
Kukuruyukkk... Kukuruyukkk...
Terdengar suara ayam berkokok, tapi mana ada ayam di gedung tinggi begini. Sangat mustahil jika ada pun pasti sengaja di pelihara. Siapa yang mau memelihara seekor ayam? Tidak mungkin seorang Lingtheo akan melakukan nya.
Dan ternyata suara ayam berkokok adalah hanya sebuah jam alarm yang suaranya menyerupai suara ayam, kalau seperti ini baru bisa di percaya jika ini kerjaan dari Lingtheo.
"Hoammmm... Sudah pagi, apakah aku akan telat berangkat kerja? Hmm.." Ucap Nayla seperti masih mengigau tanpa sadar ia berbicara seperti itu, kebiasaannya dirumah tak bisa dihilangkan padahal ia belum membuka matanya.
Setelah sadar dimana dia berada, barulah dia bangun pada kenyataan, langsung membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan ada rasa lega didalamnya karena pakaian nya masih rapi seperti biasa. "Ternyata aku ada disini bersama dia, dia gak melakukan apapun terhadapku. Pria ini baik sekali, seperti nya hidupku akan diselimuti keberuntungan yang terus menerus jika bersama dia. Wajahnya sangat tampan, ini pertama kalinya aku tertidur bersama pria dan bisa menatap nya di keesokan harinya."
"Ahh.. kenapa dia menatapku, bukannya sedang tertidur." Nayla kembali pura-pura tidur padahal sedari tadi suaranya sangat keras, siapa sangka jika Theo sudah dulu bangun, tapi masih melihat tingkah laku gadis kecil ini.
Theo sangat senang mendengar Nayla berbicara seperti tadi, ia sudah lama tak merasakan kebahagiaan bersama kekasih. Hal kecil seperti ini saja sudah membuat nya bahagia.
"Jadi, aku sangat tampan bukan? Jangan pura-pura tidur lagi, aku sudah mendengar nya."
Nayla tak bergeming, dia masih malu melihat Theo. Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu di depan Theo, dibalik selimut Nayla tersenyum.
"Jadi gak mau bangun? Baiklah terima hukuman dariku yaa." Ucap Theo penuh semangat.
"Haha- hahahaha haha, cukup, hahaha. Theo cukup, hahahaha." Nayla tertawa terbahak-bahak karena Theo menggelitik tubuh Nayla.
"Hahahaha lagian kamu gak mau bangun sihh."
"Hahaha hahaha ampun, maaf. Haha, Theo? Aku harus lihat Putra." Jawab Nayla terbata.
Theo pun melepaskan tangan nya di tubuh Nayla, ia berhenti menggelitik Nayla.
"Hughhh.. untung aja aku gak pipis, kamu gila ihh. Pagi-pagi gini udah bikin ketawa aja."
"Pipis juga gak papa sihh, hehe." Sahut Theo.
"Mana boleh, udah gede gak boleh pipis sembarangan apalagi di kasur mahal gini. Hahaha." Jawab Nayla yang kemudian beranjak.
"Yuk kita lihat Putra, aku khawatir. Kenapa bisa aku ketiduran padahal adikku sedang dirawat, harusnya aku ada disampingnya."
"Mandi dulu, kamu tenang aja ya. Ada Meimei yang jagain Putra. Aku gak tega bangunin kamu, kamu terlihat sangat lelah. Aku juga berpikir operasi Putra besok dilakukannya. Jadi bukan masalah jika kamu beristirahat dulu." Jawab Theo.
"Emm, iya juga sih. Kamu benar tapi aku ingin cepat kerumah sakit. Jadi kamu dulu atau aku dulu yang mandi? Soalnya kamar mandi cuman satu."
"Lohh ngapain mandinya sendiri-sendiri. Lebih cepat lagi kalau mandinya berdua kan?." Saran Theo untuk mandi berdua tapi Nayla malah salah tanggapan.
"Hah? Berdua? Apa benar harus sekarang? Disini? Aku belum siap dan gak berpikir akan melakukan nya. Tapi aku gak bisa menghindar juga, cepat lambat semua pasti akan terjadi. Karena kemarin aku udah menerimanya. jadi, mau gak mau juga akan ketemu hal seperti ini." Gumam Nayla dalam hatinya.
"Jadi gimana? Mau gak? Biar cepat kerumah sakit. Gak usah malu ya, kan kita sudah pernah melihat tubuh masing-masing."
Nayla teringat kembali pertama kali datang kerumah Theo, tak sengaja melihat seluruh tubuh Theo karena waktu itu Theo habis mandi, handuknya terlepas gara-gara dia. Dan Theo melihat tubuhnya saat Adi berusaha melakukan hal yang tak senonoh kepada nya. Kemudian Nayla menjawab. "T-tapi kan, waktu itu secara gak sengaja. Beda dengan sekarang."
"Sudah, yuk mandi. Kalau kamu keberatan ya sudah sendiri aja mandinya. Tapi gak tau berapa waktu yang kita habiskan karena lama menunggu satu sama lain mandi." Ucap Theo.
"Ahh, yaa sudah baiklah, Ayuk mandi bersama." Jawab Nayla. Pikiran nya sudah bisa menerima apapun yang Theo lakukan padanya. Toh, nanti juga menikah sama pria ini.
