ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C81. Suprise



Ada banyak makanan tersedia di rumah itu tampak berbeda dari biasanya. Nayla mencoba nya satu persatu di ikuti Putra, ia bahagia bisa mencoba makanan yang sangat enak.


"Pinnn.. pin pin.. !!! " suara klakson mobil Theo. Meimei berlari keluar dan yang lain mengikuti. Mereka menunggu depan pintu dan melihat Theo keluar. Tapi penglihatan Nayla teralihkan pada pintu belakang mobil yang ikut bergerak. Dan dilihat nya Oma tersenyum padanya.


"Omaaaa???." Teriak Nayla senang, ia berlari mendekati nenek dan langsung memeluknya.


"Oma aku sangat merindukanmu. Eemm.. syukurlah Oma ada disini." Sambung Nayla terharu.


"Bagaimana kejutan dariku oke kan?." Sahut Theo merasa bangga dan Nayla mencium pipi suaminya.


"Makasih sayang, aku sangat bahagia."


"Sama-sama sayang hanya ini yang bisa aku lakukan agar kamu bahagia." Balas Theo.


"Omaaa.." teriak Meimei yang ikut berlari melihat neneknya. Ia memberi penghormatan pada nenek yang telah menjaga nya selama di Jepang.


"Bangun sayang.. cucukuu.." ucap nenek dengan bahagia, ia mencium dan memeluk Meimei.


"Oma apakah Yuyu ikut? Sangat rindu pada Yuyu." Sahut Meimei tak sabaran dan nenek mengangguk.


"Mommy.. aku datang untuk mu." Sapa Xinyue.


"Anakku sayang, mommy bahagia melihat anak mommy disini." Ucap Nayla mencium anaknya dan menggendongnya dengan bahagia.


Rakha yang berada disana hanya bisa melihat pemandangan yang indah ini, ia tersenyum menunggu mereka masuk ke dalam rumah.


"Mommy? Yuyu sudah memutuskan akan tinggal bersama mommy dan Dady disini agar mommy tak sedih lagi. Maafkan Yuyu kemarin tak ikut bersama kalian saat di Jepang. Karena Yuyu ingin menjaga Oma yang telah merawat Yuyu selama ini tapi melihat mommy sedih Yuyu jadi berpikir lebih baik bersama mommy saja." Ungkap nya dengan sopan.


"Terimakasih sayang mommy sangat bahagia dan tak akan sedih lagi jika Yuyu selalu menemani Mommy." Tutur Nayla sembari mencium tangan kecil Xinyue dan Oma yang melihatnya hanya tersenyum bahagia.


"Yuk sayang kita masuk, lanjut mengobrol di dalam saja ya." Ucap Theo memegang pundak Nayla yang saat itu sedang menggendong Xinyue.


Mereka pun masuk ke dalam rumah megah Theo, para pelayan telah menunggu dan sebagian membawakan barang nenek dan Xinyue. Nenek memandang pria asing dalam rumah itu, tak mengenal nya dan pria itu hanya terdiam melihat Meimei yang menghampirinya.


"Rakha? Kenalan dong dengan Oma ya. Oma kenalin ini kekasihku." Ucap Meimei tersipu.


"Selamat datang Oma, semoga Oma sehat selalu." Ucap Rakha sembari memberikan hormat pada nenek yang belum terlalu tua itu.


"Semoga kebahagiaan menyertai mu nak." Balas Oma tersenyum.


"Terimakasih Oma." Senyum Rakha setelah melihat Oma sangat baik padanya.


"Wahhh rumah nya sangat indah." Sahut Xinyue melihat hiasan rumah itu.


"Tentu, demi menyambut Yuyu pulang. Mommy berusaha menghiasnya lohh.." tutur Theo.


"Hahaha.. aunty yang menghias rumah menjadi indah, ini juga ide dari Dady." Sambung Nayla tersenyum dan Meimei ikut menyahuti.


"Apakah Yuyu mengingat aunty?."


"Aunty... Yuyu merindukan aunty, ternyata aunty sangat cantik ya, wajah dan kulit yang lembut lebih lembut dari buah persik, hehe." Ucap Xinyue setelah melihat keberadaan Meimei karena sejak sampai rumah ia hanya memperhatikan Nayla saja.


"Hahaha.. anak pintar sudah pandai berkata ya. Aunty juga merindukan Yuyu." Balas Meimei langsung melemparkan pelukan hangat pada anak itu. Putra yang melihat pemandangan itu pun hanya terdiam saja ia tak mengerti kondisi apa yang di lihat nya ini tapi ia tahu jika sejak kakaknya menikah Putra menjadi kenal banyak orang lain.


"Sayang sama aunty. Oyaa.. dia siapa?." Tanya Xinyue mengarahkan tunjuknya kepada Putra.


"Ia adalah paman mu." Jawab Meimei singkat.


"Paman? Mengapa bisa mempunyai paman sekecil diriku aunty." Sahut Xinyue bingung. Karena Putra lebih cocok dipanggil kakak, paman terlalu tua untuknya. dalam pikiran Xinyue.


"Hehee.. itu karna ia terlahir menjadi adiknya mommy mu." Sambung Meimei tersenyum.


"Eemmm.. apa mungkin saat mommy melahirkan ku saat itu juga ibunya mommy melahirkan anak juga?." Tanya Xinyue penasaran.


