecah saat ditemui Theo.


"Sayanggg.. kau anak baik. Tentu gak bisa memberi luka pada kedua ibu mu tapi coba saja mengikuti kata hatimu, Dady percaya keputusan mu dan Dady akan membantumu." Tutur Theo sembari mengelus rambut Xinyue dengan lembut.


"Yuyu ingin tinggal bersama Ibu tapi bagaimana cara berbicara pada mommy untuk alasannya. Yuyu gak mau mommy sedih." Jawab Xinyue. Mungkin keputusan ini telah lama dipikirkan nya dan Jia selalu menunggu nya menepati janji.


"Dady akan memberikan alasannya pada mommy, sekarang Yuyu jangan khawatir lagi ya." Sahut Theo sembari tersenyum dan Xinyue membalas senyuman Theo dengan tatapan mengerti.


Keesokan harinya Xinyue sudah merapikan pakaian nya dalam sebuah koper sedang. Ia bahagia bisa tinggal di rumah Jia dan Theo memberikan izin.


"Sayang kamu yakin ingin pergi dari rumah ini. Maafkan mommy jika punya salah padamu." Tutur Nayla saat melihat Xinyue bergegas.


"Yakin, bagiku lebih baik berada di sisi ibu kandungku setelah berpisah lama dengannya. Biarkan Yuyu pergi ya mom." Pinta Xinyue.


Terlihat wajah sedih pada Nayla, matanya kembali berkaca ia sangat berat melepas Xinyue tapi Theo menyakinkan nya bahwa Xinyue pergi tak akan lama. Ia ingat malam itu saat berbicara pada Theo.


"Apa? Yuyu semarah itu padaku sampai ingin secepatnya pergi dari hadapan ku. Yaa.. mungkin kesalahan ku gak bisa di maafkan lagi. Aku bohong padanya selama belasan tahun." Ucap Nayla.


"Sayang jangan terus menyalahkan dirimu, anak itu sedang bingung dan Jia terus menekan nya untuk kembali di sisi nya. cobalah mengerti dia, setelah di rumah Jia dia akan menilai harus berada di sisi kamu atau Jia menemani hidup kalian. Sekarang biarkan dia pergi walau hanya beberapa saat." Ucap Theo memberi alasan.


Kembali Nayla pada kenyataan lalu berkata pada Xinyue setelah mengingat alasan Theo semalam.


"Saat mengetahui kebenaran nya bahwa kamu bukanlah anak kandungku apakah kamu membenci mommy?."


"Mana mungkin membenci mommy yang telah merawat Yuyu selama ini. Yuyu hanya kaget saja mommy tenanglah kasih sayang Yuyu gak akan berkurang sedikit pun." Senyum Xinyue.


"Mommy sangat menyayangi mu, tapi mommy gak bisa menaham mu. jika gak nyaman berada disana bilang pada mommy ya. Mommy pasti dengan cepat menjemput Yuyu dan perlu kamu ingat! gak peduli apapun identitas kita jika hati kita menyatu pasti akan bersama kembali." Ungkap Nayla dan Xinyue menjawabnya dengan senyuman.


"Aku mengerti perkataan mommy."


"Hati-hati di jalan ya sayang, jangan lupa makan dan jaga kesehatan nya mommy akan selalu mendoakan mu." Ucap Nayla, Xinyue hanya tersenyum lalu memberi hormat dengan menundukkan kepalanya.


"Semoga yang dikatakan suamiku benar bahwa Xinyue pergi gak akan lama. Sesungguhnya aku gak bisa kehilangan salah satu dari anakku." Gumam Nayla setelah melihat Xinyue pergi.