Mereka pun kekamar mandi bersama lalu melepaskan semua pakaian mereka, wajah Nayla memerah karena pertama kalinya mandi bersama lawan jenis, ia sangat malu. Tapi berusaha biasa saja. Sedangkan Theo, ia bersikap seperti biasa.
Entahlah kenapa Theo bisa menahan semua yang terlihat di depan matanya. Pria ini begitu berpikiran logis. Theo pun membuka percakapan di kamar mandi agar Nayla tak tegang. Dari tadi diperhatikan nya hanya diam seperti menunggu sesuatu padahal Theo belum ingin melakukannya.
"Kenapa? Jangan tegang gitu ya, aku gak akan macam-macam koqq. Nanti saatnya tepat kita baru melakukan nya oke."
"Hughh.. kirain kamu ingin, bagaimanapun juga aku udah bersedia jadi kekasihmu."
"Syukurlah kalau seperti itu, tapi soal sarapan terserah sihh, aku ikut kamu aja. Dirumah sakit bisa gak?" Seperti inilah perempuan bilang terserah tapi dengan cepat memberi ide.
"Begitu ya, aku gak apa-apa. Dirumah sakit juga ada kantin nya. Aku bisa makan disana juga."
"Makasih ya, nanti kita makan disana aja. Kasian juga sama Meimei pasti lelah menjaga Putra semalaman. Aku merasa bersalah banget padanya."
"Jangan di pikirin ya, Meimei dengan senang hati melakukan semua ini." Jawab Theo
Mereka pun mandi dan setelah nya berangkat kerumah sakit, sesampainya disana..
"Adi, ada apa dia kesini?" Ucap Nayla
"Ehmmm.. ada yang ketemu mantan nih, ciyee."
"Hushhh.. biasa aja. Aku udah ada kamu kan, massa iya ketemu mantan ketar ketir. Yaa kali aku harus kesenengan." Sahut Nayla membalas.
"Iya, iya. Aku tau koqq, kamu gak akan balikan lagi. Bahagia mu adalah aku."
"Hahahaha itu kamu tau." Ucap Nayla sambil mencubit pinggang Theo. Dan Theo meringis.
Adi melihat Nayla tertawa bahagia bersama pria lain, yang seharusnya dialah yang berada dekat Nayla dan berbagi kebahagiaan sekaligus kesedihan seperti yang dirasakan nya saat ini. Tapi karena kesalahan waktu itu dia harus merelakan Nayla bersama pria lain, Nayla berhak bahagia.
"Melihat mu bahagia bersama pria itu membuat kesedihan ku semakin mendalam, aku bukan iri pada hubungan kalian tapi aku sedih tidak bisa membuatmu sebahagia ini saat bersamaku. Bagiku, kamu akan tetap jadi perempuan dihatiku tapi bersamamu bukan pilihanku. Karena ada pria yang jauh lebih baik dariku untuk hidup bersamamu. Nayla.. aku merindukanmu." Ungkapan hati dari seorang pria yang bernama mantan.
Adi berjalan tepat di depan Nayla, jangankan untuk menyapanya melihat saja sudah tak bisa. Penyesalan itu akan terus ada dihati Adi. Tetapi bukan Nayla namanya jika melupakan seseorang. Ia akan tetap menyapa Adi seperti biasanya. Walaupun begitu Nayla sudah meminta izin pada pria yang kini menjadi kekasih nya.
"Hai Adi? Kamu disini juga ya?" Ucap Nayla.
"Ehh ada Nayla, emm.. iyaa." Jawab Adi.
"Lagi jagain Qiara ya? Bagaimana Qiara?"
"Dia baik-baik saja. Hari ini juga udah boleh pulang Nay." Sahut Adi sekena nya.
"Adi? Kamu baik-baik saja kan?"
"Andai kamu tau Nay, yang sangat ingin aku lakukan sekarang adalah menangis dipelukanmu. Tapi itu gak akan mungkin terjadi." Gumam Adi dalam hati, sangat rapuh dirinya ini.
"Adi..!!!"
"Ya. Oyaa udah dulu ya, aku mau mengurus berkas kepulangan." Ucap Adi tergesa-gesa. Nayla pun semakin mendekati Adi dan berkata. "Adi, apa yang terjadi? Aku masih mengenalmu walaupun kita udah gak bersama tapi kita masih bisa jadi teman kan?" Ucapan lembut Nayla membuat Adi menetes kan air matanya.
"Ibuku telah tiada Nay, aku tau suatu saat dia tetap akan pergi tapi masih belum menyangka akan secepat ini." Adi berusaha kuat dihadapan Nayla, berhenti menangis dan menganggap baik-baik saja.
"Ya Tuhan, turut berduka cita yaa Di, kamu harus kuat ya. Aku sangat tau rasanya kehilangan."
"Makasih Nay, kalau kamu gak keberatan bisa ikut memakamkan ibuku gak?"
"Oh, kalau soal itu akan aku usahakan yaa, hari ini Putra operasi. kalau bisa, aku pasti datang koqq."
"Gak apa-apa, aku gak maksa Nay."
"Yaudah aku pergi dulu yaa mau lihat Putra."
Nayla pun bergegas pergi meninggalkan Adi, Adi hanya bisa melihat kepergian Nayla yang semakin menghilang dari pandangan nya.