"Aiyoo.. sulit di jelaskan, yang penting kau memanggil nya dengan sebutan paman. Haishhh.. apakah dirimu sudah lapar sampai berpikir banyak seperti ini?." Jawab Meimei mengalihkan pembicaraan dan Rakha hanya tersenyum melihatnya.


"Halo paman. Aku Yuyu, anaknya Dady dan mommy. Bolehkah menjadi teman paman?." Sapa Xinyue setelah sampai di meja makan.


"Hai adik manis, menjadi temanmu impian semua orang apalagi kamu baik." Jawab Putra senang.


"Hehee.. paman juga baik. Sangat banyak makanan disini ya, paman? Ayo makan bersama."


"Eemm.. makanan ini khusus untuk mu. Tadi paman sudah mencicipi nya, Oya? Nenek itu adalah nenekmu kah." Tanya Putra.


"Tentu, panggil ia dengan sebutan Oma ya. Oma Yuyu sama dengan Oma nya paman juga dong."


"Begitu ya, syukurlah rumah ini menjadi ramai jadi aku gak akan kesepian lagi dech." Balas Putra.


Ternyata percakapan mereka di dengar nenek, baru mengenal keduanya sangat cepat akur. Nenek menjadi lega jika harus meninggalkan Xinyue dalam rumah ini. Nayla juga memperhatikan nenek yang dari tadi melihat Xinyue dan Putra.


"Oma.. mau langsung istirahat atau makan dahulu." Tutur Nayla dan Oma menjawabnya.


"Ahh.. disini saja dulu menemanimu. Theo banyak berkata pada Oma jika hari ini perayaan ulang tahun pernikahan kalian yang pertama."


"Betul Oma. Tapi memang belum punya keturunan sampai detik ini, mohon Oma jangan marah ya. Nayla akan berusaha jika selesai masa mens kali ini akan kembali mengunjungi dokter kandungan."


"Haha.. anak pandai jangan berkata bodoh. Umur pernikahan masih muda jangan menjadi beban melahirkan seorang keturunan untuk keluarga ini ya, nanti pasti memiliki anak dengan kunci kesabaran di dalam nya." Sahut Oma tersenyum.


"Hehee.. terimakasih Oma menerima segala kekurangan ku di saat mertua lain menuntut menantu nya melahirkan penerus untuk keluarga." Jawab Nayla bahagia sembari memeluk Oma.


Theo melihat pemandangan itu membuat nya semakin bahagia, orang yang dicintainya telah berkumpul dalam atap yang sama. Sangat lengkap dihari spesial ini. Theo juga memberikan Nayla kado anniversary pernikahan berupa kalung berbentuk hati dan sangatlah romantis dalam mengucapkan nya.


"Aku berikan seluruh hatiku hanya untukmu, kalung ini terdapat simbol hati yang berarti akan selamanya mencintaimu."


"Dihari spesial ini sangat banyak kebahagiaan yang kurasakan dan dirimu masih memberiku kalung, akan aku pakai selalu agar hatimu tak berpaling dari yang lain. Tapi aku gak bisa memberimu apa-apa, karena aku sama sekali gak memiliki apapun." Sahut Nayla berpikir.


"Yakin gak memiliki apapun?." Tanya Theo.


"Eemm... emmuachhh." Cium Nayla di bibir Theo.


"Hehee. Lagi?." Pinta Theo dan Nayla mengecup bibir Theo dengan mesra. Malam itu mereka bercumbu dalam rembulan yang menampakkan sinarnya. Saling mencintai sangat terasa membahagiakan bagi sepasang kekasih.


Setelah beberapa hari berlalu nenek ingin kembali ke Jepang lagi tapi sebelum itu ia memberikan banyak ritual pada cucu pasangan suami istri itu.


Nenek banyak menaburkan biji kacang dicampur biji bunga dalam sudut kamar Theo.


"Taburkan ke timur suami istri penuh kekayaan


Taburkan ke barat suami istri penuh keberuntungan, taburkan ke utara mudah mendapat anak dan cucu, taburkan ke selatan anak cucu tak mengalami kesulitan.


Tahun depan melahirkan sepasang anak. Anak lelaki menjadi orang berprestasi dan anak perempuan menjadi wanita terhormat." Tutur Oma.


"Terimakasih banyak Oma, semoga langit dan bumi mendengar perkataan Oma. serta leluhur memberi berkatnya." Jawab Nayla tersenyum.


"Nak untuk biji pilihan ini ditanam dalam sebuah tempat berisi tanah ya." Tutur Oma.


"Baiklah." Ucap Nayla sembari mengambil kantong berisi biji-bijian dari Oma.


"Oyaa.. apakah Oma bisa memberikan terapi akupunktur untuk istriku, ia belakangan ini sakit lambung aku sangat sedih melihatnya." Sahut Theo menatap Oma dan Oma menjawabnya.


"Bisa, sekalian Oma beri terapi kesuburan ya."


"Memangnya Oma bisa?." Senyum Nayla.


"Bisa sayang. Kamu ingin?." Balas Oma.


"Sangat ingin Oma." Ucap Nayla semangat.


Dan Oma pun membantu Nayla mengatasi penyakit gerd yang di deritanya melalui teknik terapis akupunktur dan sudah menjadi keahliannya sang nenek untuk penyembuhan jalur itu. sebelum neneknya itu pulang ke tempat kelahirannya.